
"Kurang ajar kamu Qay, awas aja ya. Tunggu pembalasanku" Reina memegangi ujung bibirnya yang berdarah setelah mendapatkan kekerasan dari suaminya.
Edgar tadi langsung pergi meninggalkan istrinya di dalam mobil begitu dia sudah selesai dengan urusannya. Tidak lupa Edgar juga mengancam istrinya untuk tidak lagi melakukan hal konyol yang merugikan.
"Apa kamu pikir aku tidak tau kalau dirimu itu wanita jalan*?!,, aku hanya terus memanfaatkan dirimu supaya perusahaan itu tetap ada yang mengurusnya, karena kalau aku yang mengurusnya sendiri, aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan wanita yang sejenis denganmu, sekarang sadari saja posisimu, dan lakukan tugasmu dengan benar. Kalau sampai hal seperti ini terulang lagi, aku tidak segan-segan untuk menghabisimu. Dulu aku tidak perlu menghabisi istri pertamaku, karena dia sudah mati duluan" Edgar mencekik leher Reina sebelum melenggang pergi seperti tidak terjadi apapun.
"Seharusnya aku bersabar dan menggunakan cara yang lebih halus. Aku salah langkah karena aku pikir Qay sialan itu tidak akan mengikuti Djani" Reina mengambil tisu untuk membersihkan darah di bibirnya. Lalu segera merapikan bajunya untuk segera kembali kerumahnya karena sudah terlalu malam.
"Cheril sayang, apa kamu belum tidur?" Reina sudah sampai ke rumahnya dan langsung menuju kamar anaknya.
"Aku tidak bisa tidur mama, aku kesal sama pengasuh baruku. Dia tanpa sengaja mendorongku hingga terjatuh?"
"Aapppaa?!" Reina kaget mendengarnya dan segera memanggil pengasuh yang dimaksud oleh Cheril.
"Apa yang kamu lakukan pada anakku? aku bisa menuntut dirimu!" Reina marah lalu menampar pipi pengasuh anaknya.
"Tidak nyonya, tadi nona Cheril bermain, saya menemaninya dan mengawasi, lalu tanpa sengaja nona terjengkang karena menginjak mainan lego yang ada di lantai, tangan saya hendak menjangkau nya, tapi tidak sampai" pengasuh itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak ma, jangan percaya padanya. Bukankah mama selalu mengatakan pada para pengasuh untuk selalu menjagaku dengan baik, kalau sampai aku kenapa-napa, itu berarti kesalahan mereka!" Cheril bersikeras kalau pengasuhnya lah yang telah mendorongnya, karena bagi dirinya, seharusnya pengasuh bisa selalu waspada.
"Kamu benar sayang, baiklah kamu!!" Reina membelai lembut kepala anaknya, lalu segera berpaling ke arah pengasuhnya.
"Segera tinggalkan tempat ini, kamu saya pecat!" Reina mendorong pengasuh itu hingga terbentur tembok, tapi tidak ada penyesalan sedikitpun di wajah Reina. Setelah mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya, dan melemparkannya pada pengasuh yang malang itu, Reina lalu menggendong anaknya untuk segera menidurkannya.
"Apa yang membuatmu tahu kalau ada sesuatu yang akan terjadi padaku?" tanya Djani begitu mereka sudah sampai lagi ke rumah mereka.
"Aku hanya merasa tidak tenang saja" Qaynaya meninabobokan Andjani yang baru dia ambil dari rumah Serli.
"Terimakasih" Djani tidak tau hal buruk apa yang akan terjadi kalau Qaynaya tidak melihat kejadian yang sesungguhnya, karena hanya dengan sebuah foto, tentu hal itu bisa terjadi salah faham. Djani juga masih tidak mengerti dengan Darius yang nekad melakukan hal itu.
"Jangan salahkan dia. Aku juga sebenarnya sangat tidak menyukai dengan apa yang dia lakukan tadi, tapi sepertinya kita harus memahaminya untuk saat ini. Dia pasti sangat ketakutan kalau sampai dia di pecat" Qaynaya bisa mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya.
"Sepertinya kamu adalah cenayang. Kamu tau apa yang akan terjadi padaku, lalu sekarang kamu bisa menebak apa yang aku pikirkan" Djani lalu mengacak rambut istrinya dengan gemas.
"Ini hanya kebetulan. Tapi yang menjadi pertanyaan besar nya adalah. Kenapa kamu tidak mengatakan padaku kalau kamu bertemu dengan Reina? bukankah sudah aku katakan untuk menceritakan semua masalah yang, dan kita bisa hadapi bersama" tanya Qaynaya penuh selidik.
"Aku pikir itu bukan masalah, karena aku langsung menghentikan apapun yang membuatku harus berhubungan dengannya"
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan berhubungan?" Qaynaya mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari suaminya.
"Awalnya aku meminta bantuan pada Darius, untuk mengenalkan diriku pada seseorang yang bisa membantuku untuk membuka perusahaan di negara ini, tapi aku tidak pernah tau kalau yang akan membantuku itu adalah wanita itu. Tapi aku sudah menghentikannya saat itu juga. Lagipula kamu juga tidak mengizinkan diriku untuk membuka perusahaan di negara ini kan?" Djani menjelaskan, dan melihat ke arah Qaynaya yang sepertinya tidak percaya pada nya.
"Aku mengatakan kebenaran sayang, kalau tidak percaya coba tanyakan saja pada Darius" ujar Djani karena Qaynaya masih diam saja.
"Untuk apa aku bertanya kepada orang yang bahkan tadi hendak menghancurkan rumah tangga kita. Baiklah aku percaya, tapi ingatlah untuk selalu menceritakan apapun yang terjadi.
