
"Sebenarnya apa yang telah mama lakukan, kenapa ayah terlihat sangat terpukul?" Djani tidak mungkin membiarkan kedua orang tuanya berpisah. Djani tidak mau kalau keluarganya sampai tercerai berai.
"Apa salah kalau mama mengatakan yang sebenarnya? mama tidak mau berbohong lagi. Selama nya orang miskin pasti berperilaku miskin. Mama sudah muak dengan semua ini, kalau kamu tidak segera menceraikan istrimu, maka kamu harus menyembunyikannya ditempat ini"
"Apa mama tidak merasa kalau apa yang mama lakukan ini sungguh keterlaluan?" Djani menggenggam tangan Qaynaya, karena istrinya itu terlihat menahan air matanya, setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rini.
"Aku tidak mau kalau kehidupan mu hanya terpaku pada wanita ini,, mama juga tau bagaimana kelakuan Lilis, selamanya dia akan mengganggumu dan menggerogoti hartamu" Rini mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
"Kalau kamu cukup tau diri, dan tidak mau berpisah dari Djani. Maka diamlah dirumah ini, dan jangan berbuat keributan. Secepatnya pernikahan Djani akan segera dilaksanakan" Rini tidak lagi mau berbicara lagi, dengan cepat dia langsung menuju ke arah kamarnya.
"Sayang, kamu tenang dulu, diamlah dirumah bersama dengan Neli. Aku harus segera menyusul ayah" Djani berpamitan pada istrinya, lalu meminta Neli untuk menjaga Qaynaya. Djani lalu segera bergegas untuk menyusul ayahnya.
"Jangan terlalu memikirkannya, nenek sangat yakin kalau Djani akan segera mencari cara untuk mengatasi semuanya" Neli membelai lembut rambut Qaynaya. Tidak lama, Rini keluar dari dalam kamar, dengan membawa sebuah tas.
"Apa yang akan kamu lakukan lagi kali ini?!, sudah mama katakan padamu, untuk tidak menganggu pernikahan Djani!" Neli masih sangat marah pada Rini. Melihat amarah mamanya, Rini tidak terlalu memperdulikannya, dan langsung berlalu pergi.
Qaynaya menenangkan Neli yang kembali menangis, sepertinya Neli sangat shock melihat sikap anak semata wayangnya itu. Qaynaya lalu membawa Neli ke halaman samping rumah tersebut.
Qaynaya yang juga baru pertama kalinya ke halaman tersebut, terlihat sangat antusias. Sepertinya Qaynaya melupakan niat awalnya datang kesana, bukannya menenangkan Neli yang tengah bersedih, Qaynaya malah lebih focus melihat taman kecil yang berada di samping rumah Djani tersebut.
"Wah, disini rupanya ada taman seindah ini" Qaynaya mencium setangkai bunga mawar yang sepertinya baru mekar. Neli merasakan keanehan melihat Qaynaya yang cukup lama membelakanginya.
"Jangan khawatir sayang, sudah nenek katakan tadi. Djani pasti akan segera menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini" Neli menghapus air matanya, lalu mendekati Qaynaya dan mengelus bahunya.
Ternyata Qaynaya juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia sangat khawatir dan cemas dengan apa yang sedang dia hadapi. Qaynaya merasa rendah diri kalau harus bersaing dengan wanita anak konglomerat yang akan di jodohkan dengan Djani.
Setelah bisa menguasai perasaannya, Qaynaya menghapus air matanya, lalu menghadap kembali ke arah Neli. Dengan senyuman palsu untuk menutupi perasaannya, Qaynaya meminta maaf karena bukannya menghibur Neli, tetapi malah dia menunjukkan betapa lemahnya dirinya.
"Ayah, tolong hentikan. Tidak harus seperti ini, aku sangat yakin kalau ayah sangat mencintai mama" Djani menyusul ayahnya yang berniat memasuki kantor pengadilan agama, untuk segera mendaftarkan perceraiannya.
