
"Sungguh bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak mau anak kita mempunyai hati yang tidak murni lagi, karena menyimpan perasaan dendam dan amarah. Untuk saat ini, kitalah yang harus menghukum orang yang menyakitinya, jika benar ini karena kesengajaan" jawab Qaynaya, sambil menggenggam tangan suaminya untuk menenangkan.
Qaynaya sangat paham dan yakin, kalau saat ini suaminya itu sedang sangat marah dengan kejadian yang menimpa anaknya. Sebenarnya Qaynaya juga merasakan hal yang sama, hanya saja dia harus memberikan pengertian yang positif kepada anaknya, demi kebaikan anaknya kedepannya.
Sebagai orang tua, Qaynaya tentu mempunyai pengalaman yang lebih banyak ketimbang anaknya, dan pengalaman itu, membuatnya lebih bijak dalam menyikapi suatu masalah. Qaynaya mengingat hal yang menimpa pada Reina. Wanita itu menyimpan kebencian dan dendam pada dirinya untuk waktu yang lama, bahkan Reina terus saja berusaha untuk menjatuhkan dan menyakitinya setiap ada kesempatan.
Qaynaya tidak mau kalau sampai Andjani nantinya memiliki perasaan yang sama, karena Qaynaya yakin kalau perasaan seperti itu sangat menyakitkan.
Mereka sudah sampai di depan rumah, Qaynaya lalu membantu Andjani turun dari mobil. Mereka sudah di tunggu oleh Rini dan Sasha di depan rumah, tidak ketinggalan ada juga Serli, mereka terlihat begitu sangat khawatir dengan kondisi Andjani.
"Sayang, cucu nenek. Siapa yang berani melakukan hal ini padamu?!, nenek akan menghukumnya!" Rini menghambur ke arah Andjani dan memeriksa kondisi cucunya tersebut.
"Mama tenang dulu, sekarang lebih baik kita masuk ke dalam rumah terlebih dahulu" Djani menuntun anaknya untuk masuk kedalam rumah.
Serli dan Sasha langsung mengapit Qaynaya dan mencecar pertanyaan, tentang hal yang menimpa Andjani.
"Dia terinjak oleh temannya"
"Bagaimana bisa separah ini?!"
"Ini pasti disengaja"
"Sudah sangat terlihat sekali, cepat ambil tindakan Qay"
Kedua sahabatnya terlihat sangat menggebu-gebu dan bergantian berbicara, tidak lama Ardi juga datang. Sasha heran melihat anaknya datang, bukankah jam pelajaran belum usai. Ardi mengatakan kalau guru memintanya untuk memeriksa kondisi Andjani.
"Masih saja bucin nya tidak bisa dihilangkan, dia pasti tidak tenang belajar, karena memikirkan kondisi pujaan hatinya" bisik Sasha pada Serli.
"Kenapa kamu membicarakan anakmu sendiri? dan asalkan kamu tau ya, Andjani adalah menantuku, kalian jangan main-main" jawab Serli.
"Jangan mimpi ya kamu, Andjani pasti memilih anakku yang sangat tampan dan penuh perhatian seperti anakku itu" ujar Sasha sambil melihat kearah anaknya yang sedang berada di sebelah Andjani dan menyuapinya sebuah kue.
"Anakmu terlalu agresif, lihatlah kalau Andjani sangat tidak nyaman dengan tingkah Ardi" ujar Serli sambil mencibirkan bibirnya.
"Kalian ini ya, selalu saja ribut sendiri" Qaynaya datang dari arah dapur, membawa beberapa botol minuman berisi berbagai macam rasa buah-buahan. Setelah meletakkan nya di atas meja, Qaynaya lalu duduk disamping kedua sahabatnya yang selalu seperti ini tiap bertemu, tapi itu semua hanya candaan mereka saja.
__ADS_1
"Qay, kamu pilih aku ya sebagai besanmu, lihatlah anakku yang begitu telaten merawat putrimu, aku jamin putri tercintamu tidak akan kekurangan sesuatu saat nanti menjadi menantuku" ucapan Sasha membuat Andjani tersedak, dia memang sudah biasa dengan candaan kedua sahabat dari mamanya, tapi saat ini, ucapan Serli sudah menjurus pada hal yang lebih jauh lagi, yang bahkan Andjani tidak pernah memikirkannya.
