Kesepian

Kesepian
Fear Of Abandonment


__ADS_3

"Qay, apa mama boleh membicarakan sesuatu dengan mu?" Rini mendekati Qaynaya yang tengah melihat bunga-bunga ditaman samping rumah, mereka baru saja selesai sarapan. Djani sedang membicarakan sesuatu bersama dengan Rega mengenai pekerjaan.


"Ada apa ma?"


"Apa Djani bersikap aneh?" tanya Rini perlahan.


"Tidak ma, semuanya baik-baik saja"


"Jangan menyembunyikan apapun Qay, ini demi kebaikan kalian berdua"


"Aku tidak mengerti ma, sebenarnya apa yang ingin mama tanyakan?"


"Apakah Djani menyakitimu?"


"Tidak" jawab Qaynaya pelan, dia tidak mungkin menceritakan masalah ranjang pada orang lain, walaupun itu mama mertua nya sendiri. Qaynaya tersenyum dan mengatakan pada Rini, untuk tidak perlu khawatir.


"Apa kamu mengetahui trauma yang dialami oleh Djani?"


Qaynaya terdiam, ternyata memang sepertinya ini masalah yang cukup serius kalau sampai Rini menanyakan hal ini padanya. Qaynaya takut akan terjadi sesuatu pada suaminya.


"Djani kuat ma, ini semua salahku, jadi aku akan bertanggung jawab. Aku mohon jangan pisahkan kami" Qaynaya sepertinya salah paham, dia mengira karena Rini akan mempermasalahkan mengenai kejadian itu.


"Tidak Qay, bukan itu maksud mama" Rini menenangkan Qaynaya dan berusaha menjelaskan bahwa dia hanya ingin melakukan pengobatan lagi pada kondisi Djani.


"Tidak perlu ma, Djani baik-baik saja selama aku ada di sampingnya, aku sudah berjanji tidak akan meninggalkan dirinya lagi"


"Ini bukan tentang meninggalkan atau ditinggalkan, tapi Djani harus segera disembuhkan, ini sangat berpengaruh terhadap kepribadian Djani kedepannya. Mama bukannya berharap ada sesuatu yang terjadi padamu, tapi mama khawatir jika suatu saat nanti, ada sesuatu hal yang membuatmu harus berada jauh darinya, maka dia akan semakin tidak terkendali"


"Kasihan Djani ma,," Qaynaya tidak bisa menahan air matanya, dia tidak bisa membayangkan kalau suaminya harus melakukan pengobatan layaknya orang sakit. Qaynaya merasa, Djani akan baik-baik saja selama dia tidak pergi lagi meninggalkan nya.


"Qay, tolong dengarkan dan bantu mama, kita harus secepatnya melakukan pengobatan untuk Djani, pengobatan ini tidak menakutkan Qay, dan ini sangat penting untuk Djani" Rini membujuk Qaynaya dan mengusap lembut punggung tangan menantunya itu.


"Ma, ini tidak akan membuatnya merasa rendah hati kan? aku tidak mau dia menjadi malu dengan kondisinya. Dia seorang pria yang pastinya memiliki harga diri yang tinggi, apa tindakan ini akan tidak menjadi masalah baru untuknya?" Qaynaya menghapus air matanya, yang tidak juga bisa berhenti mengalir.


"Ada apa ini?!!" Djani datang dan langsung mendekati Qaynaya.


"Tenang Djani, aku dan mama hanya sedang mengobrol sedikit, aku terharu dengan sesuatu yang mama ceritakan. Kami mencoba untuk saling dekat satu sama lain, oh iya sayang,, apa kamu sudah selesai berbicara dengan ayah Rega?" Qaynaya langsung memeluk Djani, supaya suaminya itu tidak salah paham.


"Kamu tidak sedang berbohong kepadaku kan?" Djani menghapus air mata Qaynaya lalu mencium lembut kening istrinya. Qaynaya mengangguk mantap, tangannya menggenggam erat ujung baju Djani. Qaynaya merasa sangat sedih dengan kondisi suaminya.


