Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
45. Xiulin pembunuh kejam.


__ADS_3

Dengan bantuan dari kenalan Bibi Kiew, Yueqin akhirnya mendapatkan minyak daun Parsnip Liar.


Minyak daun itulah, yang Yueqin campur dengan sabun rempah-rempah yang di berikan kepada Hu Liena.


Setelah Hu Liena mandi menggunakan sabun rempah-rempah yang di kirimkannya, kulit Hu Liena di pastikan akan mengalami kerusakan. Dan jika hal itu terjadi, sangat mustahil untuk Hu Liena, bisa pergi ke perjamuan Istana besok harinya.


Yueqin mengepalkan kedua tangan erat, sembari menutup kedua matanya.


Di benak Yueqin, kini terbayang adegan ketika Hu Liena beberapa kali mempermalukannya.


Di mulai dari dirinya yang di buat lumpuh, terus adegan ketika mendapat kunjungan dari Kasim Hai, dan terakhir kemarin, ketika dirinya datang menjemput sang Putri di kamar Hu Liena.


Yueqin menggeram, dia tidak akan pernah bisa melupakan perlakuan dari Hu Liena yang seakan sedang mempermainkannya itu.


"Rasakan itu, ******! Kau sudah berani menyinggungku beberapa kali, jadi sudah sepantasnya, kau mendapatkan balasan yang lebih kejam dariku." Ucap Yueqin penuh kebencian.


Saat Yueqin sedang asik dengan lamunannya yang membayangkan kulit Hu Liena akan memerah dan rusak parah akibat minyak daun Prasnip Liar.


Yueqin di kejutkan dengan teriakan dari pelayan setianya, Bibi kiew. Yang kini sedang memaki pelayan yang membantunya mengirim sabun rempah-rempah ke tempat Hu Liena.


"Cepat pergi dari sini!"


"Aku ingin berbicara kepada Nyonya, kepala pelayan. Tolong aku!" Ratap si pelayan dengan mata berkaca-kaca.


Bibi Kiew kembali membentak, kali ini, dia melayangkan juga sebuah tamparan ke arah pelayan tersebut.


PLAKK!


"Lancang! Aku sudah menyuruhmu pergi dari tadi, tapi kau malah memilih untuk di hukum!" Hardik Bibi Kiew sembari bertolak pinggang.


Yueqin yang mendengar dari dalam kamar, tidak berusaha menghentikan aksi Bibi Kiew.


Yueqin tahu, alasan si pelayan tidak segera pergi dari sana, dan bersikeras meminta bertemu dengannya.


Itu karena Adiknya si pelayan, berada dalam genggaman Putrinya, Xiulin.

__ADS_1


Yueqin menjanjikan kebebasan Adiknya, asalkan si pelayan dapat menyelesaikan tugas yang di berikan oleh dirinya tadi siang.


Namun Xiulin, tidak akan membiarkan bahan pelampiasannya pergi begitu saja sebelum dia selesai menyiksanya.


Ya, Adik si pelayan tersebut, kini sedang berada di bawah siksaan dari Xiulin.


Dan ini bukan pertama kalinya, Xiulin melakukan penyiksaan kepada seorang pelayan. Dia akan selalu memilih korban pelampiasan amarah ketika sedang menghadapi persoalan.


Bagi Xiulin, tidak ada hal yang lebih penting, selain bisa menyalurkan amarahnya kepada orang lain.


Dan ketika korbannya itu telah mati, barulah Xiulin akan melepaskannya dan menyuruh para pelayan untuk mengubur mayat si korban.


"Kepala pelayan! Tolong aku! aku hanya ingin bertemu dengan Nyonya, sekali saja kepala pelayan, aku mohon. Hanya Nyonya, yang bisa menyelamatkan nyawa Adikku sekarang." Ratap si pelayan dengan memilukan.


"Itu bukan urusanku! Mau Adikmu mati ataupun tidak, aku tetap tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Nyonya." Ucap Bibi Kiew dengan sangat lantang.


Pelayan yang bersujud di hadapan Bibi Kiew. Kini mendongakkan kepalanya, dan menatap Bibi Kiew dengan tatapan nyalang.


Di tatap dengan tatapan seperti itu, membuat Bibi Kiew sedikit bergidik. Namun karena sudah mendapat perintah dari Yueqin, Bibi Kiew tetap menghadang di hadapan pelayan tersebut.


"Turunkan pandanganmu!" Bentak Bibi Kiew.


