Kesepian

Kesepian
Berkumpul Bersama


__ADS_3

"Qay!!" Djani dan Serli berlari mendekat dengan panik, Djani langsung mengikuti Qaynaya menceburkan diri. Serli mencoba mencari pertolongan.


Sezkia menarik Arka untuk segera membawanya pergi disaat semua orang sedang teralihkan perhatiannya.


Djani hampir tenggelam karena panik kebingungan mencari keberadaan Qaynaya di sungai yang luas tersebut, untung saja saat itu arusnya tidak terlalu deras, dan sungai itu sepertinya sangat terawat karena airnya sangat jernih.


Qaynaya menarik tangan Djani dan segera membawanya menepi, mereka berburu oksigen begitu sampai di tepian, Djani langsung menarik tangan Qaynaya dan memeluknya erat.


"Djani lepaskan, aku tidak bisa bernafas"


"Kenapa kamu sangat bodoh sekali?! bagaimana bisa kamu melompat ke sebuah sungai?!!, apa kamu sudah tidak waras?!!" karena panik Djani terus berteriak dan tidak mau melepaskan pelukannya.


"Sungai ini tidak terlalu dalam, hanya terlihat sangat luas dari atas, saat hamil muda aku pernah berenang disini bersama Serli, hanya saja saat itu tidak melompat dari atas"


"Kamu membuatku ketakutan"


"Apa kamu lupa, kalau aku adalah juara renang saat SMA, bukankah aku pernah menceritakannya dulu?"


"Bagaimana bisa aku mengingat hal itu disaat seperti ini!!"


"Iya maaf, bagaimana bisa kamu ada disini? bukankah tadi kamu bilang akan melakukan sesuatu?"


"Aku membelikan sesuatu untuk Anna, saat aku datang, Serli tengah berlarian mengejar mu, dia melihat saat sebuah mobil mengikuti mu, dan dugaannya ternyata benar"


"Lalu apa Andjani sendirian dirumah?!!" Qaynaya kaget dan menyadari sesuatu, begitu juga dengan Djani. Mereka lalu berlari untuk segera kembali ke rumah.


Ketakutan mereka terbukti, Andjani saat ini berada dalam gendongan Sezkia, dan terlihat cara menggendongnya yang membuat Andjani tidak nyaman dan menangis, Serli juga tidak lama datang bersama dengan Doni.


"Seperti yang kita duga, kalian pasti akan segera tiba bersama-sama, hahahaha" Sezkia tertawa melihat begitu solid persahabatan mereka.


"Apa yang kamu inginkan?!, jangan jadi pengecut menggunakan anak bayi sebagai sandera!" Qaynaya mencoba untuk meringsek maju, tapi ditahan oleh Djani.


"Yang aku inginkan adalah suamimu, dan yang Arka inginkan adalah dirimu" ujar Sezkia, Djani dan Qaynaya saling berpandangan. Djani sudah sangat muak dengan Sezkia yang selalu saja berusaha untuk mendekatinya.


"Serahkan bayi itu, dan aku aku akan mengikuti keinginan kalian" Ujar Qaynaya pasti, lalu melepaskan pegangan tangan Djani.


"Lagipula aku seharusnya senang karena ada yang bisa membawaku pergi dari pria ini. Aku tadi berontak karena panik, kalau kamu mengatakan apa yang kamu inginkan dengan baik-baik, tentu saja aku akan mendengarkan" Qaynaya mengangkat tangannya dan berjalan mendekati Arka, dan meminta Serli untuk mengikutinya untuk mengambil Andjani.


"Jangan gila Qay, apa yang kamu lakukan!!?" Djani marah dengan langkah yang diambil oleh Qaynaya.


"Tidak perlu meributkannya, bayi itu bukan anakmu, dan kita juga memang sudah seharusnya berpisah, sekarang biarkan aku pergi dan jangan pernah mengganggu ku lagi!" Qaynaya memandang Djani dan dengan gerakan cepat, matanya mengedip untuk memberikan kode.


Djani mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Qaynaya, sepertinya istrinya itu hanya mengulur waktu dan mencari cara supaya Andjani aman terlebih dahulu.


"Masuk kedalam mobil" ucap Arka lalu menarik lengan Qaynaya, untuk sesaat Qaynaya hanya bisa diam dan tidak melawan, lalu mengikuti langkah kaki Arka menuju mobil, tapi saat sudut matanya bisa melihat Serli yang merebut Andjani di tangan Sezkia dibantu oleh Doni, maka Qaynaya dengan cepat menepis tangan Arka dan menyikut pria yang memegangi lengannya itu, dengan gerakan cepat, Djani mendekat dan melindungi Qaynaya.


"Qaynaya berlari ke arah Andjani dan menggendongnya, anaknya itu tengah menangis karena takut saat menjadi rebutan Serli dan Sezkia.


"Tenang sayang, ini mama" Qaynaya mendekap anaknya dan tidak lama Andjani tenang dan berhenti menangis.


Para tetangga datang karena mendengar keributan, dan salah satu dari mereka ada yang membantu memanggilkan polisi.


"Kamu akan menyesal karena berani menolak ku!" Sezkia marah pada Djani yang terus melindungi Qaynaya, membuat Qaynaya keheranan dengan amarah mantan rekan kerjanya dulu. Sementara Arka menatap penuh kesedihan pada Qaynaya.


"Ayo kita kerumah sakit, bisa saja Anna mengalami panik karena kejadian barusan, lalu kamu juga harus mendapatkan pertolongan, bagaimana kalau masih ada sisa air yang berada di paru-paru mu?" Djani mengambil Andjani dari gendongan Qaynaya lalu berjalan ke arah mobil.


"Tidak perlu Djani, kami baik-baik saja" Qaynaya menahan lengan Djani, lalu berniat untuk mengambil kembali Andjani dari gendongan Djani.


"Biarkan aku menggendongnya, cepatlah ganti bajumu, nanti kamu bisa sakit kalau terus memakai baju basah" Djani melihat bibir Qaynaya yang memucat dan merasa sangat khawatir.


Qaynaya menuruti perintah Djani, karena dia memang merasa sangat dingin. Setelah membersihkan diri dan berganti baju, Qaynaya ngedumel sembari menyisir rambutnya.


"Ternyata benar kan, wanita itu menyukai Djani. Bahkan mereka bisa ada di negara ini bersama-sama. Dasar buaya!" Qaynaya geregetan lalu menggigit sisir yang sedang dia pegang. Saat pintu terbuka, masuklah Djani dan segera mendekati Qaynaya.


"Ada apa? tidak mungkin kamu begitu kelaparan sampai memakan sisir kan? atau di rambutmu ada kutu?" ucap Djani menggoda istrinya, dia merasa geli melihat wajah polos istrinya yang masih menggigit sisir rambut.


Tidak ada jawaban, karena Qaynaya langsung memalingkan wajahnya dan hanya bertanya tentang keberadaan Andjani.


"Anna bersama aunty nya, aku juga sangat kedinginan karena meluncur mengejarmu, tapi sepertinya tidak ada rasa khawatir sedikitpun di hatimu denganku. Bagaimana kalau aku sakit karena kedinginan?" Djani mendekati Qaynaya dan mencium pucuk kepalanya.


"Pulang lah dulu, disini tidak ada baju yang bisa kamu pakai" Qaynaya bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari kamar.


"Aku merasakan sesuatu yang lain, kenapa kamu marah? katakan apa salahku, bukankah aku saja belum menunjukkan kemarahan ku, karena kamu meninggalkan diriku" Djani menarik tangan Qaynaya, lalu memojokkan tubuh wanita itu ke tembok.


Mereka berpandangan, Qaynaya canggung lalu memalingkan wajahnya, tidak sanggup memandangi wajah Djani lebih lama lagi.