Rini juga tidak bisa menahan kesedihannya, anaknya benar-benar harus menjalani pengobatan atau terapi. Hidupnya dipenuhi dengan ketakutan akan ditinggal pergi oleh Qaynaya. Djani juga mengalami krisis kepercayaan pada Qaynaya, itu pasti akan sangat menyiksa perasaannya sendiri, karena berfikir bahwa Qaynaya selalu membohongi nya.


Qaynaya bisa sangat kesulitan nantinya dengan sikap Djani, karena pasti Djani akan sangat protektif dan mengekang Qaynaya.


"Qay, siang ini ikut mama kesalon sebentar untuk merapikan rambut dan sekedar facial supaya kita segar kembali, ini biasanya dilakukan oleh ibu dan anak perempuannya. Aku sangat senang sekali akhirnya bisa melakukan hal ini" Rini tersenyum sambil mengajak Qaynaya untuk ikut dengan nya.


"Qay tidak pernah kesalon dan melakukan perawatan seperti itu, dia bisa merawat dirinya sendiri dengan baik"Djani yang menjawab dan masih tidak melepaskan pelukannya.


"Djani, kamu ini seorang pria, tentu saja tidak mengerti dengan hal seperti ini. Biarkan kami untuk pergi bersama, mama akan mengajaknya ke salon, berbelanja, lalu makan-makan di luar, hanya berdua. Karena ini adalah waktunya para wanita" Rini masih tidak menyerah dan semakin mendekat, tapi Djani langsung mundur dan melepaskan pelukannya.


"Tidak boleh" jawab Djani, lalu menarik tangan Qaynaya dan segera membawanya kembali ke kamar.


Rini menitikkan air matanya, dia sangat sedih melihat kondisi dan sikap Djani. Kalau terus menerus seperti itu, Qaynaya pasti akan merasa tercekik dengan sikap Djani. Rini takut nantinya itu akan menjadi masalah besar, karena bisa saja Qaynaya tidak tahan lagi dan memilih untuk pergi. Saat Qaynaya pergi, hal buruk pasti akan terjadi lagi pada Djani.


"Apa yang kamu pikirkan? kenapa terus melamun dari tadi? apa Qay dan Djani sudah kembali ke kamar?" tanya Neli yang baru keluar dari dalam kamar. Rini hanya mengangguk.


"Mama dan Sasha akan berangkat siang ini, lagi-lagi mama lupa berpamitan pada Qay dan Djani. Sekarang mama akan mengatakan pada mereka, tadi saat sarapan terlalu asik bercerita, hingga lupa berpamitan" Neli lalu berjalan mendekati pintu kamar Djani.


Tok tok tok tok


Setelah menunggu beberapa saat, Qaynaya menyembulkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Saat melihat Neli yang datang, Qaynaya tersenyum dan langsung berniat untuk keluar dari dalam kamar. Djani sedang sibuk dengan laptopnya, sepertinya ada pekerjaan penting yang harus segera dia selesaikan.


"Diam sayang, tunggu aku!" Djani langsung meletakkan kembali laptopnya dan segera berjalan mendekati Qaynaya.

__ADS_1


"Ada apa Neli? kenapa mau menculik Qaynaya dariku?, istriku ini tidak boleh jauh dariku" Djani lalu memeluk tubuh Qaynaya dari belakan.


Seharusnya Qaynaya senang dengan sikap suaminya yang sangat mencintainya, tetapi Qaynaya sangat sadar, bahwa ini tidak sesederhana itu. Qaynaya tersenyum untuk menyembunyikan kegundahannya.


"Ada apa nenek?" tanya Qaynaya ceria dan memegangi kedua lengan suaminya yang masih erat memeluk nya. Neli yang tidak mengetahui kondisi Djani tersenyum lebar, merasa sangat senang karena cucu mereka terlihat sangat mesra dan harmonis.


Berbeda dengan pandangan Rini yang melihat dari kejauhan, hatinya semakin sedih melihat nya. Djani sungguh sangat tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Neli dan Sasha akan kembali siang ini, tiket sudah dipesan" Neli mengajak pasangan suami istri yang berada di depannya untuk duduk di ruang keluarga, supaya lebih nyaman berbicara.


