Kesepian

Kesepian
Berpamitan


__ADS_3

"Aaaakkkhhhh, aku melupakan sesuatu!" Djani berteriak sesaat sebelum mobil sampai di restoran, tempat mereka akan makan malam bersama, Qaynaya menjadi panik karena dia pikir itu pasti sesuatu yang sangat penting.


"Apa yang tertinggal? bukankah kita bisa mengambilnya kembali"


"Aku lupa kalau kamu tidak seharusnya keluar dari dalam rumah tiga hari kedepan" Djani menarik tangan istrinya, entah dia bercanda atau serius dengan ucapannya, tetapi dia tidak mengizinkan Qaynaya keluar dari dalam mobil.


"Jangan bercanda sayang, kita sudah sampai, lagipula apa yang bisa aku lakukan? kamu kan ada di sampingku" Qaynaya tidak mengerti sebenarnya apa yang dipikirkan oleh suaminya.


"Aku curiga kamu melakukan sesuatu sehingga saat itu kamu tidak hamil" Djani mengatakan kecurigaannya, karena dia merasa sangat aneh, sudah jelas waktu itu dia telah menaburkan benihnya ke lahan istrinya.


Qaynaya tersenyum malu mendengarnya, tetapi dia lalu jujur dan mengatakan bahwa saat itu memang dia dalam kondisi tidak subur, jadi dia tidak hamil.


"Aku pikir kamu mengkonsumsi sesuatu supaya tidak mengandung anakku, tolong jangan lakukan hal konyol, aku bahkan berkonsultasi pada dokter dan menanyakan kemungkinan kehamilan mu, tapi dokter berkata ada obat yang bisa dikonsumsi supaya tidak hamil, asalkan obat itu dikonsumsi tidak lebih dari tiga hari setelah berhubungan, itu lah kenapa aku ingin mengurung dirimu selama lebih dari tiga hari, aku khawatir kamu akan meminum obat itu, karena tidak mau mengandung anakku" Djani menceritakan tentang apa yang mengganjal di hatinya.


Qaynaya terdiam, karena sebenarnya itu memang awalnya ada dalam pikirannya, bukan karena dia tidak mau mengandung anak Djani, tetapi karena dia belum yakin dengan kelanjutan pernikahan nya, tetapi karena Djani terus meyakinkannya tentang pernikahan mereka, akhirnya Qaynaya mengurungkan niatnya.


"Aku tidak akan seperti itu, aku mencintaimu" Qaynaya menggenggam tangan suaminya untuk menenangkan suaminya, Djani mencium kening istrinya sebelum dia turun dari mobil, untuk masalah ini, sekarang dia tidak perlu khawatir lagi.


Kedatangan mereka sudah pasti menjadi pusat perhatian dari semua yang di dalam restoran tersebut, Qaynaya menjadi canggung, tetapi dia untuk berusaha menguasai perasaannya dan bersikap santai.


Qaynaya mendekati Zahra dan Gea yang duduk bersebelahan, awalnya Gea seperti kecewa pada Qaynaya, karena dia sudah sangat berharap supaya Qaynaya bisa menjadi pendamping Arka, sehingga sepupu sekaligus sahabat nya itu bisa terlepas dari jeratan nafsu sesat yang terus disalurkan kepada wanita yang tidak semestinya.


Zahra juga sepertinya kecewa karena Qaynaya yang sudah dia anggap teman, tidak mau bercerita tentang hal sebesar ini.


"Apa yang bisa aku ceritakan pada kalian?, aku tidak mungkin bercerita bahwa aku aku adalah seorang wanita yang kabur meninggalkan suaminya" Qaynaya lalu bercerita dan juga tidak lupa meminta maaf.


Djani terus memperhatikan istrinya dari jauh, dia sedang berbicara dengan para bawahannya, Djani juga mencoba untuk mengenal para karyawan perusahaan barunya, supaya dia lebih mudah dalam mengawasi perusahaan yang baru saja dia beli.


Perusahaan itu memang tidak terlalu besar, dan ada masalah di dalamnya, itulah sebabnya perusahaan itu dengan mudahnya di jual saat Djani berniat membelinya, Djani tentu tau akan adanya suatu masalah di dalam perusahaan itu, hanya saja dia tidak terlalu memperdulikan nya, karena baginya, menemukan keberadaan istrinya lebih utama dari segalanya.


Arka tidak terlihat hadir di acara makan malam, dan Gea yang diminta untuk mewakilinya, Gea bercerita kepada Qaynaya, bahwa setelah mengetahui tentang Qaynaya yang ternyata sudah bersuami, Arka menjadi berbeda, dia menjadi gila kerja, dan tidak memperdulikan sekitar.


