
Qaynaya membuka matanya saat hari sudah senja, karena merasa susah untuk bergerak, Qaynaya memundurkan tubuhnya.
"Jangan" Djani menarik kembali tubuh istrinya dan mendekapnya erat. Qaynaya yang akhirnya sudah sepenuhnya tersadar dari tidurnya, lalu membalas pelukan suaminya.
"Sepertinya ini sudah sangat sore, ayo kita mandi" Qaynaya menciumi kepala suaminya yang masih betah mendekap dadanya.
"Tidak mau, aku mau seperti ini selamanya" Djani tidak juga mau membuka matanya. Qaynaya membelai lembut rambut suaminya. Mereka membicarakan tentang rencana kedepannya.
"Kamu belum menjelaskan padaku, kapan pernikahan mu dengan Sasha?" Qaynaya tidak sanggup lagi untuk menanyakan tentang hal itu. Karena Djani tidak menjelaskan apapun padanya.
"Kenapa aku harus menikah dengannya, dia kan sudah memiliki suami. Lagipula aku sudah mempunyai istri, dan anehnya lagi, kenapa kamu bertanya hal itu?"
"Mama Rini memang tidak pernah memarahiku lagi, tapi tidak ada yang menjelaskan padaku tentang kelanjutan rencana perjodohan mu, dengan wanita yang sepadan dengan keluarga besar kalian"
"Apa kamu mengizinkan diriku untuk menikah lagi?" tanya Djani, sepertinya dia malas membicarakan tentang masalah ini.
"Apa jawaban yang kamu inginkan?" Qaynaya kesal karena Djani bukannya menjawab, tetapi malah bertanya omong kosong.
"Aakkhhh" bukan penjelasan yang didapatkan oleh Qaynaya, tetapi suaminya kembali meminta minum padanya.
"Sayang sudah, mari kita berbicara dulu. Jelaskan padaku" Qaynaya mendorong kepala Djani.
Bukan nya langsung menjawab, Djani dengan antusias memandangi wajah istrinya yang sedang menunggu nya berbicara. Qaynaya menggigit dagu Djani karena geregetan.
"Bukannya ngomong, malah diam saja!" Qaynaya kesal lalu berniat bangun. Hari sudah semakin malam, dan hari ini dia sama sekali belum keluar dari dalam kamar. Dia pasti akan sangat malu nantinya saat bertemu anggota keluarga yang lain. Pasti dia akan dikira mempertahankan Djani dengan tubuhnya lagi.
Djani menahan tubuh istrinya, Qaynaya yang sudah bersiap untuk turun dari ranjang, harus mengurungkan niatnya karena tubuhnya dipeluk oleh Djani dengan erat.
"Jangan pernah mencoba untuk pergi lagi dariku, apalagi bersama pria lain" ternyata Djani tidak menjawab pertanyaan Qaynaya, karena dia masih kepikiran dengan istrinya yang pergi bersama dengan Doni.
"Aku tidak mempunyai nomor kontak pria lain. Lagipula tidak ada yang salah dengan Doni. Mungkin bagimu terdengar tidak masuk akal, karena kami adalah mantan suami istri, jadi bagaimana bisa tidak ada masalah. Tapi percayalah, aku tidak pernah menganggap nya lebih dari seorang teman, tidak pernah ada walau sedetik pun, aku mempunyai perasaan terhadap dirinya"
"Dia mencintaimu"
"Tapi aku mencintaimu"
"Tetap saja, tidak boleh pergi dengan pria lain!" Djani mempererat pelukannya. Qaynaya mengangguk.
"Iya, maaf,, aku tidak bisa menghubungi Serli, dan tidak berani menghubungi Rani, dia sedang sibuk mengurus bayinya"
"Ayo kita juga periksakan kandunganmu, aku mau bayi secepatnya"
"Masih belum ada tanda-tanda, maafkan aku" Qaynaya mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Djani, tapi suaminya tetap saja tidak mau. Djani sedang menangis, dia tidak mau Qaynaya melihatnya seperti ini.
"Kalau aku terlambat sebentar saja,, pasti,," Djani tidak melanjutkan ucapannya, dia membayangkan bagaimana kalau dia tidak sempat menahan Qaynaya saat itu, pasti sekarang Qaynaya sudah menghilang lagi.