"Aku ingin bertemu dengan Nyonya." Kata si pelayan dengan nada yang dingin.


Bibi Kiew sedikit panik, namun dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan pelayan yang lebih rendah statusnya dari dirinya.


"Tidak! Kau tidak bisa bertemu dengan Nyonya. Dan jika kau terus memaksa, aku akan panggil penjaga untuk memukulimu." Ancam Bibi Kiew.


Tekad pelayan yang tadi sudah menguat, kini jadi hilang kembali setelah mendengar kata hukuman.


Bukan karena takut dia akan di pukul sampai mati di sana, namun karena dia lebih memikirkan tentang kondisi Adiknya yang belum ada kabar sampai sekarang.


"Kepala pelayan, aku hanya ingin Adikku selamat. Itu saja ...," Ujar si pelayan itu memilukan.


Bibi Kiew memutar bola mata malas, sedari tadi, pelayan itu hanya menyebutkan tentang Adiknya yang di kurung oleh Nona Xiulin.

__ADS_1


Dia tahu betul, jika Nona Xiulin sudah menyiksa orang, orang itu tidak akan bisa keluar dengan selamat. Dalam kata lain, MATI!


"Kau datanglah lagi besok, mungkin Nyonya, akan sudi untuk menemuimu." Ujar Bibi Kiew sedikit berbohong.


Si pelayan itu menjadi sumringah, ucapan Bibi Kiew membawa harapan bagi keselamatan Adiknya.


Dia rela melakukan apapun, asalkan Adiknya bisa keluar dengan selamat dari cengkeraman Nona Pertama yang terkenal bengis di antara sesama pelayan di kediaman Perdana Menteri. Meskipun di kalangan para pejabat Xiulin adalah gadis berbakat dan terhormat. Tapi di mata mereka, Xiulin layaknya seorang pembunuh berantai yang kejam.


"Terima kasih kepala pelayan, aku akan datang lagi besok pagi." Ucap si pelayan tersebut seraya bersujud memberi hormat kepada Bibi Kiew.


Bibi Kiew mendengus, lalu melambaikan tangan ke arah si pelayan menyuruhnya untuk pergi dari tempat Yueqin. "Cepat pergi! kalau kau masih di sini, aku tidak akan menjamin kalau Nyonya akan berbaik hati lagi padamu."


"Baik, saya akan pergi." Kata si pelayan patuh.


Di gerha bunga....


"Salah hormat kami, Putri Xia!" Kedua Wang Bersaudara memberi hormat di hadapan Hu Liena.


Hu Liena yang sedang menikmati teh Oolong miliknya, langsung terhenti oleh kedatangan dua pengawal yang menjadi kaki tangannya sekarang.


"Tidak perlu sungkan begitu, Paman. Panggil aku Nona saja, seperti biasanya." Ujar Hu Liena lembut.


"Maafkan kami Putri, tapi dengan status anda saat ini, kami tidak berani melakukannya." Tolak Wang Wey sopan.


Meskipun Hu Liena yang memintanya sendiri, tapi jika orang lain mengetahuinya, mereka bisa di hukum mati karena tak mematuhi ''Dekret Kaisar'.


"Baiklah, terserah Paman berdua saja." Ujar Hu Liena tak ingin memaksa.


Kedua Pengawalnya ini sangat patuh, dan selalu tunduk kepada peraturan. Jadi percuma saja jika Hu Liena tetap memaksa, karena hal itu sia-sia.


"Sekarang, apa yang ingin Paman berdua laporkan kepadaku?" Tanya Hu Liena langsung.


Pagi tadi, Hu Liena meminta kepada mereka untuk menyelidiki pelayan yang membawakan sabun rempah-rempah ke gerha miliknya.


Sebenarnya, Hu Liena sudah bisa menebak siapa orang yang telah menyuruh pelayan itu padanya.

__ADS_1


Namun, dia ingin memastikan kebenarannya sendiri. Dan dia juga ingin, mengetahui motif si pelayan. Karena dari keterangan Luqiu mengatakan, jika pelayan tersebut berasal dari kediaman Ayahnya, Hu Boqin.


Jika itu memang benar dan jika pelayan itu berkhianat karena uang, maka Hu Liena tidak akan segan-segan untuk menghukum pelayan itu. Karena Hu Liena tak ingin Ayahnya celaka akibat keserakahan para pelayan yang dengan mudahnya di perintah hanya dengan imbalan uang.


__ADS_2