"Tatap aku!" Djani menekan tubuh Qaynaya dengan tubuhnya, dan kedua tangannya, dia gunakan untuk memegangi kedua pipi Qaynaya, supaya istrinya itu memandang kearah nya.


"Harus dengan apa aku menghukummu? bukankah aku pernah mengatakan kalau sampai kamu pergi lagi dariku, maka aku akan mengurungmu. Jadi mulai sekarang pikirkanlah dimana kamu mau aku kurung selamanya" Djani lalu mengecup bibir Qaynaya sekilas, lalu menunggu jawaban dari istrinya.


"Untuk apa mengurungku?! apa supaya tidak ketahuan olehku saat kamu bersama wanita lain?!!" Qaynaya tidak menyadari kalau dia tengah cemburu. Djani mengerutkan keningnya mendengar ucapan Qaynaya, dia benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan istrinya tersebut.


"Apa maksudmu sayang?" tanya Djani lembut.


"Wanita tadi bilang,, uuhhmmm" Qaynaya tidak melanjutkan ucapannya karena Djani telah membungkamnya.


"Kalau aku berniat seperti itu? untuk apa aku menghabiskan waktuku mencarimu selama ini?,, hanya dirimu yang bisa aku sentuh. Kadang kalanya aku kesal pada diriku sendiri, bagaimana bisa seorang pria tampan seperti diriku, bisa terjatuh pada wanita jahat seperti dirimu. Sebegitu jahatnya hingga selalu meninggalkan diriku. Lalu aku semakin marah pada diriku, karena walaupun begitu, hatiku hanya tertuju kepada dirimu" Djani memandangi wajah Qaynaya yang merona merah.


Kecemburuan dihati Qaynaya menguap, dia lalu mencium lembut bibir suaminya. Tidak mungkin Djani membiarkan hanya sampai disitu, mereka terus berciuman sambil terus berjalan ke arah pintu. Karena hal pertama yang harus mereka lakukan adalah mengunci rapat pintu kamar.

__ADS_1


"Djani, ah"


"Qayyy, sayang"


Mereka saling memanggil dan berpandangan lalu tersenyum penuh kepuasan dan kebahagiaan. Tapi senyuman Qaynaya tidak bertahan lama, karena Djani tidak memberikan waktu untuk berhenti dari aktifitas fisik yang sangat panas di atas ranjang tersebut.


"Sudah" Qaynaya merintih dan mendekap erat kepala Djani yang terus bersarang di dadanya.


"Tidak mau" jawab Djani.


"Aku belum memompa ASI, apa kamu mau menghabiskan jatah Andjani?" ujar Qaynaya mengingatkan suaminya.


"Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan diriku, aku tidak akan meminumnya lagi, tapi aku akan meneruskan ini dulu" jawab Djani lalu menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Qaynaya menggelengkan kepalanya menghadapi ulah suaminya. Mereka terkulai lemas, apalagi Qaynaya yang terus memejamkan matanya.


Djani memakai handuk lalu menelfon seseorang, dan tidak lama terdengar bunyi pintu kamar diketuk. Djani mengulurkan tangannya mengambil sebuah tas belanjaan yang terulur masuk lewat pintu yang sangat sedikit terbuka.


"Tundukkan pandangan mu!" teriak Djani pada orang dibalik pintu.


"Baik tuan" sebuah suara pria terdengar, tapi Qaynaya tidak mengenali pemilik suara tersebut.


"Siapa itu?" tanya Qaynaya lemah, dan tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Djani meletakkan tas yang dia pegang dan dengan gerakan cepat, kembali menindih tubuh Qaynaya.


"Apa kamu ini tidak normal? tidakkah kamu merasa lelah?" tanya Qaynaya menahan wajah suaminya yang hendak menciuminya.


"Tidak" jawab Djani singkat, lalu bangkit dari atas tubuh sang istri. Djani menggendong tubuh Qaynaya menuju kamar mandi, mereka mandi bersama, dan kembali terdengar rintihan dari bibir seorang Qaynaya oleh ulah Djani, di sela-sela mandi air hangat yang mereka lakukan.