"Dia sangat patah hati, mungkin kamu tidak tau betapa dia sangat menyukaimu, dan sepertinya rasa suka itu tidak akan pernah mendapatkan balasannya, aku berkata seperti ini, hanya supaya kamu tau saja tentang perasaannya padamu, dia juga meminta pada ku untuk menyampaikan maaf karena tidak bisa berpamitan secara langsung" Gea tersenyum pada Qaynaya, dia lalu berpamitan, karena tidak ada lagi yang perlu dia katakan dan lakukan ditempat itu.


"Qay,, kenapa tidak bercerita sedikitpun tentang dirimu yang sudah menikah? semua menjadi heboh, apalagi ternyata kamu adalah istri yang hilang dari seorang konglomerat, awalnya aku sempat merasa familiar dengan wajah mu, tapi aku hanya diam saja, karena aku tidak berfikir kalau itu benar kamu, lalu kenapa kamu tidak kembali kepada suamimu, bukankah video itu sangat viral di kota? kita memang dipinggiran kota, tapi setidaknya media sosial tetap ada walaupun berita itu tidak begitu viral seperti di kota" Zahra merasa heran dengan rekan kerjanya itu, identitas sebenarnya dari Qaynaya adalah istri dari seorang konglomerat, tapi kenapa harus rela bekerja di perusahaan kecil yang jauh dari kota, apalagi suaminya mencari sampai membuat video yang sangat menyentuh hati.


"Aku membatasi diri dari informasi mengenai apapun, bukankah kamu juga tau kalau aku tidak memiliki ponsel?"

__ADS_1


"Apa mungkin kamu serius dengan hal itu??, aku pikir kamu hanya tidak mau memberikan nomor ponsel mu pada orang lain" Zahra menutup mulutnya karena dia tidak menyangka kalau ada orang yang tidak mempunyai ponsel di zaman seperti sekarang ini.


"Ada hal yang membuat ku mengambil keputusan untuk tidak mempunyai ponsel dan membatasi diri dari informasi dan berita apapun,," Qaynaya tidak melanjutkan ucapannya karena Djani mendekat dan tanpa malu ataupun canggung, tangannya langsung melingkar di pinggangnya.


"Djani lepas, kita menjadi perhatian banyak orang" bisik Qaynaya dan mencoba untuk melepaskan tangan suaminya.


Bukan nya menurut pada apa yang diminta oleh istrinya, Djani malah semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Qaynaya, dengan tawa canggung, Qaynaya meminta maaf kepada Zahra yang sepertinya juga menjadi canggung melihat adegan di depan matanya.


Dari kejauhan terlihat sekertaris Arka yang tidak suka melihat pemandangan itu, dia sangat iri dengan Qaynaya, dia mengira kalau Qaynaya adalah saingan beratnya untuk mendapatkan Arka, ternyata Qaynaya sudah memiliki suami yang lebih segalanya dari Arka.


Dengan senyuman liciknya, sekertaris itu lalu merapikan bajunya dan semakin menurunkan belahan dada nya, setelah mengaca dan merasa bahwa penampilannya sudah sangat sempurna, sekertaris itu lalu mendekat ke arah Qaynaya, dengan berbasa-basi dia menyapa Qaynaya dan Zahra, tidak lupa memberi hormat pada Djani, selaku pemilik dari perusahaan tempatnya bekerja.


Saat menundukkan kepalanya, dada sekertaris itu terlihat semakin membusung, hingga membuat Qaynaya dan Zahra yang melihatnya menjadi kaget dan saling menatap, sementara Djani bahkan tidak menoleh sedikitpun, matanya focus melihat kearah istrinya.


"Ada yang ingin kamu makan sayang?, bukankah dari siang kita bermain sampai lupa makan, sekarang ayo kita makan dahulu" Djani merapikan rambut Qaynaya, lalu menariknya menuju ke arah makanan yang sudah disediakan.


"Zahra,, aku makan dulu ya, nanti kita sambung lagi, jangan dulu pulang, aku belum berpamitan" ujar Qaynaya sembari mengikuti langkah kaki suaminya.


Zahra tersenyum melihat Qaynaya, dia tidak menyangka kalau mempunyai teman yang sangat hebat, seorang rekan kerja yang ternyata adalah istri dari konglomerat ternama.


Sekertaris Arka kesal lalu menghentakkan kakinya, tanpa sadar Zahra tertawa pelan, dan hal itu membuat sang sekretaris menjadi tersinggung dan marah, tanpa perduli sedang berada di tempat umum, sekertaris itu menampar pipi Zahra.


