
"Kenapa memangnya?" tanya Qaynaya.
"Kamu menjadi berani berbeda pendapat dengan ku"
"Tentang apa?" Qaynaya tidak mengerti dengan arah pembicaraan suaminya.
Djani lalu mengatakan kalau apa yang di pikirkan oleh Qaynaya terlalu memberatkan untuk anak mereka. Karena bagaimana mungkin anaknya itu harus memaafkan dan mengampuni orang yang telah melukainya sampai separah itu.
"Apa aku salah?" tanya Qaynaya, lalu mengendurkan pelukannya, hingga Djani bisa berbalik badan.
"Aku tidak mengatakan kalau itu salah, hanya saja sepertinya itu kurang tepat" Djani mencium kening istrinya, lalu mengangkat tubuh Qaynaya keatas sebuah kursi, sekarang posisi Qaynaya berdiri diatas kursi, dengan Djani dibawahnya, memeluk erat perut istrinya itu.
Djani lalu menanyakan tentang masalah lain, yang membuat Qaynaya tidak bisa menjawab apapun. Selama ini Djani meminta pada Qaynaya supaya mengandung lagi, tapi istrinya itu selalu menolak, dengan alasan bahwa dirinya sudah tua.
"Kamu belum tua sayang, aku melihat dirimu masih sama seperti dahulu, bahkan tidak ada perubahan sedikitpun" ujar Djani. Tapi sepertinya Qaynaya tetap saja tidak mau mengabulkan permintaan suaminya itu.
__ADS_1
"Kita sudah mempunyai dua anak, itu sudah lebih dari cukup sayang" Qaynaya membelai lembut kepala suaminya, yang masih anteng memeluk dan menciumi perutnya.
"Aku sudah pernah mengatakan kalau aku ingin banyak anak, ayolah sayang, satu lagi saja" Djani terus saja membujuk istrinya.
"Umurku hampir memasuki kepala empat sayang, itu sudah terlalu tua" Qaynaya berusaha memberikan pengertian kepada suaminya.
"Tidak masalah, aku yakin kamu bisa"
"Apa kita mengadopsi anak saja?" usul Qaynaya, yang tentu saja langsung ditolak oleh Djani dengan tegas. Bukan karena dia tidak mau, tapi takutnya dia tidak sanggup untuk berlaku adil, karena merasa kalau anak adopsi, bukan darah dagingnya sendiri.
"Jangan memberikan ide yang sudah jelas kalau aku tidak sanggup untuk melakukannya" jawab Djani, lalu mengangkat kembali tubuh istrinya, dan memintanya untuk duduk dan segera makan.
Saat orang lain takut kalau sampai anak mereka kebanyakan makan, hingga membuat anak mereka mempunyai bentuk tubuh yang tidak ideal, tidak begitu dengan Qaynaya dan Djani. Karena bagi Qaynaya dan Djani, untuk saat ini tidak perlu untuk memikirkan hal itu, yang terpenting anak mereka tumbuh dengan baik dan bahagia.
"Sedikit saja ma, aku tadi sudah makan, tapi ingin makan lagi saja, untuk menganggu mama dan ayah yang sedang bermesraan di dapur berduaan" ujar Arion, entah dia serius atau bercanda, karena mimik wajahnya terlihat sangat serius. Tapi tidak lama kemudian dia langsung tertawa karena melihat kedua orang tuanya terdiam.
__ADS_1
"Kenapa juga mama sama ayah jadi serius seperti ini. Apakah aku benar-benar membuat mama dan ayah merasa terganggu?" Arion tidak hentinya tertawa.
"Iya, kamu ini sangat mengganggu sekali, cepat habiskan makanan mu, lalu segera enyahlah dari sini" ujar Djani bercanda, sambil mengambilkan makanan untuk Qaynaya.
"Arion, sebenarnya apa yang terjadi? kamu pasti tau sesuatu tentang kakakmu kan?" tanya Qaynaya kemudian. Arion sedikit tersedak, karena tidak menyangka mamanya akan menanyakan hal ini. Tapi sebenarnya dia sudah siap dengan pertanyaan ini, karena cepat atau lambat, mamanya itu pasti akan menyadari sesuatu dan menanyakan hal ini, yang merupakan asal muasal ketidak akuran antara Cheril dan Andjani.
Arion lalu bercerita, bahwa Cheril sangat tidak menyukai kakaknya, yaitu Andjani. Karena Cheril menyukai Ardi, sementara Ardi sangat tergila-gila pada Andjani. Sampai disini Qaynaya menjadi sangat paham dengan apa yang terjadi.
"Berarti benar dugaanku. Ini pasti menyangkut dengan sebuah perasaan" ujar Qaynaya, lalu meminta pada Arion untuk cepat menyelesaikan makanannya.
Qaynaya terlihat serius berfikir, tapi siapa yang bisa tau apa yang dipikirkannya, bahkan Djani terlihat heran, melihat istrinya yang terus melamun.
"Apa mama akan melarang kakak untuk berpacaran? apa mungkin mama adalah orang tua kolot dalam hal ini?" tanya Arion.
"Mama tidak melarang, tapi bukankah lebih baik, kalau di umur kalian saat ini, yang lebih kalian pentingkah adalah sekolah dan belajar, lalu kenapa kalian harus bermain perasaan cinta sedari sekarang?"
__ADS_1
"Mama jangan khawatir, karena kak Anna tidak pernah merespon kak Ardi, karena kakak pasti tidak mau mengecewakan mama" ujar Arion, lalu segera bangkit dari kursinya, karena dia sudah selesai makan, tapi ajaran Qaynaya dan Djani, Arion lalu mendekati wastafel untuk mencuci piring, dia harus membersihkan sendiri bekas piring dan gelas yang tadi dipakai untuk makan dan minum.
Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh anak lelakinya, Qaynaya kembali melamun.