"Istirahat dulu, aku akan membawakan makanan. Jangan membantah" Djani mengancam Qaynaya dan kembali merebahkan nya di atas ranjang, setelah mereka selesai mandi.


Tidak mungkin bagi Qaynaya untuk membantah, karena untuk bergerak saja sangat sulit baginya. Qaynaya memejamkan matanya, sembari menunggu Djani membawakan makanan.


Setelah menunggu beberapa saat, Djani kembali ke dalam kamar, dengan membawa dua piring berisi makanan dan buah-buahan.


"Ayo makan dulu" Djani membantu Qaynaya untuk duduk, dan berniat untuk menyuapinya, tapi Qaynaya menolaknya, karena dia bisa sendiri. Saat makan, Qaynaya menanyakan tentang kabar ayah Rega dan mama Rini.


Djani menjelaskan bahwa ayah Rega sudah mulai pensiun, dan perusahaan mereka di kelola oleh orang kepercayaan mereka, hanya sesekali Rega memantaunya. Begitu juga dengan Djani yang setelah ke negara TF, menjadi jarang memantau semua perusahaan mereka, hanya saja saat di negara FF, dia masih aktif dan terus bekerja.


Kondisi perusahaan mereka sudah sangat stabil, dan bahkan saham mereka melonjak tajam, karena media sangat menyukai apa Djani lakukan saat tragedi pernikahan dengan Geby.


"Kamu mengambil kesempatan dengan itu?" Qaynaya berhenti mengunyah makanannya.


"Itu bukan niatku, tapi kalau seperti ini, aku bisa apa?"


"Kamu pasti menyukai Geby kan? aku dengar dia wanita yang sangat cantik dan elegan, serta terpelajar, lagipula yang paling penting adalah dia merupakan putri dari direktur di perusahaan ternama di negaranya" Qaynaya menusukkan garpu yang sedang dia pegang pada sisa daging yang sedang dia makan.


"Lalu kenapa aku mengungkapkan kejahatannya kalau aku menyukainya? bagaimana cara berfikir mu? apa jangan-jangan tadi kamu terbentur?" Djani memegangi kepala Qaynaya untuk memeriksanya.


"Tidak akan pernah, muuaahhh" Djani dengan gemas menciumi pipi Qaynaya.


Setelah mereka selesai makan, Djani membawa kembali piring kotor keluar kamar, dan masih tidak membiarkan Qaynaya untuk turun dari ranjangnya.


Saat masuk kembali ke dalam kamar, Djani membawa Andjani di dalam gendongannya. Setelah sampai kesamping Qaynaya, Djani meminta Qaynaya untuk menyusui anaknya.


"Apa sudah habis semua susu didalam kulkas?" tanya Qaynaya. Djani mengatakan bahwa masih ada, hanya saja dia disuruh Serli untuk meminta Qaynaya menyusui Andjani secara langsung.


"Bagaimana aku bisa menyusuinya, kalau barusan kamu sudah,," Qaynaya malu dan tidak melanjutkan ucapannya. Djani menggaruk kepalanya dan merasa bersalah.


"Baiklah, ayah meminta maaf untuk saat ini. Mari minum susu dari dot dulu, biarkan mama beristirahat" Djani hendak menggendong Andjani, tapi Qaynaya bilang untuk membiarkannya tidur disampingnya.


Qaynaya lalu meminta tolong pada Djani untuk mengambilkan dan menghangatkan susu di dalam kulkas. Djani mengatakan kalau dia yang akan memberikan susu pada Andjani, jadi Qaynaya bisa tidur dengan tenang.


"Tidak, aku merindukan nya, dari tadi aku tidak bersamanya. Dia mungkin saja masih merasa shock dengan kejadian tadi, tapi kamu malah menggangguku terus.


