
"Kedengarannya masih sangat sepi sekali, apa mereka belum juga bangun?" Rini lalu mengetuk pintu kamar Djani. Tidak lama pintu terbuka dan terlihat senyum manis terukir di wajah sang pembuka pintu.
"Pagi ma, Djani sedang mandi. Dia mengatakan hari ini akan mengantarkan ku menjenguk kedua orang tuaku. Maaf aku baru mengatakannya, boleh kan ma?"
"Qay, apa kamu baik-baik saja?"
"Tentu saja ma, memang apa yang bisa terjadi padaku? aku kan bersama dengan suamiku. Maaf karena tadi malam aku ketiduran dan tidak sempat keluar dari kamar, maaf karena membuat mama khawatir"
"Tidak apa-apa sayang, sekarang ayo kita sarapan, panggil dulu suamimu. Mama tunggu di meja makan"
Qaynaya kembali masuk kedalam kamar untuk menunggu suaminya selesai mandi. Saat menunggu, Qaynaya duduk diatas sofa dan membuka ponselnya. Banyak pesan yang belum sempat dia baca.
Rani dan Serli yang marah karena dia tidak juga mengunjungi mereka. Ada juga pesan dari Qinanti yang meminta pada Qaynaya supaya membuka blokiran pada nomor ponsel Lilis.
Qaynaya sengaja memblokir nomor Lilis, bukan karena ingin memutuskan hubungan atau apapun itu istilahnya. Qaynaya hanya sangat takut kalau Lilis akan kembali membuat masalah.
"Aku harus menghadapinya" gumam Qaynaya lalu membuka blokiran pada nomor ponsel Lilis.
"Qay,, apa yang terjadi padamu? aku mendapatkan kabar dari Doni kalau kamu berniat kabur dari Djani? sekarang katakan kamu dimana?! aku akan segera menjemputmu. Kenapa kamu begitu susah dihubungi?!,, apa Djani menyakitimu, cepat katakan dimana sekarang dirimu!!" Serli menelepon karena mengetahui nomor Qaynaya yang sedang aktif.
"Tenang Ser,, aku baik-baik saja. Aku berada di rumah suamiku, maaf karena belum sempat memberi kabar. Terjadi sedikit masalah, tapi sekarang semuanya sudah selesai"
"Cepat katakan, sekarang aku akan kesana!"
"Nanti siang aku akan kerumah ku, setelah dari sana aku akan ke rumah Rani. Aku belum menengok anaknya, bagaimana kalau nanti kita ketemuan disana?"
"Baiklah aku tunggu disana, awas jangan bohong. Doni sekarang tinggal dirumah ku, tidak masalah kan kalau nanti dia ikut?"
"Kenapa dia ada dirumah mu? bukankah kamu memiliki kekasih, bagaimana kalau kekasih mu tidak suka?" Qaynaya merasa heran dengan situasi yang tidak dia duga.
"Aku sudah lama putus"
"Baiklah tunggu aku nanti ya, bye" Qaynaya menutup panggilan telepon di ponselnya karena melihat Djani yang keluar dari dalam kamar mandi.
"Sayang,,, aaakkkkkhhhh!" Qaynaya berjalan mendekati suaminya, berniat membantu menyimpan kembali handuk yang dipegang oleh Djani. Tapi belum sempat niatnya terlaksana, Djani berjalan cepat kearahnya dan langsung mendorong tubuhnya ke atas ranjang.
"Sayang,, uuhhmmm" Qaynaya memejamkan matanya begitu Djani melahap bibirnya, tapi tangannya mendorong tubuh Djani. Berusaha mengingatkan suaminya kalau hari sudah semakin siang, mereka harus sarapan, lalu bersiap untuk pergi ke rumah Lilis.
Tapi Djani tidak membiarkan istrinya mengatakan apapun, setelah mendorong istrinya sampai terduduk di tepi ranjang, Djani langsung melahap bibir Qaynaya.
