Kesepian

Kesepian
Hukuman Berlanjut


__ADS_3

"Maafkan aku" Qaynaya mendekati Djani yang kembali tiduran di sofa setelah selesai mandi sepulang dari bekerja. Djani menutupi wajahnya dengan lengan kanannya saat Qaynaya berada didekatnya. Sudah dua hari semenjak kepulangannya dari rumah sakit, tetapi Djani masih saja mendiamkannya.


"Aku harus bagaimana lagi? tolonglah katakan sesuatu" Qaynaya lalu menaiki tubuh Djani.


"Jangan seperti ini, aku tidak akan kuat lagi menahan nya" batin Djani, tetapi dia tidak sanggup untuk menolak istrinya, atau meminta istrinya untuk menjauh. Djani memang sengaja mendiamkan Qaynaya, karena dia tidak akan sanggup untuk berbicara dengan istrinya, Djani sadar kalau pasti akan luluh pada sang istri saat mereka berbicara, sementara dia masih harus menghukumnya.


Qaynaya merebahkan kepalanya di dada suaminya, dan terus mengucapkan kata maaf. Djani terlihat bergetar hebat, dia tidak bisa lagi menahannya. Djani bangkit sehingga membuat Qaynaya kaget dan turun dari tubuh sang suami.


Qaynaya berfikir kalau Djani akan kembali pergi keluar, karena semenjak kemarin suaminya terus menghindari dirinya. Seolah tidak mau lagi dekat-dekat dengannya.


"Aaahhh!" Qaynaya kaget karena suaminya tiba-tiba menggendongnya. Qaynaya memejamkan matanya saat dia pikir Djani akan melemparkannya ke atas ranjang, tapi ternyata Djani merebahkannya dengan perlahan.


"Hmptt" Qaynaya menggeliat saat bibirnya dilahap habis oleh suaminya, tangan Djani juga telah menjelajah ke setiap inci tubuh Qaynaya. Detak jam dinding terdengar berlomba dengan suara rintihan Qaynaya, hingga lama-kelamaan, suara rintihan pelan itu, menjadi jeritan.


"Djani pelan!!, aahhh" Qaynaya menjerit karena suaminya tidak juga menghentikan kegiatannya. Masih tidak ada jawaban apapun, hanya lenguhan yang terdengar dari mulut Djani.


"Djani sudah,,, aku tidak mau lagi, kita lanjutkan besok" Qaynaya menggeleng saat Djani yang beberapa saat lalu sudah mencapai puncaknya, setelah cukup lama dengan berganti-ganti gaya. Tapi sekarang sudah kembali bersiap untuk ronde berikutnya.


"Bukan mau atau tidak mau, tapi harus" Djani akhirnya bersuara, selain karena dia mendiamkan Qaynaya untuk memberinya hukuman, Djani juga sadar kalau dia selalu tidak bisa menahan diri saat berada di dekat istrinya. Jadi Djani memilih sedikit menjauh, supaya kondisi istrinya membaik terlebih dahulu.


"Akhirnya kamu bersuara, aakkhhh!!" Qaynaya kaget lalu tanpa sadar, sedikit mengangkat tubuhnya dan menggeliat, merasakan milik suaminya yang telah kembali menghujaninya secara perlahan tetapi tidak lama langsung bergerak cepat.


"Sayang,,, lakukan perlahan" Qaynaya merem melek, antara kewalahan dengan aksi suaminya, tetapi juga merasakan nikmat yang tiada tara.


Djani menciumi wajah Qaynaya, dia benar-benar sangat merindukan istrinya. Tidak terasa waktu telah melewati tengah malam, saat terdengar lenguhan panjang dari dua insan yang saling berpelukan di atas ranjang, dengan saling meneriakkan nama.


"Djani aahh!!"


"Qay, uughhh,, sayang!!"


Djani melihat istrinya yang sudah sangat kelelahan dan tidak lama langsung terlelap tidur.


"Selamat tidur istri nakal ku" ucap Djani lalu menciumi pipi Qaynaya, senyuman tidak lepas dari wajahnya. Djani lalu melakukan kebiasaannya dengan tidur didalam dekapan Qaynaya. Dia tersenyum senang karena akhirnya bisa tidur, karena tanpa Qaynaya disisinya, dua malam ini dia sebenarnya sangat tersiksa karena tidak bisa tidur, dan hanya bisa memandangi istrinya yang tertidur di ranjang sementara dia tidur di sofa.




"Qay, sayang" Neli membangunkan Qaynaya yang masih betah tidur, padahal biasanya dia sudah bangun sesaat sebelum pagi menjelang.



"Djani??, Neli pikir kamu sudah pergi bekerja. Bukankah dua hari kemarin kamu berangkat pagi-pagi sekali?" Neli kaget saat melihat cucunya keluar dari dalam kamar mandi. Qaynaya terbangun karena mendengar suara Neli.



"Nenek, ada apa?" Qaynaya bangun tanpa sadar dan tidak menyadari dirinya yang hanya mengenakan lingerie tipis. Tadi sebelum pagi menjelang, Djani kembali mengganggunya, hingga dia kembali tidur lelap saat matahari terbit karena kelelahan.



"Qay,, lihat bajumu?" Neli menutup wajahnya melihat tubuh istri cucunya yang seksi walau sekarang sudah seperti orang yang baru digigit vampir buas, karena leher dan lengannya telah penuh tanda merah.



"Aaahhh!!" Qaynaya menjerit kaget dan langsung bersembunyi di balik selimut. Neli tertawa lalu segera mengambil langkah seribu. Qaynaya lupa kalau tadi bahkan belum sempat memakai baju, tapi rasa lelahnya yang teramat sangat, membuatnya tertidur kembali, karena dari semalam terus disiksa oleh suaminya, dan saat bangun harus kembali meladeni keganasan sang suami.



"Dasar mesum, kenapa memakaikan baju seperti ini padaku?" Qaynaya menggerutu tetapi tidak berani untuk membuka selimutnya, karena Qaynaya berfikir kalau Djani masih marah padanya.



"Bukannya berterima kasih tapi kamu malah memaki diriku" Djani memang sebenarnya sedang menjahili istrinya. Saat melihat kedalam lemari baju, Djani melihat baju itu yang dari dulu dia beli untuk Qaynaya. Djani tidak mempunyai keberanian untuk memberikannya langsung, karena takut Qaynaya marah.



Djani naik ke atas ranjang lalu mencoba masuk kedalam selimut Qaynaya. Ternyata tidak bisa, karena Qaynaya memegang erat-erat selimutnya.



"Mau aku paksa? tapi harus kamu ingat sayang, setelah aku menangkap mu, maka tidak ada lagi ampun untukmu" Djani yang selesai mandi dan hanya memakai jubah mandinya, terus berusaha menyingkap selimut yang menutupi tubuh Qaynaya.



"Aaahh!" Selimut terbuka dengan tarikan kencang Djani, wajah merah merona terlihat begitu cantik bagi Djani. Qaynaya yang malu lalu memutar tubuhnya hingga dia menjadi tengkurap.



"Eeemmm" Qaynaya merintih karena Djani menciuminya dari kaki ke atas, tubuhnya menggelinjang kegelian. Rintihan dan jeritan kembali terdengar dari mulut Qaynaya. Djani benar-benar menumpahkan semua kerinduannya tanpa henti.



Qaynaya kaget saat Djani menarik kuat lingerie yang dia pakai sesaat setelah Djani berhasil membuat nya terlentang. Kuatnya tarikan Djani, sehingga lingerie yang dipakai nya sobek dan tubuhnya yang sebenarnya tidak tertutup, karena tipisnya lingerie yang dipakai nya, menjadi polos kembali tanpa tertutupi sehelai benangpun.



"Sudah" Qaynaya menahan tubuh Djani yang hendak menindihnya. Qaynaya terpejam dan terus menggeleng.