"Anjeli, Rahul datang!" sebuah suara dari arah pintu terdengar, mereka semua yang ada didalam rumah, langsung menoleh, melihat siapa yang datang. Serli tersenyum melihat nya.
"Kamu terlalu berlebihan Randy, dan panggil dia kakak. Sudah sering juga aku katakan" Doni yang tiba-tiba juga datang dan menyusul anaknya, memberikan gaplokan pelan di bahu anaknya.
"Ayah, bagaimana bisa aku memanggil calon istriku dengan sebutan kakak" Randy lalu berjalan ke arah Andjani.
Mereka semua lalu berbicara serius setelah beberapa saat bercanda. Andjani juga sudah masuk kedalam kamarnya. Djani meminta bantuan dari Ardi untuk mencari tau keadaan yang sebenarnya saat kejadian kecelakaan yang menimpa Andjani, yang tentu saja langsung disanggupi oleh Ardi.
Randy juga berkata akan membantu sesuatu. Randy yang walaupun berbeda sekolah dengan Andjani dan Ardi, tapi dia merasa kalau dia pasti bisa membantu sesuatu.
"Tentu saja kamu bisa membantu, cobalah membantunya dengan tidak selalu menganggu. Andjani sedang sakit, tidak selalu bisa meladeni dan mengajakmu bermain" ujar Doni pada anaknya.
Qaynaya lalu mengucapkan terima kasih pada semua, karena mau membantu menyelesaikan masalah ini. Tidak lupa Qaynaya juga meminta maaf pada Sasha, karena sebenarnya mereka berniat berkumpul, untuk membicarakan tentang hal lain, tapi karena Andjani tertimpa masalah, jadi semua hanya focus pada Andjani saja.
Sasha tentu tidak merasa keberatan sedikitpun, lagipula yang akan mereka bicarakan tidak terlalu penting. Serli menjadi penasaran dan bertanya, sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Qaynaya dan Serli sebelumnya.
"Ini tentang rencana ulang tahun Ardi" jawab Qaynaya.
"Kalau sampai ini adalah suatu kesengajaan, apa yang akan kamu lakukan Qay? apa kamu akan memenjarakannya?" tanya Serli.
Tentu saja Qaynaya bimbang, karena pelakunya adalah seseorang yang masih dibawah umur juga, saat ini Cheril yang lebih tua dua tahun lebih dari Andjani, sudah berada di kelas 12, sementara Andjani masih berada di kelas 10, sementara Ardi yang berbeda satu tahun dengan Andjani, saat ini sudah kelas 11.
Qaynaya tentu saja tidak bisa memaafkan perbuatannya, kalau benar ini karena kesengajaan, tapi bagaimana juga, dia harus menghukum seseorang yang bersalah, karena kalau seseorang bersalah, dan selalu dilindungi, itu nantinya akan menjadi kebiasaan. Dan bisa saja pelakunya merasa bahwa perbuatannya itu dibenarkan.
"Dia masih sekolah juga, kalau dia dihukum, kasihan juga dia, masa depannya juga masih panjang seperti Andjani"
"Qay, kamu ini sebenarnya sudah gila atau apa? mau dia dibawah umur, atau apalah, tapi dia sudah melakukan tindakan kejahatan. Jadi tentu saja harus dihukum" Serli tidak terima mendengar jawaban dari Qaynaya.
Dilema sedang dirasakan oleh Qaynaya, bagaimana tidak, dia sebelumnya juga sudah mengancam Reina, dan mengatakan akan menghukum orang yang melakukan kesengajaan pada kejadian Andjani, yang orang itu dimungkinkan adalah anak dari Reina, yaitu tidak lain dan tidak bukan, adalah Cheril.
Tapi Qaynaya mengingat kalau Cheril juga merupakan remaja seperti hal nya Andjani, kalau kejadiannya terbalik, dan Andjani lah yang menjadi pelaku suatu kesalahan, sudah tentu Qaynaya berharap ampunan untuk anaknya.
"Tapi hukuman itu juga baik untuk seseorang Qay, orang itu bisa belajar dari kesalahannya" ujar Sasha ikut berbicara.
