
"Ada apa? jangan terlalu berlebihan. Nanti Anna malah akan merasa tercekik oleh perasaan mu padanya" Sasha memberikan nasihat.
Di umur Ardi sekarang ini, dimana dia sedang merasakan cinta pertama yang begitu menggebu-gebu, membuatnya bisa saja kehilangan arah. Sasha tidak mau kalau sampai perasaan anaknya itu malah akan merugikan dirinya sendiri di kemudian hari.
Sasha tentu saja sangat tau akan rasa suka anaknya pada Andjani, bahkan anaknya itu tidak pernah malu untuk mengatakannya, tapi bukankah sampai saat ini, Andjani bahkan belum juga membuka hatinya.
Sikap dan sifat Andjani sepertinya menurun pada Qaynaya untuk masalah ini, dulu tidak mudah bagi Qaynaya untuk menerima sebuah cinta dan perasaan dari siapapun, tapi saat sudah yakin akan perasaannya, Qaynaya akan mempertahankan cintanya sampai akhir. Sasha yang saat ini sudah menjadi sahabat dekat Qaynaya, tentu saja tau hal itu, karena mereka sering berkumpul bersama sama, dan sering mengobrol serta bercerita.
Perjuangan Ardi sangat berat, itu disadari oleh Sasha, dan melihat anaknya yang seperti ini, Sasha menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi, dan hatinya mengatakan ini adalah hal yang buruk.
"Kalian ini masih sekolah, perjalanan kalian masih panjang, jadi permasalahan ini jangan dijadikan focus utama mu Ardi. Mama membiarkan dirimu terlalu mengagumi Anna, dan bahkan begitu mencintai nya, itu karena mama tau kalau perasaan itu membawa dampak positif bagi dirimu. Kamu menjadi rajin bersekolah, rajin belajar, dan bahkan berprestasi dalam banyak bidang. Walau mungkin niat hatimu karena ingin menarik perhatian Anna, tapi mama tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena hasil akhirnya positif. Tapi kalau perasaan mu akhirnya menyakiti dirimu, tentu saja mama tidak mau, dan kamu harus menghentikan perasaan itu sedini mungkin" Sasha duduk disebuah kursi, dan meminta Ardi juga untuk duduk terlebih dahulu, supaya anaknya itu mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Aku mau bertemu Aan ma" Ardi tetap pada pendiriannya dan berniat untuk berjalan kearah pintu keluar rumah. Ardi bertambah sedih, karena saat ini mamanya juga memintanya untuk menghentikan dan mengubur perasaan nya pada Andjani.
"Kamu hanya akan mengganggunya kalau kamu datang di saat ini. Apa kamu mau membuatnya merasa tidak nyaman?, sekarang coba ceritakan terlebih dahulu pada mama, sebenarnya apa yang terjadi?!" Sasha bertindak tegas, hingga membuat Ardi menurut, karena bagaimanapun Sasha adalah mamanya, yang mana harus dia hormati.
"Kemungkinan besar Aan sengaja dilukai oleh Cheril, dan Cheril melakukan itu karena menyukai diriku. Tapi aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Cheril ma. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ardi sebenarnya sangat dekat dengan Sasha, dia bahkan sering berbicara mengenai Andjani pada mamanya itu, tanpa rasa sungkan atau malu.
"Kalian ini masih berada di sekolah menengah atas, tapi kenapa urusan percintaan kalian sudah begitu rumit. Yang mama tau, Cheril itu adalah anaknya Reina kan?" tanya Sasha.
"Iya ma"
Sasha terdiam mendengarkan jawaban dari anaknya, karena sebagai sahabat dari Qaynaya, tentu dia tau siapa Reina, dia juga bahkan tau sisi gelap dari Reina yang dahulu menjadi pelakor untuk mendapatkan posisinya saat ini. Bahkan sampai saat ini, Sasha juga tau kalau Reina sering kali masih mengganggu Qaynaya dan juga Djani, tapi untuk masalah orang dewasa ini, tentu saja Sasha tidak akan memberi tahunya pada Ardi.
"Sudahi perasaanmu pada Anna" ujar Sasha tiba-tiba, tentu saja Ardi terkejut mendengarnya.
"Sebenarnya apa kesalahan ku? kenapa semua orang meminta ku untuk mengubur perasaan ku pada Aan, padahal aku yakin kalau aku sanggup untuk menjaganya seperti selama ini. Kenapa semua begitu meremehkan diriku?" Ardi tidak bisa lagi menahannya, dia langsung saja bergegas, hendak pergi menemui pujaan hatinya.
"Ini yang terbaik untuk kalian semua" ucap Sasha mantap, sembari menahan tangan Ardi.
"Kenapa mama begitu yakin kalau ini yang terbaik untuk kita semua?" tanya Ardi.
"Karena mama tidak yakin sepenuhnya atas perasaan yang kamu miliki, bisa saja perasaan itu hanya perasaan sayang pada seorang adik, karena sedari kecil, kalian selalu bersama. Bisa saja kamu salah mengartikannya" jawab Sasha yang sepertinya tengah mencari alasan yang tepat, supaya mudah dipahami oleh Ardi. Sasha tentu tau kalau Andjani sedang dalam masalah kalau benar ini menyangkut perasaan Cheril pada Ardi, karena buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, jadi Cheril tidak akan mungkin berbeda jauh dari Reina, bahkan kali ini sudah terbukti dengan terluka nya Andjani.
"Tidak ma, aku yakin dengan perasaan ku. Hari sudah pagi ma, aku akan menemui Aan, dia pasti sudah bangun, karena Aan selalu bangun pagi" Ardi tidak bisa lagi dicegah, dan kali ini Sasha tidak lagi menghalanginya. Hanya saja di dalam hatinya, dia berharap kalau Ardi bisa menerima keputusan apapun yang nantinya Andjani dan kedua orang tuanya berikan.
Ardi mengendarai motor nya, dan segera bergegas pergi ke rumah Andjani. Dan benar saja seperti dugaannya, Andjani sudah bangun dan tengah menyirami tanaman yang ada di teras rumahnya. Walau lengannya masih di sangga menggunakan Arm Sling, tapi Andjani tetap saja melakukan kebiasaannya.
"Ada apa sepagi ini sudah kemari? apa kamu tidak bersiap untuk bersekolah?" tanya Andjani yang sudah sangat hafal di luar kepala dengan suara motor Ardi.
__ADS_1
Ardi tidak menjawab apapun, dan berjalan cepat menuju Andjani, tapi saat Ardi mencoba untuk memeluk tubuh Andjani, dengan cepat gadis itu menyemprotkan air dari selang yang sedang dia pegang.
"Apa yang coba kamu lakukan?, menjauh dariku. Sepertinya kamu belum minum obat pagi ini" ujar Andjani sambil tertawa melihat Ardi yang basah kuyup.
"Bukankah saat kecil kita biasa melakukannya?" Ardi merajuk dan mengibaskan rambutnya yang basah, dan ketampanannya semakin terlihat.
"Ternyata kamu tampan juga ya? Dan perlu aku ingatkan lagi, kita ini bukan anak kecil lagi" ujar Andjani spontan, sepertinya memang Andjani saat ini tidak mempunyai perasaan apapun pada pria muda yang ada di hadapannya itu.
"Apa sekarang kamu sudah menyadarinya, jadi apakah sekarang kamu mau menjadi pacarku" ujar Ardi penuh harap.
"Ada apa sepagi ini sudah ribut-ribut?" Qaynaya keluar dari dalam rumah karena mendengar keributan saat Andjani menyiram Ardi.
"Ardi, ada apa sepagi ini kamu datang? dan kenapa basah kuyup begini, nanti kamu sakit, cepat masuk kedalam rumah, dan gantilah bajumu dengan baju Arion, sekalian bangunkan dia" Qaynaya khawatir melihat Ardi yang terlihat kedinginan. Tapi Ardi tidak langsung menurut, karena Andjani masih belum masuk juga kedalam rumah.
"Masuklah dulu, aku belum selesai"
"Aku bantu, bukankah lenganmu masih sakit? kenapa tidak diam saja beristirahat?" Ardi mengambil selang air yang sedang dipegang oleh Andjani, dan meminta gadis cantik pujaan hatinya itu untuk masuk kedalam rumah terlebih dahulu.
"Anna, masuklah kedalam rumah, dan untukmu Ardi, cepatlah ganti bajumu" Djani tiba-tiba saja muncul, yang tentu saja perkataannya langsung dituruti oleh Andjani dan Ardi.
Djani dan Qaynaya tadi sudah melarang Andjani untuk menyirami tanaman kesayangannya, tapi Andjani tidak menurut, dan merasa kalau dirinya sudah membaik.
"Hari ini Anna masih izin tidak masuk sekolah, dia sudah kembali masuk ke dalam kamarnya. Aku yakin ada yang ingin kamu sampaikan, entah itu padaku atau pada Anna, tapi untuk saat ini, lebih baik kamu berbicara terlebih dahulu denganku" Djani sudah menunggu Ardi di luar pintu kamar dan mengajaknya duduk di teras rumah.
"Aku mohon jangan memintaku untuk menghapuskan perasaan ku pada Aan. Karena aku yakin kalau tidak akan sanggup melakukannya. Aku berjanji om, seumur hidupku, aku akan menjaga Aan" Ardi bersimpuh, dan menangkupkan kedua tangannya didepan wajahnya.
Djani tertawa melihat tingkah Ardi, karena anak itu bersikap seperti orang dewasa. Ardi lalu kembali bangun, setelah Djani memintanya untuk duduk disebelahnya.
"Ketertarikan merupakan perasaan tergila-gila atau menggebu-gebu, yang biasanya muncul pada tahap awal sebuah hubungan. Perasaan ini sering tampak serupa dengan konsep jatuh cinta. Padahal, dua perasaan ini merupakan hal yang berbeda. Pada saat tertarik dengan seseorang, kita memiliki obsesi dengan orang tersebut. Kita berfantasi tentangnya. Dan ketika kita jatuh cinta, kita juga merasa tergila-gila dengannya," ucap Djani mulai berbicara. Sepertinya dia harus menjelaskan sesuatu pada Ardi.
"Yang kamu rasakan saat ini bukan perasaan seperti itu, karena kamu masih sangatlah muda. Sepertinya perasaan mu hanya lah perasaan terbiasa. Kamu terbiasa selalu bermain bersama Anna, jadi kamu merasa itu cinta, padahal mungkin saja bukan" Djani memang bisa melihat kalau Ardi begitu terbuka dalam menunjukkan perasaannya pada Andjani, tapi dia masih tidak yakin akan perasaan Ardi sesungguhnya, karena Ardi masih sangat muda.
Sebenarnya kalau bukan ada masalah dengan Cheril, tidak mungkin juga bagi Djani untuk meminta pada Ardi, supaya melupakan rasa sukanya pada Andjani, karena Ardi adalah sosok pria muda yang sangat baik dan berbakat, yang pastinya di masa mendatang Ardi bisa hidup dengan sukses.
Sebagai seorang ayah, tidak dipungkiri kalau Djani pasti akan menyeleksi siapa yang berani mendekati anak gadisnya.
"Pada dasarnya, ketika seseorang tertarik sesaat, itu bisa saja jatuh hati karena kebaikan, ketertarikan fisik, status sosial, dan kebaruan. Kita bisa menjadi begitu tergila-gila pada seseorang di tahap awal karena ia baru, berbeda, dan menarik bagi kita. Bahkan mungkin mewakili tipe orang yang belum pernah kita lihat atau terhubung dengan kita sebelumnya. Tapi kalian kan sudah selalu bersama sedari kecil, jadi bisa saja itu bukan perasaan cinta pada lawan jenis, bisa saja itu karena rasa sayangmu pada Anna, layaknya rasa sayangmu pada Arion" ujar Djani panjang lebar.
"Lalu, apa bedanya dengan cinta?" tanya Ardi.
__ADS_1
"Cinta didefinisikan apabila terdapat penerimaan dan penghargaan yang dalam pada seseorang dengan seutuhnya. Artinya, bukan hanya kesenangan dan kualitas positif semata. Cinta adalah emosi yang lebih dalam, lebih kuat, dan lebih besar. Itu melambangkan koneksi yang memandang orang tersebut secara keseluruhan. Ini sekadar dari merasa tertarik, tetapi juga peduli" jawab Djani.
"Ketika kamu mencintai seseorang, kamu tertarik dan bisa menerima semua tentangnya, termasuk kualitas baik maupun buruk. Namun, bukan berarti perasaan tertarik perasaan yang buruk, aku tidak mengatakan seperti itu" pungkas Djani.
"Aku sangat peduli padanya, bahkan aku juga tergila-gila padanya, apakah ini hal yang salah?" Ardi bertanya lagi, karena dia masih tidak puas dengan apa yang dikatakan oleh Djani.
"Tidak ada yang salah dengan tergila-gila pada seseorang. Karena ini hanyalah salah satu tahap awal dari jatuh cinta, dan itu bisa menjadi tanda bahwa ada chemistry yang bisa berkembang. Rasa tertarik bisa bertumbuh menjadi pengalaman yang lebih kuat, dalam, dan kompleks secara psikologis dan emosional, yang akhirnya bisa menjadi cinta. Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti bahwa ketertarikan itu bisa berkembang menjadi cinta adalah dengan bersabar dan melihat bagaimana kalian berdua bisa merasakan kegembiraan dan kebaruan mulai berkurang. Tapi kalau itu dirasakan oleh kedua belah pihak, tapi bukankah bahkan Anna tidak pernah merespon dirimu? jadi Berikan waktu pada Anna. Seperti yang aku katakan tadi malam, sudahi saja rasa sukamu saat ini, jika kalian nantinya ditakdirkan untuk bersama, pasti suatu saat ada jalannya" Djani berhenti sejenak dalam menjelaskan, sebelum kembali berbicara.