Djani sudah dua kali ditinggalkan oleh Qaynaya, dia merasakan kesakitan yang luar biasa. Apalagi kemarin Qaynaya berniat pergi lagi dengan Doni, orang yang dulu membuat Djani frustasi karena berhasil menikahi Qaynaya.
"Maaf, aku janji tidak akan pernah melakukannya lagi" Qaynaya menyadari suaminya yang sedang menangis, walau tertahan tapi dia bisa merasakan dari nada suaranya.
Qaynaya tidak memikirkan perasaan Djani, dia hanya ketakutan dengan perasaannya sendiri yang memikirkan perjodohan Djani dengan wanita lain.
"Bolehkah aku mengurung mu di suatu tempat? aku tidak mau kalau sampai kamu lepas dari pandanganku"
"Aku bukan barang" Qaynaya kembali berusaha untuk melepaskan diri, tapi tidak mungkin dia bisa melakukannya, kekuatan Djani tidak sebanding dengan nya.
"Maka dari itu, jangan membuat ku takut lagi!!" Djani tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, dengan kuat dia kembali menarik Qaynaya ke atas ranjang. Sudah bisa dipastikan apa yang dia lakukan selanjutnya. Qaynaya berusaha untuk tidak menangis, ini adalah hukuman untuk nya. Hukuman karena telah membuat Djani sangat terluka saat dulu dia menikah dengan Doni.
Hati Djani pasti menyimpan luka yang teramat dalam, dan luka itu kembali terbuka saat melihat Qaynaya berniat kabur bersama dengan Doni. Qaynaya meremas kuat seprai tempat tidurnya. Matanya tiba-tiba terbuka setelah sedari tadi terpejam, merasakan sakit dan ngilu di bagian bawahnya, ketika kembali di goyang oleh Djani. Ada buliran air mata yang menetes di pipi Qaynaya.
"Sayang, maafkan aku" Qaynaya menghapus air mata Djani.
Djani tidak menjawab apapun dan semakin menindih dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya, dia tidak mau Qaynaya melihatnya menangis, dia takut di cap sebagai lelaki lemah. Qaynaya mencengkeram erat punggung suaminya saat lagi dan lagi, dia merasakan semburan hangat dari suaminya.
Djani tidak juga turun dari tubuh sang istri, dia masih mengatur nafasnya dan juga menata hatinya. Qaynaya mendekap erat Djani.
"Maafkan aku" hanya kata itu yang bisa dikatakan oleh Qaynaya.
"Aku tidak percaya pada mu" Djani turun dari tubuh Qaynaya dan memeluk kepala istrinya.
__ADS_1
"Kenapa?" Qaynaya mencoba untuk lepas dari pelukan Djani supaya bisa memandangi wajah suaminya. Tapi Djani tidak mau, dia terus mendekap erat Qaynaya.
Djani seharusnya tidak mengingat kejadian yang sudah berlalu, tapi karena Qaynaya melakukan hal yang membuat luka lamanya kembali terbuka, Djani kemudian ingat rasa sakitnya.
"Aku tidak bisa menahan diri ku padamu. Aku tau aku salah, jadi maafkan aku karena sering menyakitimu. Aku hanya ingin selalu menyentuhmu, meyakinkan hatiku bahwa kamu nyata disampingku" Djani mengutarakan perasaan hatinya. Dia hanya lelaki biasa yang terkadang juga merasa lemah, apalagi kalau menyangkut dengan Qaynaya.
"Maaf" Qaynaya terisak, mengetahui bahwa Djani begitu trauma dengan kepergian nya.
"Jangan katakan kata itu lagi, percuma kalau kamu mengatakannya tapi nantinya kamu akan melakukannya lagi. Kita ini hidup berumah tangga, pasti akan selalu menghadapi tantangan dan permasalahan. Tapi kamu selalu pergi dan tidak mempercayai ku"
"Maaf"
"Sudah aku katakan untuk tidak mengatakan kata itu lagi!" Djani kembali berniat menindih tubuh Qaynaya.
"Ampun,, sangat sakit,, aku tau hatimu juga sakit, tapi tolong tunggu sebentar lagi" Qaynaya menahan dada Djani. Untunglah kali ini Djani tidak memaksakan keinginannya.
"Jangan pernah mencoba untuk pergi lagi,, janji!!" Djani mendekatkan wajahnya pada wajah Qaynaya. Hanya anggukan kepala yang dilakukan oleh Qaynaya, untuk menjawab perkataan Djani. Karena bibirnya kembali dilahap habis oleh suaminya.
"Aku tidak akan menikah lagi dengan siapapun, apa kamu masih belum belajar juga dari pengalaman dulu" Djani sedikit membenturkan kepalanya pada kepala sang istri.
"Aaawwhhhh" Qaynaya mengusap keningnya, tapi saat dia akan berbicara, Djani kembali melahap bibirnya. Djani tidak membiarkan Qaynaya untuk berbicara.
"Mama memang menyiapkan sebuah resepsi pernikahan mewah, itu untuk kita. Mama ingin memperkenalkan diri mu pada semua kenalan. Tapi aku sudah menolak nya untuk saat ini, aku juga yakin kalau kamu pasti belum siap untuk itu. Jangan terlalu memasukkan kedalam hati, apapun yang mama ucapkan padamu. Mama memang seperti itu, bahkan pada ayah juga dulu seperti itu, tapi sekarang mereka sudah berbaikan"
"Tapi kenapa,,, uummm" setiap Qaynaya berniat untuk berbicara, Djani selalu membungkam mulutnya. Qaynaya kesal lalu menggigit leher Djani.
"Ahahahaha, lucunya" Djani senang sekali melihat Qaynaya yang sedang kesal. Tidak membiarkan istrinya untuk kembali mengeluarkan suaranya, Djani terus saja melahap bibir Qaynaya setiap terlihat mulutnya terbuka.
"Aawwwww,, aawwww,, sayang,, lakukan lagi, coba cubit bagian bawahnya" Djani menjahili Qaynaya, karena istrinya itu sedang mencubit perutnya. Qaynaya benar-benar ngambek dan membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Djani.
"Kamu berani membelakangi suamimu?!"
"Kamu nyebelin!" teriak Qaynaya.
"Kamu ngangenin" Djani menciumi leher belakang Qaynaya, membuat Qaynaya kegelian dan meremas guling yang barusaja dia ambil tidak jauh dari atas kepalanya. Tapi guling itu tidak lama sudah terbang menjauh.
"Tidak ada yang boleh kamu peluk selain aku!" Djani menelentangkan tubuh istrinya dan kembali menindihnya. Djani membelai lembut rambut rambut istrinya, lalu menuju wajahnya. Qaynaya terpejam merasakan sentuhan tangan Djani, tapi saat Djani semakin menurunkan tangan nya, Qaynaya menahannya.
"Apa maksudmu?" Djani tidak mengerti, kenapa dia disebut tidak normal oleh Qaynaya.
"Mana ada orang yang sepertimu, tidak ada lelahnya sama sekali"
"Aku tidak mengenal kata lelah sayang, lagipula mumpung aku libur panjang, jadi aku harus memanfaatkan waktu ku dengan sebaik-baiknya. Nantinya aku harus kembali bekerja, supaya bisa menghidupimu dan anak-anak kita, jadi nantinya hanya setiap malam dan weekend, aku bisa menyentuhmu. Padahal aku ingin selalu menyentuhmu" Djani kembali berusaha membelai tubuh istrinya.
"Memang normalnya seperti itu, mana ada orang yang tidak ada hentinya melakukan hal ini,, cepat lepaskan aku, ayo kita mandi" Qaynaya mengecup bibir suaminya. Djani akhirnya mau, karena dia mendengar suara perut istrinya yang berbunyi. Djani tau kalau Qaynaya pasti lapar.
"Aahhh!" Qaynaya menjerit karena begitu sakit bagian bawahnya saat dia berjalan. Djani sudah tentu sangat hafal di luar kepala, apa yang harus dia lakukan.
Setelah mandi dan memakai baju, mereka lalu keluar dari dalam kamar. Djani menggandeng tangan Qaynaya, karena tau kalau istrinya masih sakit.
"Akhirnya kamu terbebas juga dari penjara,, sini sayang duduk dekat nenek" Neli mendekati Qaynaya dan berniat membawanya duduk di sebelah kursinya.
"Tidak boleh" Djani mendudukkan Qaynaya di kursi sebelahnya.
"Dasar pelit, Neli kan besok harus sudah kembali lagi" Neli mengambilkan segelas minuman dingin untuk Qaynaya. Rini keluar dari dapur membawa segelas susu hangat.
"Jangan minum yang dingin-dingin dulu, ini habiskan dulu susu hangat, biar tubuhmu terasa rileks" Rini meletakkan gelas berisi susu di hadapan Qaynaya.
"Biarkan dia minum air dingin dulu, dia membutuhkannya supaya kembali segar" Neli bersikukuh dan tidak mau mengalah. Djani tersenyum bahagia melihat istrinya disayangi oleh keluarganya.
"Minum susunya terlebih dahulu Qay,, setelah kamu makan yang lain, kamu boleh minum air dingin" Rega yang baru pulang dari bekerja, langsung ikut nimbrung. Neli kesal karena dikeroyok oleh suami istri.
"Dasar suami takut istri" Neli mencibirkan bibirnya, tapi hatinya sebenarnya sangatlah bahagia, karena keluarga mereka tidak lagi diliputi ketegangan.
"Minum sayang, benar kata mama mertua mu,, hangatkan dulu tubuhmu. Habiskan susunya" Neli sedikit menjauhkan gelas berisi air dingin di depan Qaynaya, supaya Qaynaya tidak merasa sungkan padanya.
"Hhuueeekkkk,, maaf" dengan menutup mulutnya, Qaynaya berlari dengan menahan sakit dibagian bawahnya. Saat menghirup aroma susu, tiba-tiba saja Qaynaya merasa mual, dia memang pada dasarnya tidak suka susu. Bukan tidak menghargai niat baik dari Rini, tapi Qaynaya memang tidak kuat.
"Qay,, !!" Neli dan Rini berteriak karena kaget melihat Qaynaya.
__ADS_1
"Ada apa ini?, apa mama meracuninya?!!" Djani langsung berlari menuju istrinya. Rini menggelengkan kepalanya lalu ikut berlari mengejar Qaynaya yang berlari ke kamar mandi.
"Ada apa??!" Djani panik dan memeriksa kondisi Qaynaya.
"Kenapa Qay?, mama tidak meletakkan sesuatu yang berbahaya, itu hanya susu hamil biasa" ujar Rini menjelaskan, karena Djani terlihat sangat mencurigai dirinya.
Djani lalu melihat ke arah Qaynaya yang masih membersihkan mulutnya. Djani tersenyum lalu mengelus kepala Qaynaya.
"Ayo kita ke dokter" Djani menuntun Qaynaya kembali ke meja makan. Semua menatap khawatir melihat kearah Qaynaya, Rega bahkan langsung memanggil dokter.
Tidak lama kemudian, dokter datang dan memeriksa kondisi Qaynaya, setelah beberapa saat, akhirnya dokter memberikan penjelasan.
"Nona Qay sepertinya kelelahan dan kurang tidur, dia masuk angin. Tapi jangan sepelekan penyakit ini, terdengar biasa tapi berbahaya. Cobalah untuk tidur tepat waktu dan jangan bekerja terlalu berlebihan"
"Tapi dok, menantu saya tidak bekerja" Rega menjawab dengan polosnya.
Plleettaakkk
Sebuah jitakan mendarat di kening Djani, Rini kesal dengan kelakuan Djani. Ini semua pasti karena ulah anaknya itu. Semua orang menahan senyumnya melihat Djani yang seperti anak kecil kena omel mamanya. Hanya Neli yang terlihat sangat sedih.
"Sudah mama katakan untuk tidak terus menerus menyiksanya, apalagi Qay baru mengalami kecelakaan. Walaupun tidak terluka, tapi tubuhnya pasti terpengaruh akibat benturan saat mobil menabrak" Rini lalu mendekati Qaynaya dan memegang tangannya.
"Jangan merasa bersalah, mungkin belum waktunya. Lagipula kalian baru bersama kembali, focus untuk menyehatkan kondisi tubuhmu" Rini tersenyum lembut, membuat Qaynaya membeku.
"Kenapa kamu terlihat ketakutan melihat mama?,, maafkan atas semua kesalahan mama. Mulai sekarang mama akan merawat mu, jangan pikirkan tentang hal lain lagi" Rini lalu membelai lembut rambut Qaynaya.
Masih tidak ada reaksi apapun dari Qaynaya, dia masih tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan kebahagiaan sebesar ini. Qaynaya bahkan berfikir kalau semua ini hanyalah mimpi.
"Sayang,, sayang,, sayang,,!" Djani sedikit mengguncangkan bahu Qaynaya, karena istrinya terus saja melamun.