__ADS_1
"Tentu saja aku juga tau, tapi mau bagaimana lagi, anaknya masih sangat muda, bagaimana bisa kita menyeretnya kedalam lembah hitam seperti sebuah hukuman penjara. Kalau itu orang dewasa, aku tidak akan segan-segan untuk melakukannya" Qaynaya benar-benar bingung, entah apa yang harus dia lakukan.
"Lebih baik kita focus saja dahulu mencari bukti, apa yang akan dilakukan selanjutnya, bagaimana nanti saja" Qaynaya lalu pamit untuk memeriksa dan menemani Andjani.
"Apa kamu sudah mendapatkan sesuatu yang bisa kita jadikan bukti?" tanya Djani pada Ardi.
"Belum ada om, aku juga tidak mengerti. CCTV di area pertandingan tiba-tiba mati, dan teman-teman ku semua mengatakan tidak mempunyai video apapun. Padahal aku sangat yakin kalau pasti ada yang mendokumentasikan pertandingan basket tadi, tapi semua lenyap. Bahkan saat aku bertanya pada salah satu teman yang sempat membuat postingan di akun media sosialnya tentang pertandingan tadi. Postingan itu tiba-tiba juga menghilang, dan temanku itu berbohong dengan mengatakan tidak pernah membuat postingan apapun tentang pertandingan tadi, tapi aku ingat dengan jelas, karena aku bahkan sempat memberikan like" Ardi menjawab sambil terus mengotak-atik ponselnya.
Rini bertanya pada Djani, dengan kondisi Andjani menurut dokter. Djani menjelaskan kalau tangan Andjani terkilir, tapi untuk saja tulangnya tidak patah. Tapi bagi Djani, rasa sakit yang dialami dan diderita oleh anaknya saat ini, harus dia buat perhitungan dengan pelakunya, tidak perduli siapapun itu.
"Tumben ayah berbeda pendapat dengan mama. Ayah yakin bisa berseberangan pendapat dengan mama?" tanya Arion yang sedari tadi hanya terdiam.
Djani adalah seorang kepala rumah tangga, tentu saja dia harus melindungi semua anggota keluarganya, apapun yang terjadi. Sedangkan Qaynaya adalah ibu dirumah ini, memang sudah seharusnya dia menjadi penenang.
"Tentu saja ayah,, takut" jawab Djani bercanda.
Mereka semua lalu tertawa, dan setelah hari sudah semakin sore, semua orang berpamitan pulang kerumahnya masing-masing.
Rini masuk kedalam kamar Andjani, dan melihat Qaynaya yang tengah membelai rambut anaknya yang terlihat masih tertidur. Qaynaya lalu membangunkan anaknya, karena sudah waktunya untuk minum obat lagi.
"Apa aku tidur terlalu lama ma?" tanya Andjani begitu dia membuka matanya, tiba-tiba dia berteriak saat menggerakkan tangannya, sepertinya dia lupa kalau tangannya cidera.
"Hati-hati sayang. Sini mama bantu. Qaynaya lalu membantu anaknya untuk bangun.
"Biar mama yang menemani Anna, kamu belum istirahat sedari tadi" Rini meminta Qaynaya untuk masuk kedalam kamarnya sendiri. Setelah memastikan anaknya sudah minum obat, dan Andjani juga sudah kembali tiduran, Qaynaya lalu keluar dari dalam kamar anaknya.
Ruang tamu terlihat sudah sepi, karena semua orang sudah pulang, sedangkan Djani tidak terlihat, entah berada dimana suami tercinta Qaynaya itu. Karena merasa lapar, Qaynaya lalu menuju dapur, dan dia dikagetkan dengan suaminya yang ternyata tengah memasak.
Qaynaya memeluk suaminya dari belakang, membuat Djani sedikit kaget, karena sedang serius. Tapi sedetik kemudian, senyuman terukir di wajah Djani, dan terlihat wajah tampannya semakin mempesona diusia matangnya.
"Kamu pasti lapar, ayo makan dulu" ujar Djani
"Tidak, aku masih ingin seperti ini" Qaynaya menahan tubuh Djani yang ingin berbalik badan.
"Akhir-akhir ini sepertinya aku terlalu memanjakan dirimu" ujar Djani.
__ADS_1