Kesepian

Kesepian
Perceraian


__ADS_3

"Kamu lihat sendiri kan? tidak ada yang bisa memisahkan mereka, kamu ini adalah mamanya, bukankah seharusnya kamu senang melihat anakmu hidup bahagia?" Neli mendekati Rini yang sedari tadi berada di balik sebuah pilar besar yang berada tidak jauh dari ruang makan.


Rini awalnya berniat untuk menemani Neli sarapan, tetapi dia menghentikan niatnya, karena melihat Qaynaya. Lalu ketika Rini berniat untuk pergi dari ruang makan, dimulailah cerita Neli pada Qaynaya, sehingga Rini berhenti untuk mendengarkan.


"Sebenarnya apa yang membuatmu tidak menyukai gadis manis itu? bukankah sudah dipastikan kalau dia tidak pernah berniat untuk menyakiti Djani? kalaupun karena Qay tetap saja membuat Djani terluka, walau itu bukan kemauan dirinya, bukankah dia sudah mendapatkan balasannya?" Neli juga pastinya tau kalau Rini pernah berbuat salah pada Qaynaya.


"Aku sudah meminta maaf, dan dia sudah memaafkan, jadi tidak perlu diungkit lagi" Rini menjawab malas dan berniat pergi. Rini sepertinya tidak mau untuk berdebat dengan Neli.


"Apa kamu membencinya karena dia tidak berasal dari keluarga kaya? tidakkah kamu belajar dari pengalaman, bukankah kekayaan tidak bisa menjadi tolak ukur kebahagiaan. Apa kamu tidak mengingat bahwa kamu pernah hampir celaka karena mencintai orang kaya?" Neli menghentikan langkah Rini. Dengan tidak ada rasa gentar, Rini kembali berbalik badan untuk menghadapi mamanya.


"Djani adalah anakku satu-satunya ma,, aku ingin yang terbaik untuknya, aku tidak mau dia mengalami kesulitan, seperti yang pernah aku alami saat pernikahan ku dahulu"


"Kesulitan apa yang kamu maksudkan? mama menjodohkan dirimu dengan orang yang tepat, terbukti dengan segala pencapaiannya. Dan satu lagi yang harus kamu ingat, bukankah Rega tidak pernah berkhianat padamu, atau bahkan sekedar main mata dengan wanita lain"


"Anakku juga berkualitas, jadi dia harus mendapatkan istri yang sepadan, mama jangan ikut campur dalam masalah ini. Djani adalah anakku, jadi aku yang lebih berhak untuk memilih jalan apa yang akan dia lalui. Aku tidak mau Djani kesulitan suatu saat nanti, jadi dia harus mempunyai pendamping yang bisa menopang jika suatu terjadi sesuatu"


"Apa maksudmu?" Neli tidak mengerti dengan jalan pikiran anaknya. Neli tidak pernah menyangka, bahwa anak yang dia pikir hanya keras kepala, ternyata juga mempunyai hati yang licik.


"Mama juga pasti ingat saat perusahaan ayah hampir bangkrut, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membantu, jadi aku tidak mau kalau sampai Djani mengalami kesulitan, dan tidak mempunyai jalan keluar"


"Rini,, kamu harus sadar kalau Djani bukan anak kecil lagi, dia sudah dewasa, jadi sudah bisa dipastikan kalau dia akan mengalami berbagai permasalahan kehidupan, kamu tidak akan mungkin bisa untuk mencegah hal itu"


"Seandainya saat itu Rega tidak menjadi pahlawan kesiangan dengan menghajar Riko, sudah bisa dipastikan kalau aku tidak akan pernah menikahinya"


"Lalu, apakah kamu lebih memilih menikah dengan seorang peselingkuh seperti Riko?"


Rini tidak menjawab apapun, dan kembali mencoba untuk segera pergi dari hadapan Neli. Rini tidak mau mendengarkan penjelasan dari mamanya, tekadnya sudah bulat untuk menikahkan Djani dengan seorang wanita yang sepadan dengan keluarga mereka.


"Sejak kapan kamu datang?" Rini menghentikan langkahnya saat melihat sesosok pria yang berdiri tidak jauh darinya.


Rega tersenyum dan mendekati istrinya, kebiasaannya adalah selalu menggenggam tangan sang istri, begitu mereka bertemu, apalagi sudah lama mereka berpisah. Setelah kejadian batalnya pernikahan Djani dengan Kaela, Rega lalu memutuskan untuk segera kembali ke luar negeri, karena pekerjaannya semakin banyak.


Sementara Rini masih bertahan menemani Djani, karena Qaynaya menghilang. Rini khawatir kalau anaknya akan kembali menggila saat tidak bisa menemukan keberadaan Qaynaya. Dari awal Rini hanya memikirkan tentang putranya saja, mungkin dia memang merasa bersalah, karena pernah berkata kasar pada Qaynaya. Akan tetapi bagi Rini, hal itu tidaklah terlalu fatal.


"Aku baru saja datang" Rega menggenggam erat tangan istrinya. Neli mendekati anak dan juga menantunya.


"Tidak seharusnya dulu aku meminta padamu, untuk menikah dengan seorang wanita yang tidak tau diri. Sekarang aku perintah kan padamu untuk menceraikan nya, seperti dahulu kamu yang menurut, maka saat ini juga kamu harus menurutinya" perkataan Neli seperti ribuan panah yang menusuk hati Rega.


"Tapi ma, sebenarnya ada apa?" tanya Rega, tetapi tangannya terlihat bergetar, apalagi Rini telah melepaskan tangannya. Sebenarnya Neli tau kedatangan Rega, dari awal pembicaraannya dengan Rini, Rega telah datang dan mendengarkan.


"Maafkan mama karena membuat mu hidup menderita, kamu harus hidup dengan wanita yang tidak mempunyai perasaan dan hati nurani. Jangan menghawatirkan dengan posisi mu di perusahaan, karena itu tidak akan pernah berubah. Dan harus kamu ingat, selamanya kamu adalah putra mama" Neli mengusap bahu Rega.


"Sudahi kesakitan mu, maafkan mam karena begitu egois. Sekarang mama sudah sangat sadar, ternyata hidupmu selama ini penuh dengan penderitaan"


"Tidak ma, aku tidak pernah menderita, kalau mama tidak puas dengan pekerjaan ku, tolong katakan saja sehingga aku bisa memperbaiki nya, atau kalau aku harus mundur dari jabatan ku, dengan tanpa pikir panjang lagi, aku akan langsung melakukannya. Tapi tolong jangan pisahkan aku dari Rini" Rega sangat mencintai istrinya, walau dia sangat sadar, bahwa semenjak dahulu, Rini tidak pernah menaruh perasaan padanya.


"Jangan terlalu berlebihan, aku sangat jijik setiap berhubungan dengan dirimu, bukankah kamu juga tau, setiap kita selesai berhubungan, aku selalu meminum alkohol. Itu semua aku lakukan supaya aku bisa melupakan sentuhan mu" Rini yang sedari tadi hanya diam, kali ini dia mengatakan sesuatu yang membuat Rega tercengang.


Rega menyadari kalau Rini selama ini tidak mencintainya, tetapi tetap saja selama ini Rega terus berusaha untuk bisa menaklukkan hati istrinya itu. Walau Rini selalu kasar padanya, tetapi Rega telah jatuh hati pada Rini, jadi dia menerima apapun sikap dan perlakuan Rini padanya.


"Jangan banyak bersandiwara, pasti kamu juga berharap perceraian ini terjadi, karena aku juga tau dengan pasti, kalau kamu juga tidak mencintai ku. Kamu pasti hanya mengincar semua kekayaan keluarga ku. Tapi kamu tidak perlu khawatir, karena walau kita berpisah, tetapi seperti yang kamu dengar tadi,, kamu tidak akan kehilangan apapun" Rini berniat pergi, tapi sebuah tamparan berlabuh di pipinya.