Dengan kekuatannya, Djani mendorong Qaynaya hingga terlentang di atas ranjang, tanpa melepaskan ciumannya. Djani membuka jubah mandinya dan langsung melucuti pakaian istrinya yang sudah rapi. Qaynaya berusaha berontak.
"Sayang, tenangkan dirimu. Ada apa sayang,, cepat katakan dulu, aahhh!" Qaynaya tidak lagi bisa bergerak, karena kedua tangannya telah dicekal oleh Djani.
"Sayang, apa kamu lupa kalau kita harus segera pergi?, Kita lakukan lagi hal ini nanti malam. Sekarang kita bersiap dulu lalu sarapan. Mama Rini sudah menunggu dari tadi" Qaynaya tidak bisa lagi bergerak, karena Djani menindihnya.
"Apa kamu merindukan mantan suamimu?!!" Djani terlihat sangat marah dan tanpa peringatan, kembali menancapkan miliknya pada bagian inti istrinya.
"Aaahhh!! sayang tenang,, ini sakit,, lakukanlah perlahan" Qaynaya bergetar hebat menahan rasa sakit.
Tok tok tok tok tok
"Qay, ada apa?? kenapa kamu berteriak?!" Rini yang awalnya ingin memanggil kembali Qaynaya dan Djani, mendengar teriakan Qaynaya karena Rini sedang berada di depan pintu.
"Sayang tenang, lepaskan aku dulu, pintunya tidak dikunci. Lagipula ini sakit sekali, kita baru selesai melakukannya tadi sebelum ketiduran saat menjelang pagi" Qaynaya tidak bisa lagi berkata-kata, karena Djani menutupi tubuh mereka dengan selimut, tepat saat Rini membuka pintu.
Sudah tentu Rini kaget lalu kembali menutup pintu karena menyadari apa yang terjadi.
"Ada apa lagi ini? kenapa Djani kembali menyiksa istrinya" Rini cemas lalu kembali ke ruang makan, dimana Rega sudah selesai sarapan terlebih dahulu, karena terlalu lama menunggu Djani dan Qaynaya.
"Ada apa?" Rega melihat kearah Rini yang terlihat begitu sedih.
"Djani terus menyiksa Qaynaya. Aku takut kalau Qay tidak akan tahan dengan kondisi Djani yang terus seperti ini"
"Mungkin kamu yang terlalu berlebihan, mereka itu kan masih muda, lagipula mereka adalah pasangan pengantin baru, sudah pasti hubungan mereka sedang panas-panasnya" Rega mendekati Rini dan mengusap lembut kedua bahu istrinya.
"Ini berbeda, aku sangat yakin akan hal itu" Rini tiba-tiba melamun, memikirkan kemungkinan Djani yang sangat parah mengidap traumanya.
Kembali ke dalam kamar, dimana Djani masih saja menggagahi istrinya. Qaynaya mencengkeram erat punggung suaminya saat suaminya menyemburkan cairan kenikmatan.
__ADS_1
"Djani tenang sayang,, ada apa?, jangan seperti ini terus. Kita bisa bicarakan dulu baik-baik, aku tidak akan tau apa kesalahanku padamu kalau,, uuhhmmm" Djani kembali membungkam mulut istrinya. Qaynaya pasrah dan menerima, tidak mau menyia-nyiakan tenaganya yang sebenarnya memang sudah habis.
"Jangan tinggalkan aku" bisik Djani saat melepaskan ciumannya dan melihat Qaynaya yang terdiam tidak bergerak atau kembali menolak nya. Djani menghapus keringat Qaynaya dan menciumi wajah letih istrinya itu. Sebelum turun dari tubuh istrinya, Djani menggigit pipi Qaynaya.
"Aakkhh!!" Djani menjerit karena Qaynaya yang sedari tadi memejamkan matanya, tiba-tiba membuka mata dan menggigit dagu nya.