"Kenapa tidak tinggal lebih lama lagi nek, pasti nanti sepi, tinggal saja selama nya disini" Qaynaya mencoba untuk sedikit menjauh dari Djani untuk mendekati Neli, terlihat raut wajah kesal terlihat.


"Jangan jauh dariku!!" Djani menarik kembali Qaynaya, bahkan Qaynaya sedikit meringis kesakitan karena Djani begitu kuat mencengkram lengannya.


"Djani hati-hati, kamu menyakiti Qay" ujar Neli.


Qaynaya menggelengkan kepalanya dan memberi kode pada Neli untuk diam, tapi Neli tidak paham dan semakin mendekati Qaynaya untuk memeriksa kondisi lengan cucu menantunya.


"Tidak nenek, aku tidak apa-apa, aku hanya kaget saja barusan" Qaynaya terus menggelengkan kepalanya. Djani melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan Qaynaya dan mengusapnya lembut.


"Apa aku menyakitimu?" tanya Djani pada Qaynaya.


"Tentu saja itu pasti sakit, kamu begitu kuat menariknya, bukankah tubuh Qay juga belum sembuh 100% seperti kata dokter, jadi berhati-hatilah" Neli sudah berada di dekat Qaynaya yang mengelus lembut lengan sang cucu.


"Ini sungguh tidak sakit nenek, oh iya nek, Sasha dimana?" Qaynaya mencoba untuk mengalihkan perhatian semua orang.


"Dia sedang bersiap, karena kita butuh waktu untuk ke bandara, dan ada yang harus kami beli nanti. Kalian rukun terus, dan jangan lupa untuk menjenguk nenek sesering mungkin" Neli mencubit pipi Qaynaya.


"Cantiknya nenek,, terus disamping Djani dan jangan pernah meninggalkan nya lagi, kamu lihat sendiri kalau suamimu begitu mencintaimu, jadi jangan khawatirkan hal lain" Neli tersenyum lalu mendekati Djani.


"Jagalah Qay, jangan menyakitinya" Neli mengusap lembut bahu Djani. Setelah Sasha selesai bersiap, Neli dan Sasha lalu segera bergegas pergi.


"Sayang,, bolehkah aku pergi bersama mama Rini, aku penasaran dan ingin melakukan perawatan seperti orang lain, lagipula aku bisa semakin dekat dengan mama Rini. Jadi nantinya mama akan semakin menyayangiku, dan tidak akan lagi berniat untuk memisahkan kita lagi" Qaynaya bergelayut manja di lengan suaminya.


"Aku bisa panggilkan salonnya langsung kemari, kalau kamu memang sangat ingin mencobanya" Djani menahan tubuh istrinya di tembok, dia tidak perduli kalau kelakuan nya dilihat oleh orang lain.


Qaynaya menoleh ke kiri dan kanan untuk melihat situasi, saat tidak ada siapapun dan dirasa aman, Qaynaya mencium bibir Djani.


"Apa kamu suka melakukan hal ini ditempat umum?" tanya Qaynaya setelah melepaskan ciumannya.


"Supaya orang lain tau, kalau kamu hanya milikku" Djani tidak terima kalau hanya berciuman sebentar. Dengan cepat, Djani kembali melahap bibir Qaynaya.


Rini melihat adegan itu dan langsung bersembunyi di balik pilar rumah.


"Kamu yakin sudah tidak takut pada mama?" tanya Djani lalu merapikan rambut Qaynaya.


"Kamu juga tau sendiri kalau mama sekarang sangat baik padaku, maka dari itu, aku tidak mau mengecewakannya. Mama hanya berniat baik untuk mengajakku ke salon, selain untuk perawatan, nantinya juga aku dan mama bisa semakin dekat. Bisa-bisa nantinya mama akan lebih sayang padaku" Qaynaya bercanda supaya mengurangi ketegangan yang sedang dia rasakan. Qaynaya benar-benar sangat deg-degan saat ini, dia takut suaminya akan marah dan tidak mengizinkannya untuk pergi.


"Tidak ada orang lain yang lebih menyayangimu selain aku" ujar Djani lalu kembali melahap bibir Qaynaya.


