Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
99. Suami-Istri yang kejam.


__ADS_3

Tabib Hong bergegas masuk ke dalam ruangan pribadinya yang sudah di siapkan okeh Pangeran Jun di tempat tinggal rahasia sementara mereka.


Bukan hanya Tabib Hong yang berada di tempat ini, seluruh orang di kediaman Perdana Menteri juga ada, termasuk Hu Boqin, dan juga Hu Liena, beserta para pengawal, semua kumpul di tempat penampungan yang di sediakan oleh Li Junjie.


Setelah membuka, dan membaca surat yang di tuliskan oleh Kaisar untuknya, Tabib Hong segera pergi untuk menemui Hu Liena.


"Aku ingin bertemu dengan Nona Hu." Ucap Tabib Hong ketika di hadang oleh pengawal yang menjaga kamar Hu Liena.


"Biarkan dia masuk!" Suara Hu Liena berteriak dari dalam memberikan perintah agar pengawal membukakan pintu untuk Tabib Hong.


Tabib Hong melangkahkan kaki memasuki kamar Hu Liena.


Hal yang pertama Tabib Hong lihat adalah Hu Liena tentunya, dan yang kedua yang Tabib Hong lihat adanya Li Junjie, di kamarnya Hu Liena.


Seketika, raut wajah Tabib Hong berubah masam ketika memandang Li Junjie yang ada di sana.


"Sepertinya, Tabib Hong tidak menyukai kehadiranku di sini. Apa aku sudah membuatmu tidak senang, Tabib?" Tanya Li Junjie yang melihat Tabib Hong bermuka masam ketika melihatnya.


"Siapa orang yang senang, jika harus di ikuti seperti buronan." Sindir Tabib Hong.


Li Junjie segera mengerti dengan ucapan Tabib Hong. Gerakan Bingwen sudah di ketahui oleh sang Tabib, makanya dia menjadi seperti ini.


"Lupakan tentang masalah kalian! Sekarang katakan, ada apa kau ingin menemuiku, Tabib?" Ucap Hu Liena menyudahi perdebatan kedua lelaki berbeda generasi di hadapannya ini.


"Aku ingin menunjukkan ini!" Kata Tabib Hong lalu menyodorkan surat di tangannya.


Hu Liena langsung membaca surat dari Tabib Hong. Setelah itu, dia menunjukkan suratnya kepada Li Junjie, agar calon Suaminya itu bisa membacanya juga.


"Bagaimana menurutmu, Nona?" Tanya Tabib Hong dengan serius.


"Ini menyangkut tentang nyawa semua orang di kerajaan dinasti Ying. Sebenarnya, aku bisa saja memberikan semua penawar racun itu sekarang. Tapi dengan jumlah sebanyak itu, akan menimbulkan banyak kecurigaan. Bukan hanya dari pihak kita, tapi dari pihak musuh juga." Ucap Hu Liena penuh penekanan.

__ADS_1


"Qiang Geming memang licik! Berani sekali dia menciptakan racun untuk memusnahkan dinasti Ying! Benar-benar kejam!" Li Junjie berkata geram.


"Sabar Pangeran! Kita akan segera menangkap orang itu, dan menghukumnya sesuai perbuatan yang dia lakukan." Hu Liena berusaha membuat hati Li Junjie tenang.


Bukan hanya masalah menciptakan racun untuk memusnahkan seluruh rakyat dinasti Ying. Orang itu juga, adalah dalang di balik penderitaan Li Junjie dari kecil. Jadi wajar saja, jika Li Junjie merasa marah sekarang.


"Nona Hu, aku ingin mengatakan sesuatu tentan orang yang Pangeran sebutkan." Tabib Hong membuka suara di tengah kemarahan yang sedang Li Junjie rasakan.


"Silahkan!" Balas Hu Liena cepat.


Dia ingin tahu, informasi apa yang ingin Tabib Hong katakan padanya.


"Qiang Geming sebenarnya adalah Suami dari Ibu tiri anda, Nona. Hamba mengetahuinya beberapa tahun yang lalu, setelah tidak sengaja mendengar Nyonya Yueqin berbicara sendiri di taman kediaman Perdana Menteri. Hari itu, hamba tidak sengaja lewat dan mendengar rencananya untuk meracik racun yang akan di berikan kepada anda. Dan racun itu, Nyonya Yueqin pelajari dari Suaminya, yaitu si Qiang Geming." Ucap Tabib Hong dengan nada serius.


