Kesepian

Kesepian
Ayah Bucin


__ADS_3

"Sudah, kita jangan terus larut dalam kesedihan, bukankah diatas sana, Neli bisa melihat kita. Dan Neli pasti tidak mau kalau sampai kita bersedih, Neli itu mendapatkan julukan itu karena lincah dan ceria, jadi cobalah untuk selalu ceria seperti Neli" Djani mencairkan suasana dan mengelus bahu Arion.


Qaynaya menghubungi Sasha dan membatalkan pertemuan mereka, karena Rini akan datang kerumah, dan meminta Sasha untuk datang kerumahnya saja, jadi mereka bisa saling temu kangen.


"Jadi aku tidak harus pulang tepat waktu?" tanya Andjani kemudian, karena dia sebenarnya ingin ikut latihan main gitar bersama dengan sahabatnya.


"Bukankah kamu bilang hari ini tidak ada acara? kenapa tiba-tiba kamu mempunyai acara?" Qaynaya heran dengan anak gadisnya. Andjani lalu menjelaskan bahwa latihan gitar itu tidak wajib, maka dari itu Andjani bisa melewatkannya, kalau memang ada hal yang lebih penting, apalagi kalau hal penting itu adalah membantu orang tuanya.


Tapi karena mamanya membatalkan acaranya, jadi Andjani bisa latihan bermain gitar. Djani melarang anaknya untuk melakukan semua hal, karena itu pasti melelahkan. Selama ini Andjani bahkan mengikuti dua ekstrakurikuler yang sangat sibuk, belum lagi tugas wajib dari sekolah, ditambah dengan kegiatan seperti bermain gitar atau alat musik yang lainnya.


Andjani sangat pintar bermain piano, walau dia bahkan tidak ikut les, dan karena sudah mahir dengan piano, kali ini Andjani ingin bisa memainkan alat musik yang lainnya, dan yang menjadi pilihannya saat ini adalah gitar.

__ADS_1


"Aku tidak lelah ayah, aku malah merasa pegal-pegal saat tidak melakukan apapun" jawab Andjani.


"Kakak ini sebenarnya mau menarik perhatian siapa? kenapa berusaha sangat keras. Tidak perlu berusaha kak, karena kak Ardi sudah begitu sangat tergila-gila pada kakak" Arion kembali menggoda kakaknya, sambil berlari kabur setelah mencium kening mamanya.


"Bye mama" Arion dan Andjani berbarengan berbicara, Andjani juga mendekati Qaynaya dan mencium kening mamanya itu. Setelah kedua anaknya keluar dari rumah, sekarang giliran Djani yang memberikan ciumannya pada sang istri.


"Uuummmmhhh, sudah sana berangkat, anak-anak sudah menunggu di mobil" Qaynaya melepaskan pagutan bibir dari Djani.


Qaynaya gemas lalu menggigit bibir suaminya, mereka sudah berumur, tapi untuk urusan yang satu ini, Djani tidak pernah berubah.


"Tadi malam yang mana sayangku? bukankah tadi malam seperti biasanya?" tanya Qaynaya pura-pura, sebenarnya memang dia menyadari saat Djani membangunkannya, tapi itu hanya selang satu jam dari Djani selesai menuntaskan hasratnya.

__ADS_1


"Pokoknya nanti malam aku akan melakukannya dua kali lipat, jadi kamu jangan kelelahan untuk hari ini, simpan tenagamu hanya untukku" Djani kembali mengecup bibir Qaynaya sekilas, karena Arion sudah terus memanggilnya.


"Sabar dong, ayah kan harus berpamitan dengan benar pada mama kalian, apalagi hari ini ayah sepertinya harus bekerja lebih keras. Jadi ayah berusaha untuk meminta kekuatan pada mama kalian yang cantik itu" Djani berbicara pada anak-anaknya setelah masuk kedalam mobil.


Mereka melambaikan tangan pada Qaynaya saat mobil bergerak. Arion mendesah, begitu juga dengan Andjani, setiap hari mereka harus melihat kemesraan kedua orang tuanya, bukan karena tidak menyukainya, tapi mereka merasa itu terlalu berlebihan kalau dilakukan setiap harinya.


"Cinta itu harus dipupuk, kalau tidak dia akan layu" Djani menjawab dengan kata-kata puitis nya, yang lagi-lagi membuat Andjani dan Arion merasa ayahnya terlalu bucin.


"Dasar ayah bucin" ujar Arion.


"Apa kamu iri wahai anak muda?" jawab Djani bercanda, keluarga mereka tidak terlalu kaku, bahkan dengan anak-anak mereka, Djani dan Qaynaya seperti sedang berhadapan dengan seorang teman, itu mereka lakukan supaya anak-anaknya tidak terlalu tertekan, walau tetap saja ada batasannya, dan terbukti anak-anaknya menjadi anak yang berprestasi dan membanggakan.

__ADS_1


Karena orang tua yang terlalu kaku dan kolot, bisa saja membuat anak mereka tertekan, bahkan menjadi tidak betah di rumah, atau saat mereka berkumpul bersama.


__ADS_2