"Kita tidak jadi pergi, sekarang istirahat dulu. Aku akan mengambilkan makanan untukmu" Djani tidak tertawa seperti biasanya saat Qaynaya menggigitnya. Merasa ada keanehan, walau dengan menahan rasa sakit, Qaynaya menarik kembali tubuh Djani yang hendak bangun untuk mengambil makanan.
Tubuh Djani terjerembab dan kembali menindih tubuh Qaynaya.
"Aakkhh!" Qaynaya kaget dan memejamkan matanya, untungnya Djani bisa menyeimbangkan tubuh, dan langsung mengangkat tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya.
"Ada apa? mau lagi?" tanya Djani menatap tajam kearah Qaynaya yang masih terpejam karena terkejut. Qaynaya membuka matanya lalu menggeleng dan memegangi kedua pipi suaminya.
"Kenapa? apa yang membuatmu marah?" tanya Qaynaya lembut, hatinya terasa sakit melihat sorot mata Djani yang sangat terlihat marah padanya.
"Kenapa kamu membicarakan tentang mantan suamimu? apa kamu merindukan mantan suamimu itu?" Djani mencengkeram erat seprai, menahan amarahnya. Sebelum keluar dari dalam kamar mandi, tadi Djani mendengarkan percakapan Qaynaya di ponsel nya yang terdengar jelas menyebut nama Doni.
"Kenapa membicarakan pria lain diatas ranjang kita? bukankah kamu tidak menyukai saat aku membicarakan wanita lain? aku juga tidak suka kamu melakukan hal itu" Qaynaya menarik tubuh Djani, supaya bisa mendekapnya.
"Apa yang harus aku buktikan? kamu tau dengan pasti kondisi ku saat menikah dengan mu. Aku menjaga milikku yang paling berharga karena ingin mempersembahkan nya untukmu, kalau aku mempunyai perasaan terhadap Doni, untuk apa aku melakukan itu semua?" Qaynaya semakin mempererat pelukannya.
"Maaf karena membuatmu kembali mengingat kesakitan mu dulu. Tapi tolong percayalah padaku, aku sangat mencintaimu" Qaynaya melepaskan pelukannya. Djani turun dari tubuh Qaynaya dan merapikan rambut istrinya.
"Ada banyak sekali yang aku takutkan, dan yang paling aku takutkan adalah kehilanganmu" Djani membelai lembut wajah Qaynaya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu lagi, kecuali kamu yang meminta padaku untuk pergi"
"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu, bukankah kamu juga tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku masih tidak mengerti, kenapa aku mempunyai trauma akibat depresi?, Aku merasa baik-baik saja, apa salahnya aku terus menyentuh tubuh istriku yang sangat aku cintai?" Djani mengecup bibir Qaynaya.
"Lalu kenapa kamu tidak percaya padaku? dulu saat kita berpacaran, kita bahkan jarang bertemu, tapi kamu selalu percaya padaku, kenapa sekarang saat aku selalu berada di sisimu, tapi kamu malah tidak mempercayaiku?"
"Itu karena kamu pergi dengan pria lain"
"Bukankah sudah aku jelaskan alasannya?" Qaynaya menggenggam tangan suaminya yang hendak membelai dadanya. Qaynaya kembali menjelaskan niatnya untuk menjodohkan Zahra dan Doni.
"Aku sangat ingin sekali hidup bersama denganmu selama nya, bersama dengan anak-anak kita nantinya. Aku yakin bisa hidup bahagia" Djani menunjukkan wajah sedihnya, lalu masuk dalam dekapan Qaynaya.
"Jangan egois sayang, kamu memiliki orang tua dan nenek yang sangat menyayangimu. Mereka akan kesepian tanpamu, tapi untuk masalah ini, bukankah kita sudah tidak perlu khawatir lagi, karena mama Rini sudah menerima diriku" Qaynaya membelai lembut rambut suaminya dan menggesek kan dagunya pada kepala sang suami.