Zahra tidak mau membuat keributan, karena dia jelas tau, kalau yang disukai Arka adalah Qaynaya, sekertaris itu dengan sengaja menyenggol minuman yang dipegang oleh Zahra, sehingga minuman itu tumpah dan membasahi baju Zahra.


Qaynaya mendekat karena dia merasa ada yang tidak beres dengan rekan kerjanya, saat melihat kondisi rekan kerjanya, Qaynaya terlihat marah pada sekertaris itu, tetapi sepertinya sekertaris itu memang sengaja membuat keributan.


"Ada apa ini?" tanya Djani yang menyusul istrinya sambil membawa piring berisi makanan yang baru dia ambil.


"Tuan,, Zahra marah pada saya karena saya hanya keceplosan sedikit tentang hubungan Qay dan Arka,,, aduhhh maaf tuan, saya memang tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu" sekertaris itu memulai sandiwara nya.


"Apa maksudmu?" tanya Qaynaya heran dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sekertaris Arka tersebut, bahkan hanya sekedar nama sekertaris itu juga, Qaynaya tidak mengetahuinya, karena mereka tidak bekerja di ruangan yang sama, dan Qaynaya adalah tipe orang yang jarang bergaul, kecuali ada yang lebih dulu menyapanya.


"Bos Arka menyukai Qay, maaf maksud saya nyonya, maaf saya belum terbiasa" sekertaris itu semakin mendalami sandiwara nya.


Djani kembali diliputi perasaan cemburu, tetapi untungnya dia bisa menguasai perasaannya dan bisa menahannya, Djani meminta pada sekertaris itu untuk memberikan bukti, tetapi tentu saja sekertaris itu menjadi kebingungan, karena tentu saja dia tidak mempunyai apa yang diminta oleh Djani, tetapi sekertaris itu tiba-tiba kaget, saat melihat Arka dari kejauhan, Arka memberikan kode supaya melihat ke ponselnya.


"Tidak tuan, itu semua hanya fitnah, Qay bahkan tidak pernah dekat dengan siapapun" Zahra memberikan pembelaan pada Qaynaya.

__ADS_1


"Ini bukti nya" sekertaris itu menunjukkan foto saat Arka dan Qaynaya makan malam bersama waktu itu, saat Qaynaya selesai mengantarkan Gea berbelanja.


Djani kaget melihatnya, didalam foto itu terlihat Qaynaya makan malam bersama dengan Arka dan saling duduk berhadapan, dibeberapa foto bahkan sangat jelas kalau Qaynaya terlihat lahap makan, tidak merasa canggung sedikitpun walaupun makan bersama pria lain yang bukan suaminya.


Qaynaya lalu menjelaskan semuanya, bahwa itu hanya makan malam biasa, sebenarnya dia pergi bersama dengan Gea, tetapi karena ada sesuatu, Gea pulang terlebih dahulu, Djani merapatkan giginya, dia marah melihat foto itu, tetapi dia mencoba untuk tenang, walau tiba-tiba saja sekelebat bayangan saat pertama kali dia menemukan keberadaan Qaynaya, saat itu istrinya tengah bercanda bersama Arka, ada sedikit keraguan yang terlintas dalam hatinya, tetapi dia mengingat pada kegiatan panas nya dengan Qaynaya, tidak ada jejak lelaki manapun, karena Djani yakin dengan tubuh istrinya, Djani sangat yakin kalau Qaynaya masih murni miliknya.


"Periksa CCTV saat istriku ada di restoran itu, kalau benar apa yang dijelaskan oleh istriku, maka aku sudah pasti akan memecat mu, kalau seandainya kamu benar, itu tidak akan merubah apapun, saat ini aku hanya akan menunjukkan padamu, dan pada semuanya, aku selalu percaya pada istriku, jangan pernah kalian untuk mencoba untuk mencoreng nama baik nya, atau berani menyakitinya"


Djani menggenggam tangan Qaynaya, sebenarnya dia sedang menguatkan hatinya sendiri, karena dia juga sebenarnya merasakan sedikit ketakutan kalau istrinya mempunyai perasaan terhadap Arka, bagaimanapun juga Djani hanya pria biasa, dia sangat mencintai Qaynaya, tapi bagaimana kalau Qaynaya tidak lagi mencintainya dengan sepenuh hati.


Sekertaris itu gemetaran, dia tidak tau kejadian yang sebenarnya dari foto yang dia perlihatkan, bahkan saat dia melihat kearah Arka, ternyata Arka sudah tidak ada lagi ditempatnya.


