Kesepian

Kesepian
Preman


__ADS_3

"Tenang nyonya" salah seorang polwan menahan tangan Rini yang hendak membuka pintu ruangan.


"Perketat penjagaan terhadap nyonya Rini" polwan tersebut langsung keluar dari ruangan untuk segera mencari tau situasi dan kondisi.


"Bagaimana kalau sampai benar adanya? apakah suamiku bisa memiliki kesempatan untuk bebas suatu saat nanti?" Rini menangis dan mengguncangkan lengan polwan yang menjaganya. Pikirkan Rini sangat kalut, hingga tiba-tiba dia mengingat Djani dan berniat untuk menghubunginya.


Tapi kemudian dia sadar lalu menghentikan niatnya dan berhenti menangis, anaknya baru saja mendapatkan kebahagiaan dan saat ini bahkan di perkirakan mengalami gangguan Fear Of Abandonment, walau sebenarnya itu hanya gejala yang belum diketahui secara pasti, karena Djani belum memeriksakan kondisinya.


Rini harus bisa menghadapi masalah ini sendiri, dia tidak mau kalau sampai anak nya harus masuk dalam persoalan rumit yang sedang dihadapinya.


"Kalau perlu, kalian jangan kembali dulu sampai semuanya kondusif, berbahagialah dan jangan memikirkan masalah lain, dari kecil kamu sudah cukup menderita dan kesepian, sekarang saatnya kamu hidup tanpa masalah apapun dengan orang yang kamu cintai, mama harap kamu selalu hidup tentram, nyaman dan penuh dengan tawa bahagia dalam hidupmu" Rini bergumam mengingat anaknya dan menghentikan tangisannya.




"Tuan,,, tuan,,!" manajer resort mengejar Djani dan memanggilnya.



Mendengar ada yang memanggilnya, Djani berhenti. Tapi setelah menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya, Djani berniat untuk melanjutkan langkah kakinya, karena merasa tidak mengenalnya.

__ADS_1



"Tunggu sebentar tuan, ada hal penting yang harus saya sampaikan, ini mengenai kedua,,, aaakkkkkhhhh!!" manajer resort itu berteriak kesakitan saat tiba-tiba Adam dengan sengaja menabraknya.



Adam tadi berdiri tidak jauh dari sang manajer resort, dan bisa mendengarkan apa yang tadi dikatakannya, karena tidak mau manajer itu mengatakan tentang masalah yang sedang terjadi pada Rini dan Rega, maka Adam mengejarnya dan menggagalkan rencana sang manajer resort.



"Maaf tuan, saya memang sengaja, karena tuan tidak mendengar panggilan saya. Tadi saya mendengar ada keributan yang terjadi di dalam resort, dan ada yang mencari keberadaan tuan. Jadi sebaiknya anda segera bergegas" Adam mengusir manajer resort, karena tidak mau kalau sampai Djani mengetahui hal itu dari orang lain, karena nantinya bisa dipastikan kalau tuan mudanya itu akan marah besar. Saat ini Adam hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.




Karena merasa tidak ada masalah yang perlu diperhatikan atau dikhawatirkan, Djani berbalik kembali ke arah Qaynaya dan hendak membawa sang istri untuk melanjutkan berjalan-jalan.



Tapi begitu terperanjatnya Djani saat melihat Qaynaya tengah dihadang oleh dua pria, Djani dengan segera langsung berlari ke arah istrinya.

__ADS_1



"Jangan berani macam-macam padaku!" terdengar teriakan Qaynaya yang membuat Djani berhenti sejenak karena mendengar suara teriakan. Qaynaya terlihat menendang salah satu pria yang menghadangnya, saat tadi dia ingin mengikuti Djani yang tengah berlari mendekati Adam.



Djani menyadarkan dirinya dan berlari untuk melindungi istrinya. Qaynaya memegangi ujung jaket yang dikenakan oleh Djani, walau terlihat berani melawan, tapi sangat terlihat kalau Qaynaya sedang ketakutan.



"Apa yang kalian lakukan?!!" Djani menendang pria yang masih berdiri dan langsung menginjak kakinya.



Adam juga berlari dan langsung meringkus kedua pria tersebut, setelah dirasa kedua pria itu tidak bisa berkutik lagi, Djani yang hendak bertanya sesuatu harus menahannya, karena pihak keamanan telah datang. Djani memilih focus pada Qaynaya dan memeluknya untuk menenangkan.



"Jangan takut, maafkan aku karena berlari dan meninggalkan mu tadi, harusnya aku tidak pernah meninggalkan mu walau sedetikpun" Djani membelai rambut dan punggung istrinya.


__ADS_1


"Mereka sepertinya preman, tapi bagaimana bisa preman berada ditempat seperti ini, apa mungkin mereka suruhan seseorang?" ujar Qaynaya pelan lalu menengadahkan kepalanya melihat kearah wajah Djani. Mendengar apa yang dikatakan oleh Qaynaya, Djani berfikir sejenak, tapi langsung kembali memeluk istrinya.


__ADS_2