
"Sayang, kita sudah sampai" Djani membangunkan Qaynaya yang masih terlelap. Qaynaya menggerakkan badannya dan hampir terjatuh, dia tidak mau tidur di ranjang dan memilih tidur di sofa dekat Djani tadi malam sibuk dengan laptopnya.
"Apa kamu sama sekali tidak tidur?" Qaynaya bisa melihat dari mata suaminya yang terlihat sangat lelah.
"Tidak perlu, aku tidak butuh tidur untuk saat ini. Bukankah aku bisa tidur denganmu kapan saja saat semua masalah sudah selesai?, sekarang ayo bangun" Djani membantu Qaynaya untuk bangkit dari tidurnya dan mengambilkan sebotol air mineral.
Qaynaya menoleh ke sekitar dan melihat kalau dia berada di rumah mamahnya, yaitu mama Lilis. Dengan rasa heran Qaynaya melihat kearah suaminya dengan serius.
"Aku tidak tau tempat mana lagi yang paling aman untukmu saat ini, tapi aku yakin disini tempat paling pas untukmu. Disini ada ayahmu dan juga mama Lilis, bagaimanapun dia adalah ibumu, tidak mungkin dia akan kembali melakukan hal yang berlebihan kembali, lagipula kamu adalah istriku, tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu"
"Djani, aku tentu sangat paham siapa mamaku, tapi aku tidak jamin dengan apapun yang akan terjadi kedepannya, karena kamu juga sudah tau bagaimana sifatnya. Tetapi kamu tenanglah, selesaikan semua masalah dan segera jemput aku, sebenarnya seharusnya aku tidak boleh ada disini, bukankah seharusnya aku selalu mendampingi dirimu disaat seperti ini? kenapa kamu tidak membawaku pulang ke rumah? apa aku terlalu merepotkan dirimu?"
"Qay, jangan berfikir terlalu jauh, aku hanya ingin kamu aman untuk sementara waktu. Masalah yang sedang aku hadapi sangat besar, aku tidak mau kamu terluka karena nya"
"Harusnya biarkan aku bersamamu, bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa sudah seharusnya kita selalu bersama dalam suka dan duka?" Qaynaya meletakkan botol minum ke atas meja setelah menghabiskan nya setengah. Djani mengambilnya dan segera menghabiskan nya.
"Sayang, percaya padaku, secepatnya aku akan menjemputmu" Djani lalu mencium kening istrinya dengan lembut sebelum mereka segera bergegas untuk keluar dari dalam mobil.
Terasa sangat sunyi di teras rumah Qaynaya, hingga tetangganya datang dan memberi tahu bahwa sudah dari kemarin ayahnya Qaynaya berada di rumah sakit, karena penyakitnya semakin parah.
Tetangga itu juga terdengar mencemooh Qaynaya, karena sebagian seorang anak, dia tidak perhatian kepada kedua orang tuanya. Qaynaya memegangi dadanya merasakan sakit mendengarnya. Bukan karena marah, tapi dia menyadari bahwa yang dikatakan tetangganya memanglah benar.
"Kalau ibu tidak tau kebenarannya, sebaiknya ibu diam saja" Djani membela istrinya dan hendak mendekati tetangga rumah orang tua Qaynaya.
"Tidak Djani, ini tidak perlu, lagipula yang dikatakan olehnya sangatlah benar. Sekarang aku akan menuju rumah sakit, dan kamu cepatlah temui mama Rini dan ayah Rega, jangan khawatir kan diriku, aku ini bukan anak kecil lagi" Qaynaya tersenyum lalu segera membawa Djani kembali ke mobil, dia sendiri berniat memesan sebuah mobil online.
__ADS_1
"Aku akan mengantarkan dirimu terlebih dahulu, tapi maaf karena aku tidak bisa menemanimu. Aku harus mengeluarkan kedua orang tua ku dari penjara, setelahnya aku pasti akan langsung mendatangimu, dan jangan lupa untuk terus berkabar" Djani membawa Qaynaya kembali masuk ke dalam mobil.
Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing saat di perjalanan. Qaynaya merasakan kesedihan karena ayahnya ternyata penyakitnya sudah semakin parah, tapi dilain pihak, saat ini suaminya tengah dalam masalah, seharusnya dia selalu berada disampingnya untuk memberikan dukungan.
"Jangan memikirkan masalah diriku, sekarang focus dahulu pada kesembuhan ayah, tidak apa-apa kan aku memanggilnya ayah, karena memang dia adalah ayahku juga. Tolong sampaikan permohonan maafku karena tidak bisa menemanimu"
"Maaf karena tidak bisa berada disamping mu" Qaynaya menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
"Aku yang menginginkan hal ini sayang. Bukankah aku yang mengantarkan dirimu kesini? itu bukan berarti apapun, kecuali aku hanya ingin keselamatan mu selalu yang utama, karena dengan hal itu, aku bisa tenang dalam menghadapi semuanya"
Djani ingat saat semalam dia menyelidiki latar belakang Geby, dan juga Djani mengetahui bahwa sekarang rumahnya telah dikuasai oleh wanita gila tersebut. Djani tentu saja tidak mau kalau sampai Qaynaya kenapa-napa karena ulah Geby.
