
"Keluar semuanya dari sini!" teriak Djani dengan tangan nya yang terus memegangi tangan Qaynaya.
"Jangan seperti ini Djani, bicarakan dulu baik-baik" ujar Serli menenangkan Djani, dia tidak mau kalau Qaynaya kesakitan karena Djani.
"Aku bilang keluar!!" Djani sudah dipenuhi amarah, dia dengan jelas melihat istrinya yang tengah tertawa bercanda bersama Arka.
Sebelum membuka pintu ruangan tersebut, Djani telah melihat dulu dari kaca yang ada dipintu, awalnya dia ingin memastikan Qaynaya benar-benar ada didalam ruangan itu atau tidak, ternyata yang dia lihat membuatnya kesal, lalu Djani langsung membuka pintu dengan cepat, Djani tidak suka melihat istrinya tertawa bersama pria lain, walaupun mereka tidak hanya berdua, tetapi terlihat jelas kalau Arka hanya focus melihat pada Qaynaya.
"Ada apa ini sebenarnya? apa hubungan kalian? walaupun perusahaan ini sekarang adalah milikmu, tapi kamu harus tau aturan!" Arka mencoba menarik tangan Qaynaya yang satu lagi, tapi Qaynaya langsung menjauhkan tangannya dari jangkauan Arka.
Arka sepertinya mengenali Djani dari suaranya di ponsel, karena tadi pagi sempat berbicara dalam sambungan telepon, Arka juga telah melihat foto Djani sebagai direktur utama perusahaan yang baru yang dikirimkan padanya oleh direktur utama yang lama, walau saat ini penampilannya terlihat berbeda.
"Qaynaya adalah istri ku, jangan berani menyentuhnya!" teriak Djani, yang tentu saja kembali membuat semua orang menjadi kaget seperti kemarin, saat kedatangan Doni.
"Apa?!,, jangan mengaku sebagai suami nya,, kemarin juga ada orang yang tidak tau malu seperti dirimu dan mengakui Qay sebagai istrinya" Arka kembali berusaha untuk membantu Qaynaya melepaskan tangan nya dari cengkeraman tangan Djani, tetapi kali ini pun, Qaynaya kembali menjauhkan tangan nya, dan mengatakan sesuatu yang membuat Arka terdiam.
"Dia memang suamiku" Qaynaya melihat kearah Arka dan Zahra, supaya mereka percaya dengan apa yang dia katakan.
Mendengar ucapan Qaynaya membuat Arka kaget dan melihat ke arah Qaynaya untuk melihat apakah wanita yang selama ini disukai nya itu serius dengan ucapannya atau tidak.
"Apa kamu bercanda?" tanya Arka kembali bertanya untuk meyakinkan hatinya, saat terlihat Qaynaya mengangguk, Arka lalu keluar dari ruangan itu dan di ikuti oleh yang lainnya.
"Lepaskan!" Qaynaya berteriak mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Djani, sekarang mereka hanya tinggal berdua saja di dalam ruangan.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, sekarang jelaskan,, kenapa kamu bersama pria lain dan bahkan tertawa serta bercanda bersamanya, sementara aku kebingungan mencari mu selama ini!"
"Aku bekerja di sini, mereka teman dan atasanku,, lagi pula apa urusanmu,, lepaskan!!" Qaynaya lalu menggigit tangan Djani supaya dia bisa terlepas dari cengkeraman tangan suaminya.
Saat Qaynaya berbalik badan hendak berlari, Djani dengan cepat menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya, lalu dengan sedikit menarik tubuh Qaynaya, Djani menuju pintu dan menguncinya, tidak lupa menutup kaca yang ada dipintu itu dengan sapu tangan yang ada di saku nya, Djani lalu mendorong tubuh Qaynaya kembali menuju sofa.
"Kamu bertanya apa urusanku? apa kamu lupa kalau kamu itu istriku!" Djani berusaha keras menahan Qaynaya yang terus berontak.
"Tenang Qay!" Djani merasakan sakit di dada nya karena terbentur bahu istrinya yang dari tadi berontak, berusaha untuk lepas dari pelukannya.
"Jangan sentuh aku,,, lepaskan!" Qaynaya semakin berontak karena bibir Djani mendekati leher belakangnya.
"Aku suamimu, aku berhak melakukannya"
"Hak mu sudah hilang saat kamu menikah lagi, sekarang lepaskan atau aku akan menggigit lidahku sendiri!" teriak Qaynaya mengancam Djani.
