Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
134. Kematian Putri Song Qian dan Yu Zemin.


__ADS_3

Putri Song Qian terus memberontak dan berteriak-teriak meminta kebebasan untuk Putranya.


Namun percuma saja, keputusan hukuman gantung sudah mutlak di berikan kepada Yu Zemin.


Kejahatan mereka berdua sangatlah banyak, hingga tidak memungkinkan untuk mereka di maafkan.


Jujur saja, hati Kaisar Long Qian merasa sakit hati melihat keadaan Adik perempuan kesayangannya menjadi seperti sekarang.


Namun, sebagai pemimpin sebuah kerajaan, dia tidak boleh lemah dalam membuat keputusan.


Keadilan harus tetap di tegakkan, meskipun harus menghukum keluarga sendiri. Dan Adiknya juga sudah terbukti bersalah telah melakukan kejahatan, dan yang bisa di lakukan Kaisar Long Qian sekarang hanya pasrah melihat Adiknya menjalani hukuman.


Pangeran Yu Zemin di seret ke tempat yang sudah di sediakan untuk tahanan yang akan di hukum gantung.


Kepalanya di tutup dengan kain berwarna hitam, dan kedua tangannya di ikat ke belakang.


Algojo yang akan mengeksekusi matinya berdiri dengan tegak di atas sebuah meja besar tempat hukuman gantung di laksanakan.


Tali sudah di turunkan, dan Yu Zemin juga sudah di naikkan ke atas meja yang akan menjadi penyangga tubuhnya nanti. Sekali tarik, lantai papan di bawah meja penyangga akan terbuka, dan tubuh Yu Zemin akan tergantung di atas sana.


Semua orang yang berkumpul menyaksikan hukuman Yu Zemin bergidik ngeri hanya dengan membayangkan hal tersebut saja. Mereka berjanji, tidak akan melakukan kejahatan yang sama, agar mereka semua tidak harus mengalami hukuman seperti yang Yu Zemin terima sekarang.


"Bersiap!" teriak algojo sambil meraih tali yang akan di pergunakannya untuk menarik alat yang di gunakan menutup lantai papan.


Semua orang menahan nafas, jantung mereka berdegup dengan kencang ketika akan menyaksikan eksekusi hukuman Pangeran Yu Zemin.


BRAAKKK!


Lantai papan terbuka, dan tubuh Yu Zemin langsung tergantung karena kehilangan pijakan di kakinya.


Untuk beberapa saat, kakinya masih bergerak-gerak hingga akhirnya terdiam tanpa pergerakan.


"Tiiiddaaaaakkk! Putraku!" teriak Putri Song Qian dengan memilukan saat melihat tubuh Putranya tergantung kaku di atas tiang.


Kaisar Long Qian memejamkan matanya saat melihat Putri Song Qian menangis meratapi kematiannya Yu Zemin.


"Putraku! Putraku telah mati!" ratap Putri Song Qian dengan penuh kesedihan.

__ADS_1


Tak ada seorangpun yang berusaha menenangkannya, karena statusnya saat ini adalah seorang tersangka, bukan Putri dari sebuah kerajaan.


Tubuh Putri Song Qian meluruh ke lantai, tatapan matanya kosong menatap di kejauhan. Bahkan, ketika para pengawal membawanya ke tiang gantungan 'pun, Putri Song Qian tidak berusaha melawan ataupun memberontak.


Mungkin, karena kematian Putranya hingga mengakibatkan perasaannya terpukul dan menjadi pasrah untuk menjalani hukuman.


Seperti tadi, algojo mulai bersiap untuk mengeksekusi Putri Song Qian. Tali di tarik, dan lantai terbuka hingga tubuh Putri Song Qian kehilangan pijakan dan berakhir meninggal di tiang gantungan. Kematiannya tidak seperti Yu Zemin, tidak ada sedikitpun pergerakan dari tubuh Putri Song Qian ketika tali di tarik.


"Hah, semua sudah selesai!" Kaisar Long Qiang menghela nafas panjang setelah kematian Adik perempuannya di umumkan.


"Long Qian, kapan jenazah Adik dan keponakanmu akan di makamkan?" tanya Kaisar Li Jinhai.


Dia sengaja memberi wewenang untuk Kaisar Long Qian membawa jenazah kedua keluarganya tersebut.