"Iya sayang, aku tau itu, tapi kasih sayang orang tua pada anaknya, dan kasih sayang pasangan kan berbeda. Atau jangan-jangan kamu takut tersaingi oleh ku, kamu takut mama akan lebih menyayangi ku dibandingkan dengan dirimu?" Qaynaya menoel pipi Djani, lalu menggigit pelan dagu suaminya. Qaynaya tau kalau Djani sangat menyukai hal itu.


"Jangan berbicara sembarangan, aku sangat ingin sekali melihat mama ku dan istriku hidup rukun, dan aku malah akan sangat senang kalau mama lebih menyayangimu, dasar istri nakalku,, sudah merebut hatiku, sekarang mau merebut mamaku juga" Djani gemas lalu mencium pipi istrinya.


"Jadi aku boleh pergi?" tanya Qaynaya.


"Boleh tapi sebentar saja, kebetulan memang aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Daripada kamu bosan, tapi ingat untuk tidak terlalu lama perginya, saat aku selesai bekerja, kamu harus segera pulang" Djani memasukkan tangannya ke dalam baju Qaynaya.


"Aaahh, jangan sayang,, nanti setelah aku pulang,,ok?" Qaynaya mengecup kening suaminya lalu mendorongnya dan berlari kecil sambil tertawa.


"Awas ya kalau tertangkap" Djani ikut tertawa dan langsung berlari mengejar Qaynaya. Qaynaya tertangkap saat akan membuka pintu kamar, Djani menggelitik pinggang Qaynaya sebelum memeluknya erat.


"Sekali dulu, aku janji perlahan dan tidak butuh waktu lama akan selesai" bisik Djani, Qaynaya menggenggam erat bajunya. Sungguh dia masih sedikit merasakan sakit, tapi dia tidak berani menolak. Qaynaya takut kalau suaminya akan marah.

__ADS_1


"Kamu kan mau pergi, hal terakhir yang kamu lakukan yang akan kamu ingat saat pergi, jadi ingatanmu hanya ada aku" Djani memojokkan tubuh Qaynaya setelah mereka masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.


"Kamu pikir aku mau pergi kemana dan berapa lama? aku hanya pergi sebentar saja" Qaynaya mendorong suaminya kearah ranjang. Mereka lalu kembali beradegan panas, waktu sebentar yang dikatakan oleh Djani hanyalah suatu kebohongan.


Waktu sudah hampir sore saat Djani menyelesaikan urusannya dengan tubuh sang istri. Mereka lalu mandi bersama dan makan siang walau terlambat.


"Kami pergi dulu sayang" Qaynaya tersenyum lebar saat berpamitan pada suaminya. Djani mengelus rambut Qaynaya dan tersenyum senang, karena istrinya terlihat sangat cantik.


"Padahal kamu sudah sangat secantik ini, untuk apa kesalon lagi, pegawai salon itu hanya akan minder melihat mu" Djani lalu mencubit pipi istrinya.


"Dasar gombal, sudah dulu ya, kami berangkat, bye-bye" Qaynaya masuk kedalam mobil, dimana Rini sudah menunggu sedari tadi.


"Jaga Qay untukku ya ma" ujar Djani pada mamanya.


"Beres pak bos, serahkan pada ku,, kami pergi dulu, ingat untuk tidak terlalu lelah bekerja, selesaikan yang penting saja, yang lain bisa dikerjakan oleh ayahmu atau karyawan lain" Rini melambaikan tangannya pada Djani sesaat sebelum melakukan mobilnya.


"Kita mau kemana ma?" tanya Qaynaya, dia sudah tau pasti kalau tujuan sebenarnya mereka bukanlah ke salon.


"Psikolog di rumah sakit terbesar di kota ini, kita harus cepat, karena kita juga harus benar-benar pergi ke salon, supaya Djani nantinya tidak curiga, terimakasih karena mau percaya dan mengikuti rencana mama"


"Ini yang terbaik untuk Djani, kita harus tau lebih dahulu, apakah kondisinya benar-benar membutuhkan perawatan dan pengobatan khusus, atau hanya aku yang perlu untuk melakukan sesuatu" Qaynaya menatap ke depan, pikirannya tidak focus karena terus memikirkan tentang Djani.