Djani langsung melepaskan Qaynaya karena dia takut istrinya benar-benar melakukan ancaman yang tadi dia katakan, Djani ingat dulu Qaynaya pernah menyayat pergelangan tangannya karena disentuh oleh Doni.
"Aku tidak pernah menikah lagi Qay, apa kamu tidak melihat berita?" tanya Djani pelan saat Qaynaya terlepas dari pelukannya, Qaynaya menghentikan langkahnya saat dia sampai didepan pintu keluar.
Qaynaya terdiam untuk sesaat tetapi dia langsung berniat membuka pintu dengan memutarkan kuncinya, sepertinya dia belum percaya atau belum siap bertemu lagi dengan suaminya, tapi belum sempat pintu terbuka, Djani telah menangkapnya kembali, dan menahan pintu supaya tidak terbuka.
"Kalau kamu tidak suka berbicara, aku akan menuruti nya, dan kalau kamu juga tidak mau mendengarkan penjelasan ku maka aku tidak akan menjelaskan apapun" Djani lalu kembali mengunci rapat pintu itu dan langsung mematikan lampu di ruangan itu.
Sangat gelap, tapi tetap tidak segelap hati Djani selama ini karena ditinggalkan oleh Qaynaya.
__ADS_1
"Aaaaahhhh" Qaynaya kaget karena Djani mendorong tubuhnya keatas sofa, tidak ada waktu bagi Qaynaya untuk berteriak minta tolong atau kabur, Djani telah membekap mulutnya, Djani juga telah mencengkeram erat kedua tangan Qaynaya yang terus memukuli dadanya.
"Tenang sayang,,, kamu tidak mau membuat keributan disini kan?" bisik Djani.
"Lepaskan aku,,, aku mohon" terdengar isakan dari istrinya itu, Djani tidak tega mendengar nya, tetapi dia harus bisa menenangkan istrinya dulu.
"Apa kamu sudah melupakan ku?" tanya Djani yang kini bibirnya telah berlabuh di leher Qaynaya, tidak terdengar jawaban dari istrinya dan hanya isakan nya yang terus terdengar.
Djani mengambil ponsel di saku celananya, tubuhnya masih berada di atas tubuh Qaynaya, dengan bertumpu pada kedua lututnya, Djani kesusahan membuka kode ponsel nya karena menggunakan satu tangan, setelah ponselnya terbuka, Djani mencari videonya saat pembatalan pernikahan nya dengan Kaela.
"Lihatlah baik-baik sayang" ujar Djani lalu mengarahkan ponselnya pada istrinya yang masih dalam kungkungannya, tidak bisa bergerak.
Qaynaya terdiam dan tidak lama menangis, Djani langsung melepaskan ponselnya lalu menutup mulut istrinya itu, karena mereka sedang berada di kantor, dan diluar pasti masih ada orang penasaran dengan apa yang terjadi didalam ruangan, karena Djani dan Qaynaya tidak juga keluar dari ruangan rapat sedari tadi.
"Jangan menangis, nanti orang mengira aku melakukan KDRT" bisik Djani, lalu mengganti tangannya yang menutup mulut istrinya dengan bibirnya, mata Qaynaya masih terus mengeluarkan air mata, dia tidak menyangka dugaannya ternyata salah, dia pikir suaminya telah mengkhianatinya.
Karena dirasa Qaynaya tidak akan berontak lagi, Djani melepaskan pegangan tangannya lalu menggunakan tangannya untuk menghapus air mata Qaynaya, bibir mereka masih terus saling menyesap, kini Qaynaya sudah membalas ciuman suaminya karena sudah tau yang sebenarnya.
Djani melepaskan ciumannya lalu membelai lembut wajah Qaynaya, mereka saling berpandangan walaupun dalam kegelapan, hanya ada sedikit cahaya dari ponsel Djani disebelah kepala Qaynaya yang belum juga padam, karena video itu terus diputar berulang.
"Apa kamu sudah percaya?" tanya Djani lembut dan kembali mengecup bibir Qaynaya.
"Apa kamu tidak berbohong?" tanya Qaynaya masih berusaha untuk meyakinkan hatinya.
"Itu sudah sangat jelas, apalagi yang kamu ragukan?" jawab Djani yang tiba-tiba membuka resleting celananya.
"Apa yang kamu lakukan?" Qaynaya terlihat panik saat menyadari suaminya yang telah menurunkan celana, bahkan sekarang tengah berusaha membuka bajunya.
