
"Biarkan mama yang menanggung ini semua, lebih baik kalian jangan kembali lagi" Rini dengan sudah payah membawa foto pernikahan Djani dan Qaynaya keluar dari dalam kamar. Foto dengan figura berwarna putih dengan ukiran indah.
Dengan diiringi dengan deraian air mata, Rini membelai potret Qaynaya dan Djani dalam balutan baju pengantin mereka. Rini lalu menyimpan foto itu kedalam kamarnya.
"Sayang, apa yang terjadi?!" Rega datang karena di telefon oleh salah satu pelayan yang menceritakan tentang keributan yang terjadi akibat ulah Geby.
"Maafkan aku" Rini berlari dan menghambur ke dalam pelukan suaminya. Rini menangis dan menceritakan semuanya.
"Apa sebenarnya yang telah kamu lakukan?,, harus bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?, orang tua Geby tidak bisa kita sepelekan, mereka mempunyai kolega bisnis diberbagai negara" Rega mengelus rambut istrinya walau sebenarnya dia merasa sangat kecewa
"Maafkan aku. Aku sangatlah bersalah"
"Sudahlah, lagipula semua sudah terjadi. Sekarang kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Lalu ini kenapa foto pernikahan Djani ada disini?"
"Wanita gila itu melemparkannya, jadi aku membawanya ke sini"
"Sekarang diamlah sebentar, aku akan berbicara dengannya dulu" Rega melepaskan pelukan Rini untuk segera pergi menemui Geby. Rini memaksa untuk ikut, tapi Rega melarangnya.
Rega tidak mau kalau sampai istrinya takut atau terkejut dengan apa yang akan dia lakukan. Rencananya sangatlah beresiko tinggi, dan bisa saja perusahaannya mengalami masalah. Tapi untuk saat ini, tidak ada cara lain lagi yang dia pikirkan.
Rega mengetuk pintu kamar Djani, berharap Geby segera keluar dari dalam kamar, tapi ditunggu cukup lama, Geby tak kunjung keluar dari dalam kamar. Rega mencoba menahan amarahnya dan terus mencoba untuk menggedor pintu, kali ini dengan keras dan dia juga berteriak.
Sebelumnya dia tidak mengeluarkan suaranya, supaya Geby tidak mengetahui bahwa yang mengetuk pintu adalah dirinya, tapi karena Geby tidak kunjung juga keluar, mau tidak mau akhirnya Rega mengeluarkan suaranya.
"Keluarlah!!" teriakan Rega bahkan sampai di dengar oleh Rini, tapi karena sebelumnya dia sudah berjanji untuk tidak keluar dari dalam kamar sebelum Rega menyuruhnya, Rini lalu hanya bisa menurut.
"Ternyata tuan Rega yang terhormat, saya pikir orang tidak penting yang mengetuk pintu. Ada apa gerangan tuan mengetuk pintu seorang wanita terus menerus seperti ini?" Geby dengan tingkah genitnya memegangi dasi Rega, bahkan sedikit menariknya.
"Enyahlah wanita tidak tau diri!!" Rega menarik dasinya hingga Geby merasa kaget, selama ini tidak ada yang bisa lolos dari daya tariknya. Geby tersenyum merasa tertantang.
"Ternyata kalian ayah dan anak sama-sama membosankan ya?,, pura-pura sok setia, padahal aku yakin sekali kalau tidak ada seorang pria manapun yang bisa menolak diriku" Geby dengan percaya diri kembali merayu Rega.
"Tuan,, jangan khawatir dan merasa tersaingi. Aku sanggup memberikan kebahagiaan untuk kalian berdua, tidak seperti istrimu yang sudah tua itu. Kalau tidak percaya, ayo kita coba" Geby dengan tidak tau malu langsung menarik tangan Rega dan memegangi bagian bawah Rega.
Karena terkejut dengan gerakan Geby yang sangat cepat. Rega tidak sempat untuk melawan, sekarang dirinya tersungkur di lantai kamar Djani. Geby tidak menyia-nyiakan kesempatan lalu dengan cepat langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Ambillah kalau kamu mau tuan,, aku sangat suka lelaki tua seperti dirimu, ada sensasi tersendiri karena kalian sudah berpengalaman dan bisa menyenangkan diriku. Tapi aku juga sangat suka pria muda, ahahahaha!!" Geby tertawa cekikikan setelah memasukkan kunci pintu kedalam bajunya.
"Disini aku bisa mendapatkan keduanya sekaligus, sangat menyenangkan sekali" Geby berjalan perlahan menuju sofa dan mengangkat rok pendek yang dipakainya, dengan gerakan sensualnya, Geby membuka kedua pahanya.