"Harus Qay, karena ini memang hanya Djani yang bisa mengobati dirinya sendiri, dibantu oleh ahlinya, dan tentu saja harus selalu didampingi oleh mu. Mama ingin kamu tau seberapa besar masalah ini, semoga nantinya kamu mau membujuk Djani untuk berobat"


Qaynaya tidak menjawab lagi, dan melihat ke arah luar jendela mobil, pikirannya melanglang buana memikirkan kondisi suaminya.


Setelah sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan psikolog, karena Rini sudah membuat janji. Bagi konglomerat seperti Rini, hal ini tentu sangatlah mudah, jadi mereka tidak perlu menunggu atau mengantri, terdengar sombong dan tidak pada tempatnya untuk menunjukkan kekayaan atau kedudukan, tapi kali ini, masalah yang mereka hadapi sangat urgen, apalagi mereka berpacu dengan waktu, karena tidak mau Djani curiga.


"Kenalkan ini istri Djani" Rini mengenalkan Qaynaya pada sang psikolog.


"Sangat cantik sekali, pantas saja Djani begitu tergila-gila. Baiklah,, kita langsung saja pada intinya. Setelah saya simpulkan dari gejala dan juga sebab awal, sepertinya Djani mengalami Fear Of Abandonment, ini merupakan kondisi yang terjadi akibat pengalaman buruk atau trauma di masa lalu. Rasa takut kehilangan bukan terjadi dalam intensitas yang biasa saja, pengidap kondisi ini bahkan dapat mengalami rasa takut yang luar biasa jika ditinggal pergi oleh orang terdekatnya. Pengidap kondisi ini mustahil dapat menjalani hubungan yang sehat" psikolog mulai menjelaskan pada Rini dan Qaynaya.


"Seperti pada penjelasan sebelumnya, pengidap kondisi ini sangat merasa takut ditinggal pergi oleh orang terdekat, misalnya saja kekasih atau istri. Rasa takut kehilangan berlebihan dapat menimbulkan masalah lain, seperti menjalin hubungan tidak sehat agar dapat mempertahankan apa yang dimiliki" psikolog kembali berhenti menjelaskan dan mengambil sesuatu dari laci, sebelum kembali menjelaskan.


"Tidak suka penolakan, sulit percaya pada orang lain. Menyalahkan diri sendiri saat kehilangan, dan bisa saja memaksakan hubungan tidak sehat. Itu beberapa gejala yang bisa dilihat, walau mungkin tidak semua ada pada Djani saat ini, karena ini hanya gejala umumnya saja, terlepas dari sejumlah gejala fear of Abandonment, kondisi ini terbagi menjadi beberapa jenis. Beberapa di antaranya adalah takut ditinggalkan secara fisik, emosional, dan lain lain" psikolog kembali berhenti menjelaskan untuk meneguk air minum.


"Ketakutan emosional. Kondisi ini membuat pengidap merasa tidak dicintai, tidak dihargai, dan selalu merasa kesepian. Perasaan ini bisa saja muncul meski ada orang terdekat di sampingnya. Ketakutan ditinggalkan saat kecil. Kondisi ini merupakan ekspresi dari kecemasan yang dialami saat kecil dengan menangis, berteriak, atau menolak berpisah dengan orang tua" psikolog melihat kearah Rini yang tiba-tiba menundukkan kepalanya, tapi psikolog tidak bertanya lebih lanjut dan hanya kembali menjelaskan.


"Ketakutan berpisah dengan pasangan. Kondisi ini adalah pemicu sikap posesif pada pasangan. Pengidap terus-menerus tidak memiliki rasa percaya, dan selalu merasa khawatir saat sedang tidak bersama, apa ini sedang terjadi pada suamimu?" tanya psikolog yang langsung focus melihat kearah Qaynaya.


Qaynaya mengangguk dan tidak bisa menahan air matanya. Rini lalu menggenggam erat tangan Qaynaya untuk memberinya kekuatan dan dukungan.