"Hukuman buatmu belum selesai" Djani kembali menancapkan miliknya pada lahan istrinya. Qaynaya berusaha mencari pegangan karena merasakan kembali sakit dan nikmat yang diberikan oleh suaminya. Djani membawa kedua tangan Qaynaya dan dilingkarkan dibelakang lehernya.


__ADS_1


Djani sengaja melakukan penyatuan kali ini dengan pelan, sehingga permainan pasti membutuhkan waktu yang lama. Qaynaya sedikit membuka matanya dan membelai lembut dada suaminya yang kembali basah oleh keringat.



"Apa kamu sudah memaafkan ku?,, aaahh!" Qaynaya bertanya tetapi gigitan di lehernya yang dia dapatkan dari Djani membuatnya kembali menjerit.



"Apa kesalahan mu? kenapa terus meminta maaf?" tanya Djani sambil terus bergerak dan memandangi wajah istrinya. Qaynaya kembali menggeleng karena Djani dengan sengaja tiba-tiba bergerak cepat dan kuat, Qaynaya menjerit lagi dan lagi. Tapi Djani yang pintar mengatur miliknya, tidak juga dia tuntaskan hasratnya. Saat dia mendekati ambang batasnya, dia akan kembali bergerak perlahan dan menahan semburannya.



"Ampun sayang,, cepat sudahi" Qaynaya merengek dan berniat untuk menggulingkan tubuh suaminya, sehingga dia bisa diatas, tapi kali ini Djani tidak membiarkannya.



"Kali ini tidak dulu ya sayang,, bukankah kamu belum menjawab dan mengatakan apa kesalahanmu?, jadi ini tidak akan selesai sampai kamu menyadari kesalahanmu" Djani mencari celah yang masih kosong pada dada sang istri untuk menambahkan tanda merah yang sudah tidak terhitung jumlahnya.



"Aakkhhh,, iya,, iya sayang maafkan aku, aku tau kesalahanku, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi, aku janji" Qaynaya mencoba menggerakkan pinggulnya, tapi Djani menekannya sehingga Qaynaya tidak lagi bisa bergerak.



"Apa sakit?" tanya Djani berbisik dan menggigit pelan telinga istrinya. Qaynaya mengangguk.



"Apa mungkin sesakit hatiku, karena kamu mencoba untuk meninggalkan ku lagi?" Djani mengingat kembali Qaynaya yang pergi bersama dengan Doni. Kemarahan kembali berkobar dalam hati Djani dan kembali bergerak kuat hingga Qaynaya menjerit dan menangis karena kesakitan.



"Jangan menangis sayang, aku juga mencoba tidak menangis walau hatiku sangat sakit dan sesak, rasanya seperti mau mati saat melihatmu pergi dengan pria lain" Djani kembali berhenti bergerak lalu menghapus air mata Qaynaya dan menciumi seluruh wajah istrinya. Qaynaya memegangi kedua pipi suaminya dengan kedua tangannya.



"Maaf, aku tidak tau lagi harus bagaimana, aku tidak mau menjadi penyebab hancurnya hubungan mu dengan keluarga besar mu, aku juga tidak sanggup kalau harus berbagi dirimu dengan orang lain"



"Apa kamu tidak percaya padaku? bukankah kamu pernah mengatakan akan berjuang bersama untuk pernikahan kita?"



"Aku bukan tidak percaya, hanya saja aku dibandingkan dengan Sasha, tentu sangat jauh bagaikan langit dan bumi, dia lebih segalanya, jadi,,, aaakkkhh!!" Qaynaya menjerit dan tidak menyelesaikan ucapannya, karena Djani bergerak sangat cepat dan kuat. Sepertinya Djani sudah tidak bisa lagi menahan ambang batasnya. Jeritan dan lenguhan panjang kembali terdengar, mereka lalu saling berebut oksigen dan mengatur nafas.



"Apa yang kamu pikirkan, kenapa kamu menyebut nama wanita lain diatas ranjang kita? jangan lakukan itu lagi, apalagi saat kita sedang berhubungan, kamu mengerti!?" Djani memaksa Qaynaya untuk membuka matanya dan menjawabnya.