"Aku sekarang menjadi penerus ayah, akulah yang kedepannya harus bertanggung jawab pada semua perusahaan milik keluarga,," Djani terdiam untuk sesaat, dia masih bimbang untuk menceritakan tentang masalah ini sekarang atau nanti.
"Bukankah memang seharusnya seperti itu?" Qaynaya bingung dan tidak mengerti. Djani semakin mendekap erat dada sang istri, bahkan kembali membuat sebuah tanda merah.
"Ahhh" rintihan Qaynaya terdengar. Djani tidak berhenti sampai di situ, lalu kembali minum dari sumbernya.
"Sayang, jelaskan dulu,, eehhmm" Qaynaya menggeliat merasakan lidah suaminya yang memainkan pucuk gunung kenyalnya. Dan Djani tidak mungkin berhenti sebelum melihat istrinya kejang.
"Kamu juga tau sendiri kalau aku sengaja menjauh dari keluarga ku saat aku kuliah. Aku menjaga jarak dan ingin hidup mandiri, supaya bisa terbebas dari kewajiban untuk menjadi penerus ayah. Aku ingin hidup sederhana bersamamu, hidup sebagai seorang penerus perusahaan sungguh sangat tidak aku harapkan" Djani lalu mensejajarkan wajah nya dengan wajah Qaynaya. Mereka saling berpandangan, wajah memerah Qaynaya kembali terlihat, Djani tersenyum senang melihatnya.
"Konglomerat atau apapun itu istilahnya, kehidupan mereka lebih berat dari kehidupan orang biasa. Aku takut kalau sampai kamu tidak kuat untuk menghadapi nya bersamaku. Itulah sebabnya aku tidak menjelaskan padamu dengan jujur dari dahulu. Aku berharap dengan aku tidak perlu menjadi penerus ayah, maka kenyataan bahwa aku adalah seorang konglomerat pasti tidak akan diketahui oleh siapapun" Djani menjelaskan sambil membelai lembut wajah memerah Qaynaya.
"Tapi kemudian aku masuk ke perusahaan dan meminta banyak bantuan dari ayah, jadi aku tidak bisa lagi untuk lari dari kewajiban ku" Djani mengingat saat dia akhirnya dia memasuki perusahaan ayahnya untuk bekerja. Djani bahkan banyak memakai uang keluarga yang selama ini tidak pernah dia lakukan, karena merasa cukup dengan gajinya saat bekerja di perusahaan yang sama dengan Doni dulu.
Tapi Djani yang membutuhkan banyak biaya untuk balas dendam kepada Qaynaya, lalu menggunakan uang tabungan keluarga untuk membeli perusahaan tempatnya bekerja dulu, lalu untuk membeli juga perusahaan tempat Qaynaya bekerja.
Tidak cukup sampai di situ, Djani kembali membeli perusahaan tempat Qaynaya bekerja saat melarikan diri dan tinggal di pinggiran kota. Sangat banyak sekali uang yang dia pakai, jadi Djani yakin kalau tidak akan bisa lepas dari kewajiban, untuk suatu saat nanti menggantikan kedudukan ayahnya.
"Mama Rini sudah menerima diriku, jadi aku tidak akan sungkan lagi untuk menjadi seorang nyonya Djani. Aku akan menemani dan mendukungmu selamanya" Qaynaya berkata mantap lalu mencium kening suaminya.
"Kehidupan akan sangat keras sayang, dimana orang saling jegal dan bisa saja saling menghancurkan. Aku tidak mau kalau sampai kamu menjadi sasaran amarah dari rival bisnis dan pekerjaanku nantinya" Djani kembali membelai lembut wajah Qaynaya. Dia sungguh takut kalau Qaynaya berada dalam bahaya, tapi untuk jauh dari Qaynaya, Djani juga tidak sanggup.