Meskipun berstatus tersangka, namun untuk menghormati kaisar Qian, Kaisar Li Jinhai telah mengumumkan akan menyerahkan kedua jenazah Ibu dan Anak tersebut kepada Kerajaan Qian untuk di berikan penghormatan terakhir, dan di makamkan sesuai dengan status kebangsawanan mereka yang lahir dari keluarga kerajaan.


"Mungkin besok, Jinhai. Rencananya, hari ini aku akan pulang ke kerajaanku." jawab Kaisar Long Qian dengan masih tampak sedih.


"Lebih cepat, lebih bagus." balas Kaisar Li Jinhai.


"Bagaimana dengan lukamu, Putriku? Apa masih perih?" tanya Yueqin dengan cemas.


"Lukanya sudah mulai membaik ,Ibu. Namun, kondisinya belum pulih seperti dulu." keluh Xiulin sambil membuka sedikit kain penutup wajahnya.


Yueqin mengernyit melihat wajah Putrinya yang tampak mengerikan. Namun dia sebisa mungkin untuk tidak mengatakannya kepada Xiulin, agar dia tidak merasa sakit hati.


"Ibu dengar, hari ini semua para Bangsawan akan mendapatkan hukuman." ucap Yueqin dengan pelan karena takut terdengar oleh para penjaga.


"Bagaimana dengan Tuan Muda Mo, Ibu?" tiba-tiba hati Xiulin menjadi sangat khawatir.


"Semuanya sudah di hukum gantung, termasuk Tuan Muda Mo juga." bisik Yueqin yang sontak membuat Xiulin merasa terkejut sekaligus sedih.


Kedua tangannya tanpa sadar mengepal dengan erat, dan wajah Hu Liena seketika terbayang di pelupuk matanya.


"Semua gara-gara si Hu Liena! Aku menjadi seperti ini juga, gara-gara dia!" ucap Xiulin dengan geram.


"Jangan berisik! Aku sedang tidur!" teriak seorang pria dari sel tahanan sebelah mereka.

__ADS_1


"Hey, kau! Beraninya kau membentak kami!" teriak Yueqin dengan lantang.


Si pria tidak menyahut, dia terlalu mengantuk untuk mulai berdebat dengan perempuan. Yang dia inginkan sekarang hanya tidur, dan tidur saja sepanjang hari.


Yueqin mengeratkan giginya, dia masih merasa kesal dengan pria yang membentaknya tadi.


Walaupun begitu, Yueqin tidak lagi berteriak padanya. Lebih baik dia sekarang fokus membahas tentang hidup antara dia dan Putrinya daripada harus berdebat dengan orang yang tidak jelas tersebut.


Terdengar pria di sel tahanan sebelah mereka menguap dengan lebar, dan kembali melanjutkan tidurnya di atas tumpukan jerami kering.


Hari mulai berganti malam, Yueqin memutuskan untuk mengajak Putrinya mengistirahatkan tubuh mereka yang telah duduk seharian.


Tinggal di dalam penjara sangatlah sulit, selain tidak bisa kemana-mana, yang mereka lakukan juga hanya terduduk menunggu penjaga memberikan makanan, dan akhirnya tertidur di tumpukan jerami yang kotor.


Bau pengap karena tak ada udara yang masuk, sudah biasa mereka hirup. Lantai penjara yang kadang lembab, bukan alasan bagi mereka untuk minta di pindahkan. Karena percuma saja, takkan pernah ada orang yang mau mendengar keluhan mereka.


Di tengah malam, Yueqin terbangun karena mendengar suara berisik dari arah luar.


Yueqin jadi merasa khawatir, dia takut malam ini mereka akan di seret dan di hukum mati seperti yang lainnya.


Dia lalu membangunkan Xiulin yang sudah terlelap tidur dari tadi siang.


"Ada apa, Ibu?" tanya Xiulin dengan kesal karena tidurnya terganggu.


"Apa kau dengar itu?" bisik Yueqin perlahan.


Xiulin menggeleng, kepalanya terlalu sakit karena di bangunkan dengan cara yang tergesa-gesa.


Mulut Yueqin terbuka sedikit, namun tidak mengeluarkan sepatah katapun karena dirinya terlalu terkejut dengan suara dentuman dari arah pintu penjara.


Duaarrr!


Pintu penjara di bobol oleh sekelompok orang yang memakai pakaian serba hitam.


Dan salah satu dari mereka, langsung merusak kunci sel tahanan milik si pria yang berada di sebelahnya ruangan Yueqin.


"Pangeran, maafkan kami karena telah datang terlambat." ucap orang berpakaian serba hitam.

__ADS_1


__ADS_2