"Iya sayang. Anna sudah tidur, cepat tidurkan di dalam boksnya" Djani tersenyum penuh arti.
"Tidak, malam ini aku akan tidur dengan Andjani, dan tidak akan menidurkannya di kasurnya sendiri" Qaynaya dengan cepat lalu masuk kedalam kamar, karena sudah sangat malam, dia merasa sangat mengantuk.
"Sayang, bagaimana dengan aku. Bagaimana kalau kita mengganggunya dengan gerakan kita nantinya?" Djani merasa ini adalah malam dimana dia tidak akan bisa tidur.
"Kamu sengaja ya melakukan ini?" tanya Djani penuh selidik.
"Aku pikir kamu tidak cemburu, tapi sepertinya kamu kesal karena apa yang dilakukan wanita gila itu tadi" Djani menggoda Qaynaya.
"Tentu saja aku cemburu, kamu itu kan suamiku. Dia berani mencium pipi suamiku, tamparan itu balasannya. Dan balasan untukmu adalah jangan berharap malam ini bisa menyentuhku" Qaynaya lalu memejamkan matanya.
"Tapi aku kan tidak bersalah sayang, aku bahkan langsung mendorongnya tadi, lalu bagaimana bisa aku juga dihukum" Djani membela dirinya.
Qaynaya tidak menjawab lagi, dan memilih untuk terus memejamkan matanya. Walau tau kalau Djani tidak bersalah, tapi tetap saja Qaynaya kesal melihat wanita lain mencium suaminya, walau bahkan ciuman itu sebenarnya tidak mendarat sempurna di pipi Djani, karena Djani langsung mendorong Reina.
__ADS_1
Malam sudah semakin larut, Qaynaya dan Andjani sudah tertidur dengan nyenyak. Tapi ada satu pasang mata yang tidak juga bisa memejamkan matanya.
"Maafkan ayah ya sayang, karena ayah harus melakukan hal ini. Tolong bantu ayahmu ini ya nak" Djani dengan hati-hati mengangkat tubuh Andjani dan memindahkannya ke dalam boks tidur nya.
"Aakkkh!?" Qaynaya menggeliat begitu merasakan sentuhan tangan Djani di tubuhnya, matanya lalu terbuka dan begitu terkejutnya Qaynaya karena suaminya sudah berada di atas tubuhnya.
"Djani lepaskan aku, Andjani dimana? nanti dia tergencet" Qaynaya mencari keberadaan anaknya, dan langsung menghembuskan nafasnya dengan kuat begitu menyadari bahwa Andjani sudah dipindahkan oleh Djani.
"Jangan siksa aku sayang, aku tidak bisa tidur tanpa menyentuhmu" Djani sudah sangat kepanasan dan segera membuka bajunya dan baju istrinya.
"Wanita gila itu tidak sepenuhnya mencium ku, karena kamu juga tau kalau aku langsung mendorongnya. Tapi mungkin bagi yang melihatnya dari kejauhan itu seperti ciuman. Sekarang aku akan menghapuskan ingatanmu mengenai kejadian tadi dengan ini" Djani lalu menyodorkan pipinya pada bibir Qaynaya, sebenarnya Qaynaya hanya diam, tapi Djani dengan agresifnya terus mendekatkan kedua pipinya secara bergantian, supaya Qaynaya bisa menciumnya.
"Ini yang dinamakan dengan ciuman, dan hanya kamu yang boleh melakukannya padaku. Apa kamu sudah mengerti?" Djani tidak menunggu jawaban dari istrinya, dan langsung melanjutkan aksi utamanya.
Setelah malam sudah hampir pagi, barulah Djani menyudahi aksinya dan membiarkan istrinya untuk tidur dengan nyenyak.
👀👀🖤💙 15 Tahun Kemudian 🖤💙👀👀
"Andjani sayang, apa hari ini kamu bisa membantu mama untuk menemani adikmu di rumah setelah kamu pulang sekolah? atau kamu ada acara?" Qaynaya sedang mengoleskan roti tawar dengan selai kacang kesukaan anaknya.
"Tidak ma, hari ini aku tidak ada kegiatan ekstrakulikuler, jadi aku bisa pulang lebih cepat dari biasanya"
"Jangan terlalu banyak kegiatan, nanti kamu kelelahan" Djani ikut bergabung untuk sarapan.
"Dimana Arion? apa dia belum bangun juga?" Qaynaya entah bertanya pada siapa, karena tidak menunggu jawaban dari siapapun dan langsung bergegas ke anak keduanya. Setelah Andjani berumur satu tahun, Qaynaya kebobolan dan akhirnya mengandung lagi.
"Apa mama sayangku, pria tampan mu ada disini" seorang remaja pria yang sangat tampan dan berperawakan tinggi keluar dari dalam kamar, lalu langsung duduk pada kursi di samping kakaknya berada.
"Jangan sembarangan memanggil istri orang heyy anak muda" ujar Djani bercanda dengan anaknya.
"Eh ada ayah, maafkan aku ya, aku janji akan mengulanginya lagi" jawab Arion lalu mengambil sebuah roti tanpa selai.
"Kakak, kamu dapat salam dari Cheril, dia mengatakan padaku lewat pesan, dan menyuruhku untuk mengatakan pada kakak supaya kakak tidak mendekati Ardi" bisik Arion pada Andjani, hingga membuat Andjani tersedak.
Bukan karena dia takut pada Cheril, tapi karena dia tidak mau kedua orang tuanya mendengar apa yang dikatakan oleh Arion.
__ADS_1