
"Waktu itu pernyataan cinta ketiga ayahmu, baru mama terima" Qaynaya tersenyum sambil memulai bercerita pada anaknya.
"Apa yang membuat mama begitu membutuhkan waktu yang lama untuk menerima perasaan ayah, bukankah ayah begitu sangat mencintai mama? bahkan sampai saat ini, cinta ayah tidak pernah luntur" tanya Andjani merasa heran.
"Itu karena ayahmu adalah bintang di kampus. Mama merasa kalau ayahmu hanya penasaran saja, dengan mama yang hanyalah wanita biasa"
"Mama saja yang sangat cantik, bisa mempunyai perasaan seperti itu, bagaimana dengan aku" Andjani kembali melihat kearah ponselnya, berniat untuk kembali bertanya pada Ardi, mengenai apa yang sebenarnya terjadi, karena Andjani masih merasa ada yang janggal.
__ADS_1
"Kamu juga sangat cantik sayang. Hubungi saja kalau itu bisa membuatmu lebih tenang. Apa perlu mama keluar lebih dahulu?" Qaynaya berniat bangun dari duduknya, tapi Andjani menahannya.
"Sebenarnya apa yang dirasakan seseorang saat jatuh cinta? lebih tepatnya bagaimana ma?. Teman-teman ku kebanyakan sudah memiliki kekasih, saat jam istirahat, mereka akan bersama dengan kekasih mereka. Sementara aku masih tidak tau, sebenarnya perasaan cinta itu yang seperti apa. Apa mungkin aku tidak normal?" tanya Andjani. Qaynaya tersenyum simpul melihat pertanyaan anaknya, didalam hatinya, Qaynaya begitu bahagia, karena anaknya itu, mau bercerita mengenai perasaannya.
"Kamu ini masih sangat muda. Diumur mama dahulu, mama dilarang pacaran saat seumuran dengan dirimu" Qaynaya kembali duduk dengan nyaman, dan mulai mengobrol lagi dengan Andjani.
"Karena zaman sudah berubah. Kita hidup di zaman yang berbeda sayang, jadi menghadapinya juga pasti dengan cara yang berbeda juga. Mama tidak akan melarang, tapi kamu harus tau batasan. Mana yang boleh dilakukan dalam berpacaran, dan mana yang tidak, jangan sampai kamu salah pergaulan dan salah mengartikan arti berpacaran. Berpacaran itu hanya untuk saling mengenal lebih dekat, menurut mama berpacaran itu tidak ada bedanya, atau lebih tepatnya tidak jauh berbeda seperti persahabatan. Mungkin sekarang banyak sekali anak muda yang berpacaran, tapi apa yang mereka lakukan, sudah selayaknya seperti pasangan suami istri saja. Nah itulah yang tidak boleh dilakukan" Qaynaya mencoba mencari penjelasan, yang mudah dipahami oleh Andjani.
__ADS_1
"Jika kamu mencintai seseorang dengan cara yang sehat, berpisah itu sulit tetapi kamu masih menjalani hidup seperti yang selalu kamu lakukan. Menunggu dengan cemas untuk bertemu dengannya lagi. Ketika kamu jatuh cinta, kamu menyukai segala hal tentang dirinya. Kamu suka ketika dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan mu, atau mengajukan pertanyaan bagaimana hari mu berjalan. Kamu selalu senang bersama dia. Sampai saat ini apakah itu semua sedang kamu alami?" Qaynaya melihat Andjani yang terlihat sedang berfikir.
"Tapi dari dulu juga aku selalu bersama dengan Ardi, jadi aku memang selalu senang saat bersamanya, karena dia akan memberikan apapun yang aku inginkan" Andjani terus mengingat kebersamaannya dengan Ardi.
Qaynaya mengerti kalau anaknya itu masih belum memahami dan menyadari perasaannya. Atau mungkin memang perasaan cinta itu belum ada di hati Andjani. Entahlah, Qaynaya tidak mau terlalu menebak-nebaknya.
"Sayang, ini hanya rencana mama saja. Mama juga belum membicarakan hal ini secara serius dengan ayahmu. Bagaimana kalau kita mencari suasana baru dengan pindah ke negara asal mama dan ayah" Qaynaya berbicara dengan perlahan, sambil memperhatikan reaksi dari Andjani.
__ADS_1
"Apa maksud mama?" Andjani tentu saja terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya.