
"Memang kenapa Qay kalau kami publikasikan? bukankah itu harus dilakukan? supaya semua orang tau siapa dia" Rega ingin memperkenalkan Andjani ke publik di seluruh dunia, supaya tidak ada yang berani mengambil kesempatan lagi untuk mengganggu keluarga mereka lagi.
"Tidak ayah, aku mohon jangan, setidaknya sampai itu benar-benar nantinya dibutuhkan, aku lebih berharap dia menjalani kehidupan seperti orang biasa saja, tanpa tambahan sebagai cucu konglomerat. Maafkan aku, bukan aku tidak menerima keluarga suamiku sepenuhnya, hanya saja, aku merasa itu yang terbaik untuk saat ini"
"Tapi Qay,, mama ingin segera membuat pesta kehadiran Andjani, dahulu mama tidak sempat menyelenggarakan resepsi pernikahan kalian" Rini yang mendengar perkataan Qaynaya ikut protes dengan keputusan menantunya.
"Ayah, mama,,, tolong mengerti dahulu akan keputusan Qay, dia adalah ibu Andjani, pasti Qay hanya ingin yang terbaik untuk anak kami dengan memutuskan hal ini" Djani membela istrinya.
"Ya sudahlah, untuk saat ini kami mengalah, tapi kalau terjadi sesuatu, kami akan segera mengambil tindakan" ujar Rega, lalu kembali meminta izin supaya boleh menggendong Andjani.
"Jangan ayah, dia sedang bermain bersamaku, ayah juga tau kalau aku juga belum lama bertemu dengannya" Djani sungguh tidak mengerti dengan perasaan rindu seorang kakek pada cucunya, yang pastinya tidak kalah besar dari rindu seorang ayah pada anaknya.
"Buatlah beberapa lagi, ayah akan mengajaknya bermain. Kalian tidak perlu khawatir, karena ayah akan menjaganya dengan baik dan benar, serta penuh kasih dan sayang" Rega tersenyum saat mengatakannya, lalu tertawa dengan gembira karena melihat Andjani yang oleh Qaynaya di sembulkan kepalanya dari balik badan Andjani.
"Lucu sekali, bagaimana bisa begitu persis dengan Djani saat kecil. Djani menyingkir lah, ayah ingin menggendong cucu ayah"
"Apa ayah sudah membersihkan diri?" tanya Djani.
"Sudah Djani, ayah juga paham dengan hal itu, tadi ayah membersihkan diri, sembari beristirahat sejenak di sebuah hotel"
"Baiklah" Djani lalu mengambil Andjani dari pangkuan Qaynaya dan menyerahkannya pada Rega.
Andjani menjadi pusat perhatian, Qaynaya sangat senang dan bahagia melihatnya, Djani ikut tersenyum melihat Qaynaya yang terlihat berseri karena kebahagiaan yang terus terpancar.
Djani menanyakan alasan Qaynaya menamakan anak mereka dengan nama yang sangat mirip dengannya, dan kali ini Djani ingin jawaban yang serius. Djani juga meminta Qaynaya menceritakan semuanya, dari awal kepergiannya.
Qaynaya bercerita bahwa Andjani lahir lebih awal, kalau biasanya bayi lahir setelah dalam kandungan kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari, berbeda dengan Andjani yang saat itu baru berumur delapan bulan dalam kandungan.
"Saat aku pergi, aku telah hamil dua minggu, sebenarnya itu usia kehamilan yang sangat rentan terhadap benturan, atau kelelahan. Jadi saat aku kecelakaan, aku begitu ketakutan dia telah tiada. Aku tidak melakukan pemeriksaan lanjutan, apakah dia benar telah pergi atau belum, hingga suatu hari, karena aku kelelahan karena sibuk menyiapkan cafe, tiba-tiba aku pingsan, dan saat diperiksa ternyata dia masih ada, dan selalu menemaniku" Qaynaya berhenti sejenak, membayangkan kembali kejadian saat dia mengetahui bahwa Andjani masih setia menemaninya, dan terus tumbuh di dalam rahimnya.
"Saat itu aku datang karena aku masih percaya padamu, aku percaya mungkin acara pernikahan itu tidaklah berbeda dengan acara pernikahan mu dengan Kaela. Aku datang karena ingin mengatakan padamu kalau aku sedang mengandung, tapi sebelum aku mengatakannya, Geby lebih dulu mengatakan padaku bahwa dia sedang mengandung anakmu. Karena pikiran ku sedang kacau, ditambah aku melihat mu seperti sedang melindungi Geby, jadi aku memilih pergi" Qaynaya tersenyum getir mengingatnya, Djani menggenggam tangan istrinya dan terus mengatakan permohonan maaf.
"Bukankah kamu juga tidak bersalah? jadi tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku lalu pergi, ditemani Serli dan Doni. Oh iya, ada Rani yang mendukungku juga" Qaynaya hampir saja menyudahi cerita nya, tapi Djani mengatakan bahwa Qaynaya melupakan cerita tentang namanya dengan nama anaknya yang sangat mirip.
"Itu karena aku mencintaimu, memangnya butuh alasan apalagi?" ujar Qaynaya sewot.
"Benarkah?, itu persis seperti yang ingin aku dengar" jawab Djani dengan gaya bangganya.
"Tau gitu, aku namakan saja dia dengan nama Anjali" ujar Qaynaya, yang diiringi tawa hingga membuat Djani yang kesal mendengar nya, menjadi ikut tertawa.
"Kalian seperti pengantin baru saja, ayo sekarang kita makan dahulu, kamu butuh banyak makan Qay" Rini ikut nimbrung pada pembicaraan Qaynaya dan Djani.
"Sebentar lagi ma, aku belum lapar"
"Jangan menunggu lapar, baru kamu makan. Paksakan untuk terus makan. Maafkan mama yang tidak bisa menemanimu dimasa beratmu sayang. Apa kelahiran Andjani menyulitkan dirimu?" Rini membelai lembut rambut Qaynaya.
"Tidak ma, dia anak yang sangat pintar. saat ini dia sudah bisa duduk tegap dan sesekali seperti hendak berdiri, dan sudah bisa menirukan ucapanku walaupun belum jelas"
"Dia memang sangat pintar, anak kecil biasanya pemalu, tapi dia sangat pemberani, walau pada orang yang baru dilihatnya"
"Tapi ma, pernah aku bawa bekerja di cafe, dia menangis saat ada orang yang mengajaknya berbicara. Mungkin hanya dengan keluarganya dia merasa nyaman"
__ADS_1
"Bisa jadi Qay, berarti ikatan batin kita semua begitu kuat" Rini tersenyum melihat menantunya yang tidak berkeluh kesah, atau menyalahkan mereka yang tidak cepat menemukannya.
Rini menanyakan tentang rencana Qaynaya kedepannya, dan meminta kepada Qaynaya untuk segera kembali. Tapi Djani yang menjawab terlebih dahulu, dan mengatakan untuk tidak memaksa istrinya.
Rini tentu sangat paham dengan pilihan Qaynaya yang belum mau mempublikasikan kelahiran Andjani, tapi untuk kembali ke negara mereka, bukankah itu seharusnya dipercepat, bagi Rini sangat beresiko tinggal di negara orang.
"Tidak ma, sejauh ini kami baik-baik saja tinggal di negara ini, tentu saja terkadang ada sedikit masalah, tapi masih bisa kami atasi"
"Jadi kamu tidak akan kembali?" Rini menyimpulkan bahwa Qaynaya sepertinya sangat menyukai negara ini.
"Bukan seperti itu ma,, memang aku merasa sangat nyaman tinggal di negara ini. Negara yang sangat indah, tapi suatu hari nanti, aku pasti akan pulang. Aku masih mempunyai mama dan juga adik-adik yang pastinya mereka menungguku, hanya untuk saat ini mungkin tidak dulu"
"Apa Lilis tau keberadaan mu?" Rini menanyakan sambil berpandangan pada Djani, sepertinya ada yang mereka sembunyikan dari Qaynaya tentang Lilis.
"Tidak ma, saat aku punya uang lebih, aku mengirimkan uang pada mama dan Qinanti, tapi Serli yang melakukannya dengan pengirim anonim, jadi mama Lilis tidak mengetahui keberadaan ku"
"Kenapa kamu harus memberinya uang? bukankah hidupmu sendiri disini juga berat?" Djani kaget mendengar kalau selama ini Qaynaya mengirimkan uang pada Lilis.
Yang disembunyikan oleh Djani dan Rini adalah, selama Qaynaya pergi, Lilis semakin menjadi-jadi dalam meminta uang pada mereka, Lilis mengancam akan mencari Qaynaya sampai ketemu, dan akan menjodohkannya dengan orang lain kalau Djani tidak memberinya uang setiap Lilis meminta.
Djani ingin supaya Qaynaya tidak bertemu kembali dengan Lilis, tapi itu sama saja dia sangat egois, karena bagaimanapun Lilis adalah ibu dari Qaynaya yang merupakan istrinya.
"Baiklah kalau kamu masih ingin tinggal di negara ini, tapi pindah lah dari rumah ini, karena rumah ini sangat kecil, Andjani akan semakin besar, dia tidak akan nyaman untuk bergerak dan bermain" Rini tidak mau kalau sampai cucunya merasa tidak nyaman tinggal dirumah yang saat ini ditempati oleh Qaynaya.
"Masih belum dibutuhkan ma, disini masih cukup. Terimakasih"
"Kamu jangan seperti itu Qay, bagaimanapun juga, Andjani adalah cucu kami, untuk hal itu kamu tidak bisa membantah lagi. Kami akan mengikuti keinginan mu yang belum mau mempublikasikan kelahiran Andjani, tapi untuk pindah dari rumah ini, itu harus dilakukan secepatnya" Rini berkata tegas, dan tidak mau dibantah lagi.
Mereka lalu makan bersama, dengan Andjani yang anteng tiduran di sebuah stroller sambil memainkan mainan yang bergelantungan di atasnya.
"Rumah ini pemiliknya apakah sama dengan rumah sebelah?" tanya Rini di sela-sela makan malam mereka.
"Sepertinya bukan ma, saat itu aku juga sempat melihat rumah sebelah, karena tentu saja rumah sebelah lebih menarik perhatian, karena lebih besar. Tapi saat tau harga sewanya, apalagi harus pertahun, kami tidak jadi mengambilnya, dan untung ada rumah ini yang bisa disewa perbulan, dan sepertinya orang yang aku temui saat menyewa rumah ini, berbeda dengan orang yang aku temui saat melihat rumah sebelah"
"Untuk malam ini sepertinya kamu dan Djani masih harus tidur di rumah ini, karena rumah sebelah belum dibersihkan sepenuhnya, baru mulai besok bisa pindah" Rini tanpa sengaja melihat kearah Serli yang terlihat begitu sedih karena harus berpisah dengan Qaynaya.
"Serli, kamu jangan bersedih, karena jarak rumah ini dan rumah sebelah tidaklah jauh" ujar Rini mencoba untuk menenangkan Serli.
Serli tidak menjawab apapun, lalu menyudahi makan nya dan segera masuk kedalam kamarnya. Qaynaya mengerti dengan kesedihan yang sedang dirasakan oleh Serli. Setelah meminta izin pada Djani, Qaynaya segera menyusul Serli.
Qaynaya bisa melihat gerakan cepat Serli yang menghapus air matanya. Dengan berjalan perlahan, Qaynaya mendekati Serli lalu langsung tiduran di pangkuan sahabatnya itu. Qaynaya memang sangat suka melakukan hal itu.
Karena tidak mendapatkan kasih sayang yang penuh saat masa remajanya hingga dewasanya dari keluarga, Qaynaya sering bermanja-manja dengan sahabatnya. Dan itu Qaynaya lakukan hanya saat dia terpuruk, karena setelah harus menjadi mandiri sejak dahulu, Qaynaya jadi terbiasa dengan kesendirian, untung nya dia masih mempunyai sahabat yang sangat menyayanginya, sehingga kadang kala nya, Qaynaya bisa menunjukkan sisi manjanya.
"Apa kamu bersedih?" tanya Qaynaya lalu mengetuk-ngetuk paha Serli.
"Tidak, untuk apa aku sedih. Aku malah sangat senang, karena bisa terbebas dari dirimu" jawab Serli, tapi sedetik kemudian, dia tidak bisa menahan air matanya. Qaynaya bangun lalu memeluk sahabatnya itu.
"Kalau bukan karena dirimu, mungkin aku tidak akan bisa bertahan hidup di negara ini sendirian, seterusnya aku juga masih memerlukan dirimu disisiku" Qaynaya juga ikut menangis.
Mereka menenangkan diri, dan menghentikan tangisan, begitu Doni juga masuk kedalam kamar. Doni mengatakan kalau ini jalan yang terbaik untuk Qaynaya.
__ADS_1
"Dia sudah tumbuh besar dan dewasa, kita sudah berhasil merawat dan membesarkannya, sekarang kita harus rela melepaskan dirinya untuk hidup mandiri" Doni tersenyum lucu saat mengatakannya.
"Kamu pikir aku anak kecil?" Qaynaya merengut mendengar ucapan Doni, Serli akhirnya bisa tersenyum karena suaminya berhasil mencairkan suasana dengan bercanda.
Djani mengetuk pintu, lalu segera masuk setelah dipersilahkan, ditangan Djani terlihat sebuah map, dan menyerahkannya kepada Doni.
"Rumah ini barusan sudah aku beli atas nama dirimu, terimakasih karena selama ini selalu menjaga dan melindungi istriku, surat nya baru surat tulis tangan dari pemiliknya, karena tidak mungkin mengurus surat resminya di malam hari seperti ini. Tapi pada intinya, mulai sekarang, rumah ini milik kalian. Dan tolong izinkan kami menginap untuk malam ini" Djani menarik tangan Qaynaya dan memintanya untuk bangun dan segera kembali ke kamar mereka sendiri.
"Ini tidak perlu Djani, kami bahkan tidak berfikir atau belum memutuskan apakah akan tinggal selamanya di negara ini" Doni merasa ini terlalu berlebihan.
"Itu urusan kalian, entah mau kalian apakah rumah ini nantinya, yang pasti adalah rumah ini milik kalian, dan katakan padaku, kalau kalian membutuhkan apapun" Djani menggandeng tangan Qaynaya, lalu berniat segera keluar dari dalam kamar.
"Jagalah Qay, jangan menyakitinya lagi. Ini terakhir kalinya aku melihatnya pergi darimu, kalau sampai kedepannya dia pergi lagi darimu, maka aku akan menyembunyikan nya darimu selamanya" ujar Serli lalu memalingkan wajahnya, karena tidak mau, air matanya terlihat.
Qaynaya melepaskan tangannya dari Djani, untuk bisa memeluk sahabatnya kembali.
"Kita akan selalu bersama, kita hanya terhalang beberapa jengkal tanah saja, disamping rumah ini adalah rumahku, jangan seperti ini yang membuatku tidak bisa pergi dari sini" Qaynaya kembali ikut menangis. Kenangan mereka sangatlah banyak selama ini, dan mereka terbiasa bersama-sama.
"Maafkan aku, aku menjadi sangat melankolis, mungkin ini bawaan dari bayi yang ada di perut ku" ucap Serli, yang membuat kaget Qaynaya, terutama Doni.
"Aaapppaaa??!" mereka tertawa bergembira.
"Kata orang, saat kita mengasuh anak kecil, itu menjadi pancingan supaya kita bisa cepat hamil" ujar Serli, lalu menunjukkan alat test pack yang menunjukkan bahwa dia positif hamil.
"Jadi kamu manfaatkan Andjani?!!" teriak Qaynaya geregetan, lalu mencubit pipi Serli dengan gemas.
"Ahahahaha, bisa dikatakan seperti itu" jawab Serli bercanda.
Mereka kembali tertawa bersama, kebahagiaan yang datang bertubi-tubi membuat hati mereka begitu berbunga-bunga.
Djani dan Qaynaya lalu segera keluar dari dalam kamar Serli untuk melihat Andjani yang sedari tadi bersama dengan kakek dan neneknya, serta bersama nenek lincah yang tetap ingin dipanggil Neli oleh Andjani, dan tidak mau dipanggil dengan sebutan nenek buyut.
"Nenek, apakah nenek baik-baik saja dinegara ini?" tanya Qaynaya, lalu duduk disebelah Neli yang terlihat tengah mengajak Andjani berbicara. Saat ini Andjani berada dalam gendongan Rini.
"Tentu saja" Neli menenangkan Qaynaya, dia menyadari kekhawatiran Qaynaya padanya, karena dinegara ini memang dikenal dengan cuacanya yang dingin.
"Baiklah sayang,, sudah dulu ya main sama Neli dan kakek nenek, ini sudah sangat malam, kita harus segera bobo" ujar Qaynaya lalu mengambil Andjani dari gendongan mama mertuanya.
"Tidak bisakah kami tidur dengannya Qay?" tanya Rini.
"Boleh ma, tentu saja sangat boleh, tapi apakah mama bisa menyusuinya saat dia terbangun di malam hari?" tanya Qaynaya bercanda, yang dijawab tawa oleh semua. Qaynaya lalu berjalan ke arah kamarnya, dan di ikuti oleh Djani.
"Sayang, apa kamu yakin akan menetap lama di negara ini? mungkinkah sampai masa sekolahnya Anna?" tanya Djani sambil membantu istrinya membuka kancing bajunya untuk menyusui Andjani.
"Aku bisa sendiri!" Qaynaya menepis tangan Djani. Qaynaya kesal karena bisa-bisanya Djani mengambil kesempatan.
"Hahahaha" hanya tawa yang ditunjukkan oleh Djani.
"Aku belum berfikir terlalu jauh untuk itu, tapi dinegara ini juga terkenal dengan metode pembelajarannya yang sangat bagus, jadi kita tidak perlu khawatir untuk masalah itu" Qaynaya membelai lembut wajah Andjani, begitu anaknya itu menyusu padanya.
"Harus yang terbaik untuk anak kita, dalam hal apapun itu" ujar Djani ikut membelai pipi mungil Andjani.
__ADS_1