"Berikan hubungan tersebut waktu dan keterbukaan. kamu mungkin akan merasa kurang terhubung, kurang percaya, dan keinginan untuk bersama berkurang seiring waktu" ujat Djani, yang tentu saja langsung dibantah oleh Ardi.
"Tidak om, itu tidak benar, karena aku ingin selalu bersama dengan Aan"
"Tunggu lah beberapa tahun lagi, berikan Anna waktu lebih banyak lagi, nantinya saat kalian dewasa, dan aku yakin kalau Anna sudah semakin kuat, aku tidak akan lagi melarang perasaan mu pada Anna untuk terus berkembang, Nantinya setelah kamu menghabiskan banyak waktu bersama dengan Anna, saat kalian sudah dewasa nanti, cinta sejati akan tumbuh jika kamu dan Anna sama-sama berinvestasi dalam memahami satu sama lain dan berusaha untuk menjadi lebih dekat" Djani berusaha keras supaya Ardi memahami maksudnya, karena untuk saat ini, yang paling terbaik bisa dia pikirkan adalah menjauhkan Andjani dari Ardi.
"Jika itu benar-benar adalah cinta, bukankah kamu pasti ingin tahu lebih banyak tentang Anna, kamu juga ingin berbagi pengalaman hidup dengannya, dan ingin lebih dekat secara psikologis dan emosional, bahkan ketika waktu sudah berlalu. Jadi, apabila salah satu dari kalian berdua tidak tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai hubungan, ini mungkin tanda bahwa infatuation tersebut tidak membuat transisi ke cinta yang lebih mendalam, dan itu bukanlah masalah. Meskipun tergila-gila mungkin memotivasi mu untuk mengenal Anna lebih mendalam, cinta sejati adalah yang bisa membuat dua orang tetap bersama selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Jadi dengan kamu mengubur perasaan mu untuk saat ini, sebenarnya ini juga adalah waktu yang tepat untuk menguji perasaan mu, apakah perasaan itu akan tetap ada sampai saat nanti kalian bertemu lagi" Djani mengelus bahu Ardi, sebelum dia bangkit dari duduknya.
"Kenapa ada kata-kata saat nanti kami bertemu kembali? bukankah kita tidak akan terpisah, hanya saja aku harus mengubur perasaan ku saja, hingga nantinya aku bisa memunculkannya kembali?" tanya Ardi merasa ada yang janggal dari ucapan Djani.
Tapi Djani tidak lagi menjawab pertanyaan Ardi, karena pagi sudah semakin siang, dan dia harus segera berangkat bekerja. Djani meminta Ardi untuk sarapan pagi bersama terlebih dahulu, sebelum memintanya untuk segera pulang.
"Tidak terima kasih, aku mohon pamit om. Tolong sampaikan pamit ku pada Tante" Ardi menolak dengan sopan.
"Ada apa dengannya? kenapa terlihat sangat serius, biasanya dia tidak mungkin menolak untuk makan bersama, apalagi ada Andjani" ujar Qaynaya yang nongol dari jendela, saat mendengar suara motor Ardi yang menjauh.
"Mungkin dia buru-buru mau bersiap untuk bersekolah" jawab Djani, untuk saat ini dia tidak bisa menjelaskannya, karena seluruh keluarga sedang berkumpul.
Mereka sarapan dengan tenang seperti biasanya, Andjani memang sempat menanyakan kepergian Ardi, tapi tidak bertanya lagi, saat Djani menjawab, bahwa Ardi terburu-buru karena akan bersiap untuk bersekolah.
"Apa benar kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Qaynaya pada anak gadisnya.
"Tentu saja ma, lagipula aku sangat bosan kalau terus saja diam di dalam kamar" Andjani menjawab sambil bangun dari duduknya, karena dia sudah selesai sarapan.
"Biarkan disana, tanganmu masih susah digerakkan dengan bebas" ujar Qaynaya melarang anaknya untuk mencuci piring.
Karena memang belum bisa mencuci piring, Andjani lalu mengikuti apa yang dikatakan oleh mamanya, sedangkan untuk menyiram tanaman, tadi Andjani hanya memerlukan satu tangannya saja yang tidak terluka, jadi tadi dia bisa melakukannya.
Andjani lalu masuk kedalam kamarnya, dia bisa merasakan sesuatu yang aneh dari kepulangan Ardi barusan, karena tidak biasanya pria itu pergi tanpa berpamitan padanya.
__ADS_1