"Kurang ajar,, aku tidak berfikir sejauh itu, rencanaku kali ini sepertinya gagal, tapi aku akan terus berusaha supaya Qaynaya menjadi milikku" gumam Arka yang sudah berada di dalam mobilnya, lalu dengan segera Arka pergi dari restoran itu.


Sementara itu, didalam restoran Qaynaya tidak menyangka kalau dia akan mengalami hal seperti ini didepan umum, sekertaris itu berkata bahwa tiba-tiba dia ada kepentingan, tetapi tentu saja tidak ada yang membiarkan nya pergi dari sana.


"Kamu begitu lantang menuduhku, lalu kenapa kamu yang ketakutan seperti ini? sebenarnya apa kesalahanku padamu, sampai kamu melakukan hal ini padaku?, pernahkah aku menyinggung dirimu?, bukankah kita bahkan tidak saling mengenal?" Qaynaya merasa tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh sekertaris Arka tersebut.


Mereka menoleh ke arah pintu masuk restoran, disana terlihat kedatangan seorang pria yang menjadi suruhan Djani, pria itu membawa rekaman CCTV yang diminta oleh Djani, dan tentu saja kejadian yang sebenarnya terlihat dengan jelas, sekertaris itu untuk sesaat hanya diam mematung, dia kesal karena salah mengambil langkah, awalnya dia ingin membuat malu Qaynaya di hadapan umum.


"Sebenarnya apa istimewanya dirimu? kenapa semua pria menyukaimu? kamu bahkan tidak lebih cantik dari pada aku" sekertaris itu berbicara lalu dengan langkah pelan, segera pergi dari sana, dia merasa kalau dia sudah habis ditempat itu, secepatnya dia harus meminta pertanggung jawaban dari Arka yang telah mengirimkan foto itu, awalnya dia mengira bahwa Arka akan membantu dirinya, ternyata Arka meninggalkan dirinya.


"Aku percaya padanya, tapi ternyata foto itu tidak bisa diandalkan, lalu dengan pengecutnya dirimu langsung pergi begitu saja, dan hanya aku yang menanggung malu" batin sekertaris itu geram.


Djani hendak memanggil kembali sekertaris itu, supaya dia meminta maaf pada Qaynaya, tetapi Qaynaya melarang suaminya melakukan hal itu, Qaynaya sudah merasa cukup karena kejadian yang sebenarnya telah terungkap.


"Biarkan saja, dia ingin mempermalukan diriku, tapi dia sendiri yang malu, itu sudah cukup untuknya" Djani tanpa malu mengecup kening Qaynaya, setelah mereka selesai makan malam, Djani mengajak Qaynaya untuk segera pulang.


"Aku pamit Zahra, semangat bekerja, aku akan simpan nomormu, saat ada kesempatan dan aku sudah membeli ponsel, aku akan menghubungimu" Qaynaya pamit pada Zahra, dan lupa berpamitan pada semua rekan kerjanya selama ini, dengan menganggukkan kepalanya.


Sebenarnya acara makan malam itu belum selesai, karena disana ada acara live music yang bisa mereka nikmati sambil makan malam dengan santai, banyak para karyawan dan undangan yang belum pulang, mereka masih menikmati seolah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


Zahra menatap kepergian Qaynaya dengan perasaan sedih, karena dia sepertinya tidak akan bisa bertemu dengan Qaynaya lagi.


"Hanya kamu yang merespon dengan baik diriku, tidak seperti rekan kerja lain yang hanya saat ada maunya mendekati ku, sekarang kamu sudah pergi" gumam Zahra lalu menyelesaikan makannya dan segera bergegas pergi.


Didalam mobil, Qaynaya melihat kearah suaminya yang sedang serius menyetir, Djani sadar kalau istrinya sedang memperhatikan dirinya, Djani menoleh sebentar dan bertanya ada apa dengan istrinya, setelah nya dia langsung kembali melihat kedepan, karena dia harus terus memperhatikan jalan supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


"Terimakasih" ujar Qaynaya singkat, lalu memalingkan wajahnya dari suaminya, dia menatap keluar jendela mobil, melihat pemandangan pinggiran kota itu dimalam hari, pemandangan yang dia yakin tidak akan lagi melihatnya dalam waktu dekat.


"Aku harus pergi dari tempat ini, dan tidak tau apa yang akan aku hadapi kedepannya, disini sangat damai walaupun aku harus merasakan kesepian tanpa kehadiran suamiku, entah kenapa aku merasa lebih takut untuk menghadapi keluarga Djani, melebihi rasa takutku saat memutuskan untuk tinggal di tempat ini" batin Qaynaya lalu memejamkan matanya untuk sekedar menenangkan hati dan pikirannya.


__ADS_2