
"Sayang, apakah benar kamu tidak akan secepatnya menyekolahkan Anna?"
"Tidak, nanti saja kalau sudah berumur tiga tahun, itu juga belum tentu, lagipula dinegara ini sekolah dasar diwajibkan setelah berumur tujuh tahun, jadi takutnya dia bosan nantinya. Lagipula kamu tau sendiri kalau Andjani tidak terlalu suka dengan keramaian. Oh iya sayang, ada satu yang sebenarnya tadi ingin aku tanyakan, tetapi keburu Andjani terbangun"
"Ada apa sayang?" tanya Djani merapatkan tubuhnya pada tubuh belakang Qaynaya, karena saat ini Qaynaya sedang menyusui Andjani.
"Saat kuliah, kamu bekerja di kantin, lalu menjadi asisten dosen, tapi bukankah kamu anak orang kaya, kenapa kamu melakukan hal itu? bukankah itu tidak perlu?"
"Aku hanya ingin hidup mandiri, bukankah aku juga pernah menceritakannya?" ujar Djani mengingatkan Qaynaya, tapi sepertinya istrinya itu sudah lupa.
"Ooohhh iya,,, sekarang aku ingat. Karena kamu ingin mandiri dan tidak mau mewarisi perusahaan keluarga mu ya?" Qaynaya sepertinya ingat.
"Iya sayang, kamu sangat pintar sekali. Aku menyembunyikan pekerjaan ku darimu saat aku berusaha mendekatimu, karena aku pikir kamu tidak akan menyukai pria seperti itu, karena biasanya wanita jaman sekarang, lebih suka pada pria yang mapan dan keren"
"Untuk apa mapan dan keren, kalau dua orang saling cinta, maka mereka bisa berusaha bersama dalam hal finansial" Qaynaya sepertinya lelah, lalu tanpa sadar tertidur saat masih menyusui Andjani.
"Mama sepertinya sangat kelelahan, setelah mengurus ayah, mama juga harus mengurus mu. Jadi sekarang Anna jangan rewel atau menangis ya, selesaikan menyusu lalu ikut ayah" ujar Djani melihat ke arah anaknya.
Setelah dirasa Andjani kenyang, Djani lalu menyelimuti tubuh istrinya dan segera mengambil Andjani untuk mengajaknya bermain selama Qaynaya tidur.
Andjani sangat anteng sekali bermain bersama ayahnya, mereka sesekali tertawa, dan Andjani yang sebenarnya masih sangat kecil seperti mengetahui segala yang ayahnya lakukan.
"Anak ayah ini sangat pintar" Djani geregetan lalu menciumi pipi anaknya.
Tok tok tok tok tok
Terdengar bunyi pintu yang diketuk, Djani lalu menggendong Andjani lalu menggendongnya, karena tidak mungkin meninggalkan Andjani saat dirinya memeriksa siapa yang datang.
"Qay sedang tidur siang" ujar Djani begitu mengetahui bahwa yang mengetuk pintu rumahnya adalah Serli.
"Aku ingin bermain dengan Andjani" ujar Serli lalu hendak mengambil bayi cantik dalam gendongan Djani.
"Tidak boleh, dia sedang bermain denganku, lagipula bukankah tadi pagi kalian sudah bermain?" Djani tidak membiarkan Serli mengambil anaknya.
"Hanya sebentar saja, karena dia sudah langsung tertidur" Serli yang merindukan Andjani terlihat sedih karena Djani tidak mengizinkannya untuk bermain bersama dengan Andjani.
"Kamu itu sedang hamil muda, bagaimana kau tiba-tiba kamu pusing saat menggendong Anna? bisa saja kamu menjatuhkan Anna. Sudahlah sana pulang saja ke rumahmu, jaga dirimu sendiri"
"Dasar pelit" jawab Serli sewot, lalu segera pergi dari depan rumah Qaynaya.
Dari kejauhan terlihat Reina melihat kearah Djani dan Serli yang sedang berbicara. Reina sudah tentu mengenali siapa Serli, karena Reina tau kalau Serli adalah sahabat Qaynaya.
"Ternyata mereka berkumpul ditempat ini. Lihat saja Djani, kamu berani menolakku dulu. Jadi aku akan membalaskan dendamku" ucap Reina, lalu segera pergi, karena untuk saat ini, bagi dirinya sudah cukup dengan mengetahui dimana Djani tinggal.
"Anak itu anaknya Serli atau Djani ya? kalau dilihat-lihat sepertinya mirip Djani" Reina mengingat saat dirinya menggunakan teropong, melihat Djani yang sedang menggendong Andjani.
"Sepertinya anaknya lebih kecil dari anakku" Reina melihat kearah sebuah potret anak perempuan yang berada di dashboard mobilnya.
