
Tok tok tok tok
"Ardi, Ardi!" Sasha mengetuk pintu kamar anaknya, karena terdengar bunyi pukulan keras, ternyata Ardi yang sedang menangis karena merasakan patah hati, memukul cermin yang ada di dalam kamar mandi sampai pecah berhamburan.
"Ada apa Ardi? cepat buka pintunya!" Sasha panik, bahkan Darius juga sampai terbangun dari tidurnya, dan ikut mengetuk pintu kamar anaknya, tapi Ardi yang didalam kamar mandi, dan menyalakan shower air dengan kencang, tidak mendengarkan panggilan kedua orang tuanya.
"Ada apa ini? bukankah sedari tadi dia begitu semangat membantu Djani untuk mencari bukti tentang kecelakaan dalam pertandingan basket yang dialami Aan, kenapa dia sekarang seperti ini? apa hal buruk menimpa Aan sehingga dia menjadi histeris?!" Darius dengan panik berbicara sambil berusaha mendobrak pintu kamar Ardi.
Brraakkkk
Pintu terbuka dengan paksa, mereka lalu segera bergegas berlari menuju ke kamar mandi dan langsung menggedor keras pintu nya, supaya terdengar oleh Ardi.
__ADS_1
"Ardi, buka pintunya. Apa yang sebenarnya terjadi?!" Darius dan Sasha terus saja berusaha untuk mencari tau, apa yang sedang terjadi pada Ardi, tapi ternyata pintu kamar mandi juga terkunci.
Kali ini Ardi bisa mendengarkan suara kedua orang tuanya, tapi sebelum membuka pintu, Ardi terlebih dahulu mencoba untuk menata perasaannya, walau itu tidak mungkin sanggup dia lakukan, Ardi lalu membuka pintu kamar mandi, setelah dia mencuci wajahnya.
"Ada apa sayang?" Sasha langsung menghambur ke arah anaknya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat jari-jari tangan kanan anaknya berdarah.
"Ardi, apa yang sebenarnya terjadi?!" Darius yang panik bertanya sambil sedikit berteriak, karena Ardi masih saja tidak menjawab pertanyaan mereka.
Ardi masih diam, dan memilih untuk langsung menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang tidurnya, dia bahkan tidak memakai baju terlebih dahulu, dan hanya memakai jubah mandinya.
Karena dirasa Ardi sangatlah shock dengan sesuatu, Darius lalu mengajak Sasha untuk lebih dahulu keluar dari dalam kamar anaknya. Awalnya Sasha menolak, karena masih ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Biarkan dia tenang terlebih dahulu" ujar Darius lalu menarik tangan istrinya.
"Apa kita hubungi Qaynaya dan Djani?" usul Sasha.
"Lihatlah jam di dinding itu, hari bahkan sudah hampir pagi. Mereka pasti masih tidur. Sudahlah kita juga sebaiknya melanjutkan untuk tidur terlebih dahulu, besok pagi baru kita tanyakan apa yang sebenarnya terjadi" Darius kembali menarik tangan istrinya, kali ini untuk membawa istrinya itu untuk masuk kedalam kamar mereka.
Ardi tidak bisa tidur, matanya terbuka, tapi tatapan matanya kosong. Hiasan dinding di dalam kamarnya yang didominasi oleh warna hitam, dengan banyaknya foto Andjani yang menghiasinya, terlihat sangat suram, sesuram pemilik kamarnya, senyuman Andjani diberbagai foto yang terpajang, tidak membuat Ardi tenang seperti biasanya saat melihatnya.
Kali ini, hanya rasa sakit yang dia rasakan saat melihat banyaknya foto Andjani yang ada di dalam kamarnya.
"Hhaaahhhh!!" Ardi terbangun dan berteriak, lalu memakai bajunya dan berniat untuk pergi menemui Andjani, dia tidak akan sanggup untuk menepati perkataan nya sendiri yang akan menjauhi Andjani.
__ADS_1
"Ardi,, ini masih malam, walau ini sudah hampir pagi, tapi tidak baik untuk bepergian. Sebenarnya kamu mau kemana?" Sasha merasa tidak enak hati, jadi tadi setelah Darius mengajaknya untuk masuk kedalam kamar, dia memilih untuk keluar kembali, dan saat itu bertepatan dengan keluarnya Ardi dari dalam kamarnya.
"Memperjuangkan cintaku" jawab Ardi mantap.