"Suamimu memiliki sejumlah indikasi tersebut, jadi silahkan temui psikolog atau psikiater di rumah sakit untuk mengatasi sejumlah gejala yang muncul, cobalah untuk membujuknya untuk menyembuhkan dirinya. Fear of Abandonment bukan hanya dapat membuat diri sendiri selalu merasa was-was, tetapi juga dapat menurunkan kualitas hidup pengidapnya" psikolog memperlihatkan sesuatu yang tadi diambilnya dari laci dan menunjukkan nya pada Qaynaya.


"Ini beberapa pasangan yang sudah melewati masa sulit karena trauma ini, kebanyakan yang mengalami nya adalah perempuan, tapi ada sebagian yang mengalami nya adalah pria. Jangan menganggap pria lemah karena mengalami hal ini, karena bisa saja traumanya sebenarnya sudah dia dapatkan dari kecil" psikolog melihat kearah Rini, yang tentu saja sebagai seorang psikolog ahli di bidang nya, dia sangat tau pasti dengan raut wajah Rini yang sangat terlihat seperti menyimpan sesuatu.


Rini lalu bercerita bahwa, sebenarnya Djani tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang penuh layaknya anak seusianya. Karena dulunya Rini tidak mempercayai Rega, itu membuat Rini menjadikan Djani sebagai perisai nya. Rini terus menggembleng Djani supaya saat dewasa bisa menjadi seorang pebisnis hebat dan menggantikan Rega, karena saat itu Rini takut kalau sampai semua perusahaan nya dikuasai oleh Rega yang dia pikir jahat.


"Dia menjadi sangat tertekan dan memilih menjauh dariku saat kuliah, waktu itu aku membiarkan karena berfikir dia sudah besar, jadi aku tidak perlu khawatir lagi. Ternyata dia mengalami kesepian yang mendalam" Rini menangis mengingat apa yang terjadi pada Djani, dan menyesal dengan apa yang dia lakukan dulu.


"Tidak perlu menangisi apa yang sudah terjadi, karena penyesalan tidak ada gunanya, saat ini Djani mengalami trauma yang harus segera diatasi, itu focus kita saat ini" psikolog menyimpan kembali album foto yang barusaja dia tunjukkan.


"Apa perlu psikiater juga untuk masalah ini?" tanya Qaynaya pelan, sepertinya dia sudah bisa menguasai perasaannya.


"Kita lihat dulu saja perkembangan kondisi Djani nantinya, untuk saat ini, bawa dulu saja kemari secepatnya. Kita lihat apa Saja yang Menjadi Penyebab Fear of Abandonment yang dialami oleh Djani" psikolog lalu melihat kearah Rini yang masih sesenggukan, tapi psikolog memakluminya. Tidak ada seorang ibu yang akan kuat melihat kondisi anaknya yang bermasalah, apa lagi ibu itu ikut andil dalam membuat anaknya mengalami masalah tersebut.


"Meski fear of Abandonment bukanlah masalah kesehatan mental yang bisa didiagnosis, tetapi sejumlah gejala ketakutan dapat diidentifikasi. Kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya masalah gangguan perilaku lainnya. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah berhenti menghakimi diri sendiri secara berlebihan. Setelah itu, belajar untuk menjalin hubungan dengan rasa percaya" psikolog tersenyum setelah selesai menjelaskan semuanya. Lalu meminta pada Qaynaya untuk segera mengambil langkah selanjutnya.


Setelah dirasa cukup mengerti dengan penjelasan dari psikolog, Rini dan Qaynaya lalu pamit, dan berjanji untuk segera datang kembali bersama dengan Djani.


Mereka lalu mendatangi sebuah salon kecantikan, Qaynaya melakukan perawatan dan merapikan rambutnya, sementara Rini melakukan perawatan seluruh tubuh.


Cukup lama hingga Qaynaya mendapatkan telepon dari suaminya yang memintanya untuk segera pulang, untung saja mereka sudah selesai melakukan perawatan. Hanya saja mereka harus mengurungkan niat untuk makan di restoran, dan memilih untuk segera pulang.

__ADS_1


"Apa sudah dipastikan dengan kondisiku, coba jelaskan saat ini juga, apa yang dikatakan oleh psikolog itu!" Djani menatap sendu ke arah Qaynaya yang baru turun dari mobil.


__ADS_2