Djani lalu mendekap tubuh istrinya, setelah beberapa saat mereka lalu mandi bersama. Djani dengan telaten menyabuni tubuh Qaynaya, karena terlihat sekali kalau istrinya itu kesulitan untuk membersihkan dirinya.



Qaynaya meringis saat Djani membersihkan paha dan area intinya. Qaynaya yang kelelahan dan sepertinya juga kesakitan, tidak bisa banyak bergerak, jadi Djani membantunya.



"Apa begitu sakit? maaf karena kembali tidak bisa menahan diri" Djani berlama-lama saat menyabuni gunung kembar istrinya. Qaynaya mencubit pipi suaminya untuk menyadarkannya.



"Ahahahaha!" Djani hanya tertawa kecil dan tetap melanjutkan apapun yang dia inginkan.



Setelah selesai dengan urusan mandi yang semakin membuat Qaynaya kelelahan. Djani membopong istrinya dan merebahkannya di atas ranjang. Djani tidak mengizinkan istrinya untuk memakai baju, hanya mengambilkan selimut tambahan supaya istrinya hangat.



"Jangan pernah mencoba untuk turun dari ranjang ini sebelum aku izinkan, sekarang aku akan mengambil makanan. Tunggu sebentar" Djani bergegas dengan cepat keluar dari kamar.



"Apa kamu mau membunuhnya?!" Rini berkacak pinggang di depan meja makan. Djani tertawa melihatnya, apalagi Neli juga ikut memarahinya.



"Sepertinya dia gila nek, aku saja yang sehari sekali sudah kesakitan dibuat oleh suamiku, lalu kamu dari semalam tidak berhenti, lihatlah jam di dinding itu. Ini bahkan sudah hampir tengah hari" Sasha ikut ngedumel melihat kelakuan sahabatnya.



"Kalian jangan khawatir, istriku kuat"



"Kuat kepalamu itu,, cepat beri dia makan!" Rini memberikan segelas susu hangat pada Djani, dan meminta kepada Djani untuk memastikan bahwa Qaynaya menghabiskannya.


__ADS_1


"Mama tidak meracuninya kan?" tanya Djani tanpa berdosa berkata seperti itu pada mamanya sendiri.



"Kamu pikir mama pembunuh?! lihat kesini" Rini mengambil sendok dan mencicipi susu itu. Dengan wajah cemberut nya, Rini memaksa Djani untuk segera kembali ke dalam kamar.



"Mulai hari ini sampai minggu depan, kamu jangan dulu memikirkan tentang pekerjaan, tapi ingat dengan acara dua hari yang akan datang. Jadi tahan diri dan jangan membuat Qay terus kesakitan" Rini mengingatkan, bibirnya terus tersenyum diliputi kebahagiaan melihat punggung anaknya yang berjalan menuju istrinya. Djani hanya menoleh dan memberikan kecupan jauh untuk sang mama.



"Apa kamu benar sudah menerimanya dengan sepenuh hati?" Neli yang sedang memakan buah-buahan bertanya pada Rini yang masih tersenyum bahagia.



Rini menoleh melihat kearah mamanya, dan hanya senyuman manis yang ditunjukkan oleh Rini, dia merasa sangat bosan menjawab pertanyaan yang sama dari kemarin.



"Harus berapa kali tante Rini meyakinkan Neli? bukankah aku juga sudah berulang kali menjelaskan, bahwa aku datang untuk membantu tante Rini mengenai hal ini"



"Bukankah kamu sudah menikah? kenapa kamu mau menikah lagi dengan Djani pada awalnya?"



"Siapa yang mau menikah dengan Djani? jangankan saat ini dia sudah memiliki istri, dari saat kita menjadi tetangga, dia tidak pernah menganggap aku sebagai seorang wanita"



"Dia persis ayahnya,, sekali mencintai seorang wanita. Dia akan selamanya setia dan tidak mungkin melirik yang lainnya" Rini ikut nimbrung setelah menutup kembali kotak susu.