"Ayah sangat mencintai mamamu, itu tidak perlu kamu ragukan lagi. Ayah memilih jalan ini juga karena ayah begitu mencintai mamamu. Ayah tidak mau kalau orang yang sangat ayah cintai, harus hidup menderita bersama dengan ayah"
"Apa maksudnya?" Djani tidak terlalu paham dengan jalan pikiran ayahnya. Rega lalu bercerita kalau sepertinya sudah cukup lama berusaha untuk bisa membuat Rini mencintainya dengan tulus. Ternyata sampai saat ini, Rini masih saja tidak mau menerima Rega, sepertinya selama ini, Rini hanya mengarungi bahtera rumah tangga karena keterpaksaan.
"Kalau kamu begitu mencintai Qay, ayah yakin kamu pasti akan melakukan hal yang sama seperti ayah. Kamu pasti akan melakukan apapun supaya Qaynaya bahagia. Maafkan ayah karena baru sekarang berani mengambil jalan ini. Kamu jangan merasa bersalah atau menyalahkan dirimu, karena ini bukan karena masalah pernikahan mu dengan Qaynaya" Rega mengusap lembut bahu Djani. Saat Rega akan memasuki kantor pengadilan agama, datanglah Rini dengan langkah angkuhnya.
"Ma, tolong bujuk ayah supaya mengurungkan niatnya untuk bercerai" Djani memegang tangan mamanya untuk memohon. Rini tersenyum melihat wajah Djani, lalu membelai lembut pipi anaknya, yang tingginya melebihi dirinya.
"Mari kita bicarakan semua setelah mendaftarkan perceraian" Rini bukannya mengikuti keinginan dari Djani, tetapi dia juga sepertinya sudah sangat ingin berpisah dari Rega.
"Ma, tolonglah jangan seperti ini, aku mohon pada kalian berdua, lagipula kenapa ini harus terjadi?" Djani masih tidak rela, kalau kedua orang tuanya berpisah.
"Akan ada yang masuk ke dalam kantor ini hari ini juga. Entah itu mama dan ayahmu, atau kamu dan istri miskin mu itu. Kalau kamu meminta pilihan, maka kamu yang harus masuk kedalam kantor ini sekarang juga. Maka mama jamin kalau mama tidak akan berpisah dengan ayahmu, walaupun dari dahulu, mama tidak pernah mencintainya"
"Jangan berkata omong kosong, aku lebih memilih bercerai darimu, walaupun aku sangat mencintaimu. Sudah aku katakan untuk jangan pernah menganggu pernikahan Djani!" Rega marah, lalu meminta pada Djani untuk segera pergi membawa Qaynaya ketempat dimana Rini tidak bisa lagi mengganggu.
"Apa kamu pikir Djani lebih memilih wanita miskin itu dibandingkan dengan aku, mamanya sendiri!!, kamu jangan keterlaluan ya" Rini murka mendengar ucapan Rega.
__ADS_1
"Apakah kamu pantas disebut sebagai seorang ibu? kamu bahkan ingin menghancurkan hidupnya dengan memisahkan dirinya dengan orang yang dicintainya!!" Rega yang semakin marah membuat sedikit keributan, karena banyak orang yang memperhatikan pertengkaran mereka.
Djani lalu mengajak kedua orang tuanya untuk berbicara di sebuah cafe tidak jauh dari kantor pengadilan agama tersebut.
"Apa yang membuat mama tidak menerima ayah, bukankah selama ini ayah sudah melakukan semua kewajibannya" Djani tidak mengerti dengan apa yang selama ini dipikirkan oleh Rini. Bagaimana bisa seorang seperti Rega yang telah berjuang dan bekerja keras, tetapi tidak dihargai oleh Rini.
"Kamu pasti sudah tau bahwa mama dan ayahmu hanya dijodohkan. Ayahmu adalah pria menjijikkan yang masih berhubungan dengan mantan kekasihnya bahkan sampai saat ini" Rini tidak mau lagi menyembunyikan sesuatu lagi.
Rini memang dari awal tidak mencintai Rega, tetapi seiring berjalannya waktu, tidak mungkin bisa dipungkiri lagi kalau dia mulai jatuh cinta pada Rega. Pria yang sangat tampan dan pandai berbisnis, serta sikapnya yang lembut, membuat Rini jatuh hati juga pada pria yang awalnya sangat dibencinya itu. Tetapi Rini tidak mau untuk terus hidup dengan Rega, karena dia tau kebusukan Rega, dibalik sikap baiknya.
