
"Ma, Qay sebenarnya,,"
"Tidak Djani, mama tidak mau mendengarkan apapun, mungkin kamu bisa terperdaya lagi olehnya, terapi tidak untuk mama, sekarang masuk ke dalam kamar mu"
"Aku bukan anak kecil lagi ma, aku juga sudah mempunyai istri, aku harus bersamanya"
Rini lalu mendekati Djani dengan ekspresi wajah yang dipenuhi dengan kemarahan.
"Sekarang juga tentukan pilihan dirimu, pilih mama atau wanita itu!"
"Aku tidak bisa memilih ma, kewajiban ku berbeda, aku mempunyai kewajiban sebagai anak mama, dan aku juga punya kewajiban sebagai suami Qay, tolong terimalah keputusan ku ma, Qay tidak seburuk itu, tolong dengarkan dulu penjelasan ku"
"Jawabanmu salah, sekarang sekali lagi mama tanya, kamu pilih dia atau mama?!"
Djani tidak mempunyai pilihan apapun, untuk saat ini dia lalu masuk kedalam kamar nya, untung saja dia tidak melupakan ponselnya, dengan segera Djani lalu menghubungi istrinya, Djani meminta pada Qaynaya untuk menunggu sampai semua masalah selesai.
Malam menjelang, kedua pengantin baru itu harus tidur terpisah, saat Djani hendak pergi menuju ke apartemen Qaynaya, ternyata Rini telah menjaganya di depan pintu dan tidak membiarkan Djani pergi.
__ADS_1
"Ma, ini tidak benar"
"Yang tidak benar itu kamu, karena kamu begitu bodoh sehingga bisa kembali kepada wanita penghianat yang gila harta itu, sekarang masuk lagi kedalam kamar mu!"
"Ma, aku bukan anak kecil lagi"
"Baiklah kalau kamu tidak mau menuruti perkataan mama, saat ini juga mama akan pergi dari kehidupan mu, dan jangan harap kamu bisa bertemu lagi dengan mama"
Djani kembali lagi ke kamarnya, dia sangat merindukan Qaynaya, baru sekejap dia mereguk manisnya pernikahan dengan Qaynaya, sekarang mereka harus menghadapi masalah lagi.
Qaynaya juga merasakan kerinduan nya pada Djani, dia duduk termenung memeluk bonekanya, hingga dia dikagetkan dengan suara bel pintu, Qaynaya begitu senang bahkan tidak sempat berfikir, kalau itu suaminya, pasti tidak akan membunyikan bel, karena tadi saat datang, dia sudah memberi tahu kode pintu nya.
"Tante?"
"Aku tidak akan bertele-tele lagi, dan aku juga tidak sudi terlalu lama berhadapan dengan dirimu, aku nyatakan mulai malam ini, kamu bukan lagi siapa-siapa nya bagi Djani, aku sudah menyiapkan jodoh yang terbaik, yang tidak mungkin bisa jika dibandingkan dengan dirimu, enyahlah dari kehidupan putraku, jangan menunjukkan lagi dirimu dihadapan nya"
"Tante, maafkan atas kesalahan ku, tetapi aku dan Djani sudah menikah, jadi tidak mungkin aku meninggalkan nya"
__ADS_1
"Aku tidak perduli, tapi yang jelas, Djani akan menikah dengan wanita pilihan ku, kalau kamu mau dimadu, ya silahkan saja, dasar wanita tidak tahu malu" setelah mengucapkan itu semua, Rini langsung pergi dari hadapan Qaynaya.
Tidak ada reaksi apapun, Qaynaya hanya terdiam lalu kembali masuk kedalam kamarnya, tidak ada tangisan, tidak ada ekspresi apapun, Qaynaya hanya langsung bersiap untuk tidur.
"Ini hanya mimpi" batin Qaynaya, dia lalu mencoba untuk tidur.
Saat bangun di pagi hari, Qaynaya berusaha mencari keberadaan suaminya, saat mencoba untuk membuka pintu apartemen Djani, Qaynaya merasa aneh karena tidak terbuka, sepertinya kodenya telah diganti, Qaynaya lalu mencoba untuk memencet bel.
"Mencari siapa?" seorang gadis cantik dan tinggi semampai keluar dari dari dalam apartemen Qaynaya.
"Ini benar masih apartemen milik Djani kan?" tanya Qaynaya pelan.
"Iya benar, ini apartemen milik calon suamiku, dan benar namanya adalah Djani, tapi dia sedang pergi untuk mengantarkan mama Rini ke minimarket terdekat karena ada sesuatu yang harus dibeli, kalau boleh tau, nona ini siapa ya? dan ada perlu apa dengan calon suami saya?"
Pagi yang cerah itu tiba-tiba berubah gelap dimata Qaynaya, dia sedikit mundur karena kaget, masih tidak paham dengan apa yang terjadi, tetapi dia mencoba untuk sadar.
"Nona, apa kamu baik-baik saja, masukkan dulu, tunggu Djani didalam, diluar sangat dingin, kamu jangan sungkan padaku" wanita cantik itu sangat ramah pada Qaynaya.
__ADS_1
"Siapa nama nona?" tanya Qaynaya perlahan sambil mengulurkan tangannya.
"Kaela"