"Tante, kenapa Qay diberi susu hamil? memang sudah dipastikan kalau dia sedang mengandung?" tanya Sasha heran.



"Tentu saja yakin, tante berharap mempunyai banyak cucu, supaya tante tidak kesepian lagi"



"Tunggu sebentar, lalu siapa wanita yang awalnya hendak kamu jodohkan dengan Djani?" Neli penasaran. Dari kemarin dia hanya bisa menenangkan Qaynaya yang berfikir bahwa Sasha adalah calon istri Djani. Neli belum sempat bertanya pada Sasha secara langsung.



"Putri dari seorang direktur di negara Q" jawab Rini dan sedikit melamun. Neli dan Sasha saling berpandangan melihatnya, mereka berfikir kalau Rini belum rela untuk melepaskan perjodohan Djani.



"Bukan seperti itu, aku hanya tidak menyangka, ternyata wanita itu juga sudah tau tentang pernikahan Djani dengan Qay. Tapi kenapa dia masih mau dijodohkan dengan Djani, bahkan awalnya berpura-pura tidak tau?"



"Itu karena dia mempunyai maksud lain, untung saja kamu cepat sadar. Kalau tidak Djani pasti yang akan menanggung akibatnya" Neli lega karena Rini sudah benar-benar tidak akan melanjutkan rencananya.



"Aku tidak mengerti maksud tante?" Sasha mengernyitkan keningnya, tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Rini.



"Awalnya tante menyembunyikan pernikahan Djani, supaya wanita itu mau menikah dengan Djani. Tapi saat Tante membatalkan pernikahan itu dengan mengatakan kebenaran tentang pernikahan Djani, anehnya wanita itu mengatakan bahwa dia sudah tau dari awal kalau Djani sudah menikah, Dan dia tetap mau menikah walaupun jadi yang kedua"



"Sudah bisa dipastikan kalau dia wanita yang tidak benar kalau seperti itu, memang wanita itu siapa Tante? mungkin saja aku tau, karena aku mempunyai banyak teman di negara itu"



"Anak dari direktur di perusahaan terbesar di kota itu, namanya Geby. Sebenarnya orang tuanya pernah melamar Djani, tetapi Tante tidak terlalu menanggapi karena Djani saat itu tengah melawan depresinya karena ditinggalkan menikah oleh Qaynaya. Jadi Tante menghubunginya kembali saat berniat menikahkan Djani pada wanita yang Tante pikir lebih baik"



"Wanita itu adalah kakak kelas sahabat ku, kalau aku tidak salah ingat nama panjangnya adalah Geby Smith, apa benar" Sasha mencoba mengingat. Rini mengiyakan dengan mengangguk.



"Tante hampir saja memberikan Djani pada wanita penipu, dia memang sangat anggun dan terlihat berwibawa, tapi dibalik itu semua, dia adalah predator pria. Dia dulu merebut kekasih sahabatku, aku mengetahui tentang dia dari cerita sahabatku itu. Wanita itu selalu menempel pada lelaki kaya dan tampan" Sasha menjelaskan, lalu membuka ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto di sebuah akun media sosial.



"Yang ini kan?" Sasha menunjukkan foto Geby yang tengah berpelukan dengan pria. Dan Rini kembali membenarkan. Rini mengutuk kecerobohannya karena tidak menyelidikinya terlebih dahulu pribadi dari Geby, dan hanya menyelidiki latar belakang keluarganya saja.



"Sudahlah jangan membicarakan tentang wanita itu lagi. Kita harus lega karena wanita itu tidak masuk dalam keluarga ini" Neli menyudahi pembicaraan tentang Geby, baginya itu sudah tidak penting lagi.



Rini membuka ponselnya karena mendapatkan notifikasi, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang tidak bisa dia sembunyikan setelah membaca pesan tersebut. Neli dan Sasha yang melihatnya, sontak bertanya berbarengan.

__ADS_1



"Ada apa?!"


__ADS_2