"Aku mendengar perkataan kedua orang tua mu yang mengatakan untuk segera mengambil alih perusahaan, aku tau kalau dari awal kalau kamu ternyata hanya orang miskin yang tidak tau malu. Mungkin kamu tidak tau kalau aku pernah diam-diam datang ke perusahaan. Aku awalnya berniat memberikan kejutan untuk mu, tapi hal menyakitkan itu yang aku dengar. Apalagi itu sehari sebelum pernikahan kita. Aku tetap melanjutkan pernikahan hanya karena tidak mau kalau sampai membuat malu keluarga besar kalau sampai pernikahan gagal dilaksanakan"
Rega dan Djani kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Rini. Terutama Rega, karena dia sepertinya tidak mengingat kejadian itu. Rini lalu menceritakan detail waktunya.
Rega hanya bisa diam, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Djani meminta pada ayahnya untuk menjelaskan.
"Seperti mama yang mengatakan semuanya, sekarang waktunya bagi ayah untuk menjelaskan semuanya. Supaya masalah cepat selesai" Djani melihat ke arah ayahnya yang terlihat menatap Rini dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Djani.
"Jangan menyentuhku!!, sudah aku katakan kalau aku jijik setiap berhubungan dengan mu" Rini ingat bagaimana dia selalu mabuk-mabukan setelah berhubungan dengan Rega. Rini terpaksa menerima sentuhan Rega pada awalnya, karena Neli terus mengatakan ingin memiliki seorang cucu.
Awalnya dia terpaksa melakukan hubungan suami istri dengan Rega karena ingin membahagiakan Neli. Tetapi dia hanyalah wanita normal biasa yang pada akhirnya terbuai dengan sentuhan Rega. Hal itu yang membuat Rini merasa muak dengan dirinya sendiri, karena harus mencintai pria jahat yang ingin menguasai perusahaan milik keluarganya.
"Kalau aku memang berniat melakukan hal itu, kenapa sampai sekarang aku tidak melakukannya?, aku mempunyai banyak kesempatan untuk melakukannya. Tapi kenapa aku semakin membesarkan perusahaan, bahkan memiliki banyak perusahaan lain di berbagai negara? aku terus bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan. Aku tau kalau kamu tidak mencintai ku, karena itulah aku lebih memfokuskan diri untuk bekerja. Itu aku lakukan supaya aku bisa sedikit mengobati kesedihan dan kesepian yang aku rasakan" Rega berhenti berbicara dan meminum segelas air dengan cepat, lalu segera melanjutkan penjelasannya.
"Mereka bukan orang tua kandungku. Mereka adalah paman dan bibiku yang merawat ku dari kecil. Maaf karena tidak mengatakan kebenaran ini dari dulu. Aku tidak mau kamu semakin kecewa dan membenciku karena aku hanya seorang pria miskin yang bahkan tidak mempunyai orang tua,, mungkin saat itu kamu tidak mendengarkan keseluruhan cerita, sehingga kamu tidak tau apa yang aku ucapkan kepada mereka" Rega menatap intens kearah Rini.
Rini menjadi kaget mendengar penjelasan dari Rega, bagaimana mungkin bisa-bisanya Rega tidak mengatakan kalau dia tidak memiliki orang tua.
"Sudah miskin, ditambah pembohong" Rini membalas tatapan Rega dengan pandangan penuh kebencian, karena suaminya itu menyembunyikan hal besar.
"Kalau mereka bukan kedua orang tuamu? kenapa kamu mengirimi mereka uang setiap bulannya? bisa saja kalian hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk merebut semua perusahaan"
"Aku sudah menganggap bahwa mereka adalah kedua orang tua ku, karena bagaimanapun merekalah yang telah merawat ku setelah kecelakaan besar merenggut nyawa kedua orang tua ku saat aku masih kuliah. Aku hanya berusaha berbakti pada mereka. Tapi percayalah padaku, karena masalah besar yang kamu takutkan itu tidak akan pernah terjadi. Karena saat itu juga, aku menolak keinginan mereka, dan terbukti sampai saat ini tidak ada yang terjadi pada perusahaan"
__ADS_1
Rini terdiam, dia tidak menyangka bahwa selama berpuluh tahun, dia telah salah paham pada Rega. Semuanya terjadi karena rapuhnya pondasi hubungan pernikahan mereka berdua. Pernikahan yang sangat minim komunikasi.