Ppplllaaakkkkk


"Apa kesalahan yang telah aku perbuat, sehingga mempunyai anak yang tidak tau malu seperti dirimu ini!!" Neli histeris, antara dia menyesal karena telah menampar pipi Rini, dan juga karena dia shock dengan kelakuan anaknya tersebut.


Qaynaya dan Djani keluar dari dalam kamar, karena mereka mendengar keributan. Djani bahkan tidak sempat membenarkan dasinya yang acak-acakan.

__ADS_1


💖 Flashback 💖



Qaynaya masih menunggu jawaban dari suaminya. Sementara Djani yang kesal karena istrinya tidak juga mengizinkan dirinya untuk mencium bibir sang istri, lalu membelakangi Qaynaya.



Qaynaya tidak bisa lagi menahan perasaannya, air matanya jatuh, begitu melihat Djani yang membelakangi nya. Qaynaya ingat dengan Djani yang sangat menyukai tiduran sambil mendekap dadanya. Tetapi saat ini, suaminya itu menunjukkan perubahan.



Tetapi yang tidak diketahui oleh Qaynaya, ternyata Djani hanya sedang iseng padanya. Pria dewasa itu sedang ingin bermain-main dengan istrinya, senyuman nya merekah, membayangkan Qaynaya yang pasti akan segera merayunya.



"Aku berjanji akan semakin kuat, aku tidak akan menangis lagi, aku tidak akan menolak lagi. Jadi tolong lakukan apapun yang kamu inginkan tanpa memikirkan tentang hal lain" Qaynaya berbicara dalam isakan tangisnya. Djani langsung kembali berbalik badan untuk melihat yang terjadi pada istrinya.



Djani merasakan sakit di hatinya, begitu melihat istrinya menangis. Djani tidak pernah menyangka bahwa kejahilannya saat ini ternyata tidak tepat waktu. Karena Qaynaya yang sensitif dengan kejadian yang terjadi tadi pagi.



Djani menghapus air mata Qaynaya, dengan perlahan Djani melahap bibir istrinya. Qaynaya menggoyangkan kepalanya, dia mau sebuah jawaban terlebih dahulu. Tapi Djani tidak melepaskannya.



"Jangan menangis, apa yang sebenarnya terjadi?" Djani sudah melepaskan ciumannya, tapi tidak dengan bibirnya. Karena bibir mereka masih saling menempel. Djani tidak menyadari apa yang membuat istrinya bersedih.




Qaynaya berniat membuka dasi Djani, supaya memudahkannya membuka kancing kemeja suaminya itu. Djani membiarkan istrinya, dia bersorak gembira didalam hatinya.



"Kamu tidak berakting didepan diriku kan sayangku? kamu benar-benar takut kehilangan diriku?" tanya Djani pada istrinya yang kesusahan membuka dasinya.



"Jangan berubah" ucap Qaynaya lirih, dia masih terus saja belum merasa mendapatkan jawaban yang pasti. Djani kembali melahap bibir Qaynaya, ada kesedihan dihatinya melihat sang istri tidak percaya pada dirinya. Djani lalu berpikir, apakah Qaynaya pernah ditinggalkan oleh seseorang, sehingga dia merasa trauma dengan perubahan sikap seseorang.



"Sayang, bukankah hal ini pernah terjadi juga, saat itu kamu kesakitan juga karena diriku, dan kejadiannya juga sama, aku


kembali membuat kesalahan dengan menyakitimu" Djani menempelkan keningnya pada kening istrinya.



"Aku tidak akan berubah, seperti apa yang kamu takutkan. Sungguh aku sangat ingin untuk terus menyentuhmu, tapi bukankah itu menandakan bahwa aku sangat kejam? sebagai suamimu, aku juga harus mementingkan kondisimu dan tidak boleh memaksakan kehendak diriku sendiri"



Qaynaya terdiam mendengar penjelasan suaminya.

