
"Ma,, apa yang mama lakukan disini? kapan mama datang?" Rini mendekati Neli lalu bersalaman dengan mamanya.
"Apa kamu tidak akan mengenalkan menantumu padaku?" tanya Neli pada Rini. Tentu saja hal itu membuat Rini malas, karena dia tidak menyukai Qaynaya.
Neli menggenggam tangan Qaynaya, lalu memperkenalkan siapa dirinya. Qaynaya mengangguk mengerti lalu memberikan salam hormat. Kecanggungan terlihat saat Rini meninggalkan ruangan, Neli meminta pada Qaynaya untuk tidak terlalu mengambil hati dengan sikap Rini.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Neli pada cucu menantunya.
"Sudah nek, apa nenek belum sarapan karena baru datang dari perjalanan jauh?"
"Iya, nenek sangat lapar sekali, maukah kamu menemani nenek makan?"
__ADS_1
Qaynaya mengangguk lalu mengajak Neli untuk menuju ruang makan, tanpa Qaynaya sadari, ternyata Neli melihat cara berjalannya yang terlihat kesusahan.
"Apa Djani menyakitimu?"
Qaynaya membeku dan terdiam, dia merasa malu dengan kondisi yang dia alami. Qaynaya berfikir kalau dirinya lemah, sehingga dia bisa dalam kondisi seperti itu. Dengan menundukkan kepalanya, Qaynaya lalu menjawab pertanyaan Neli.
"Tidak nenek" Qaynaya lalu melihat ke arah Neli yang terlihat sangat geli dengan jawaban nya. Neli lalu menuntun Qaynaya, mereka berjalan pelan menuju ke ruang makan.
Tentu saja hal seperti itu tidaklah mudah bagi seseorang, apalagi dia diharuskan menikah dengan orang yang tidak dia cintai sebelumnya. Disela-sela Neli yang terus bercerita kepada Qaynaya, tanpa mereka sadari ternyata Rini mendengarkan semua.
"Dia merasa kalau pilihan orang tua, selalu lebih baik, terbukti dengan pilihan nenek yang membuatnya bahagia. Tetapi karena sifatnya yang tertutup, sehingga sempat dan sebenarnya masih sering terjadi kesalahpahaman dengan Rega. Sifat dingin Rini diartikan lain oleh Rega, dan menganggap bahwa sampai saat ini, Rini belum sepenuhnya menerima Rega" Neli berhenti bercerita lalu melihat ke arah Qaynaya.
__ADS_1
"Sekarang nenek hanya ingin kamu tau, bahwa sifat dingin dan kasar Rini, sebenarnya tidak mencerminkan hatinya, bahkan Djani saja tidak paham dengan sifat asli mamanya. Djani selalu berfikiran bahwa Rini tidak terlalu perduli padanya"
Qaynaya mengerti, sepertinya telah terjadi kesalahpahaman yang terjadi pada Djani dan Rini. Ibu dan anak itu hanya tidak mengerti cara mengungkapkan perasaan mereka dengan benar.
"Layaknya Djani yang membuat dirimu menjadi kesusahan berjalan seperti sekarang ini, itu contoh nyata bahwa Djani tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Djani pasti sangat mencintai dirimu, dia tidak mau kehilangan dirimu lagi, dia meyakinkan hatinya bahwa kamu selalu ada disampingnya dengan cara terus menyentuh dirimu" Neli berhenti berbicara lalu tersenyum melihat Qaynaya yang terlihat memerah wajahnya, karena malu mendengar apa yang dikatakan oleh Neli.
"Rini memang akan menjodohkan lagi Djani dengan wanita lain, itu karena Rini pernah mengalami kejadian yang menurutnya itu buruk. Saat itu Rini dan Rega menghadiri suatu acara, nenek juga sebenarnya tidak terlalu tau masalah apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja nenek tau, kalau Rega melakukan kesalahan, walau tanpa Rega sadari"
"Kesalahan seperti apa nek? bolehkah aku tau? supaya aku tidak melakukannya?"
Neli seperti sedang mengingat kembali, dengan tragedi yang membuat Rini berfikir, kalau orang dari golongan kelas bawah, tidak pantas bersanding dengan golongan kelas atas.
__ADS_1