Rega tersenyum samar melihatnya, dia bangkit dari lantai. Sejak dia terpelanting jatuh ke lantai, dia memang tidak langsung bangun, dia mencari cara untuk bisa menghadapi wanita gila yang berada di hadapannya.
"Jangan malu-malu tuan, anggap saja aku adalah sekertaris cantikmu yang selalu kamu pakai tiap saat di kantor. Aku sebenarnya muak dengan lelaki berkuasa seperti kalian, lelaki yang selalu saja menggunakan jabatan dan kekuasaan untuk melakukan hal kotor dengan para wanita lemah" Geby meremas sofa, dari sudut matanya, terlihat ada kesedihan, tapi mata penuh kebencian dan dendam, lebih mendominasi.
"Kenapa hanya terus melotot disana, cepat merangkak lah kemari" Geby memasukkan jarinya sendiri kedalam aset pribadinya dan memainkannya.
"Uuhhh,, aahhhh!" Geby menggeliat merasakan sensasi dari jarinya sendiri, Rega yang awalnya hanya diam, merasa sangat jijik dengan tingkah Geby.
"Apa kamu tidak malu bertindak seperti ini?! aku menemui mu karena berharap bisa menyelesaikan masalah, tetapi ternyata aku salah, aku tidak tau kalau yang aku hadapi adalah wanita sampah seperti dirimu"
"Tidak apa-apa, katakan saja apa yang ada didalam hatimu, aku tidak akan marah asalkan cepat kemari, aku ingin segera mendapatkan pertolongan,, kemarilah tuan,, aku sudah tidak kuat lagi" Geby merasa sangat kepanasan, dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Rega, karena Rega tidak kunjung juga mendekatinya.
"Berbicara bisa dilakukan setelah bertindak, aku bukan wanita munafik yang menyembunyikan motif utama yang aku inginkan. Aku tidak mau pura-pura baik didepan kalian, lalu mencari waktu yang tepat untuk mengambil semua milik kalian. Aku adalah wanita yang sangat jujur, seharusnya kalian senang bertemu dengan wanita sepertiku" Geby telah sampai didepan Rega dan langsung membuka resleting roknya.
"Selagi aku akan segera menjadi menantumu, sekarang aku memberikan penghormatan kepada tuan, untuk mencobanya terlebih dahulu. Aku jamin ini akan sangat menyenangkan" Geby semakin mendekati Rega dan kembali membelai bagian bawah Rega.
Tok tok tok tok tok tok tok
"Sayang, apa yang terjadi, cepat keluarlah!!" Rini mengetuk pintu dan memanggil suaminya. Rini tidak bisa lagi menahan diri untuk keluar dari dalam kamarnya setelah mengetahui dari pelayan nya bahwa Rega masuk kedalam kamar Djani yang didalamnya ada Geby.
"Ini tidak terlihat baik nyonya, saya melihat wanita itu memegangi tongkat tuan dan menarik tuan masuk kedalam kamar" pelayan memberikan informasi karena merasa ada yang tidak beres.
Rini awalnya berfikir kalau Rega akan berbicara dengan Geby di luar kamar, dia tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini. Setelah mendapatkan informasi dari pelayan nya, Rini langsung mengambil langkah seribu.
Disanalah dia sekarang, didepan pintu kamar Djani, setelah ketokan pintu dan juga gedoran, tapi tidak kunjung juga pintu terbuka. Rini merasa frustasi hingga akhirnya dia terdiam saat mendengar suara-suara dari dalam kamar.
__ADS_1
"Aakkhh tuan Rega, perlahan saja!"
"Uuhhh nikmat sayang, lakukan dengan perlahan!"
Rini mengepalkan tangannya mendengar suara itu, suara milik seorang wanita yang sebelumnya membuat dia ketakutan, karena tidak mau anaknya berada dalam masalah. Saat ini kemarahan terlihat tidak bisa lagi dibendung oleh Rini.
Rini segera memanggil satpam dan petugas kebun yang merupakan seorang lelaki, untuk mendobrak pintu.
Brraakkkk
Sebelum pintu didobrak dari luar, Rega sudah lebih dulu mendobraknya dari dalam. Melihat istrinya yang berada di depan pintu dan hanya beberapa centimeter dari jatuhnya pintu yang terbuka secara paksa. Karena khawatir istrinya terluka, Rega langsung berlari untuk memeriksa.
