Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
65. Masa lalu Liu Ning alias Bibi Kiew.


__ADS_3

Nyonya Yue tampak antusias dengan kesepakatan yang Changing ajukan.


"Tentu! Tentu saja aku tidak akan mengatakan hal itu kepada Tuan Yue! Putri Xia dan Perdana Menteri tenang saja, aku akan membereskan perempuan sialan itu dengan sebaik-baiknya."


"Terima kasih atas kerjasama anda, Nyonya! Kalau begitu, aku pamit. Dan ini, alamat di mana Nyonya Liu Ning berada." Ucap Changing sembari menyodorkan secarik kertas yang di bawanya.


Pelayan tua Nyonya Yue langsung mengambil kertas itu, dan memberikannya kepada sang majikan yang sudah tidak sabar ingin membacanya.


"Gudang tua pinggiran kota?" Gumam Nyonya Yue sembari mengernyit setelah membaca tulisan di kertas tersebut.


Gudang itu adalah milik keluarganya, yang dulu sempat di jadikan sebagai tempat penyiksaan Li Ning juga.


Bagaimana bisa, Putri Xia mengetahui tentang tempat itu.


"Ada apa Nyonya?" Tanya si pelayan tua yang heran dengan reaksi sang majikan.


"Tempat ini? Bukankah tempat ini milik kita? Bagaiman Putri Xia bisa mengetahui tempat ini? Bahkan Suamiku saja tidak pernah mengetahuinya." Ujar Nyonya Yue kebingungan.


"Tidak perlu heran Nyonya, Putri Xia adalah calon Istri dari Pangeran Jun. Apa yang bisa kita sembunyikan dari seorang Pangeran seperti beliau." Jelas Pelayan tua tersebut.


Nyonya Yue akhirnya tidak merasa khawatir lagi setelah mendengar penjelasan dari pelayan setianya. Pangeran Jun memang memiliki kuasa untuk mengetahui segala sesuatu yang berada di kerajaan dinasti Ying.


Tak ada satupun yang luput dari pengawasan Pangeran yang satu ini.


Apalagi hanya sebuah gudang tua miliknya. Seberapa keraspun Nyonya Yue menyembunyikan keberadaan gudang itu, tetap saja Pangeran Jun akan menemukannya cepat ataupun lambat.


Dan buktinya hari ini, Nyonya Yue di buat terkejut dengan apa yang di ketahui Pangeran Jun.


"Kau benar Bibi Ling, kita tidak bisa menyembunyikan rahasia apapun dari Pangeran Jun." Tutur Nyonya Yue dengan pasrah.


"Lalu kapan, kita akan pergi kesana Nyonya?" Tanya Bibi Ling.


"Sekarang, tentu saja! Aku sangat merindukan maduku itu! Sudah sangat lama, tanganku ini tidak menyentuh kulitnya!" Ucap Nyonya Yue dengan seringai jahat.


Yang di maksud menyentuh kulit oleh Nyonya Yue adalah menyiksa Liu Ning, alias Bibi Kiew.


...----------------...


Kreeetttttt...


Pintu gudang tua itu terbuka perlahan setelah di dorong dari arah luar.


Ruangan di dalamnya tampak gelap dan begitu mencekam, karena gudang ini sudah lama tidak di gunakan.


Nyonya Yue beserta pelayan setianya Bibi Ling, melangkah memasuki ruangan dengan santai.

__ADS_1


Setelah beberapa langkah, Nyonya Yue berhenti. Dan Bibi Ling pergi ke sudut ruangan guna menyalakan lentera yang tergantung di sana.


Setelah lentera menyala, perlahan-lahan kondisi ruangan yang gelap menjadi terang.


Meskipun hanya cahaya lentera yang temaram, tapi cahaya itu mampu membuat Nyonya Yue melihat dengan jelas sosok perempuan yang sedang terikat kencang di sebuah kursi di tengah ruangan.


Sosok perempuan itu tampak asing, namun terasa familier bagi Nyonya Yue.


"Liu Ning, sudah lama aku tidak melihatmu!" Ucap Nyonya Yue dengan perasaan senang.


Bibi Kiew yang sudah terjaga dari pingsannya, langsung bergetar karena ketakutan ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya.


"Tidak, jangan, jangan mendekat!" Kata Bibi Kiew setengah berteriak.


Suaranya sudah kembali normal sekarang, karena Li Junjie sudah membuka totokan di jalur meridiannya Bibi Kiew.


Namun hanya sebatas suara, karena bagian tubuh yang lainnya tetap belum bisa di gerakkan.


"Kenapa? Kenapa kau sangat kejam begitu? Apa kau tidak ingin memelukku, Liu Ning? Bukankah kau bilang, kita ini sudah seperti saudara?" Ucap Nyonya Yue yang masih mempertahankan seringai di bibirnya. Kali ini, bahkan lebih menakutkan.


"Saudara? Mana ada saudara yang menyiksa saudaranya sendiri?" Kata Bibi Kiew dengan frustasi.


Sejujurnya, ia ingin lari dan melepaskan diri.