"Kosongkan kantor saat ini juga, sisakan security" perintah Djani pada Arka yang tentu saja membuat hati Arka semakin sakit, dia adalah pria dewasa, dia paham apa yang akan dilakukan Djani dengan meminta hal itu.
Untuk sekejap Arka berniat membuka paksa pintu ruangan rapat yang didalamnya ada Djani dan Qaynaya, tetapi Gea menghalangi nya, dan mengatakan pada Arka untuk sadar.
"Mereka suami istri, kamu tidak berhak melakukan apapun, dan kamu juga harus ingat kalau Djani sekarang adalah pemilik perusahaan ini, kamu baru saja menjadi pemimpin disini, apa kamu mau mengacaukannya?,, kamu harus mengingat masa depan mu sendiri, buka mata dan hatimu, Qay sudah milik orang lain"
"Kenapa dia tidak pernah bilang kalau dia mempunyai suami saat ini? dia hanya berkata kalau dia sudah bercerai,, itu pasti karena dia mempunyai alasan tersendiri, bisa saja sekarang Qay sedang membutuhkan pertolongan, aku harus segera membantu nya" Arka masih saja berusaha untuk bisa menuju Qaynaya.
"Ini adalah alasannya" Serli menunjukkan sebuah video, dan itu adalah video yang sama yang tadi diperlihatkan oleh Djani pada Qaynaya.
"Qay salah paham dan kabur, Djani mencarinya selama ini, dan memang benar bahwa Qay pernah bercerai, tapi itu dengan suaminya yang dahulu, Djani adalah suami Qay saat ini,, aku tidak tau apa yang sedang terjadi padamu, tetapi aku yakin kalau kamu tidak punya kesempatan sedikitpun,, jangan lah kamu berharap pada Qay lagi, dan jika kamu mempunyai perasaan terhadap dirinya maka sudahi dan hapus mulai saat ini juga,, karena Qay dan Djani sudah saling mencintai sejak lama,, sekarang umumkan pada semua untuk segera pulang, biarkan pasangan suami istri itu menyelesaikan masalah mereka" ujar Serli pada Arka.
Arka diam dan langsung melepaskan pegangan tangan Gea, dengan langkah lunglai, dia bergegas pergi dari kantornya, semua orang juga mengerti yang sedang terjadi, mereka lalu meninggalkan tempat itu.
"Apa ada masalah lain nyonya? katakan sesegera mungkin, karena saya akan mengurusnya, supaya tidak ada alasan apapun lagi" ucap Djani pada Qaynaya, lalu semakin mempererat kungkungannya.
"Lepaskan aku,," Qaynaya kembali berontak mengingat Djani yang menyembunyikan status dirinya yang merupakan anak seorang konglomerat.
"Ada apa lagi sayang??,, diamlah,,, aku sangat merindukanmu" Djani membuat tanda merah di leher Qaynaya.
"Aaaaahhh,, leeepppaskan" Qaynaya merintih.
__ADS_1
"Kenapa terus menolak diriku?!" Djani menjadi kesal karena istrinya terus menolak sentuhannya.
"Kenapa kamu menyembunyikan identitas mu? aku pikir kamu,,, hheeemmmpppp" Qaynaya kembali berusaha mendorong Djani yang tiba-tiba mencium bibirnya.
"Djani,, leeepppaskan" Qaynaya berhasil lepas dari ciuman Djani dan menahan bibir suaminya itu yang kembali berusaha untuk mencium bibirnya.
"Identitas apa maksudmu?" suara Djani sudah sangat berat, dan nafasnya terdengar sangat memburu.
"Kamu tidak pernah bercerita tentang identitas mu sebagai anak seorang konglomerat,, aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini, tolong lepaskan aku" Qaynaya mendorong kepala Djani yang terus mencumbui dirinya.
"Apa yang kamu katakan!!" suara Djani terdengar marah, dan menjadi lebih tidak terkendali, Djani marah mendengar apa yang dikatakan oleh Qaynaya, dengan sedikit memaksa Djani melahap habis bibir istrinya, dan kembali mencengkeram erat kedua tangan istrinya itu, karena dari tadi dipakai Qaynaya untuk menutupi wajahnya, sehingga membuat Djani tidak leluasa untuk menciumi wajah istrinya tersebut.
"Panggil aku dengan benar" Djani menekan dada istrinya dengan tubuhnya, Qaynaya bergetar karena sentuhan dari suaminya yang membuat tubuhnya juga sebenarnya menginginkan lebih, tapi Qaynaya mencoba untuk menjaga kewarasannya, dia harus ingat bahwa dia berbeda kasta dengan Djani.
