
"Tante,,!" panggil seorang wanita sambil mendekati Rini yang sedang duduk di sebuah cafe. Rini langsung menoleh dan tersenyum lebar saat melihat siapa yang datang dan memanggilnya.
"Apa penerbangan mu lancar?" Rini menyambut wanita itu dan menyambut uluran tangannya. Mereka lalu kembali duduk setelah berbasa-basi sebentar.
"Tante sudah pesankan makan untukmu, sebelum kita menuju rumah Djani, lebih baik kita makan terlebih dahulu"
"Kenapa tidak makan dirumah saja Tan? aku mendengar bahwa Neli juga sedang berada di negara ini. Aku merindukan masakannya"
"Besok lagi kita bisa makan dirumah, saat ini kita makan disini terlebih dahulu, karena tidak mungkin tante dari tadi duduk disini kalau tidak memesan apapun"
"Baiklah Tante,, oh iya Tan,, apa untuk acara pernikahan besok semuanya sudah selesai persiapannya?"
"Kamu tenang saja, semua sudah Tante urus" mereka saling bertukar senyuman lalu segera makan setelah pesanan makanan mereka datang.
"Qay, apa ada yang kamu butuhkan lagi?"
"Tidak nek, aku sudah selesai terima kasih"
"Baiklah, sekarang nenek mau ke kamar terlebih dahulu. Apa kamu mau kembali ke kantor?" Neli bertanya pada Djani yang tengah sibuk dengan ponselnya. Djani mengangkat kepalanya dan menggeleng. Djani berencana untuk pergi, sepertinya dia sudah mengetahui rencana Rini.
"Neli, aku dan Qay harus pergi. Aku cukup lelah untuk mengikuti permainan mama. Maafkan aku nek, tidak seharusnya aku mengambil jalan ini, tapi menurutku ini adalah cara terbaik untuk saat ini"
Neli mengangguk dan setuju dengan keputusan cucunya. Entah apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Rini, bukankah semua orang juga sudah tau kalau Djani sudah memiliki seorang istri. Lalu kenapa saat ini Rini melakukan hal yang tidak masuk akal.
"Cepatlah berkemas" Neli mendengar suara deru mobil, seperti ada yang datang. Neli khawatir kalau yang datang adalah Rini, karena rencana kepergian Djani dan Qaynaya bisa gagal.
"Djani, jangan seperti ini. Kita harus menghadapi segalanya, jangan melarikan diri seperti ini. Bagaimana kalau mama Rini kecewa, atau melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal suatu saat nanti. Bukankah kamu yang mengatakan padaku untuk menghadapi bersama saat kita mendapatkan rintangan dalam pernikahan kita?" Qaynaya masih mencoba untuk membujuk suaminya.
"Ini sudah keputusan ku sayang. Rintangan ini memang harus seperti ini menghadapinya. Aku tidak mungkin menikah lagi, lagipula bukankah semua orang juga tau kalau aku sudah memiliki dirimu, aku tidak mengerti bagaimana bisa mama masih saja melakukan rencananya" Djani lalu menggandeng tangan istrinya untuk segera masuk ke dalam kamar. Dia tidak mau menghadapi mamanya lagi untuk saat ini.
"Hay Djani,, apa kabarmu?" Djani menoleh pada sumber suara yang memanggilnya. Setelah sejenak mengerutkan keningnya, Djani tersenyum lalu mendekati yang empunya suara tersebut.
"Hay Sasha,, kamu benar anak ingusan itu kan? sudah lama kita tidak bertemu, apa kabar? lalu bagaimana kamu bisa berada disini?" Djani mendekat pada wanita itu dan memastikan bahwa wanita itu adalah orang yang dia kenal.
"Iya aku adalah anak ingusan itu!" Sasha sewot lalu berpaling melihat kearah Neli yang juga telah mendekat ke arahnya.
"Neli, aku sangat merindukanmu. Kenapa Neli sangat jahat sekali?, tidak mau mengabari bahwa Neli sudah sembuh" Shasa memeluk Neli, tetapi pandangan matanya melihat kearah Qaynaya yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Siapa wanita cantik itu?" tanya Shasa hingga membuat Djani dan Neli menoleh serentak ke arah Qaynaya. Karena tidak mengenal siapa yang ada di hadapannya, Qaynaya hanya mengangguk untuk memberikan salam.
Rini memasuki rumah dengan membawa sebuah koper besar yang sepertinya milik Sasha. Tatapan matanya masih tidak bersahabat saat melihat kearah Qaynaya. Tetapi berbeda dengan Qaynaya, karena dia tetap tersenyum dan memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badannya saat Rini melihatnya.
Qaynaya sangat sadar, kalau Rini adalah ibu mertuanya. Jadi mau bagaimanapun kondisinya, dia tetaplah harus sopan. Djani dengan cepat berjalan ke arah Qaynaya, seolah melindungi istrinya karena takut kalau Rini berniat untuk kembali menyakiti perasaan Qaynaya.
