Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
144. Rencana kedua Hu Liena


__ADS_3

"Kau tidak apa-apa 'kan, Putri?" tanya Li Jing Sheng cemas melihat Putri Jia Li terus menangis.


Entah kenapa, hati Li Jing Sheng terasa terhiris melihat kesedihan wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku sudah baik-baik saja sekarang, Pangeran. Terima kasih!" balas Putri Jia Li sambil menundukkan kepalanya.


Qian Yingzhi yang juga mendengar suara keributan, segera datang dan memeluk Adik perempuannya yang saat ini tengah terduduk di sebuah kursi yang berada di sudut ruangan.


"Tenanglah, Kakak akan menjagamu di sini." ucap Qian Yingzhi dengan lembut.


Putri Jia Li membenamkan wajahnya di dada bidang sang Kakak.


Melihat situasi saat ini, Hu Liena kembali mengajak Pangeran Li Junjie untuk berdiskusi di kamar yang berbeda.


"Ada apa, Putri? Apa ada hal lain, yang mengganggu pikiranmu?" tanya Li Junjie setelah berpindah ruangan lain.


Hu Liena menutup pintu kamar terlebih dahulu dengan rapat, untuk berjaga-jaga agar tidak ada orang lain yang bisa mendengar perbincangan mereka berdua.


"Pangeran, aku jadi merasa menyesal telah melibatkan mereka berempat dalam penyamaran kita." ucap Hu Liena dengan murung.


Li Junjie menarik nafas panjang, lalu kemudian menghembuskannya dengan kasar.


"Semua sudah terlanjur, di sesali 'pun sudah tidak ada gunanya lagi." balas Li Junjie pasrah.


Dari awal keberangkatan, Li Junjie memang menolak keras keikutsertaan Adik-Adiknya dalam misi penyamaran tersebut. Namun Hu Liena malah meloloskan keinginan mereka, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menghalangi niat kedua Adiknya.


"Lalu, apa rencana kita besok pagi?" tanya Hu Liena yang mengganti topik pembicaraan karena merasa tidak enak hati dengan sang Pangeran.


"Seperti rencana sebelumnya, kita akan menyusup ke bukit Wuya dengan bantuan Pangeran Qian yang menjadi pemandu kita berdua." tutur Li Junjie.


Hu Liena mengernyit, apa dia tidak salah dengar? Kita berdua? itu tandanya, tiga orang dari rombongan mereka tidak akan ikut!


"Pangeran, apa maksud anda dengan hanya kita berdua yang pergi kesana?" tanya Hu Liena heran.

__ADS_1


Li Junjie berjalan, lalu mendudukkan dirinya di kursi yang berada di dekat jendela kamar yang terbuka.


"Kondisi Putri Jia Li sedang tidak baik, jika memaksakan pergi akan sangat membahayakan posisi kita nantinya." tutur Li Junjie datar.


Hu Liena mengangguk, dia juga merasa setuju dengan ucapan Li Junjie barusan.


Namun, selain Putri Jia Li bukankah masih ada Putri Jiang dan juga Li Jing Sheng. Bagaimana dengan mereka? Apa Li Junjie berencana juga untuk mengabaikan keduanya? pikir Hu Liena.


Sebelum dirinya sempat bertanya, terdengar nada berat Li Junjie kembali bersuara meminta persetujuan Hu Liena.


"Putri, jika memungkinkan, bisakah kau memasukkan mereka ke dimensi rahasia? Mungkin dengan begitu, kemelut yang kita rasakan saat ini akan teratasi." pinta Li Junjie yang membuat Hu Liena harus berpikir keras sebelum menyetujuinya.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Hu Liena menghela nafas pasrah dan mengiyakan permintaan Li Junjie untuk membiarkan ketiga orang yang tersisa berada di dalam ruang dimensi rahasia selama mereka beraksi besok di bukit Wuya.


Tentu saja Hu Liena menyetujui hal tersebut dengan pertimbangan yang sangat matang.


Dengan kondisi Putri Jia yang masih terguncang akibat kejadian barusan, tentu sangat tidak memungkinkan untuk membawanya ke dalam misi berbahaya besok siang.


