
"Ini demi kebaikan kakak mu" ujar Djani, dia sangat paham kalau Arion tidak berminat untuk kembali ke negara asal mereka, karena sedari bayi dia berada di negara ini.
Saat ini Djani merasa kalau waktu nya sangat tepat baginya untuk kembali, dia bisa dengan leluasa memantau semua perusahaan yang selama ini dia tinggalkan. Rega sudah di umur yang seharusnya banyak beristirahat, jadi Djani melarang ayahnya itu untuk mengurus perusahaan.
"Tapi disinilah rumah ku, disinilah aku merasakan kenyamanan. Disini juga aku mempunyai banyak teman, aku tidak akan pernah tau, apakah aku akan bertahan di negara lain" Arion tetap saja menolak, lagipula ini terasa begitu cepat.
"Kamu akan menemukan banyak teman di negara asal kita nantinya, jadi jangan khawatirkan mengenai masalah ini" Djani sudah sampai di depan ruangan kantor guru, sebelum mereka ingin membicarakan tentang kepindahan sekolah Arion, mereka juga akan berpamitan pada semua guru terlebih dahulu. Disini lebih tepatnya Djani yang ingin berpamitan dan mengucapkan terima kasih karena selama ini Arion mendapatkan banyak pelajaran dan ilmu selama belajar di sekolah. Sementara Arion sepertinya masih merasa sangat berat hati untuk meninggalkan sekolah yang selama ini menjadi tempatnya menuntut ilmu.
__ADS_1
"Si anak pelayan cafe itu mau apa, mungkinkah dia sedang meminta sumbangan. Lihatlah, bahkan kali ini dia bersama dengan ayahnya yang merupakan seorang pelayan itu" ucapan seseorang membuat Djani mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu ruangan guru, dan memilih untuk melihat kesekitar, untuk mencari asal suara tidak mengenakkan yang tadi dia dengar.
"Jangan dimasukkan ke dalam hati. Ayo sekarang kita berpamitan saja, bukankah itu yang ayah inginkan" Arion menghalangi jalan ayahnya yang ingin mendekati kakak kelasnya yang memang selama ini seringkali menghina dirinya.
Djani merasakan kemarahannya sudah tidak mungkin bisa dibendung lagi, di sekolah Andjani, anak gadisnya itu juga di bully, bahkan sampai terluka, lalu sekarang dia juga menyadari kalau Arion juga mengalami hal yang sama.
"Dinegara ini, kita bukan siapa-siapa, jadi jangan pernah membuat masalah, aku mohon padamu dengan sangat. Dan kalau sampai publik tau keberadaan mu, hanya karena kita terlibat dalam masalah, itu juga tidak baik bagi kelangsungan hidup kita dinegara ini" peringatan yang dahulu dikatakan oleh Qaynaya, kembali terngiang-ngiang di telinga Djani, jadi kali ini dirinya harus menahan perasaan nya, supaya dia tidak mengacaukan segalanya.
__ADS_1
Lagipula semua bisa menjadi lebih berantakan kalau dirinya membuat masalah saat ini. Karena masalah Andjani saja belum selesai, jadi tidak mungkin dirinya dengan sengaja menambahkan masalah lagi.
"Wahai bapak pelayan cafe. Tidak perlu merasa malu pada kami, kalau memang kamu mengharapkan sumbangan ditempat ini, katakan saja dengan pasti nominalnya. Hal itu akan sangat mudah diberikan oleh orang tuaku, hahaha" kakak kelas Arion semakin menjadi-jadi dalam menghina Arion, bahkan tanpa memperdulikan akibatnya, saat ini Djani juga menjadi korban bullying tersebut.
"Sejak kapan semua ini terjadi?" tanya Djani pada Arion.
"Sudah aku katakan, ini tidak perlu dipikirkan" Arion ketakutan karena Djani terlihat sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
__ADS_1