__ADS_1



"Apa ada yang pernah meninggalkan dirimu?" tanya Djani perlahan, dia menjadi penasaran. Sebenarnya apa pemicu dari sikap istrinya yang menyalahkan dirinya sendiri, padahal kesalahan tidak ada padanya.



"Ayahku dulu sangat menyayangiku,,," Qaynaya berhenti menjelaskan, sepertinya dia ragu untuk bercerita. Djani yang awalnya mengira bahwa Qaynaya akan menceritakan tentang mantan pacarnya, langsung bernafas lega. Bagaimanapun juga, Djani pasti akan cemburu kalau istrinya bercerita tentang kehidupan asmaranya dahulu.



"Aku pikir karena kamu ditinggalkan oleh cinta pertamamu atau siapa, aku sudah harus menahan perasaanku saat aku bertanya apa yang membuatmu seperti ini" Djani membelai lembut wajah Qaynaya, dia tidak memaksa istrinya untuk bercerita saat ini juga.



"Setelah kedua adikku sekolah dasar,, kedua orang tuaku berubah, terutama ayah yang selalu mendukung semua perkataan mamaku. Aku dipaksa untuk serba bisa, karena mereka berfikir bahwa aku adalah penanggung jawab keluarga" Qaynaya berhenti sejenak, untuk melihat reaksi suaminya. Saat melihat Djani yang serius mendengarkan, Qaynaya lalu menjelaskan lagi.



"Ayah menyembunyikan sakitnya, mama yang mengetahui penyakit ayah menjadi panik, karena merasa dengan kondisi ayah, maka kehidupan pasti akan berubah. Mama terbiasa hidup enak, jadi tidak mau kalau sampai kehidupan menjadi susah. Mama selalu mengatakan bahwa hanya aku yang bisa diandalkan karena menganggap bahwa aku cantik. Sudah berulang kali sebenarnya mama berniat menjodohkan ku dengan orang kaya, tapi aku selalu bisa menghindari dengan memberikan banyak uang untuk mama, tapi saat perjodohan dengan Doni, aku tidak mempunyai banyak tabungan lagi, jadi aku tidak bisa berbuat banyak" Qaynaya kembali berhenti berbicara.



"Kenapa tidak mencari ku, aku pasti akan membantumu?" Djani semakin mengerti akan beratnya kehidupan Qaynaya, istrinya harus menjadi tulang punggung keluarga dari semenjak ayahnya sakit. Padahal saat di ingat kembali, sepertinya saat itu Qaynaya juga sebetulnya masih membutuhkan waktu untuk banyak menikmati hidup dengan teman seusianya.



"Aku tidak mau merepotkan dirimu, benar kata mama Rini, hal ini akan terus terulang, mamaku pasti akan terus menganggu hidup kita" Qaynaya baru menyadari akan masalah itu, dia terlalu focus memikirkan masalah dirinya dengan Rini yang masih belum bisa menerima dirinya sebagai menantu. Lalu sekarang Qaynaya merasa takut dan cemas kalau suaminya akan berubah. Tetapi masalah tidak berhenti sampai di situ, karena Qaynaya mengingat tentang mamanya.



"Aaakkkkkhhhh,, kenapa ini sungguh berat, aku sudah mengatakan padamu saat kita baru bertemu kembali, pernikahan ini memang seharusnya tidak dilanjutkan" Qaynaya frustasi dan mengacak rambutnya. Dia tidak menyadari akan tatapan kemarahan dari Djani yang tertuju padanya.