"Kasihan anak mama, maafkan mama ya sayang" Qaynaya memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Andjani, dan mengajaknya mengobrol, walau bayi imut itu hanya menjawab dengan bahasa yang belum bisa dimengerti.


"Aaa,, yyaahhh" suara yang terdengar dari mulut Andjani membuat Qaynaya manyun.


"Mmaaa, mmaaaaa" ujar Qaynaya sambil tersenyum manis, berharap anaknya mengikuti apa yang dia ucapkan.


"Ay,, yah" jawaban Andjani membuat sebuah suara tawa dibelakang Qaynaya terdengar.


"Ahahahaha, dia memang anakku, buktinya dia lebih mengikuti apa yang aku contohkan" Djani tertawa geli dan mendekati Andjani lalu menciuminya.


"Mana susunya!" Qaynaya kesal, dan dengan gemas mencubit pipi Djani.


"Aahhh iya maaf,, jangan terlalu marah karena aku adalah favorit nya. Karena kamulah yang selalu menjadi favoritku, setelah Anna tentunya. Hahahaha" Djani begitu puas tertawa dan menjahili istrinya.


"Sayang, apakah ini benar?,, mama tidak mau kalau sampai sesuatu terjadi padamu. kehidupan ayahmu sangat berbeda dengan kehidupan kita selama ini. Mama takut sesuatu yang buruk akan terjadi lagi kalau kita kembali" Qaynaya menciumi anaknya yang masih terus mengoceh, seolah menjawab perkataan mamanya.


"Qqaaayyyu, sayangggg!!" sebuah suara mengagetkan Qaynaya dan Andjani.


Rini dan Neli berlari dan menghambur ke arah ranjang, dimana Qaynaya tiduran dengan lemah. Mereka langsung menciumi Qaynaya, tapi sedetik kemudian, Andjani telah mengalihkan perhatian mereka semua. Rini dan Neli berebutan untuk menggendong Andjani, tidak melihat lagi kearah Qaynaya yang kebingungan dan hendak menanyakan kabar ibu dan nenek mertuanya.


"Simpan anakku kembali, dia harus minum susu. Lagipula mama dan Neli kenapa menerobos masuk ke dalam kamar, sudah aku katakan untuk menungguku membawa Anna keluar" Djani memberikan susu pada Qaynaya yang tengah terbengong dalam duduknya, sepertinya Qaynaya masih kaget dengan kedatangan Rini dan Neli.


"Sampai kapan kami harus menunggu?, kamu ini sangat tidak bisa menahan diri, dari dulu selalu menyiksa menantu mama" Rini membiarkan Djani mengambil Andjani lalu memilih focus kembali pada Qaynaya.


"Sayang, apa kabarmu nak?,, kamu semakin cantik sekali, auramu semakin terpancar. Jika seorang ibu semakin cantik saat sudah memiliki anak, itu berarti kamu tidak salah pilih suami. Kamu hanya harus bertahan dengan kelakuannya yang sering tidak bisa menahan diri. Apa ada yang ingin kamu makan? melahirkan itu butuh nutrisi yang sangat banyak. Mama akan membuatkan sayur bening daun katuk. Kamu akan sangat suka dengan makanan mama" Rini terus berbicara dan memegangi pipi Qaynaya, hingga tiba-tiba Rini menangis keras dan memeluk Qaynaya dengan erat.


"Bagaimana bisa kamu pergi meninggalkan kami seperti itu Qay, tolong jangan lakukan hal itu lagi, mama mohon. Apakah mama perlu bersujud padamu, supaya kamu mengabulkan permohonan mama??!" Rini berubah histeris, rasa haru dan bahagianya bercampur dengan rasa kecewa karena menantunya pergi dalam kondisi kesakitan.

__ADS_1


"Kamu begitu kesakitan, lalu pergi meninggalkan kami. Dan di negara yang sangat jauh ini kamu berjuang mempertahankan bayimu, lalu melahirkan yang penuh perjuangan tanpa dampingan keluarga mu. Kenapa kamu begitu tega pada mama, dan tidak membiarkan mama ada di sampingmu!!" Rini semakin mempererat pelukannya, hingga tidak menyadari Qaynaya yang kesakitan, karena dadanya tertekan.


"Bagaimana bisa kamu ada disampingnya, kamu kan seorang nara pidana" Neli ikut berbicara dan memisahkan Qaynaya dari Rini. Untuk sesaat Qaynaya tersenyum lega, tapi tidak bertahan lama, karena saat ini Neli telah memeluknya dengan erat.


Rini memeluk Qaynaya dan Neli, mereka menangis bersama, kali ini tangisan mereka berubah menjadi tangis penuh keharuan. Qaynaya terus mengucapkan permohonan maaf nya, karena telah salah paham.


"Maafkan aku ma, maafkan aku juga nenek" Qaynaya menghapus air matanya, dia begitu bahagia mendapatkan mertua yang sangat perhatian padanya.


"Sudah-sudah, kenapa mama dan Neli membuat istriku menangis, ini bawa Anna keluar. Aku mau bersama istriku dahulu, dan ingat untuk tidak mengganggu kami. Ini Anna sudah minum susu, mungkin tidak lama lagi dia akan tertidur. Kalau kalian mau beristirahat, dirumah sebelah sepertinya kosong, coba tanyakan saja pada pemiliknya, berapapun bayar saja, biar tidak terlalu jauh dari sini" Djani seolah mengusir nenek dan mamanya.


"Cucu nenek, sini nak. Cantik sekali" Rini menerima Andjani dari uluran tangan Djani, lalu segera keluar dari dalam kamar bersama dengan Neli.


"Kapan mereka sampai?" tanya Qaynaya sambil menghapus air matanya. Djani merapikan rambut Qaynaya yang berantakan, karena tadi berpelukan dengan Rini serta Neli.


"Tadi saat aku membuatkan susu untuk Anna, sudah tiduran lagi saja, jangan khawatirkan Anna, karena dia pasti aman bersama dengan neneknya"


"Djani, sudah aku katakan kalau dia bukan anakmu, tolong mengertilah" Qaynaya menahan tangan Djani yang hendak merebahkan tubuhnya.


"Kenapa kamu seperti ini?!!, apa kurangnya aku sehingga kamu tidak mau mengakui bahwa aku adalah ayah Anna? apa kamu pikir aku tidak sanggup untuk menghidupinya!" Djani marah dan dengan cepat mendorong tubuh Qaynaya, lalu langsung menindihnya.


"Bukan seperti itu, tapi aku takut,, hiikkksss" Qaynaya menangis lalu meraih Djani yang berada di atas tubuhnya bertumpu pada kakinya, sehingga Djani terjerembab ke dalam pelukannya.


"Apa yang kamu takutkan sayang" Djani lega mendengarnya, karena berarti Anna memang anaknya, hanya saja Qaynaya merisaukan suatu hal.


"Aku takut dia mengalami banyak kesulitan, dan juga aku tidak mau dia berada dalam bahaya" Qaynaya masih menangis dan terus memeluk Djani.


"Tidak akan aku biarkan kalian mengalami kesulitan dan bahaya, sebenarnya apa yang kamu takutkan sayang?" Djani membelai lembut rambut Qaynaya, lalu dia turun dari tubuh istrinya, karena sadar Qaynaya semakin keberatan dengan berat tubuhnya. Djani memiringkan tubuhnya tapi masih terus memeluk Qaynaya.


"Aku mendengar berita seorang anak konglomerat meninggal, karena diculik oleh orang jahat yang meminta tebusan uang yang sangat besar pada keluarganya"


"Sayang, maafkan atas diriku yang tidak sesuai dengan keinginan mu, maafkan karena aku bukan orang biasa seperti yang kamu harapkan. Tapi aku akan menerjang apapun yang berani melukai kalian, aku berjanji. Tidak akan aku biarkan siapapun melukai Anna"


"Dia juga bisa saja suatu saat mengalami kesulitan seperti dirimu, bukankah kamu begitu kesulitan sedari kecil? bahkan sampai sekarang kamu begitu kesulitan karena istrimu sendiri" Qaynaya menggigit bibirnya, karena dia sedang membicarakan dirinya sendiri.