"Dahulu mama tidak bisa menjadikan Djani sebagai ayahmu, hingga mama harus meninggalkan negara asal mama, dan merayu suami orang yang sekarang menjadi ayahmu.
Rupanya Reina yang gemar melakukan hubungan badan dengan banyak pria, bahkan waktu itu dengan Arya yang menjadi perawat nya saat dia pura-pura terkilir kakinya. Saat itu Reina rupanya sedang hamil. Tapi dia tidak tau siapa ayahnya.
Arya memang mau bertanggung jawab, tapi Reina yang tidak mau, karena ternyata Arya hanyalah orang biasa, yang tidak mungkin bisa untuk mencukupi kebutuhan Reina yang sangat besar.
Saat itu setelah Djani memergokinya tengah berkebun di atas sofa bersama dengan Arya, tidak lama kemudian Reina pergi, karena perutnya semakin membesar, dan untuk melakukan aborsi, Reina tidak berani.
Saat ini anak Reina sudah berumur tiga tahun.
"Harus bagaimana caraku membalas dendam, Djani itu sangat pintar" gumam Reina.
Reina lalu menghubungi Darius dan pura-pura mengajaknya untuk makan malam karena ada hal yang harus dibicarakan. Dan Darius tidak bisa menolaknya karena suami Sasha itu merupakan bawahan dari suami Reina di tempat kerjanya.
Diwaktu dan tempat yang sudah ditentukan, Darius datang menemui Reina yang ternyata sudah menunggunya.
"Ada apa nyonya?" tanya Darius begitu dia sudah duduk dihadapan Reina.
"Ini mengenai rencana Djani untuk membuka perusahaan di negara ini. Apakah dia tidak jadi melakukannya, atau meminta bantuan dari orang lain?"
__ADS_1
"Sepertinya untuk saat ini ditunda dahulu, karena Djani tidak menghubungi diriku lagi. Sebenarnya kalau boleh tau, ada hubungan apa nyonya dengan Djani, sepertinya kalian saling mengenal" Darius tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Kami adalah sepasang mantan kekasih" jawab Reina berbohong.
"Lalu untuk apa nyonya masih menanyakan tentang dirinya, bukankah baik nyonya maupun Djani sudah memiliki kehidupan masing-masing?"
"Tentu saja itu benar, tapi sebagai orang yang pernah saling sayang, bukankah tidak masalah kalau saling membantu? tapi sepertinya Djani yang belum bisa menerima kepergianku, buktinya dia masih marah padaku" Reina begitu percaya diri mengatakannya.
"Maaf nyonya, mungkin ini sedikit menyinggung perasaan nyonya, tapi saat ini Djani sudah memiliki seorang istri dan seorang anak. Istrinya juga sangat cantik, dan Djani begitu mencintainya"
"Baiklah kalau memang seperti itu, kamu boleh pergi" Reina tidak senang mendengar apa yang dikatakan oleh Darius, lalu segera mengusirnya.
Darius merasa ada hal yang tidak beres, lalu mencoba untuk menelepon istrinya dan menanyakan tentang Reina, karena Darius pikir Sasha juga mengenal Reina.
"Aku tidak mengenalnya sejak dahulu, hanya beberapa kali melihatnya saat kamu mengajakku untuk ikut suatu acara ditempat kerjamu, memangnya ada apa?"
Darius lalu menceritakan tentang Reina yang sepertinya masih sangat mencintai Djani. Sasha lalu mengatakan tentang siapa Reina yang dia ketahui.
"Dia itu adalah istri kedua dari tuan Edgar, dulunya Reina menjadi pelakor untuk bisa mendapatkan posisinya saat ini. Istri pertama tuan Edgar terkena serangan jantung saat melihat suaminya bermain gila bersama dengan Reina. Lalu begitu mudahnya bagi Reina untuk menggantikan istri pertama tuan Edgar"
"Tau dari mana kamu? jangan bergosip" ucap Darius mengingatkan.
"Aku dengar dari salah satu karyawan yang berada di perusahaan tempatmu bekerja, bahkan yang mengatakannya tidak hanya satu atau dua. Masa kamu tidak tau kalau itu sudah menjadi rahasia umum"
"Aku bukan tukang gosip seperti dirimu, sudah ya sayang, aku tutup dulu" Darius mematikan panggilan di ponselnya lalu segera bergegas kembali ke perusahaan dimana dia bekerja.
Darius bekerja di sebuah perusahaan media yang sangat terkenal di negara ini, dulu dia hanya wartawan biasa, lalu terus naik pangkat, dan sekarang menjabat sebagai wakil direktur.
Setelah sampai di tempat nya bekerja, Darius langsung dipanggil oleh atasannya.
"Iya tuan?"
"Cepat ikuti apapun yang di inginkan oleh istriku, kalau tidak aku akan memecatmu"
"Apa maksud tuan?" tanya Darius tidak mengerti.
