
"Sudah"
"Sedikit lagi"
"Tidak mau"
"Mau aku paksa?"
"Tidak, sudah cukup"
"Kamu berani melawan suami mu?!"
"Maaf, tapi sudah,, aku tidak kuat lagi"
"Ya sudah, hukuman mu nantinya lebih lama kalau sekarang tidak menurut"
Qaynaya kembali membuka mulutnya, menerima suapan dari Djani, dia sudah sangat kenyang. Tapi Djani terus menyuapinya makan, apalagi dia baru menghabiskan segelas susu yang rasanya sangat aneh itu.
Djani berkata kalau dia tidak akan bekerja dalam waktu dekat, jadi mempunyai banyak waktu untuk bersantai dirumah.
"Bersantai?" tanya Qaynaya mencibirkan bibirnya mendengar perkataan suaminya. Djani tertawa melihat istrinya yang cemberut.
"Aakkhh!" Qaynaya menjerit karena Djani menggigit pipinya. Saat Djani berniat untuk menggigit pipi yang satunya lagi, Qaynaya menahan wajah suaminya, dan gantian dengan cepat Qaynaya menggigit leher Djani dengan kuat.
"Apa kamu vampir?!" Djani menahan diri dengan perbuatan istrinya, karena meja lipat dengan makanan di atas nya, masih ada di atas ranjang. Kalau dia banyak bergerak, meja itu pasti akan terguling. Djani meletakkan lebih dahulu meja lipat itu ke atas meja di dekat sofa pojok ruangan kamar.
Qaynaya menatap horor melihat kearah suaminya yang mendekat padanya, dia sadar kalau suaminya pasti akan membalas perbuatannya barusan. Dengan gerakan cepat, Qaynaya mengambil bantal untuk melindungi wajahnya.
"Ampun sayang, maafkan aku,, aku kelepasan, aku tidak akan mengulanginya lagi" Qaynaya berontak saat tubuhnya yang masih polos dan hanya berbalut selimut, telah kembali ditindih oleh suaminya.
Djani menarik bantal yang masih dipegang oleh Qaynaya, walau sekuat tenaga Qaynaya menahannya, tapi pada akhirnya, tameng untuk melindungi wajahnya dari serbuan Djani akhirnya harus terlempar jauh.
"Lagi,,"
"Apa?" Qaynaya heran dengan keanehan suaminya, karena biasanya Djani langsung melakukan keinginannya. Kali ini Djani hanya terus mengatakan kalau dia mau lagi.
"Apanya? biasanya juga langsung" Qaynaya mengernyitkan keningnya, karena tidak tau apa yang di inginkan oleh suaminya.
"Gigit lagi!" Djani kesal lalu menarik selimut yang dipakai oleh Qaynaya sebagai perlindungan akhir. Hanya hitungan detik, Qaynaya kembali polos. Djani langsung melahap bukit tunggal yang ada dibagian tubuh bawah istrinya.
Seperti biasanya, Djani melahapnya sambil memeriksa kondisi dari aset pribadi istrinya yang membuatnya sangat gila itu. Bagaimana tidak disebut gila, karena Djani terus ingin memakannya dan menyentuhnya.
"Sayang, apa kamu tidak lelah?, kamu juga belum makan" Qaynaya meremas rambut suaminya dan sesekali merintih saat lidah suaminya masuk kedalam lubang sempit miliknya. Djani senang karena milik Qaynaya tidak lecet, seperti biasanya, hanya memerah dan sedikit membengkak. Setelah Qaynaya kejang, Djani menyudahi aksinya lalu menutupi kembali tubuh istrinya dengan selimut, dia sendiri lalu ikut masuk ke dalamnya.
"Gigit aku lagi, atau aku yang akan menggigit mu?" Djani memandangi wajah istrinya yang masih merah merona. Qaynaya masih mengatur nafasnya dan menikmati sisa dari kejang yang tidak terhitung jumlahnya sejak semalam.
Qaynaya bergerak pelan untuk memberikan keinginan dari suaminya. Dia tidak bisa membuat tanda merah, jadi Djani mengajarinya.
"Dalam hal ini kamu sangat jago sekali, kamu bahkan membeli lingerie. Apa kamu memiliki sebuah fantasi yang aneh?" Qaynaya tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Djani tertawa geli mendengarnya, dia lalu bercerita kalau dari saat mereka masih berpacaran, dia sering membaca buku kamasutra dan menonton banyak video, dia berharap saat Qaynaya mau disentuh olehnya, dia tidak akan mengecewakan Qaynaya.
"Maaf untuk lingerie itu, mungkin aku terbawa perasaan rindu saat kamu meninggalkan diriku. Aku membelinya dan berjanji pada diriku sendiri, aku akan menghabisi mu saat kamu tertangkap"
"Lalu kenapa kamu merusaknya? apa itu pertanda kalau kamu tidak akan lagi menyiksa diriku?" tanya Qaynaya dengan mata berbinar-binar. Djani kembali menggigit pipi Qaynaya hingga istrinya kembali membalas dengan menggigit dagu Djani.
Djani tertawa, sepertinya dia sangat menyukai apa yang dilakukan oleh Qaynaya.
"Tentu saja, aku tidak akan menyiksamu lagi, karena setelah aku melihat secara langsung saat kamu memakainya, ternyata aku tidak terlalu suka"
Qaynaya terdiam mendengar perkataan dari suaminya, entah kenapa ada rasa sedih. Ternyata Djani tidak menyukainya lagi, Qaynaya mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuhnya untuk mengalihkan kesedihannya.
"Baju jelek dan tipis itu jadi menghalangi tubuh indah mu, aku lebih suka tampilanmu saat ini. Aku memang tidak akan menyiksamu lagi. Bagaimana bisa aku melakukan itu, kamu adalah istri nakal ku, tidak mungkin aku terus menghukum dirimu dengan terus menyiksamu, tapi aku akan memberikan cinta dan kenikmatan setiap saat untuk mu sayang" ujar Djani menjelaskan dengan bangganya.
Perkataan apa itu, sepertinya itu artinya tidak ada bedanya. Qaynaya lalu meminta Djani untuk segera makan dulu, Qaynaya takut suaminya sakit karena telat makan.
"Kamu adalah makananku, aku sudah kenyang dengan terus memakan dirimu. Karena kamu mengingatkan dan meminta ku untuk makan, jadi aku akan melakukannya, aku tidak mau kalau sampai kamu kecewa sayangku, tapi aku harus minum terlebih dahulu" Djani tersenyum lebar dan langsung menyerbu minuman nya yang langsung dari sumbernya.
"Uuhhmmm" terasa sedikit perih, puncak dari gunung kembarnya, karena Djani terus mengulumnya. Setelah Qaynaya kembali kejang. Djani mencium kening istrinya lalu meminta nya untuk istirahat.
"Tidurlah sayang, aku akan makan dulu" Djani merapikan selimut yang menutupi tubuh Qaynaya, supaya tubuh polos istrinya tidak masuk angin.
Karena terlalu lelah dan lemas, Qaynaya akhirnya tertidur. Djani yang sedang makan di sofa pojok kamar itu, tidak bisa melepaskan senyuman dari wajahnya. Dia terlihat sangat bahagia.
Setelah menghabiskan makanannya, Djani berjalan perlahan ke luar. Lagi-lagi dia sudah ditunggu oleh trio kepo di ruang makan. Rini menggelengkan kepalanya melihat Djani yang masih saja memakai jubah mandi besarnya. Memang semua bagian tubuh Djani tertutup sempurna, tapi Rini tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Qaynaya didalam sana.
"Sudahi kegilaan mu ini, mama tidak mau menantu mama kenapa-napa"
"Selain menantu mama, dia itu adalah istriku,, aku ingin membatalkan acara resepsi pernikahan ku yang ingin mama lakukan secara besar-besaran itu"
"Kenapa?!!" semua terkejut mendengarnya.
"Aku tidak mau kalau Qay terlalu terekspos media, keselamatan nya harus menjadi prioritas utama saat ini. Aku dan ayah baru saja memenangkan tender proyek yang sangat besar di negara S. Aku takut kalau ada yang tidak suka, mereka mungkin akan melukai istriku kalau tidak berhasil melakukannya padaku. Tapi bukan selamanya aku berniat menyembunyikannya dari dunia, ini hanya untuk sementara waktu saja. Lagipula di negara ini, sudah banyak yang tau tentangnya, karena video viral ku dulu. Jadi untuk saat ini, lebih baik seperti ini dulu saja" Djani lalu kembali ke kamarnya, sepertinya dia mengantuk, lagipula dia ingin menemani istrinya.
Semua paham setelah mendengar penjelasan dari Djani, dan merasa bahwa hal itu sangat masuk akal. Rini tidak lagi memaksakan kehendaknya, karena takut menantunya dalam bahaya kalau acara itu tetap dilakukan dalam waktu dekat.
Sasha lalu memesan tiket pesawat, dia masih ada disini selama ini karena berfikir untuk menghadiri resepsi pernikahan Djani dan Qaynaya. Kalau acara itu dibatalkan, tidak ada alasan bagi Sasha untuk tetap tinggal.
__ADS_1
Rini juga memutuskan untuk tinggal di apartemen Djani yang sudah lama kosong, sebenarnya sangat mudah sekali bagi Rini untuk membeli rumah manapun yang dia mau, tapi untuk apa, karena mereka sudah memiliki rumah besar di luar negeri.
Neli juga berniat kembali, dan meminta kepada Sasha untuk sekalian memesan tiket pesawat untuknya.
"Kapan kamu akan kembali ke rumah?" tanya Neli pada Rini. Rumah yang dimaksud Neli sudah pasti rumah Rini yang diluar negeri, tempatnya selama ini menetap.
"Saat ini Rega sedang sibuk dengan pekerjaannya, apalagi harus menggantikan Djani. Sepertinya setelah semua kondusif, dan Djani sudah bisa kembali bekerja, sudah pasti aku akan segera kembali. Lagipula disana juga banyak pekerjaan"
Rini menyudahinya penjelasannya, karena kembali mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dia kenal di ponselnya. Tidak mau terburu-buru untuk menceritakan tentang hal itu, Rini memilih untuk diam dan menyelidiki sendiri terlebih dahulu.
Pesan itu terus meneror nya dengan meminta uang, kalau tidak sang pengirim pesan itu mengatakan akan membawa paksa Qaynaya. Untuk sementara Rini curiga pada Lilis, tapi semua belum bisa dipastikan. Rini lalu meminta pada pengirim pesan itu untuk bertemu di suatu tempat.
"Mana uangnya?"
"Saat ini aku tidak bawa dan tidak akan memberikan sepeserpun padamu"
Lilis kembali berulah, ternyata benar yang mengirim pesan pada Rini adalah Lilis.
"Dari mana kamu mendapatkan nomor ponselku?" tanya Rini heran. Lilis lalu bercerita kalau dia terus mencari keberadaan Qaynaya, karena tidak menemukannya, Lilis lalu mencari ke perusahaan milik Djani.
"Aku menunjukkan foto pernikahan Djani dan Qaynaya, mereka percaya lalu memberikan nomor ponselmu"
Rini mengingat saat dia memberikan nomor ponselnya pada sekertaris Djani, dulu karena takut Qaynaya datang saat pernikahan Djani dengan Kaela, Rini memberikan nomor pribadinya, supaya sekertaris itu mudah memberikan informasi langsung padanya.
"Apa kamu tidak tau malu? anakmu bahkan belum ditemukan" Rini mencoba memancing Lilis, dan berharap bahwa tebakannya benar. Saat Lilis terlihat gelisah, sudah dipastikan kalau Lilis tidak mengetahui keberadaan Qaynaya.
"Walaupun demikian, Qaynaya tetaplah istrinya Djani. Jadi dia berhak untuk mendapatkan uang dari suaminya, enak saja kalian ini, sudah Qay menghilang, tapi mau melepaskan kewajiban juga"
"Aku tidak pernah memeras Qay!!" Rini berteriak dan tidak terima dengan tuduhan Rini.
"Kamu selalu menyusahkan dirinya, dia bekerja keras tapi kamu yang menikmatinya. Tidak cukup sampai disitu, kamu juga menjual nya pada Doni, dan apa kamu lupa? kamu juga sudah menjual nya pada Djani!" Rini menjawab dengan keras karena tidak bisa mengontrol kemarahannya.
Rini sepertinya menyesal mengatakan bahwa Qaynaya telah dijual pada Djani, karena Rini sadar bahwa Qaynaya bukan barang. Tapi tidak ada lagi perkataan yang pas untuk dikatakan pada Lilis.
"Apa kalian menganggapnya barang, kenapa mengatakan seperti itu?!!" Lilis emosi dan menyiram air minum ke wajah Rini.
"Apa kalimat yang benar untuk mendeskripsikan apa yang kamu lakukan?!!" Rini tidak bisa lagi menahan amarahnya, dia juga menyiram air minum pada wajah Lilis.
"Aku tegaskan sekali lagi, tidak ada uang untuk mu dariku. Karena aku menyayangi Qaynaya, jadi aku tidak mau memberimu uang, karena itu seolah aku sedang membeli Qaynaya. Kalau kamu tidak bisa menyayangi dan menghargainya sebagai seorang anak, aku yang akan melakukannya?" Rini geram, setelah membayar minuman pesanannya, Rini dengan cepat langsung bergegas pergi. Rini malu karena pertengkarannya dengan Lilis, membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Lilis menahan tangan Rini dan masih bersikeras untuk mendapatkan uang.
"Sepertinya kalian sudah menemukan Qay, jadi berikan aku uang. Jadi aku tidak akan lagi mengganggunya"
"Kamu benar-benar tidak tahu malu!!, aku tau kalau Djani selalu mengirimkan keperluan sehari-hari pada kalian setiap dua minggu sekali, biaya pengobatan ayah Qay juga rutin dibayarkan. Bahkan Djani membiayai kuliah adik-adik Qay, itu semua dia lakukan tanpa sepengetahuan Qay, karena Djani yakin kalau Qay akan menolak nya dan tidak mau menerima. Tapi ingat baik-baik nyonya Lilis yang terhormat, aku tegaskan sekali lagi, tidak ada uang untuk mu berfoya-foya. Kasihanilah Qay, kalau kamu tidak bisa menjaga perasaannya, setidaknya jangan menyakitinya" Rini lalu segera memasuki mobilnya dan tidak memperdulikan Lilis.
Rini yang kesal lalu mampir ke perusahaan dimana suaminya berada. Melihat kedatangan Rini, Rega langsung menghentikan pekerjaannya dan menutup jendela serta mengunci pintu ruangannya.
__ADS_1
"Dasar aki-aki genit, aku ini sedang kesal dan ingin curhat. Lalu apa yang sedang kamu coba kamu lakukan?" Rini berbicara tetapi senyum kelihatan di ujung bibirnya. Setelah masalah mereka selesai, sekarang hubungan mereka menjadi panas.
"Jarang-jarang kamu mendatangiku di kantor, aku harus melakukan fantasi ku semenjak dahulu" Rega menyergap Rini dan menekannya ke tembok.
"Apa fantasi mu pak tua?" Rini membuka dasi dan kancing kemeja suaminya, senyuman nakal tidak lepas dari bibirnya. Rini lalu tersenyum puas saat suaminya melenguh.
Tangan Rini telah menyusup ke dalam celana Rega, dan bermain-main dengan benda tumpul milik suaminya itu. Tidak butuh waktu lama sampai mereka saling membuka akses supaya secepatnya mereka menyatu sepenuhnya.
Umur mereka memang tidak lagi muda, tetapi perasaan cinta mereka yang baru saja saling bertemu setelah berselisih paham, akhirnya berkobar dengan besarnya.
Terdengar suara ketukan pintu, suara sekertaris terdengar memanggil Rega untuk menyerahkan berkas-berkas pekerjaan yang harus segera di periksa. Tapi karena tidak ada jawaban, sekertaris itu lalu berniat menghubungi lewat telepon.
"Apakah tuan sedang pergi keluar? tapi aku tidak melihat kepergian nya sedari tadi, bukankah nyonya tadi datang? atau tanpa sepengetahuan ku mereka telah pergi?" gumam nya saat memegang gagang telepon. Salah satu rekan kerjanya yang lain mendekat.
"Apa kamu tidak bisa berfikir dengan jernih?? lihatlah jendela yang tertutup rapat setelah nyonya datang, didalam pasti sedang terjadi adegan panas, seperti itu saja kamu tidak paham"
"Mereka kan sudah tua"
Plleettaakkk
Jitakan mengenai kepala sang sekertaris, rekan kerjanya kesal karena bisa-bisanya kalimat itu keluar dari mulut sekertaris yang umurnya juga tidak jauh dari Rega
"Apa kamu ini lupa ingatan? memang kamu tidak pernah lagi melakukannya karena kamu juga sudah tua? lagipula Rega itu masih perkasa dibandingkan dengan kita yang sudah membuncit seperti ini" mereka lalu tertawa bersama.
"Kita harus bahagia melihatnya seperti ini, selama ini kita dijadikan sebagai orang kepercayaannya, kita berasal dari daerah yang sama, tapi dia tidak lupa diri dan terus mengingat asalnya. Semoga dia selalu bahagia" sang sekertaris tersenyum dan mengangguk mendengarnya. Mereka dulunya adalah sahabat seperjuangan, nasib membuat Rega lebih beruntung dalam hal pekerjaan, apalagi setelah menikah dengan Rini. Tapi Rega tidak pernah melupakan perjuangan mereka bersama. Saat Rega pindah ke luar negeri, perusahaan yang di negara ini, dia percayakan kepada para sahabatnya.
"Sampai kapanpun kita hanya harus selalu memantau perkembangan perusahaan ini, untuk menjaga dari tikus, walau kita harus menyamar sebagai seorang sekertaris saat ini, karena sang pemilik sebenarnya sedang berada ditempatnya" mereka cekikikan, sebenarnya salah satunya menjabat sebagai CEO, dan yang satunya sebagai wakilnya saat Rega diluar negeri.
Karena saat ini Rega berada di sini, sudah tentu ruangan CEO dipakai oleh Rega, untung saja seperti itu, dan sahabatnya sedang tidak bersama diruangan nya saat Rini datang, jadi Rega bisa leluasa bermain dengan Rini.
"Kamu sangat pandai sekali, dulu kamu tidak pernah menunjukkan betapa buasnya dirimu, aku semakin tergila-gila padamu" ujar Rega saat istrinya dengan lincah tengah menggoyang nya.
"Aku akan membuat mu hanya terpaku padaku" jawab Rini dan semakin bergerak cepat, mereka saling melenguh begitu cairan kenikmatan itu menyembur keluar.
Rini kembali memakai bajunya, dia tersenyum mengingat kelakuan Djani. Dia sadar kalau anaknya itu sepertinya ganas seperti dirinya, Rini yang sekarang sangat mencintai Rega, sudah tidak segan lagi menunjukkan keganasannya.
"Sabar Qay,, mama yang sudah tua saja seperti ini. Apalagi Djani yang masih muda dan pada umur yang panas-panasnya" gumam Rini. Rega heran karena istrinya senyum-senyum sendiri, saat ditanya Rini hanya menggeleng dan mengecup bibir suaminya yang tengah merapikan kemejanya.
Rini membantu memakaikan dasi Rega, mereka saling tersenyum karena merasa sangat puas dengan kegiatan mereka barusan.
"Aku akan cepat menyelesaikan pekerjaan ku disini, dan segera pulang untuk kembali meminta seperti tadi" bisik Rega.
"Siapa takut" Rini menjawab sambil mengelus tongkat suaminya.
__ADS_1