Tapi Rini langsung mundur dan tidak mau disentuh oleh suaminya. Matanya menatap nanar kearah kamar, Geby telah polos tanpa sehelai benangpun dan terkulai lemas dilantai, pandangan mata Geby menunjukkan rasa bangga.
Rini berteriak marah lalu masuk ke dalam kamar dan dengan membabi buta menampar dan menjambak rambut Geby, Rega dengan cepat meminta Rini untuk tenang dan hendak menariknya keluar dari dalam kamar.
"Tenang katamu?!,, kalian melakukan hal ini tepat didepan mataku, lalu aku disuruh tenang?!" Rini berteriak seperti orang kesetanan. Tangannya tidak hentinya memukuli Geby.
Tidak ada perlawanan apapun dari Geby, dia malah pura-pura menangis, sungguh berbanding terbalik dengan tatapan matanya sebelum Rini menghajarnya.
Rini yang masih berteriak penuh kemarahan lalu terkaget dengan datangnya beberapa orang yang sebagian membawa kamera. Rega panik dan memeluk Rini berusaha untuk melindungi wajah istrinya supaya tidak tersorot kamera.
"Suaminya melecehkan diriku, tapi istrinya yang salah faham saat melihat kejadian ini, bukannya menolong tetapi melakukan kekerasan padaku. Untunglah kalian segera datang, kalau tidak mungkin aku,, aahhh huhuhu" Geby menangis tersedu lalu berusaha menutupi tubuhnya yang masih polos.
Salah satu orang yang entah darimana datangnya itu lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh Geby.
"Tuan Rega dan nyonya Rini, kalian adalah panutan bagi banyak pengusaha, tangan dingin tuan yang bisa mengembangkan perusahaan hingga menguasai beberapa negara, membuat kami semua sangat mengagumi tuan. Dan nyonya yang terhormat. Walau sudah sangat bergelimang harta, nyonya begitu sederhana, itu membuat citra kalian begitu bagus di publik, tapi ternyata kelakuan kalian sangat busuk" salah satu pria terus melontarkan kata-kata yang begitu memojokkan Rega dan Rini, sementara beberapa orang yang membawa kamera, terus saja menyorot mereka.
Rini yang awalnya sedang mengeluarkan amarahnya pada Geby, sekarang tidak bisa bergerak dalam pelukan kuat Rega. Hatinya masih dipenuhi kemarahan dan hendak menjelaskan semua yang terjadi, tapi dia tidak bisa berbuat apapun, karena dia juga berfikir kalau Rega telah melakukan hal kotor dengan Geby.
Rini yang awalnya berusaha berontak dari pelukan sang suami, lalu terdiam begitu mendengar bisikan dari suaminya.
"Tenang sayang, diamlah dan percaya padaku. Saat ini kita hanya harus mengikuti dahulu rencana dari wanita gila itu" Rega menguatkan pelukannya supaya Rini tidak bisa bergerak lagi.
"Turunkan kamera kalian dan panggilkan polisi!!"
Djani dan Qaynaya duduk berhadapan, yang awalnya Qaynaya hanya meledek suaminya, sekarang dia sadar kalau suaminya memang terlihat sangat takut.
"Sayang, apa kamu benar-benar takut?" Qaynaya berlutut didepan Djani yang menundukkan kepalanya.
"Ini pertama kalinya aku naik ini, aku sangat takut ketinggian" Djani meraih Qaynaya dan memeluknya erat. Qaynaya baru ingat kalau Djani baru sekarang bermain di tempat ini.
Dengan belaian lembut tangan Qaynaya di pinggang sang suami, bianglala dengan perlahan mulai berputar. Djani semakin mempererat pelukannya dan memejamkan matanya.
"Ada banyak sekali kekurangan dalam diriku yang akhirnya sekarang kamu ketahui, aku sangat malu sebagai seorang pria, tapi bolehkah aku memohon padamu untuk tidak meninggalkan pria lemah seperti diriku" Djani berbisik ditelinga Qaynaya.
"Aku sangat menyukai hal ini, karena aku jadi tau lebih banyak akan dirimu yang sebelumnya tidak aku ketahui. Aku bisa menjadikan rahasia ini sebagai senjata ku dimasa yang akan datang. Kalau suatu saat nanti kamu berniat untuk meninggalkan diriku, maka aku akan menceritakan pada dunia kalau kamu takut ketinggian, jadi jangan macam-macam padaku, kamu mengerti?" Qaynaya mengajak suaminya bercanda dan menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri seperti sedang berpelukan sambil bergoyang.
__ADS_1
"Diam lah sayang, aku takut" Djani berucap pelan.