__ADS_1
Rini memang tidak bertindak kasar secara fisik, tetapi ucapannya selalu saja membuat hati Qaynaya terluka. Dan Djani tentu saja tidak mau kalau sampai hal itu kembali terjadi. Sasha terlihat bengong karena merasakan suasana yang terasa mencekam.
"Sasha, istirahatlah dahulu didalam kamar Djani" Rini berbicara seolah tidak mengganggap bahwa Djani telah mempunyai seorang istri.
"Apa mama gila?!" Djani tidak bisa menahan kemarahannya, lalu dengan cepat menarik tangan Qaynaya untuk masuk ke dalam kamar.
Bbllaaamm!!
Pintu kamar tertutup rapat dengan keras. Djani lalu mengunci pintu kamarnya dan segera bergegas menuju lemari untuk melanjutkan berkemas. Qaynaya terdiam dan mencerna apa yang baru saja dia lihat.
Tidak terasa air mata Qaynaya kembali jatuh tidak dapat dia bendung. Qaynaya sepertinya sudah tau situasinya, dan yakin bahwa wanita yang bernama Sasha itulah yang akan di jodohkan dengan Djani.
"Sangat cantik dan berkelas, wanita itu memang sangat pantas untuk Djani. Lalu apa yang aku punya?, aku benar-benar hanya mempunyai tubuh untuk mempertahankan Djani. Aku berusaha keras dengan bertambah kuat, tapi kuat untuk apa?, aku hanya bertambah kuat untuk melayaninya di ranjang, lalu aku berfikir itu bisa membuat Djani untuk tidak berubah. Aku sangat bodoh sekali, benar seperti yang dikatakan oleh mama Rini, kalau aku hanya bisa mengandalkan tubuhku, aku benar-benar sangat hina" Qaynaya berbicara dalam hatinya, lalu menghapus air matanya saat Djani melihat ke arahnya.
"Ada apa sayang?, apa kamu tidak bisa berjalan kemari" Djani dengan cepat lalu mendekati istrinya dan membopong nya menuju ranjang.
"Diamlah disini, aku yang akan berkemas" Djani memegang kepala Qaynaya dan mencium keningnya. Saat hendak kembali merapikan kopernya. Qaynaya menahan tangan Djani.
"Ada apa?" Djani duduk di samping Qaynaya, dia tau kalau istrinya pasti penasaran dengan Sasha.
"Aku tidak penasaran akan hal itu, karena lebih baik bagiku untuk tidak mengetahui apapun. Aku hanya berharap supaya kita tidak pergi dari sini saat ini" Qaynaya tidak mau memisahkan Djani dari keluarganya hanya untuk hidup bersama dengan dirinya. Qaynaya merasa kalau itu tidak sepadan untuk Djani.
"Aku hanyalah orang rendahan, saat ini Djani memang mencintai ku, tapi apakah hal itu tidak akan berpengaruh terhadap rumah tangga kami nantinya saat dia jauh dari keluarganya, aku tidak boleh egois" Qaynaya berbicara dalam hatinya sambil merebahkan kepalanya pada bahu sang suami.
"Kita harus pergi sayang, untuk apa kita berada di sini? aku tidak akan tenang saat bekerja meninggalkan dirimu dirumah bersama dengan mama yang tidak bisa menerima mu. Pada awalnya aku berharap kalian dekat seiring dengan berjalannya waktu, tapi aku tidak menyangka kalau mama akan bertindak seekstrim ini"
"Berikan aku waktu satu minggu saja, kalau dalam satu minggu ini, aku tidak sanggup lagi tinggal dirumah ini, maka kita bisa mencari cara lain" Qaynaya memohon pada Djani lalu menarik suaminya dalam pelukannya.
"Apa lagi yang bisa kita lakukan dalam satu minggu ini? bahkan mama sudah menyiapkan pernikahan ku besok siang. Tadinya aku tidak mau menceritakan tentang masalah ini, aku hanya ingin pergi dari sini dengan tenang" Djani semakin mendekap erat tubuh Qaynaya saat istrinya itu mencoba melepaskan diri darinya.
"Diamlah, jangan katakan apapun. Aku tidak mau mendengarkan omong kosong mu yang memintaku untuk menikah lagi. Itu tidak akan pernah terjadi, hanya kamu istriku"
"Mana mungkin aku meminta hal itu, kamu hanya milikku" Qaynaya melepaskan pelukan Djani.
"Aahhhh!" Qaynaya menjerit pelan karena suaminya mendorongnya sehingga dia terlentang di atas ranjang. Djani lalu menyelimuti tubuh istrinya dan memintanya untuk istirahat.
__ADS_1
"Istirahatlah, kalau bisa lebih baik kamu tidur dulu, setelah aku selesai berkemas, aku akan membangunkan mu, dan jangan membantah lagi" Djani membelai lembut rambut istrinya sebelum turun dari ranjang dan menyelesaikan berkemas.
Qaynaya terdiam dan memandanginya suaminya dari kejauhan. Hatinya masih terus bimbang dan tidak bisa tau harus dengan cara apalagi untuk bisa membuat Djani tidak mengambil langkah ini. Qaynaya tidak mau suatu saat akan ada penyesalan yang bisa membuat rumah tangganya tidak berjalan dengan baik.