"Apakah semuanya sudah selesai? aku ingin segera kembali pada Qay, dia pasti sangat menghawatirkan masalah ini" Djani bangkit, untuk memberikan waktu pada kedua orang tuanya untuk berbicara berdua.
"Pernikahan mu dengan wanita yang mama pilih, tetap harus terjadi. Itu semua untuk kebaikan dirimu kedepannya" Rini menahan Djani yang hendak pergi.
"Apa maksudmu?" tanya Rega.
"Djani tetap harus memiliki orang yang bisa diandalkan, jadi masa depannya akan terjamin" Rini tetap saja pada pendiriannya. Dia tidak mau rasa khawatir yang pernah dia rasakan, akan dirasakan juga oleh Djani. Dulu karena takut perusahaan akan diambil alih oleh Rega, Rini selalu merasa cemas.
"Apa yang menurut mama membuat diriku bahagia?" Djani kembali duduk karena sepertinya masalah pernikahan nya dengan Qaynaya, belum sepenuhnya aman dari gangguan Rini.
"Saat ini kamu hanya masih tergila-gila pada wanita itu, setelah beberapa saat, kamu akan mengalami kebosanan. Lalu pada saat itu kamu akan menyadari bahwa yang lebih penting dalam hidup ini adalah kondisi finansial yang baik" Rini mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Djani, foto seorang wanita elegan yang sedang duduk di kursi direktur.
Rini menjelaskan bahwa wanita itulah yang akan menikah dengan Djani. Wanita itu sudah menjadi direktur di usia yang masih terbilang muda.
"Bisnis keluarga kita akan semakin luas dan kuat kalau kalian menikah. Jadi tidak ada yang perlu diragukan lagi, dan kamu juga bisa melihat dengan jelas. Wanita ini lebih cantik dari istri mu"
"Ma,, apa mama tidak mengingat kejadian wanita pilihan mama sebelumnya?, apa wanita yang menurut mama berkelas itu berkelakuan seperti itu?"
"Yang ini berbeda, mama sudah menyelidiki latar belakangnya. Jadi kali ini kamu tidak perlu risau lagi"
"Apakah wanita ini mau menjadi istri kedua ku?" Djani menatap tajam kearah Rini. Rega kaget dengan perkataan Djani, karena terdengar seolah Djani menerima wanita itu dan mau untuk menikah lagi.
"Tentu saja tidak mau, mana ada wanita berkelas seperti dia mau jadi yang kedua. Itulah kenapa kamu harus menyembunyikan istrimu"
"Ternyata mama mengerti juga, lalu apa mama pikir Qay juga mau kalau sampai aku menikah lagi? bagaimana kalau dia pergi lagi dariku?, bagaimana kalau aku menjadi gila lagi karena kepergiannya?,, mungkinkah itu yang mama inginkan?"
"Apa maksudmu? tidak mungkin mama menginginkan anak mama sendiri tersakiti" Rini ikut bangkit dari duduknya dan memegangi tangan anaknya, karena Djani berniat pergi.
"Dari saat aku kuliah, bahkan dari saat aku kecil, apa mama pernah perhatian padaku?, yang mama lakukan hanya terus memaksaku untuk belajar tentang bisnis. Saat aku menjauh, mama bahkan jarang sekali menanyakan tentang kabarku, hanya saat aku terpuruk karena ditinggalkan Qay, mama menjadi sangat perhatian padaku. Bukan aku tidak tau berterima kasih, karena sungguh aku sangat bahagia, ada mama di sisiku saat aku mengalami masalah berat. Tapi apakah ini harga yang harus aku bayar untuk itu?,, tolong jangan terlalu kejam padaku" Djani memang seorang pria, tapi saat ini dia tidak bisa menitikkan air matanya. Hatinya terasa sangat sakit setelah mengeluarkan semua perasaannya.
"Pulanglah Djani, Qay pasti sudah menunggumu" Rega bersuara dan menahan tangan Rini yang hendak menarik kembali tangan Djani. Rega tidak percaya kalau Rini begitu keras kepala, walaupun masalah ini menyangkut kebahagiaan anaknya sendiri.
__ADS_1
"Dengarkan perkataan mama, ini semua untuk kebaikanmu!" Rini berteriak karena Djani tidak lagi mendengarkan ucapannya. Djani berjalan cepat menuju mobilnya.