"Apa perlu aku antarkan kedalam?" Djani melindungi kepala Qaynaya dari pintu mobil, karena tidak mau istrinya terbentur.
"Tidak perlu, jangan mengundur waktu lebih lama lagi, sekarang cepatlah ke mama Rini, beliau pasti sudah sangat menunggu kedatanganmu" Qaynaya menenangkan suaminya dan menggenggam tangannya.
Lilis tengah memainkan ponselnya di ujung ruangan, dan terlihat dengan santainya mengangkat kakinya ke atas meja, sementara Qinanti sedang sibuk menyuapi ayahnya.
"Ayah" Qaynaya langsung menghambur ke arah ayahnya dan meminta maaf karena baru bisa datang.
"Kakak, apa yang kakak lakukan di sini?" Qinanti terkejut melihat kedatangan kakaknya, begitu juga dengan ayahnya yang terlihat sangat khawatir dan langsung cegukan, karena saking kagetnya. Tapi tidak dengan Rini yang langsung bangkit dari duduknya dengan senyuman cerah.
"Uangku telah kembali" Lilis lalu mendekati Qaynaya dan memeluknya.
"Kemana saja dirimu sayangku? kenapa baru datang? kita semua sudah tau kalau kamu sudah kembali bersama putra konglomerat itu. Tapi walaupun seperti itu, dan betapa enak dan bahagianya dirimu, tetap saja kamu harus ingat dengan keluargamu, jangan seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Bukankah kamu bisa hidup nyaman, karena aku yang menjodohkan mu? jadi jangan pernah lupakan hal itu" Lilis terus berbicara panjang lebar sembari memeluk erat anak sulungnya.
__ADS_1
Qaynaya tidak mau menjawabnya, karena bisa saja dia akan terserang darah tinggi. lagipula apa yang dipikirkan oleh Lilis, kenapa Qaynaya harus berterima kasih kepada Lilis karena hal itu, bukankah malah sebaliknya, kalau Lilis lah yang dulunya menghancurkan cintanya.
Kalau cinta itu kembali lagi, itu karena besarnya rasa cinta Djani dan Qaynaya, dan tidak ada andil apapun dari seorang Lilis.
Walau seperti itu, Qaynaya tidak mau meributkannya. Karena sampai kapanpun, Lilis adalah mamanya, ibu yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini. Qaynaya bisa bernafas lega begitu Lilis melepaskan pelukannya.
Qaynaya kembali focus melihat kearah ayahnya. Qinanti menitikkan air matanya karena begitu khawatir pada kakaknya, yang begitu sangat menyayangi dirinya. Qinanti juga memeluk Qaynaya dan tidak lagi bisa menahan air matanya.
"Kakak jangan pulang, jangan pernah kembali pada kami. Kakak bisa lihat sendiri kalau kami bisa hidup tanpa kakak, jadi cepatlah pergi lagi" Qinanti sedikit histeris, tapi tangannya masih memeluk erat tubuh Qaynaya.
"Apa aku begitu mengecewakan dirimu" Qaynaya membelai lembut punggung adiknya, dia berfikir kalau adiknya menolak dirinya karena tidak pernah menjenguknya selama ini.
Masih dengan memeluk adiknya, Qaynaya melihat kearah ayahnya yang juga menangis. Qaynaya semakin merasakan sesak di hatinya, seharusnya dia tidak egois dengan meninggalkan keluarganya walaupun apa yang terjadi.
"Maaf, maafkan aku" Qaynaya juga menangis, tapi Lilis yang sedari awal sangat berbahagia karena melihat bank berjalannya telah kembali. Lilis melepaskan pelukan kedua anaknya dan menarik tangan Qaynaya untuk segera duduk di sofa, setelah memberikan perintah kepada Qinanti untuk melanjutkan menyuapi ayahnya.
"Sudah, sudahlah,, tidak perlu berlebihan, sekarang cepatlah suapi ayahmu sampai habis. Ayo Qay sayangku, kita duduk saja. Mama tahu kalau kamu pasti merasa sangat lelah setelah perjalanan jauh" Lilis menarik tangan anaknya dan mendudukkannya di atas sofa, tanpa memperdulikan penolakan sang anak.
"Ma, aku masih merindukan ayah" Qaynaya mencoba untuk kembali bangkit dari duduknya untuk kembali ke dekat ayahnya terbaring lemah.
"Sudahlah, disana Qinanti sudah merawat nya dengan baik, Qinara juga akan segera datang" Lilis begitu antusias sekali dengan kedatangan anak sulungnya.
"Bagaimana ini ayah, kakak pasti dalam bahaya kalau berada di samping mamah, aku tidak mau kalau sampai kakak harus kembali menderita karena ulah mama? Sudah cukup selama ini kakak menjadi boneka yang selalu menuruti kemauan mama" Qinanti berbicara pelan dengan ayahnya.
"Di saat yang tepat, kita harus mengusir kakakmu, dan jangan biarkan mamamu menemukannya"
__ADS_1
Qinanti menganggukkan kepalanya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya.