
"Apa yang kamu lakukan?!!" Alek panik tapi tidak bergeming untuk sekedar melihat keadaan istrinya. Rega terus berteriak memanggil bantuan, sepertinya dia lupa kalau ruangan itu kedap suara.
"Berikan padaku!" Alek mengambil senjata yang dipegang oleh Geby dan segera membersihkan sidik jari Geby.
"Lakukanlah dengan cepat, saat aku mengatakan untuk membuka pintu, maka cepatlah keluar dan berteriak. Tunjukkan kepanikan karena wanita tua ini tertembak oleh Rega" Alek tersenyum karena menemukan rencana yang sangat brilian.
"Apa maksudmu?!" Geby belum terlalu mengerti, sementara Rega tersenyum sinis mengetahui rencana Alek yang berniat menjebaknya. Tapi Rega tidak memperdulikan rencana apa yang tengah disiapkan oleh dua orang tidak tau malu tersebut, Rega terus saja melakukan pertolongan pertama pada luka Lina, dengan terus menekan luka Lina supaya pendarahan segera berhenti.
"Ttoollooonngg" Geby berteriak, sesaat setelah dia membuka pintu, beberapa polisi langsung berhamburan masuk kedalam ruangan. Sebelumnya, Alek telah memasukkan senjatanya kedalam baju Rega, karena Rega tidak mau saat dipaksa untuk memegangnya.
__ADS_1
"Cepat pegang atau istri tercintamu akan aku habisi!" Alek sempat mengancam, tapi Rega dengan kekuatannya langsung menyundul senjata yang disodorkan oleh Alex, karena tangannya masih tidak dia lepaskan dari luka yang diderita oleh Lina.
Alek langsung memasukkan senjata yang merupakan barang bukti utama itu kedalam baju kemeja yang tengah dikenakan oleh Rega.
"Angkat tangan!!" beberapa polisi mengacungkan senjata kearah Rega, awalnya Rega tidak langsung mengikuti perintah, karena dia menyadari bahwa luka Lina belum sepenuhnya berhenti mengeluarkan darah.
Tapi karena Rega semakin terpojok, akhirnya dia mengangkat tangannya. Rega diborgol dan dimasukkan ke dalam sebuah sel penjara, untuk menunggu pemeriksaan selanjutnya.
Dengan merasakan kelelahan, Rega terduduk di sudut ruangan. Tangannya yang berdarah-darah karena baru saja melakukan pertolongan pertama pada Lina, masih belum dia cuci, atau lebih tepatnya dia belum diizinkan untuk membersihkannya.
__ADS_1
Rega yang terlihat menakutkan dengan banyak darah ditangannya, membuat narapidana lain yang berada dalam sel yang sama dengannya, menjadi ketakutan dan tidak berani mengusiknya.
"Aku bisa dengan mudah keluar dari tempat ini, tapi bagaimana dengan Rini, dia pasti akan mengalami masalah karena dia jelas-jelas melakukan pemukulan terhadap wanita laknat itu" Rega bergumam dan memegangi kepalanya, tidak menyadari akan darah yang masih menempel di tangannya.
Diruangan lain, Rini tengah berbicara dengan seorang polwan yang sedang memeriksanya. Rini sebelumnya telah didatangi oleh Lina dan menenangkannya. Sebagai sesama wanita, Lina menceritakan tentang Geby, dan mengatakan pada Rini untuk mempercayai Rega.
Lina adalah anak dari kepala polisi di wilayah tersebut, tentu saja semua polisi dikantor tersebut mengenalnya. Lina mengatakan pada polwan dan polisi yang memeriksa Rini, supaya tidak terlalu mengintimidasi dan dilakukan tanpa kekerasan saat pemeriksaan.
Rini sangat berterima kasih kepada Lina, tapi dia tidak menyangka, bahwa wanita yang baru saja memberikan semangat padanya, saat ini tengah berjuang untuk hidup.
__ADS_1
Dengan tubuh yang bergetar ketakutan karena mendengar keributan, Rini terkejut saat mendengar situasi di kantor polisi tersebut, apalagi dia mendengar berita dari salah satu polisi, bahwa biang dari keributan yang terjadi karena Rega telah menembak Lina.
"Bagaimana mungkin Rega bisa melakukan itu, ini pasti kesalahan. Bawa aku pada suamiku!" Rini yang ketakutan tiba-tiba histeris, dia membayangkan apa yang akan terjadi pada suaminya kalau tuduhan tersebut benar adanya.