
Di dalam ruang pribadinya, Li Junjie dan juga Hu Liena sedang berdiskusi bersama para pengawal setia mereka.
"Paman Wang! Aku tugaskan kalian berdua, untuk menjaga Pangeran Qian Yingzhi selama berada di sini!" ucap Hu Liena tegas.
"Maafkan hamba, Tuan Putri! Jika kami bertugas menjaga Pangeran Qian, bagaimana dengan keselamatan anda?" Kata Wang Shu mengkhawatirkan keselamatan Hu Liena.
"Tidak perlu khawatir, karena aku yang akan menjaga Tuan Putri Kalian! Dan jika di perlukan, aku akan berjaga di siang dan malam." ucap Li Junjie dengan penuh semangat.
Di siang dan malam hari? Dasar Pangeran! Mencari kesempatan dalam kesempitan! batin Wang Shu.
Pandangan mata Hu Liena, kini bergulir ke arah Guotin. "Dan kau! Aku perintahkan kau, untuk mengawasi kediaman Bangsawan Mo!"
Guotin melirik ke arah Li Junjie seakan meminta persetujuan.
"Turuti saja! Perintahnya, berarti perintahku juga!" ujar Li Junjie seakan mengetahui isi kepala pengawal setianya.
Setelah diskusi selesai, semua orang langsung pergi melaksanakan tugas mereka masing-masing.
Kedua Wang bersaudara, kembali berjaga di kamar yang di tempati Qian Yingzhi.
Sementara Guotin, bergegas pergi ke kediaman Bangsawan Mo untuk memata-matai mereka.
Di kediaman Bangsawan Mo...
"Ayah! Bagaimana dengan persiapan rencana kita?" tanya Mo Yan Zhen kepada Mo Chong an yang sedang sibuk menulis surat.
"Mungkin sebentar lagi, rencana Kita akan rampung dengan sempurna. Kita hanya perlu mengirimkan surat-surat ini, untuk meminta bantuan dari para keluarga Bangsawan yang lain." jawab Mo Chong an sambil melipat surat yang telah selesai di buat.
"Suruh Guan Lin mengirimkan ini ke kediaman Bangsawan Wen!" ucap Mo Chong an sambil menyodorkan sepucuk surat kepada Putranya.
Mo Yan Zhen segera mengambil surat dari tangan Ayahnya. Setelah berpamitan, dia akhirnya pergi menemui Guan Lin di pos penjagaan.
"Ayah menyuruhmu pergi ke tempat Bangsawan Wen, untuk memberikan ini!" ucap Mo Yan Zhen.
Guan Lin mengangguk, lalu segera pergi dengan menaiki kuda setelah menerima surat tersebut.
"Ada orang keluar!"
"Cepat, ikuti dia!"
Satu di antara dua orang, yang sedang bersembunyi di atas sebuah pohon besar, segera berkelebat menyusul Guan Lin dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Dalam sekejap, orang itu sudah berhasil menghadang kuda yang di tunggangi oleh Guan Lin.
"Siapa kau?" Guan Lin membentak orang yang menghadangnya dengan geram.
Guan Lin merasa marah, karena orang itu tiba-tiba berada di tengah jalan yang akan di laluinya. Untung saja Guan Lin langsung menarik tali pengekang kudanya, kalau tidak, mungkin dia akan terlempar karena kudanya berhenti secara mendadak.
"Tidak penting aku siapa, yang jelas, aku tidak akan membiarkanmu lewat dengan selamat!" jawab si orang yang menghadang Guan Lin. Yang bukan lain adalah Bingwen, yang di utus untuk memata-matai Bangsawan Mo bersama Guotin.
__ADS_1
"Brengsek! Cari mati, kau! Teriak Guan Lin keras.
"Persetan!" ucap Bingwen sambil menghunuskan pedang dan langsung menyerang ke arah Guan Lin.
_Shuuttt!_
_Triiinnggg!_
Guan Lin menahan serangan pedang yang di layangkan Bingwen untuknya.
_Shuutttt!_
_Shuutttt!_
Gerakan tangan Bingwen sangatlah gesit, hingga mampu menyerang Guan Lin beberapa kali gerakan dalam satu kali serangan.
_Triinngggg!_
_Triinnggg!_
"Agghhh!"
Keahlian Bingwen yang sudah sering di latih, membuat Guan Lin harus merelakan pergelangan tangannya terkena tebasan pedang milik Bingwen.
"Lemah!" Cibir Bingwen sambil menggerakkan kembali tangannya.
_Shuuttt!_
"Agghhh!"
Darah muncrat ketika perut Guan Lin di tebas oleh tajamnya pedang milik Bingwen.
_Brughh!_
Tubuh Guan Lin ambruk ke tanah, dan langsung meregang nyawa karena kehabisan banyak darah.
"Ini dia!" Bingwen merasa senang karena berhasil menemukan sebuah amplop yang di duga sebagai surat rahasia di tubuh Guan Lin.
Setelah itu, mayat Guan Lin di sembunyikan di dalam semak-semak agar tidak ada orang dari kediaman Bangsawan Mo yang curiga. Dan tentang masalah kuda, Bingwen memberikannya kepada seorang warga yang sedang mencari rumput di hutan.
Bingwen melakukan hal itu, untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang dia lakukan.
Dan setelah itu, Bingwen kembali menemui Guotin, dan menyerahkan benda yang di duga surat rahasia tersebut kepada Komandannya ini.
"Kau tunggulah di sini! Aku akan menyerahkan surat ini, kepada Pangeran!" Ucap Guotin setelah menerima amplop dari Bingwen.
"Baik, Komandan!" jawab Bingwen dengan tegas.
Di tempat penampungan...
__ADS_1
"Hormat hamba, Pangeran!"
"Ada apa?" ucap Li Junjie sambil menatap tajam ke arah Guotin yang berlutut di hadapannya.
"Hamba ingin menyerahkan ini ...," ujar Guotin sambil memberikan amplop yang dia bawa.
Li Junjie meraih amplop coklat dari tangan Guotin, lalu membukanya.
"Kurang ajar!" Ekspresi wajah Li Junjie langsung berubah setelah membaca isi surat di dalam amplop coklat tersebut.
"Kenapa, Pangeran?" Tanya Hu Liena heran.
"Ini, bacalah!" tanpa ragu, Hu Liena meraih, dan membaca surat dari Li Junjie.
"Surat ajakan pemberontakan?" Hu Liena mengerutkan dahinya tebal.
Li Junjie mengangguk, lalu menjawab ucapan Hu Liena.
"Benar! Guotin yang membawanya!" Jawab Li Junjie dengan geram.
Hu Liena melirik ke arah Guotin, "Dari mana kau mendapatkan surat ini?"
"Sebenarnya, Bingwen yang mendapatkan surat ini, Tuan Putri! Dia mendapatkannya, dari orang suruhan Bangsawan Mo!" jawab Guotin dengan sopan.
"Bangsawan Mo, Ya ... pintar sekali dia! Di surat ini, dia tidak menuliskan ataupun menyebutkan, siapa orang yang mengirim, ataupun siapa orang yang akan menerima surat ajakan pemberontakan ini. Kalaupun orang yang mengirim surat tertangkap, dia akan dengan leluasa berpangku tangan, karena tidak ada bukti tentang keterlibatannya. Dan aku rasa, dia tidak mengirim surat ini hanya kepada satu orang saja." ucap Hu Liena panjang lebar.
"Benar-benar pintar!" Gumam Li Junjie yang di balas senyuman oleh Hu Liena.
"Jika musuh kita pintar, kita juga harus selangkah lebih pintar darinya." ucap Hu Liena yang membuat Li Junjie merasa heran.
"Apa maksudmu, Putri?"
"Jika Bangsawan Mo mengirimkan surat ajakan pemberontakan kepada semua para Bangsawan, maka kita juga harus mengirimkan mereka sesuatu, yang istimewa." jawab Hu Liena penuh semangat.
"Sesuatu yang istimewa? Apa itu?" Kata Li Junjie menatap Hu Liena dengan perasaan heran.
Hu Liena tertawa melihat ekspresi Li Junjie yang seperti orang bingung.
"Putri, jangan buat aku penasaran seperti ini?" ucap Li Junjie memasang wajah kesal karena Hu Liena tidak segera menjawabnya.
"Baiklah, baiklah, aku akan mengatakannya." ucap Hu Liena lalu berhenti sejenak. "Kita akan mengirim para prajurit Istana untuk menangkap semua para bangsawan!"
"Apa?"
Tak ada yang tak merasa kaget dengan ucapan Hu Liena. Bahkan Li Junjie saja, sampai menyemburkan teh yang baru saja di teguknya.
"Itu tidak mungkin, Putri!" Guotin tidak menyangka jika sesuatu yang istimewa untuk para Bangsawan itu adalah menangkap menangkap mereka.
"Apanya yang tidak mungkin? Kau tinggal mencari setiap kesalahan, yang pernah mereka perbuat. Dengan begitu, semua orang jahat berkedok Bangsawan, akan mendapatkan hukuman. Dan yang paling utama, kita bisa menutup celah para pemberontak, membuat koalisi untuk melawan pemerintahan. Adil, bukan?" tutur Hu Liena.
__ADS_1