"Mama sangat bersalah padamu, apa kamu tidak mau memaafkan mama?" Rini menggenggam tangan Qaynaya. Barulah Qaynaya sadar kembali dan melihat ke arah mertuanya itu.
"Tidak tante, bukan seperti itu,,"
"Panggil aku mama,, aku ini kan memang mamamu" Rini memotong ucapan Qaynaya.
"Maaf,,," Qaynaya kembali bengong dan tiba-tiba saja menangis. Djani panik dan memeriksa istrinya, barusan dia sedang mengantarkan dokter sampai depan pintu.
"Apa mama menyakitinya lagi?! aku sudah bilang,, jangan sakiti istriku!!" Djani menarik Qaynaya kedalam pelukannya dan melihat kearah mamanya.
"Aku mohon jangan sakiti hatinya lagi, atau kalau tidak,, kami akan segera pergi dari sini!!" Djani melepaskan pelukannya dan hendak bangkit dari duduknya untuk membawa Qaynaya kembali ke dalam kamar. Qaynaya belum bisa berbicara karena masih sesenggukan. Neli dan Sasha juga tidak tau harus bagaimana.
"Djani tenang dulu,," Qaynaya berbicara setelah bisa menguasai perasaan. Qaynaya menarik kembali tangannya dan meminta kepada suaminya untuk duduk di sebelahnya.
"Aku hanya sangat bahagia karena mama sudah mau menerima ku, aku sangat terharu. Aku tidak menyangka saat seperti ini akan terjadi padaku. Maafkan atas segala kesalahanku" Qaynaya menundukkan kepalanya di depan Rini.
Rini memeluk Qaynaya dan mengusap lembut punggungnya, dia juga tidak kuasa menahan air matanya. Rini berfikir kalau Qaynaya tidak mau memaafkannya karena ucapannya pada Qaynaya selama ini sungguh sangat keterlaluan.
"Tidak ma,, aku memahaminya. Tidak ada seorang ibu yang akan rela melihat anaknya disakiti. Dan semua ibu juga pasti berharap anaknya mendapatkan yang terbaik di hidupnya, dalam hal apapun. Maafkan aku yang banyak kekurangan ini" Qaynaya kembali menangis setelah mengatakannya. Semua yang melihat juga tidak bisa menahan rasa haru.
"Tidak ada kekurangan dalam dirimu. Hanya kamu yang pantas menjadi menantu mama, karena kamu adalah wanita yang sangat dicintai oleh Djani,, sudah jangan menangis lagi. Makanlah sesuatu lalu minum obat dan beristirahatlah" Rini melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Qaynaya.
"Djani, bawa istrimu ke dalam kamar, tapi awas ya,, jangan mengganggunya dulu" Rini bangun untuk mengambilkan sesuatu yang bisa dimakan oleh Qaynaya. Djani lalu menuntun Qaynaya menuju kamar.
"Bagaimana ini nek? kita belum berpamitan pada Qay dan Djani, bukankah kita harus berangkat besok pagi-pagi sekali?" Sasha bertanya pada Neli. Mereka tidak mungkin untuk kembali menemui Qaynaya.
"Tukar waktu keberangkatan kalau masih bisa, kalau tidak batalkan saja, uang nya nanti nenek ganti"jawab Neli santai.
"Ini bukan masalah uang nek, masalahnya aku memang harus cepat kembali juga. Tapi baiklah,, kita undur sampai besok siang"
"Kurang ajar,, seenaknya saja membatalkan pernikahan. Aku tidak akan memaafkan mereka. Aku sudah tau dari awal kalau Djani sudah menikah, bahkan saat Rini tidak menceritakannya. Aku pura-pura tidak tahu karena aku pikir tidak ada salahnya menjadi istri kedua dari seorang Djani. Setelah Rini berkata jujur, aku tetap mau melanjutkan pernikahan ini, jadi tidak ada yang bisa menggagalkannya. Pasti istrinya Djani yang menggagalkan rencana pernikahan ini, awas saja, aku akan membuat perhitungan" Geby melemparkan ponselnya karena tidak bisa menghubungi Rini.
"Secara sepihak membatalkan rencana pernikahan, setelah aku mempersiapkan diri" Geby melemparkan semua barang yang ada di atas meja dan berteriak marah.
__ADS_1
"Sekarang pesan tiket, kita harus segera menjemput pengantinku" Geby memberikan perintah kepada bawahannya.