"Sekali lagi aku mendengar perkataan tentang tidak dilanjutkan nya pernikahan ini,, aku tidak akan mengampuni dirimu lagi, aku akan mengurung mu di suatu tempat yang tidak mungkin kamu bisa pergi dari sana!" Djani marah lalu menindih tubuh istrinya, saat Djani mencoba untuk melahap bibir istrinya, saat itu terdengar suara keributan dari luar. Dengan cepat mereka keluar dari dalam kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi.



💖 Flashback End 💖



"Ada apa ini?!" Djani dengan panik mendekati kedua orang tua dan neneknya. Neli menangis dan memeluk Djani.


"Tolong bawa Neli jauh dari wanita jahat ini" Neli terus menangis, sementara Rini hanya diam melihat reaksi mamanya. Rini kecewa karena kedua orang tuanya selalu membela dan lebih berpihak kepada Rega.


"Bahkan dari dulu, mama tidak pernah memikirkan tentang perasaan ku, mama hanya memaksakan kehendak mama padaku, kalau sekarang aku melakukan hal yang sama, itu karena aku belajar dari pengalaman yang mama berikan. Mama berdalih bahwa yang mama lakukan adalah kebenaran, jadi sekarang pun alasan ku juga sama. Tapi karena masalah ini terjadi secara bersamaan, maka untuk menghindari kehebohan publik, kita harus melakukan satu persatu. Siapkan dirimu untuk pernikahan dengan wanita pilihan mama, hal ini tidak bisa ditunda lagi. Setelah pernikahan itu terjadi, perceraian ku dengan ayahmu, akan dilakukan,, jangan memaksa mama untuk melakukan tindakan ekstrim dengan membuatmu bercerai juga dengan wanita miskin ini" Rini menatap tajam kearah Qaynaya.


Rega menampar pipi Rini. Rega tidak rela kalau anaknya harus mengikuti keinginan gila dari Rini. Apalagi Rini yang telah menghina Qaynaya, membuat Rega murka, karena merasa Rini juga tengah menghina dirinya.


"Aku memang miskin, tapi aku tidak pernah mengharap kekayaan dari siapapun. Jangan pernah menghina kondisi orang lain lagi, aku mungkin bodoh karena selama ini mencintai wanita seperti dirimu. Ingat dengan baik, jangan pernah mengusik kehidupan putraku, kalau kamu ingin cerai dariku, kita bisa melakukannya hari ini juga!" Rega kecewa dan marah, lalu segera bergegas pergi.


Semua membeku untuk sesaat, hingga Djani sadar lalu menyusul ayahnya.


"Jangan ayah, nanti ayah akan menyesali ini,, aku berjanji akan segera mencari cara supaya mama bisa menerima Qay, tapi jangan karena memikirkan diriku, ayah lalu mengorbankan perasaan ayah, aku tidak mengharapkan hal ini" Djani menahan tangan ayahnya saat ayahnya itu hendak memasuki mobil.


"Sudah seharusnya ayah melakukan apapun untuk dirimu, maafkan ayah yang membiarkan dirimu hidup mandiri dari dahulu, ayah tau kalau kamu ingin menjauh dari kami karena kamu muak dengan segalanya, jadi saat ini sudah sewajarnya ayah melakukan sesuatu untukmu" Rega mengusap bahu anaknya.

__ADS_1


"Qay akan merasa sangat berat untuk bisa memasuki keluarga besar kita, bahkan saat kita semua sudah menerimanya, hatinya tetap akan ragu dan bimbang karena diliputi keraguan. Jadi terus temani dia, ayah tau kamu sangat mencintainya" Rega memasuki mobilnya, kali ini Djani tidak bisa lagi menahan ayahnya.


"Bahkan setelah bertahun-tahun, aku masih meragukan apakah aku benar-benar diterima dalam keluarga ini atau tidak, dan hari ini aku sadar, bahwa selama nya aku tidak diterima. Aku memilih untuk mundur saat ini, tolong kuatkan Qaynaya" Rega melihat kearah spion mobil, dan melihat Qaynaya yang datang mendekat ke arah Djani.


__ADS_2