Qaynaya mengingat dengan pernikahan nya yang memang dari awal tidak dilaksanakan dengan pondasi yang seharusnya. Mungkin karena itu pernikahan nya tidak berjalan dengan lancar. Bahkan dari awal, mungkin saja Rini tidak akan pernah menerima nya, apalagi sekarang saat dulu dia pernah menyakiti hati Djani.
Sangatlah benar apa yang di inginkan oleh Rini, sepertinya memang semua ibu, kebanyakan berharap anaknya mendapatkan pasangan yang bisa membuat aman dan nyaman dalam hal apapun. Terutama masalah finansial.
Tidak ada yang dimiliki Qaynaya, yang bisa dia pertahankan untuk terus bersama dengan Djani. Walau dia sempat berfikiran egois dengan tidak mau melepaskan Djani, tetapi saat ini dia harus berfikir untuk kebaikan suaminya.
"Sayang,, sayang" Djani sedikit mengguncangkan bahu Qaynaya, karena dari tadi istrinya itu tidak mendengarkan panggilannya. Qaynaya yang tengah melamun langsung bangkit dari tidurannya dan berjalan perlahan mendekati suaminya.
Djani telah menyelesaikan berkemas, dia mengajak Qaynaya untuk segera pergi saat ini juga.
"Bisakah kita pergi besok saja? ini sudah malam dan aku belum berpamitan dengan benar pada Neli"
Djani menghela nafas, sebenarnya dia tidak mau lebih lama lagi di rumah ini. Dalam waktu satu malam, sesuatu bisa saja terjadi pada Qaynaya.
"Baiklah, tapi jangan keluar dari dalam kamar, aku yang akan meminta pada Neli untuk masuk ke dalam sini. Kamu tunggu sebentar" Djani mengalah lalu segera keluar dari kamar untuk mencari Neli.
Saat Djani keluar dari kamar, Qaynaya dengan cepat mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Setelah mengetik sesuatu cukup lama, Qaynaya segera menyimpan kembali ponselnya, karena mendengar suara Neli dan Djani yang mendekat ke arah pintu.
Tidak lama Neli lalu masuk kedalam, tetapi Djani langsung keluar lagi dari dalam kamar, karena akan mengambilkan makanan untuk istrinya. Untung saja Qaynaya sudah menyelesaikan apa yang sedang dia rencanakan. Qaynaya sudah mengambil suatu keputusan, dia berharap keputusannya tidak terlalu banyak merugikan semua pihak.
"Sayang, jangan keluar dari dalam kamar. Pagi-pagi sekali kalian pergi saja, nenek selalu merestui pernikahan kalian. Dimanapun kalian berada, semoga kalian selalu bahagia. Qaynaya memeluk Neli sebagai tanda perpisahan.
Saat makan malam, Qaynaya terus memandangi wajah suaminya, hingga membuat Djani merasa ada suatu keanehan pada istrinya.
"Maafkan aku, semoga keputusan ku tidak terlalu menyakitimu terlalu lama. Hiduplah bahagia walau tanpa diriku. Aku ingin sekali bertahan dan memberikan diri untuk bersaing dengan wanita manapun, tetapi aku yakin itu hanya akan lebih menyulitkan dirimu. Kamu harus bersitegang dengan mama Rini hanya karena diriku. Jadi aku tidak boleh egois" Qaynaya menahan tangisannya, sambil terus menguatkan hatinya dengan terus berbicara dalam hati.
"Aku harus menyakitimu lagi, jadi aku harap kali ini kamu jangan lagi mencari ku atau bahkan memaafkan diriku" gumam Qaynaya dengan pandangan matanya yang tidak lepas dari suaminya, yang saat ini tengah mencuci tangan di dalam kamar mandi, sekalian membersihkan diri untuk bersiap tidur, karena hari sudah malam.
"Cucilah tangan mu dulu dan berganti baju, kita harus tidur lebih awal, karena besok pagi sekali kita harus pergi dari sini" ujar Djani sambil membereskan nampan berisi bekas makan malam mereka.
Malam telah larut, jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Qaynaya yang sebenarnya tidak bisa tidur sama sekali, memandangi kembali wajah Djani sebelum dia turun dari ranjang dengan pelan.
Qaynaya mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk, setelah memastikan bahwa yang menjemputnya telah siap tidak jauh dari rumah, Qaynaya lalu mengendap-endap keluar dari dalam kamar. Sangat sunyi sekali, jadi dengan mudah Qaynaya sudah berada di luar rumah.
__ADS_1
"Maaf Doni, aku hanya bisa menghubungimu, aku tidak tau lagi mau meminta tolong pada siapa. Aku berjanji akan membalas kebaikanmu, sekarang ayo cepat pergi sebelum Djani menyadari kepergian ku" Qaynaya berjalan dengan cepat mengikuti langkah kaki Doni.
"Ini tidak benar,, tetapi aku tidak mempunyai cara lain lagi, selamat tinggal sayangku Djani" Qaynaya menoleh sebentar untuk memandangi rumah Djani.