Dan jika membiarkan Putri Jia tetap berada di penginapan, itu bukanlah sebuah ide yang baik. Laki-laki dari kerajaan Wuya sangatlah berbahaya, mereka bisa saja melakukan segala cara dan tipu daya jika melihat seorang wanita sedang sendirian.


Memikirkan segala kemungkinan yang ada, akhirnya Hu Liena mau tidak mau harus memeras otak untuk membuat rencana yang sempurna untuk penangkapan Yueqin dan Putrinya, Xiulin.


"Pangeran, aku mempunyai rencana yang sangat bagus untuk memudahkan pekerjaan kita." ucap Hu Liena yang membuat Li Junjie merasa bersemangat.


"Apa itu ...,"


Hu Liena lalu membisikkan rencana yang baru saja dia pikirkan. Rencana yang akan memudahkan mereka membawa Ibu dan Anak yang menjadi target mereka berdua, tanpa harus merasa takut akan ketahuan oleh pihak kerajaan Wuya.


Mata Li Junjie bersinar terang begitu mendengar rencana yang di bisikkan Hu Liena kepadanya.


Rencana yang menurutnya akan berhasil dengan nilai sempurna tersebut, akhirnya menjadi satu-satunya hal yang akan mereka kerjakan besok siang saat memasuki kawasan bukit Wuya.


Namun sebelum itu, Li Junjie juga harus membereskan masalah lain. Yaitu, masalah keberadaan Putri Jia Li, dan kedua Adiknya, Putri Li Jiang dan Li Jing Sheng.

__ADS_1


Mengenai Pangeran Qian, Li Junjie tidak mempermasalahkannya. Karena dialah yang nantinya akan membawa dirinya beserta Hu Liena memasuki kawasan bukit Wuya untuk menggagalkan rencana Yueqin dan Putrinya.


Sekalian menangkap mereka berdua, untuk di bawa pulang dan di berikan hukuman sesuai dengan kejahatan yang telah mereka perbuat selama ini.


Tengah malam, Hu Liena bersama Li Junjie pergi ke kamar yang di tempati oleh Putri Jia Li bersama dengan yang lainnya.


"Bagaimana keadaan anda saat ini, Putri?" tanya Hu Liena sambil memeriksa denyut nadi Putri Jia Li.


"Aku sudah tidak apa-apa sekarang, terima kasih!" balas Putri Jia Li setelah selesai di periksa.


"Ini aku bawakan belikan obat dari apotik, agar kau bisa lebih tenang nantinya." tukas Hu Liena sambil menyerahkan bungkusan obat.


Putri Jia Li menerima bungkusan tersebut, dan lalu mengeluarkan beberapa butir pil dan langsung meminumnya sesuai instruksi Hu Liena.


Setelah melakukan hal tersebut, Putri Jia Li kembali berbaring karena merasa tubuhnya mulai melemas karena rasa ngantuk yang menyerangnya.


"Adik Jing, aku juga membelikan minuman ini untukmu. Cobalah!" ujar Hu Liena sambil memberikan sebotol minuman bersoda ke hadapan Li Jing Sheng.


"Ini untukmu, Adik Jiang! Dan ini, untukmu Pangeran Qian!" ucap Hu Liena sambil memberikan masing-masing satu botol minuman yang sama.


"Terima kasih, Kakak Ipar!"


"Terima kasih, Putri!"


"Kakak Ipar, terima kasih!"


Ucap mereka bertiga saat menerima botol dari tangan Hu Liena.


Li Junjie tak mau kalah, dia juga menyodorkan sebuah botol dengan minuman yang sama kepada calon Istrinya tersebut.


Tak lupa, dia juga membawa untuk dirinya sendiri agar bisa menikmati minuman tersebut dengan bersama-sama yang lainnya.


Li Jing Sheng langsung meneguk minumannya hingga tinggal separuh botol. Sedangkan Putri Li Jiang, dia hanya minum beberapa tegukan kecil hanya untuk mencicipi rasanya saja.

__ADS_1


Pangeran Qian sendiri, hanya menatap air di dalam botol tanpa meminumnya sedikitpun.


Ini membuat Hu Liena dan Li Junjie merasa cemas, apakah rencana mereka sudah ketahuan? Atau memang ada alasan lain?


__ADS_2