"Aku kuat sayang,, kamu juga tau dengan pasti siapa diriku. Aku wanita kuat, kalau aku tidak berani menghadapi mama Rini saat beliau tidak menerima ku, itu karena aku sadar dengan situasinya. Mama Rini adalah wanita nomor satu selamanya yang harus kamu lindungi dan kamu dengarkan setiap perkataannya. Beliau adalah ratu dirumah ini, wanita seperti diriku tidak pantas untuk melawannya. Tapi sekarang aku sudah diterima oleh mama Rini, jadi aku adalah nona,, ahahaha,, aku geli sendiri dengan sebutan itu" Qaynaya tertawa geli setelah mengucapkannya.
"Aku pasti sanggup menghadapi siapapun yang berani mengganggu ketentraman keluarga kita, karena aku memiliki suami keren seperti dirimu. Jadi jangan memikirkan atau menghawatirkan keadaan apapun yang nantinya belum tentu terjadi" Qaynaya berhenti berbicara karena Djani terus menatap wajahnya.
"Mereka bisa sangat kejam, dan pandai sekali memutar balikkan fakta. Mereka bahkan bisa membuat yang ada menjadi tidak ada atau sebaliknya, hanya untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan" Djani kembali mendekap kepala istrinya, mencoba untuk menguatkan hatinya.
"Aku tau itu sayang, dan aku pasti akan berusaha untuk bisa segera beradaptasi dengan kehidupanmu. Percayalah padaku, dan jangan khawatirkan hal apapun lagi. Aku sudah sering membaca novel dengan tema seperti itu. Ada kalanya tokoh wanita miskin yang menikah dengan seorang pria kerajaan yang sangat berkuasa, dan tentu saja kaya raya. Awalnya wanita itu juga tidak mengetahui identitas sang pria, dengan banyaknya rintangan, akhirnya mereka bisa bersatu seutuhnya dan hidup bahagia. Aku juga pasti bisa, aku akan meniru cara wanita itu bertahan pada lingkungan keluarga suaminya. Yang terpenting adalah, wanita itu begitu dicintai oleh suami dan seluruh keluarga besarnya. Karena kamu juga mencintaiku dan semua keluarga mu juga telah menerimaku. Maka aku juga pasti bisa" Qaynaya melamun mengingat novel yang pernah dia baca.
__ADS_1
Qaynaya memang sangat menyukai membaca novel atau komik, seringkali hal itu bisa menjadi pengobat rasa kesepiannya dulu.
Qaynaya menerawang jauh mengingat kembali saat dia sedang membaca novel dan komik, tanpa Qaynaya sadari, dia mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya, entah hal apa yang sedang dia ingat.
"Hahahaha,, dasar imut!" Djani yang mendengarnya tertawa lalu menggigit kedua pipi Qaynaya karena gemas.
"Ayo kita mandi lalu sarapan" ajak Djani lalu mengangkat tubuh istrinya. Mereka mandi bersama sambil bercerita ringan, sesekali mereka tertawa dan bercanda. Setelah memakai pakaian, mereka segera keluar dari dalam kamar.
"Hhaahhhh!!" kedua insan manusia yang sedang bercanda ria sembari membuka pintu itu terlonjak kaget begitu membuka pintu.
"Mama!!" mereka kembali berteriak bersama. Bagaimana tidak terkejut, Rini duduk disebuah kursi yang diletakkan di depan pintu kamar Djani dan Qaynaya.
"Kenapa kalian baru keluar?!" Rini langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Qaynaya. Setelah memeriksa kondisi wajah dan tubuh menantunya, Rini bernafas lega dan kembali menjatuhkan tubuhnya keatas kursi dengan lunglai.
"Mama pikir aku akan menyiksa dan menyakiti istri ku? tidak mungkin ma,, istri ku adalah hidupku, bagaimana mungkin aku membahayakan dirinya" Djani melingkarkan tangannya pada pinggang Qaynaya yang hendak mendekati Rini.
"Tidak mungkin apanya? masih tidak mengakuinya, bahkan setelah mama sendiri yang memergokinya" Rini lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan. Rini sangat yakin kalau Djani dan Qaynaya pasti kelaparan.