Reina dan Edgar membuat surat wasiat palsu yang mengatakan bahwa perusahaan peninggalan mantan istri Edgar diberikan kepada Reina. Semua orang hanya mengetahui bahwa mantan istri Edgar sudah mempersiapkan semuanya, karena sudah mengetahui penyakit jantung yang dideritanya. Jadi saat terakhirnya, dia sudah menyiapkan penerusnya.
Walau tetap saja ada kebocoran cerita yang sebenarnya, dan berkembang di perusahaan. Tapi semua orang tidak bisa berbuat apapun, karena mereka lebih mementingkan pekerjaan mereka.
Darius lalu menelepon Djani dan meminta pertolongan pada sahabat istrinya itu. Djani awalnya menolak, tapi rasa kemanusiaannya tetap saja tidak sanggup untuk menolak.
"Sayang, Darius membutuhkan bantuan dariku, bolehkah aku pergi sebentar saja menemuinya" Djani berpamitan pada istrinya.
"Iya, berhati-hatilah" Qaynaya tanpa ragu tentu saja mengizinkan, karena dia pikir Darius pasti sedang menghadapi masalah besar kalau sampai harus meminta bantuan dari Djani, padahal hari sudah hampir berganti dengan malam.
Djani masuk ke sebuah restoran, dan saat melihat Darius, dia langsung mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Djani langsung pada intinya.
"Tolong bekerja samalah dengan nyonya Reina"
"Tidak Darius, aku tidak akan mau melakukan hal itu" Djani sudah tentu menolaknya, karena dia tidak mau kalau sampai Qaynaya salah paham.
"Qay sudah memintaku untuk tidak membuka perusahaan di negara ini, dia ingin supaya kami hidup sederhana saja" Djani tersenyum bangga, sebenarnya dia sangat bahagia karena mendapatkan istri yang tidak gila harta atau kedudukan. Walau sebenarnya Djani bisa memberikannya, tapi memang lebih baik bagi wanita untuk tidak terlalu dominan.
"Aku mohon tolonglah aku kali ini saja, sebenarnya aku tidak pantas meminta hal ini padamu, karena aku sangat sadar, kita bahkan baru saja saling mengenal"
"Katakan saja yang sebenarnya, aku tidak terlalu suka basa-basi" ujar Djani tegas.
"Reina yang menginginkannya, dan kalau kamu tidak mau, maka aku akan dipecat dari tempat ku bekerja, karena tempat ku bekerja adalah milik suami Reina. Kamu juga tau sendiri kalau aku tidak mempunyai keterampilan dan kemampuan lain. Kalau aku dipecat, bagaimana dengan Sasha dan Ardi? aku mohon tolonglah aku" Darius bahkan menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya, untuk melakukan permohonan pada Djani.
"Dia sangat berbahaya, aku tidak mau kalau sampai hal itu merusak keutuhan rumah tangga ku" Djani menjelaskan alasan dirinya tidak bisa membantu Darius.
"Saat ini bahkan pernikahan ku sedang di ujung tanduk, dan aku tidak tau lagi harus meminta bantuan pada siapa" Darius terlihat lemas karena mengetahui bahwa Djani tidak mau membantu nya, dengan alasan yang sangat masuk akal.
"Aku akan membantumu, tapi untuk melanjutkan rencana diriku untuk membuka perusahaan dinegara ini. Sudah pasti itu tidak akan aku lanjutkan" Djani lalu bersedia untuk membantu Darius.
__ADS_1
"Cepat suruh Reina keluar, aku tau saat ini dia sedang melihat kita dari suatu tempat yang tidak jauh dari sini" ujar Djani.
Darius kaget karena Djani bisa menebaknya, sebenarnya dari tadi Reina berada di balik kursi di belakangnya. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Djani, Reina lalu tanpa ragu bangkit dari duduknya dan menuju sebuah kursi di samping Djani.
"Apa yang ingin kamu lakukan? jangan berharap lebih padaku. Aku benar-benar hanya murni ingin mengajak dirimu untuk bekerja sama. Aku mendengar berita dari seseorang, kalau kamu sangat kompeten di bidang ini" Reina semakin mendekatkan kursinya pada kursi dimana Djani duduk.
"Diam ditempat mu, bukan kah kamu mengatakan kalau ini hanya untuk masalah pekerjaan. Jadi tidak perlu sedekat ini, karena aku bisa mendengar apa yang kamu katakan sedari tadi" Djani risih melihat kelakuan Reina yang ternyata tidak pernah berubah.
ccuuuppppp
Reina tiba-tiba mencium pipi Djani, berbarengan dengan lampu blitz yang memotret hal itu. Djani mendorong Reina dengan kuat dan langsung melihat kearah Darius. Terlihat sorot kecewa di hati Djani, dia datang karena ingin membantu Darius, tapi ternyata Darius sedang menjebaknya.
"Kenapa kamu begitu tega? bahkan aku datang karena ingin membantu dirimu!" ujar Djani marah.
Pplllaaakkkkkk
Sebuah tamparan keras menyambar pipi mulus Reina. Semua kaget melihat siapa yang melakukannya.
"Qay!!" semua orang terpana melihat kearah Qaynaya.
"Ternyata kamu masih gatal dan rendah ya. Tapi ingat satu hal, Djani hanya milikku, jadi jangan pernah bermimpi!" teriak Qaynaya. Reina memegangi pipinya, lalu tersenyum penuh amarah, dan berniat untuk membalas tamparan Qaynaya, tapi Reina tidak bisa melakukan hal itu karena suaminya juga datang dan melihatnya.
"Sayangku, lihatlah wanita itu. Dia menampar ku hanya karena cemburu, sepertinya dia sangat salah paham" Reina menghambur ke arah Edgar.
"Jangan terlalu banyak bersandiwara. Aku sudah tau semuanya. Saat ini aku membelamu karena dilihat banyak sekali orang, bahkan mereka memegang kamera" bisik Edgar pada istrinya yang licik itu.
"Nona sepertinya sudah sangat salah paham. Istriku dan suami nona hanya sedang membicarakan sedikit pekerjaan" ujar Edgar, Qaynaya tersenyum lalu menunjukkan ponselnya.
"Aku merekamnya, dari awal dia berjalan mendekati suamiku" Qaynaya merekamnya sampai Reina mencium pipi Djani.
Reina tidak bisa berkutik lagi, awalnya dia berencana untuk menjebak Djani, dan akan memberikan foto saat dia mencium Djani pada Qaynaya, supaya Qaynaya salah paham. Tapi ternyata senjata makan tuan, karena dirinya yang saat ini dirugikan dan dipermalukan.
"Sayang, jangan salah paham" Djani memegangi pipi Qaynaya dan memintanya untuk percaya padanya.
"Apa maksudmu?" tanya Qaynaya heran. Mana mungkin dia menyalahkan suaminya, bukankah tadi Djani juga langsung mendorong tubuh Reina, karena tidak mau wanita itu menyentuhnya.
"Bagaimana kamu bisa sampai ditempat ini?" tanya Djani kemudian, dan memeluk istrinya.
👀👀 Flashback 👀👀
Qaynaya menyadari ada sesuatu yang aneh saat Djani meninggalkan rumah, Qaynaya lalu menelepon Sasha dan menanyakan dimana perginya Darius.
Saat itu Serli sedang ada dirumah, jadi Qaynaya menitipkan Andjani pada sahabat nya itu, sementara Qaynaya dengan terburu-buru menaiki sebuah taksi.
Dari awal sebelum Djani mengetahui keberadaan Reina, Qaynaya lebih dulu tau, karena Reina terlihat dari tempat Qaynaya duduk.
👀👀 Flashback End 👀👀
"Kenapa kamu bisa sejahat ini pada suami sahabatmu sendiri? Djani bahkan langsung datang begitu kamu minta tolong, walau kalian belum akrab sekalipun. Tapi aku tidak menyangka kamu menjadi penghianat!" Qaynaya melihat kearah Darius dengan penuh kekecewaan.
"Maafkan aku, karena hanya ini caranya supaya aku tidak menjadi pengangguran" jawab Darius tanpa sedikitpun berani melihat kearah Qaynaya, sepertinya dia merasa sangat bersalah dan menyesal.
"Ini hanya untuk Sasha, jadi kubur masalah ini" ujar Qaynaya lalu menarik tangan suaminya untuk segera pergi dari tempat itu.
"Jaga istri tuan baik-baik, jangan biarkan dia mengganggu suamiku lagi. Karena kalau sampai ada lain kali, maka aku tidak akan segan untuk menyebarkan video yang aku miliki" ujar Qaynaya saat berada di depan Edgar dan Reina.
Djani tersenyum senang melihat istrinya yang terlihat sangat keren baginya.
"Ternyata kamu benar-benar bisa melakukan hal ini" Djani menghentikan langkah kakinya dan menarik Qaynaya dalam pelukannya.
"Kenapa tidak?, aku ini memang seperti ini dari dulu" ujar Qaynaya lalu membalas pelukan suaminya.
"Aku sempat takut kalau kamu salah paham dan kembali meninggalkan diriku" bisik Djani.
"Tidak akan pernah lagi" jawab Qaynaya.
Edgar menarik tangan Reina lalu menariknya menuju ke sebuah mobil, dan segera memasukkan Reina kedalam mobil. Entah apa yang terjadi di dalam mobil tersebut, yang jelas mobil itu terlihat bergoyang dan terdengar jeritan.
__ADS_1