"Menyiksa? Kata-kata itu terlalu kejam, Liu Ning! Yang benar adalah, bersenang-senang! Mendengarmu berteriak kesakitan, membuat perasaanku semakin bahagia. Apalagi, teriakan itu berasal dari mulutmu yang busuk! Itu lebih menyenangkan lagi!" Ucap Nyonya Yue, yang membuat Bibi Kiew semakin bergidik ngeri.


"Bibi Ling! Mana peralatan yang sudah ku siapkan?" Ucap Nyonya Yue sambil menengadahkan tangan ke arah pelayannya, Bibi Ling.


Bibi Ling memberikan alat pengepres jari.


Nyonya Yue langsung berjalan mengelilingi Bibi Kiew, dan berjongkok di belakangnya, guna memasang alat pengepres jari tersebut.


Bibi Kiew berteriak keras, ketika Nyonya Yue melakukan penyiksaan melalui alat itu terhadapnya.


Bibi Ling juga meringis menyaksikan penyiksaan yang berlangsung di hadapannya.


Dia tidak bisa menghentikan perbuatan sang majikan, karena itu hanya akan membuat dirinya menjadi korban selanjutnya.


Puas dengan menyiksa jari-jari Bibi Kiew. Nyonya Yue kembali meminta alat yang di siapkan Bibi Ling sebelumnya, sebelum mereka datang kesana.


Bibi Ling lalu memberikan cambuk, yang di sambut dengan suka cita oleh Nyonya Yue.


SPLASHH~


SPLASHH~

__ADS_1


Nyonya Yue mengayunkan cambuk itu ke arah Bibi Kiew.


Bibi Kiew berteriak-teriak histeris menerima siksaan cambuk dari Nyonya Yue yang sangat keras.


Bosan dengan alat cambuk, Nyonya Yue menggantinya dengan pisau belati yang di sodorkan Bibi Ling.


Pada dasarnya, tubuh Bibi Kiew sudah sangat lemah karena usia dan karena selalu lelah bekerja.


Dan sekarang, Bibi Kiew harus menerima siksaan dengan begitu kasar.


Menjadikan tubuh Bibi Kiew menjadi lemas dan sekarang mulai kehilangan kesadaran.


"Nyonya, sudah cukup! Sepertinya, perempuan ini sedang sekarat!" Ucap Bibi Ling yang melihat Bibi Kiew semakin melemah.


"Tidak, aku tidak akan berhenti! Perempuan ini sudah merebut Suamiku, dengan berpura-pura menjadi sahabatku! Aku ingin menyiksanya lebih, lebih dari yang dia berikan kepadaku!"


Ternyata, dendam Nyonya Yue kepada Bibi Kiew sangat mendalam. Bahkan dia tidak merasa puas hanya dengan menyiksanya saja.


Flashback on...


"Liu Ning, kamu benar mau menjadi sahabatku?" Tanya Nyonya Yue, yang pada saat itu masih remaja.


"Tentu saja aku mau! Kau ini selalu baik padaku, lalu apa hubungan yang lebih tepat jika bukan sahabat?" Balas Liu Ning muda.


Pada saat itu, Nyonya Yue masih menyandang gelar Nona Yuan. Karena memang Ayahnya yang bernama Yuan Shi, adalah orang kaya nomer satu di Kota mereka.


Liu Ning sering di bantu oleh Nyonya Yue ketika masih bersekolah dahulu. Karena tempat sekolah mereka sama, dan karena Nyonya Yue muda sangat baik orangnya, tentu saja Liu Ning akan memanfaatkan hal itu untuk kepentingannya sendiri. Dan membuat Nyonya Yue percaya, jika dia mampu menjadi sahabat yang baik untuknya.


Nyonya Yue muda sangat senang, jika Liu Ning ingin menjadi sahabatnya.


Dengan statusnya yang dari keluarga terhormat, tentu sangat susah untuk mencari orang yang mau berdekatan dengan dirinya.


Namun itu tidak berlaku bagi Liu Ning. Dia dengan senang hati mengajukan diri sebagai sahabatnya. Tentu saja, Nyonya Yue akan dengan senang hati menerima tawaran tersebut.


"Baik, aku setuju! Mulai hari ini, kita berdua adalah sahabat! Aku akan menjagamu, dan kau juga akan menjagaku!" Ucap Nyonya Yue muda bersemangat.


Beberapa bulan kemudian, tersiar kabar bahwa Tuan Besar Yuan telah menjodohkan Putrinya yang semata wayang, kepada Putra dari bangsawan Yue di kota.


Tentu saja hal ini membuat Nyonya Yue muda sangat bahagia. Karena Itu Tuan Muda Yue sudah beberapa kali bertemu dengannya, dan Nyonya Yue juga sangat menyukai Tuan Muda Yue itu.


Namun berbeda hal dengan Nyonya Yue muda, Liu Ning justru merasa iri dengan kabar tersebut.


Bukan hanya dia juga menyukai Tuan Muda Yue, tapi karena keluarganya yang sederhana, membuat Liu Ning hanya bisa pasrah dengan di jodohkan dengan keluarga sederhana juga.


Oleh karena itu, Liu Ning merencanakan untuk merebut calon Suami sahabatnya itu, dan memasuki kediaman bangsawan Yue yang berada di kota.

__ADS_1


__ADS_2