"Sayang, aku ingin sebuah ciuman saat ini juga" Qaynaya meminta hal yang diluar dugaan Djani, kenapa harus disaat seperti ini istrinya itu meminta hal yang sangat ingin didengar oleh telinganya.
"Sekarang,," Qaynaya merengek dan menggerakkan badannya meminta untuk dilepaskan, kakinya juga sangat pegal karena dari tadi berlutut di hadapan Djani.
Djani dengan perlahan mengendurkan dekapannya, Qaynaya langsung bangkit dan duduk dipangkuan sang suami. Qaynaya mencium bibir suaminya dengan lembut, tangannya juga terus menggerayangi tubuh Djani.
"Uuhhmmm" suara dari keduanya terdengar berbarengan, Qaynaya bergerak perlahan dan turun dari pangkuan Djani, tapi dia tidak melepaskan ciumannya. Qaynaya menarik tubuh suaminya untuk berdiri, mereka terus berciuman dan menjadi semakin panas.
"Peluklah aku dan lihat sekitar" ujar Qaynaya begitu ciuman mereka terlepas karena kehabisan nafas. Dengan masih mengatur nafas mereka masing-masing, Djani mengikuti apa yang dikatakan oleh Qaynaya.
Untuk sesaat Djani masih mencerna apa yang terjadi, barusan dia dibuat tidak sadar oleh ciuman panas dari istrinya yang walaupun belum mahir, tapi selalu bisa membuatnya kehilangan akal sehat dan selalu ingin meminta lebih.
Djani mempererat pelukannya saat menyadari dirinya berada di puncak tertinggi dari bianglala yang dia naiki.
"Jangan takut sayang, lihatlah pemandangan indahnya. Lampu kota terlihat begitu mengagumkan, dan gunung di kejauhan yang berada tepat di depanmu itu, terlihat sangat cantik" Qaynaya membelai lembut punggung suaminya yang kembali bergetar karena ketakutannya pada ketinggian telah kembali dirasakan oleh suaminya, setelah sebelumnya dibuat lupa oleh ciuman Qaynaya.
"Kita hanya manusia biasa, jadi sudah tentu bisa takut akan sesuatu, seperti aku yang sebenarnya sangat takut pada gelap. Ini rahasia antara kita saja ya,, aku sebenarnya sangat takut akan gelap, jadi saat kamu mematikan lampu kamar, aku selalu menerima setiap sentuhanmu dan menikmati semua yang kamu berikan setiap malam nya. Aku sambil terus melatih hatiku, supaya tidak takut lagi akan kegelapan. Jadi coba lakukan hal yang sama, buka matamu dan nikmati suasana ini" Qaynaya menggerakkan kepalanya berniat untuk sedikit mengendurkan dekapan Djani, lama-kelamaan dia merasa sesak karena kuatnya dekapan Djani.
"Apa kamu masih takut gelap?" tanya Djani saat mereka berpandangan dan saling memeluk.
"Tentu saja, kita kan belum terlalu lama kembali bersama, tapi yang aku tau, aku tidak takut gelap lagi saat ada kamu disisiku" Qaynaya tersenyum lembut dan kembali mencium lembut bibir Djani. Setelah melepaskan ciumannya, Qaynaya memutarkan tubuhnya hingga dia membelakangi Djani, tapi tangan suaminya masih melingkar di perutnya.
"Lihatlah disana, benar kan apa yang tadi aku katakan, gunung itu sangat indah. Suatu saat aku ingin mengajak anak-anakku untuk mendaki gunung" Qaynaya memegangi lengan Djani yang semakin mempererat pelukannya.
"Kamu ingin punya berapa anak?" tanya Qaynaya yang merasakan kenyamanan dalam pelukan suaminya.
"Sebanyak-banyaknya" jawab Djani, dia terlihat sudah semakin rileks. Hanya saja bianglala itu berhenti tepat saat dia ingin membalik lagi tubuh istrinya karena menginginkan sebuah ciuman lagi.
"Ahahaha, kasian" Qaynaya meledek suaminya dan berjalan cepat keluar dari dalam bianglala.
"Awas saja, aku akan menghukum dan menyiksa dirimu sampai kamu meminta ampun selama kita berbulan madu" bisik Djani begitu dia menangkap istrinya.
__ADS_1
"Bukankah setiap saat juga seperti itu? jadi aku tidak takut lagi,, wweeekkkkk" Qaynaya mendorong tubuh Djani dan berlari, mereka kejar-kejaran tanpa memperdulikan pandangan dari pengunjung lainnya. Mereka tertawa bergembira tanpa menyadari keadaan genting yang sedang terjadi di rumah.