Kesepian

Kesepian
Kedatangan Rini


__ADS_3

"Sebelum pindah kerumah baru kita, seperti kamu yang ingin membuat kenangan di apartemen mu, aku juga mau seperti itu, ayo ke apartemen ku" ajak Djani.


"Mau apa? kamu mau mengingat kembali tentang Reina yang pernah tidur disana?" jawab Qaynaya manyun.


"Apa kamu cemburu sayang? lucu sekali, seperti kamu yang tidak mengizinkan pria lain masuk kedalam kamar mu, aku juga melakukan hal itu, tidak ada perempuan lain yang masuk kedalam kamar ku, kali ini aku mau menghabisi mu disana, itu impian ku dari dulu" bisik Djani ditelinga istrinya lalu menutup nya, Qaynaya bergidik geli, lalu mencubit hidung suaminya dengan gemas.


Tidak menunggu waktu lebih lama, Djani menarik istrinya menuju apartemen miliknya, darah mereka terus mendidih, saat pintu apartemen baru tertutup, Djani langsung mencumbu istrinya dan membuka kancing bajunya, tapi hal itu tidak bisa berlanjut karena seseorang keluar dari dapur.


"Apa ini Djani?!" tanya Rini sambil berteriak, hingga membuat Djani dan Qaynaya terkaget.


"Wanita ini yang membuatmu kesakitan berbulan-bulan, aku tidak akan pernah memaafkan dirinya, kenapa kamu menikah dengannya secara diam-diam!" Rini marah karena pernikahan anaknya tidak dia ketahui dan langsung bergegas ke Indonesia saat mendengar kabar itu, tetapi yang lebih mengejutkan baginya, wanita yang dinikahi oleh anaknya adalah wanita yang membuat Djani hampir gila waktu itu.

__ADS_1


"Ma, ini tidak seperti yang mama pikirkan" bela Djani dan terus menghalangi Rini yang ingin mendekati Qaynaya.


Qaynaya tidak tau harus berbuat apa, dia juga belum pernah secara langsung bertemu dengan kedua orang tuanya Djani, hanya pernah melihat di foto saja.


Saat pernikahan mereka, kedua orang tua Djani tidak datang, karena Djani beralasan kalau kedua orang tuanya sedang sangat sibuk, tetapi sebenarnya itu hanyalah kebohongan dari Djani, karena awal niat dia menikahi Qaynaya hanya untuk balas dendam, jadi bagi nya tidak perlu membawa kedua orang tuanya.


"Keluar dari tempat ini kamu wanita jahat, cepat keluar!" teriak Rini pada Qaynaya, Djani terus menahan mamanya supaya tidak mendekati Qaynaya, karena sepertinya mamanya sangat murka melihat Qaynaya.


"Tidak ada maaf bagi wanita penghianat seperti dirimu, apalagi kamu telah menyakiti anakku terlalu banyak, sekarang enyahlah" Rini terus berteriak marah tidak karuan, bahkan Djani terkena lengan Rini yang terus berusaha menggapai Qaynaya.


"Apa kamu begitu bodoh Djani? apa kamu tidak ingat kesakitan dirimu saat itu, dengan perlahan mama menemani dirimu untuk bisa pulih, dalam hati mama, kalau bertemu wanita wanita jahat itu, mama akan membunuhnya, sekarang jangan halangi mama, biarkan mama membunuhnya"

__ADS_1


Qaynaya menangis mendengarnya, dia sadar telah sangat menyakiti Djani waktu itu, hanya kata maaf yang dari keluar dari mulutnya.


"Tenang mama, aku akan menceritakan semuanya"


"Tidak Djani, mama tidak mau mendengar penjelasan apapun, mama tidak akan pernah memaafkan wanita ini, mungkin kamu telah gila dengan menikahinya, tetapi mama akan kembali menyadarkan dirimu"


Melihat Rini yang terus saja mengamuk, Djani meminta Qaynaya untuk kembali ke apartemennya terlebih dahulu, awalnya Qaynaya tidak mau karena dia ingin meminta maaf dengan benar dulu pada Rini, tetapi Rini semakin marah padanya.


"Tunggu di apartemen mu, aku yang akan menjelaskan semuanya pada mama"


Qaynaya akhirnya menurut pada perkataan suaminya, dengan perasaan sedih dia lalu menuju ke apartemennya.

__ADS_1


"Apapun penjelasan darimu, mama tidak akan memaafkan wanita itu, dan mama sudah menyiapkan jodoh untuk mu, jadi ceraikan wanita itu segera, kalau tidak kamu akan kehilangan mama, sekarang kamu harus pilih mama atau wanita itu, dan tidak ada pilihan lain, kamu hanya bisa memilih salah satu" ujar Rini lalu kembali ke dapur, sepertinya Rini tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Djani.


__ADS_2