Kesepian

Kesepian
Penolakan


__ADS_3

Andjani memegangi ponselnya, ingin rasanya dia menghubungi Ardi, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, karena pria yang selalu tertuju padanya itu, bisa mengacuhkan dirinya dalam jangka waktu yang sangat singkat, bahkan kemarin saja Ardi masih sangat perhatian pada nya.


Rini masuk kedalam kamar cucunya, dan sudah pasti bisa melihat kegelisahan yang sedang dirasakan sang cucu tersayang.


"Ada apa cantiknya nenek? apa ada yang mengganggu pikiran mu?"


"Tidak nek, aku hanya merasa Ardi terlihat berbeda, aku khawatir dia sedang mengalami suatu masalah"


"Kenapa tidak kamu hubungi saja?"

__ADS_1


"Nanti saja nek, mungkin sekarang dia masih diperjalanan"


Andjani mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ardi, dia memang tidak biasa menghubungi Ardi terlebih dahulu. Arion lalu masuk kedalam kamar nya, untuk berpamitan kepada Rini, karena akan berangkat sekolah.


Sebelum Arion pergi, Andjani sempat ingin menanyakan sesuatu pada adiknya itu, karena Arion sangat dekat dengan Ardi, tapi lagi-lagi Andjani mengurungkan niatnya.


"Kakak ini kenapa sebenarnya?" tanya Arion heran, karena tadi kakaknya itu memanggilnya, tapi beberapa detik kemudian, mengatakan kalau dia tidak jadi berbicara.


Arion tidak banyak bertanya lagi, dan segera bergegas pergi ke sekolah, karena hari sudah semakin siang. Djani tidak pernah absen dalam mengantarkan anak-anaknya pergi bersekolah, kecuali dia sedang sakit sampai tidak bisa bangun, itu juga hanya berapa kali terjadi, biasanya karena dia sakit flu, dan mengharuskannya untuk beristirahat total.

__ADS_1


"Apa ada masalah dengan kak Ardi? sangat tidak biasanya kak Ardi pergi begitu saja. Biasanya kalaupun kak Anna menolaknya untuk pergi bersama, pasti kak Ardi akan mengajakku untuk pergi bersama ke sekolah, karena walau kamu berbeda sekolah, tapi sekolahan kami masih dalam komplek yang sama" Arion merasa heran, jadi dia mencoba mencari tahu, dengan bertanya pada ayahnya.


"Kamu juga lihat sendiri tadi, dia bahkan belum memakai baju seragam sekolahnya, jadi pasti dia harus pulang dahulu sebelum pergi ke sekolah. Mungkin dia tidak mau, kalau sampai kamu menunggu terlalu lama nantinya" jawab Djani sekenanya.


"Tetap saja aku merasa kalau ini sangat aneh, bahkan kakak juga tadi terlihat begitu sangat tidak biasa. Sepertinya ada yang dia sembunyikan, dan sekarang aku merasakan hal yang sama. Aku saat ini sangat yakin kalau ayah sedang menyembunyikan sesuatu" Arion bisa merasakan kalau ayahnya sedang bermain rahasia dengannya, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut lagi, karena kalau itu disembunyikan, berarti memang dia tidak di izinkan untuk mengetahui hal itu.


"Hari ini berpamitan lah dengan teman-temanmu. Ayah akan memindahkan sekolah kalian secepatnya" Djani langsung membuka sabuk pengamannya, karena mereka sudah sampai. Berbeda dengan Arion yang tidak bergeming dari duduknya.


"Sebenarnya ada apa?, apakah ayah adalah buronan?" tanya Arion asal menebak.

__ADS_1


"Kalau berbicara jangan sembarangan, ayah hanya ingin berganti suasana saja, lagipula kalian sudah besar, dan sebesar ini kalian belum pernah pulang ke kampung halaman. Kita bisa menetap disana, setelah kalian berdua mendapatkan surat pindah"


"Aku tidak mau, dan aku yakin kalau kakak juga tidak mau" Arion menolak rencana ayahnya yang ingin kembali ke negara asal mereka.


__ADS_2