"Aku tidak menyiksanya ma,, aku mencintainya dengan kadar berlebih"
"Halah gombal" Rini dan Qaynaya berbicara berbarengan.
"Kalian sangat kompak sekali, apa kedepannya kalian akan terus membully diriku?" tanya Djani sambil mengambilkan sepotong roti untuk istrinya.
"Tentu saja!!!" Rini dan Qaynaya kembali berbicara bersama, mereka semua lalu tertawa gembira.
"Bisa tidak Qay untuk jangan dulu ke rumah mamamu?" Rini berkata pelan, dia masih ingat dengan kejadian saat bertemu Lilis.
"Kenapa ma? aku sudah lama tidak bertemu dengan ayah, aku merindukan dan menghawatirkan nya" Qaynaya meletakkan kembali roti yang sedang dia gigit.
Djani juga ikut melihat kearah Rini, untuk mencari tau, kenapa Rini meminta hal itu pada Qaynaya. Saat Rini hendak berbicara lagi, Djani memberikan kode untuk berhenti.
"Mungkin mama masih khawatir dengan kondisi mu sayang, bukankah kamu masih sakit?" Djani menyuapi Qaynaya roti bekas gigitannya.
Hap, nyam-nyam. Qaynaya mengunyah dan kembali mengambil rotinya sendiri. Djani tiba-tiba meminta pada Qaynaya untuk menyuapinya.
"Kan kamu punya sendiri" Qaynaya menggigit rotinya dan tidak memperdulikan keinginan Djani, dia sangat kelaparan karena terus digempur oleh suaminya itu. Tapi bukan Djani kalau menyerah begitu saja, dengan cepat Djani mendekati Qaynaya dan menggigit roti yang masih dalam gigitan istrinya tersebut.
Karena Roti yang tinggal sedikit, dan Djani menggigitnya sampai habis, jadi bibir mereka bersentuhan. Qaynaya membelalakkan matanya melihat ulah suaminya. Dengan cepat Qaynaya memundurkan kepalanya dan terbatuk-batuk karena kaget.
Djani dengan cepat memberikan istrinya minum. Rini melongo melihat adegan didepan matanya.
"Jangan pikir kalian yang memiliki dunia ini, membuat nafsu makan mama hilang saja, huuuhhh" Rini bangkit dari duduknya dan pergi menuju ke arah ruang keluarga. Tapi bibirnya tersenyum, dia menyadari kalau Djani tengah berusaha mengalihkan perhatian Qaynaya mengenai larangan dari nya untuk jangan dulu berkunjung ke rumah Lilis.
"Tarik kontrak kerja sama dengan perusahaan PT Djani Karya TBK, ajak juga semua sekutu kita untuk melakukan hal yang sama. Sudah saatnya kita menghancurkan perusahaan terbesar itu, supaya perusahaan kita berkembang tanpa naungannya, hingga nantinya kita semua bisa menggulingkan perusahaan itu secepatnya" ucap seorang pria yang sedang mengerakkan pinggulnya maju mundur.
"Terimakasih sayang ku,, bergerak perlahan sayang, ini menyakitkan. Aahhhh,, kamu begitu pandai" terdengar rintihan dari bibir seorang wanita.
"Akan aku lakukan apapun semua keinginan mu, asalkan kamu selalu siap untuk menjadi partner ranjang ku. Lagipula aku juga mempunyai dendam pribadi pada perusahaan itu"
"Baguslah,, akkhhh" jawaban dibarengi rintihan kembali terdengar.
"Aku tau kalau kamu sudah sangat pandai dalam hal ini, jadi jangan berpura-pura polos, sekarang cepatlah kamu yang bergerak"
"Dasar aki-aki nakal, baiklah karena kita sudah saling memahami, kita bisa dengan mudah saling membantu dan memanfaatkan"
__ADS_1