"Aku juga tidak mengerti, bagaimana bisa istriku begitu membuatku kesulitan selama ini. Tapi asal kamu tau saja, aku tidak pernah sedikitpun berniat untuk menyerah dengan istriku. Dia hanya membuatku kesulitan karena aku tidak bisa mengikatnya dengan kuat, supaya tidak pernah meninggalkan diriku lagi. Selain itu aku tidak merasa kesulitan sedikitpun. Apa begitu berat menjadi istriku Qay?"


Pertanyaan Djani membuat hati Qaynaya terasa tercabik, sungguh dia sangat mencintai Djani. Hanya beban berat dan intrik dari orang-orang besar seperti Djani, kadang membuat Qaynaya kebingungan dan merasakan sakit tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu dengan kejadian apapun yang tengah terjadi.


"Aku harus bagaimana saat tau suamiku akan menikah lagi?, aku berharap bisa menghadapi semua masalah bersama dengan dirimu, tapi kamu terus saja menyimpan rapat permasalahan yang sedang kamu hadapi, aku menjadi terus salah paham. Lalu hal seperti ini akan sampai kapan?" Qaynaya hendak melepaskan pelukan Djani, karena suaminya tidak juga menjawab pertanyaannya.


"Jangan lepaskan pelukanku!" Djani berteriak, tapi teriakan Djani membuat Qaynaya tertawa.


"Kamu tidak berubah, kamu Djani yang selalu,,, uuhhmm" Djani membungkam mulut istrinya.


"Aku memang tidak akan pernah berubah, perasaan ku padamu, dan apapun itu. Maafkan aku sayang, tapi tenangkan dirimu untuk masalah apapun, karena aku akan mengikuti keinginan mu, apapun itu mulai sekarang. Kita bisa hidup normal seperti orang biasa, kalau kamu mau tetap tinggal di negara ini, akupun akan menurutinya. Dinegara ini, tidak ada yang mengenalku sebagai Djani Sudradjat. Seperti yang sudah aku katakan, semua perusahaan telah dikelola oleh orang kepercayaan ku dan ayah. Jadi aku bisa hidup dengan cara apapun yang aku mau"


"Benarkah?, apa ayah Rega mengizinkannya?" Qaynaya begitu senang mendengarnya.


"Tentu saja sayang, jadi mulai sekarang jangan khawatirkan apapun" Djani tersenyum karena melihat istrinya yang begitu bahagia.


"Tapi apa kamu akan tetap menyembunyikan sesuatu jika terjadi masalah" tanya Qaynaya.


"Tentu saja, kalau masalah itu bisa menyakitimu. Karena aku tidak mau kalau sampai kamu terluka sedikitpun" jawab Djani lalu ingin mencium kening istrinya, tapi Qaynaya menolaknya, karena kesal dengan jawaban Djani barusan.


"Lalu nantinya aku bisa salah paham lagi, lalu aku pergi lagi, jadi kapan semua ini akan selesai?" Qaynaya menahan bibir Djani menggunakan telapak tangannya. Tapi Djani malah menggigit manja tangan Qaynaya.


"Baiklah, mulai sekarang kita sama-sama saling berubah, tolong lebih percayalah padaku, dan jangan pernah pergi lagi, sebelum meminta penjelasan" ujar Djani.


"Lalu kamu kenapa tidak bilang akan berubah, dan akan menceritakan segala sesuatu yang nantinya mungkin saja terjadi" Qaynaya masih belum puas dengan jawaban Djani.


"Qay, maafkan atas kekurangan ku yang begitu besar, mungkin kamu sangat kecewa karena kalau untuk hal ini, aku tidak mungkin berubah. Aku benar-benar tidak mau sesuatu menyakitimu" Djani meneteskan air matanya, dia tidak bisa berjanji, untuk hal yang tidak bisa dia tepati.


"Suatu saat nanti, jika ada masalah lagi, aku tetap tidak mau melibatkan mu kalau itu bisa menyakitimu" Djani membelai lembut pipi istrinya.


"Kamu tidak mau berubah, tapi memaksaku untuk mengikuti semua keinginan mu, apa kamu pikir aku patung pajangan? kenapa bisa kamu begitu tidak mempercayaiku, sebagai istrimu, aku akan berjuang semampuku jika kita tertimpa masalah, tapi lagi-lagi kamu hanya menganggap ku patung yang tidak punya kekuatan untuk menghadapi suatu masalah" Qaynaya sedih karena Djani dengan tegas tidak mau berubah untuk masalah yang sebenarnya, menjadi biang keladi paling utama yang menyebabkannya beberapa kali meninggalkannya.


"Baiklah sayang, aku akan mengikuti keinginanmu, jangan tunjukkan wajah sedihmu itu. Membuat hatiku terasa sangat sakit" Djani mendekap erat istrinya.


"Rumah disebelah itu sangat mahal, dan harus disewa pertahun, kalau nantinya cuma ditempati satu atau dua bulan kan sayang, lebih baik, nenek dan mama Rini tinggal disini saja, kita bisa membeli kasur tambahan saja, bagaimana menurutmu?" Qaynaya sepertinya sudah puas dengan pembicaraan sebelumnya, dan kali ini bertanya masalah lain.


"Lalu bagaimana caraku untuk meminta itu padamu? apa kamu tidak malu didengar oleh mereka, bukankah kamu sering berteriak keras saat aku, uhhmmm" Djani tidak melanjutkan ucapannya, karena kali ini Qaynaya yang telah membungkam mulutnya.


"Maka dari itu, selama mama dan nenek di negara ini, kamu harus menahan diri untuk sementara" ujar Qaynaya setelah melepaskan ciumannya.


"Mereka akan tinggal selama kamu mau tinggal, dan mereka akan pulang saat kamu juga sudah memutuskan untuk pulang, lagipula kamu tidak perlu memikirkan tentang uang, bukankah uang bisa dicari" ucapan Djani tidak mencerminkan kondisinya yang mendapatkan uang begitu mudah, bahkan saat dia tengah tidur atau seperti saat ini yang hanya tiduran sambil mengobrol santai, karena pundi uangnya terus mengalir dari sahamnya yang sangat banyak.


"Konglomerat, selamanya adalah konglomerat. Mereka pasti tidak perlu memikirkan keuangan, tidak bisa dibandingkan dengan diriku yang hanya seorang pelayan cafe kecil" ujar Qaynaya lalu berniat bangun, karena merasa mereka sudah terlalu lama mengobrol, pasti Andjani telah menunggunya.


"Bagaimana bisa kamu membuka sebuah cafe hanya dalam waktu satu tahun, bahkan dalam kondisi sedang hamil?" tanya Djani, yang lalu ikut bangun.


"Aku terpaksa untuk menghidupi anakku, aku juga butuh makan. Lagipula aku tidak membukanya sendiri, kami melakukannya berempat" ucap Qaynaya yang kini sudah menginjakkan kakinya ke lantai, tapi karena bagian bawahnya terasa sakit, Qaynaya terdiam sebentar.


"Berlima? bukannya kalian hanya bertiga?"


"Itulah yang kamu tidak mau tau, sebenarnya kami berlima. Aku, Serli, Doni, Andjani, dan satu lagi adalah,," Qaynaya terdiam sejenak, hingga membuat Djani tidak sabaran.


"Owh iya, ada Anna juga. Lalu siapa yang kelima?, cepat katakan!!" Djani memegangi tangan Qaynaya dan meminta istrinya itu untuk melihat kearahnya.


"Suamiku" jawab Qaynaya pelan.

__ADS_1


__ADS_2