Li Junjie mengepalkan tangannya dengan erat. Begitupun juga Hu Liena, dia juga mengepalkan kedua tangannya karena menahan rasa amarah.


"Suami-Istri yang sama-sama kejam!" Ucap Hu Liena dengan geram.


"Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran! Hamba tidak terpikirkan hal ini sebelumnya, jika saja hari ini hamba tidak mendengar nama Qiang Geming, mungkin hamba juga akan sepenuhnya lupa." Bantah Tabib Hong yang tak mau di sebut abai oleh Pangeran Jun.


Hu Liena segera menghentikan Li Junjie yang akan berbicara memarahi Tabib Hong lagi.


"Cukup, Pangeran! Yang penting sekarang sudah tahu, siapa Yueqin dan Xiulin sebenarnya."


"Kau benar, Putri! Aku bersalah karena terlalu emosi sekarang! Maafkan atas kelancanganku ini, Tabib!" Pangeran Jun melipat kedua tangan di depan dada.


Tabib Hong mengangguk puas karena Li Junjie akhirnya berani meminta maaf. Semua ini berkat Nona Hu, hanya dia yang bisa membuat orang berhati batu, menjadi melunak seperti sekarang, pikir Tabib Hong.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Pangeran?" Tanya Hu Liena setelah mereka tinggal berdua di dalam kamar, karena Tabib Hong telah kembali ke ruangan pribadinya setelah selesai memberi laporan


Li Junjie berpikir sejenak, lalu menjawab ucapan Hu Liena. "Karena posisi Qiang Geming sudah di ketahui, sebaiknya kita langsung bergerak kesana secepatnya."

__ADS_1


"Itu terlalu beresiko." Tolak Hu Liena.


Li Junjie seperti tidak senang dengan penolakan yang di berikan oleh Hu Liena.


"Jika kita tidak bergerak sekarang, kita akan keduluan oleh mereka." Tegas Li Junjie.


"Belum tentu juga, Pangeran! Kalau mereka bisa melakukannya, kenapa tidak dari dulu saja? Itu berarti, persiapan mereka belum rampung sepenuhnya." Hu Liena langsung mengutarakan pendapatnya.


"Apa Putri punya rencana lain, untuk menghadapi mereka?" Tanya Li Junjie yang di balas anggukkan oleh Hu Liena.


"Apa itu?" Li Junjie menjadi penasaran dengan apa yang di pikirkan calon Istrinya sekarang.


Hu Liena membisikkan rencananya kepada Li Junjie agar tak ada orang yang menguping pembicaraan mereka. Meskipun tempat mereka saat ini terbilang aman, namun Hu Liena tetap tidak ingin ada seorangpun yang mengetahui tentang rencananya.


"Tidak, itu terlalu berbahaya!" Tolak Li Junjie dengan raut wajah cemas.


"Hanya itu cara kita untuk memancing mereka keluar, Pangeran!" Bujuk Hu Liena.


"Tidak, aku tidak menyetujui rencanamu itu!" Li Junjie tetap menolak rencana Hu Liena.


Hu Liena tampak kesal karena rencananya tidak di setujui oleh Li Junjie. Dia sudah memikirkan ini matang-matang, harusnya Li Junjie mendukungnya secara penuh, bukan malah menolaknya secara mentah-mentah.


"Ini tidak boleh, itu tidak boleh, lalu apa yang boleh?" Kata Hu Liena menunjukkan kekesalannya.


"Rencana akan tetap berjalan, tapi tidak dengan membiarkanmu untuk menyusup kesana." Ucap Li Junjie tegas.


Hu Liena sedikit tersenyum mendengar rencananya akan di lakukan meskipun dengan sedikit perubahan.


Yang terpenting, dia akan tetap ikut andil dalam rencananya tersebut.


"Baik, terserah kau saja. Aku akan mengikuti semua yang kau ucapkan, Pangeran!" Kata Hu Liena.

__ADS_1


Setelah keduanya setuju dengan rencana masing-masing, Li Junjie pergi untuk menyiapkan semua yang mereka butuhkan.


__ADS_2