"Djani sadarlah!!"
"Aku bukan Djani,, aku adalah suamimu,, panggil aku dengan benar!" Djani sepertinya semakin kesal karena Qaynaya tidak juga membiarkan dirinya menyentuhnya.
"Aku orang biasa seperti mu,, lalu apa yang membedakan kita?? tidak ada Qay,,, aku sangat mencintaimu,, itu kenyataannya"
"Kita berbeda Djani, aku tidak pantas untuk mu, orang tuamu pasti berharap mempunyai menantu yang sepadan denganmu, kita sudahi sampai disini, anggap kamu tidak pernah menemukan keberadaan ku, kita lanjutkan hidup kita masing-masing seperti kemarin,, kita sudah impas,, bukankah kamu menikahiku karena ingin balas dendam?? ingat saja motif itu,, dan aku sudah mendapatkan pembalasan mu, jadi sudahi ini semua,,, cepatlah menjauh dariku" Qaynaya mendorong tubuh Djani dengan sekuat tenaga.
"Pembalasan dendam ku tidak akan pernah selesai,, aku akan terus menyiksa dirimu selama sisa hidupku, dengan cara kamu harus selalu berada di sampingku"
"Djani, biarkan aku duduk dulu,, kita bicarakan semua secara baik-baik"
"Aku tidak mau,,, aku mau hak ku saat ini juga, aku tidak bisa lagi menahannya"
"Djani,, jangan seperti ini, tolonglah,,"
"Qay,, bagiku tidak ada bedanya status seseorang, aku tidak pernah merasa sebagai konglomerat atau apapun itu sebutannya"
"Bagi orang lain, pernikahan kita ini tidak seharusnya dan tidak cocok, jadi kamu sadarlah, ini akan berat untuk kita kedepannya"
"Kenapa kamu memikirkan pendapat orang lain?,, yang menjalani kehidupan ini adalah kita,, yang paling penting adalah aku mencintaimu,, dan kamu juga mencintai ku,, jadi tidak perlu memikirkan tentang hal lain lagi, aku tidak akan pernah melepaskan dirimu sampai kapanpun itu,, ingat baik-baik nona Qaynaya,, maaf aku salah panggil,,, nyonya Djani,,, kamu sudah berani mengambil hatiku, jadi kamu harus bertanggung jawab selama hidupmu untuk menerima diriku disisi mu,,, sudah diam sayang jangan berbicara lagi" Djani semakin merendahkan tubuhnya hingga tubuh mereka telah menempel sepenuhnya.
Qaynaya memejamkan matanya karena tidak bisa bergerak sedikitpun, badannya telah ditindih sepenuhnya oleh suaminya yang sangat kelaparan, setelah mencari istrinya selama ini, Djani harus menahan hasratnya yang sangat menggebu, jadi sekarang Djani ingin segera melepaskan rasa rindunya.
"Aku tidak perlu meminta izin lagi kan??, karena ini semua adalah milikku" ujar Djani langsung melahap buah kenyal istrinya secara bergantian, Qaynaya meremas sofa dengan kuat, cukup lama Djani bermain dengan dua buah kenyal itu, membuatnya semakin tidak bisa menahan lagi hasratnya, tetapi Qaynaya terus menahannya supaya tidak melakukan hal lebih.
Djani lalu kembali teringat saat tadi Qaynaya tertawa bersama Arka, kecemburuan kembali memenuhi hatinya, serta rasa rindu yang tidak tertahankan, membuat Djani sudah tidak perduli lagi dimana saat ini mereka berada.
"Jangan lakukan disini" pinta Qaynaya kepada suaminya, karena ini adalah tempat kerjanya, dia akan sangat malu nantinya saat bertemu dengan rekan kerjanya.
"Ini perusahaan milikku, aku bebas melakukan apa saja" Djani yang tidak mungkin bisa lagi untuk menahan hasratnya, lalu kembali melahap buah kenyal milik istrinya.
"Begitu mudahnya kamu membeli sebuah perusahaan,, memangnya untuk aaapppaa?" Qaynaya berbicara sambil merintih, karena suaminya tidak henti menyesap buah kembarnya, dan sesekali meremasnya.
"Kamu sangat cantik sekali, aku merindukanmu sayang, penghalang apapun akan aku lewati, walaupun aku harus bangkrut untuk menemukan keberadaan mu, aku tidak akan menyesal" Djani menjelaskan tapi tidak menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
Djani memang selalu seperti ini, saat berniat membalas dendam pada Qaynaya juga dia membeli perusahaan tempat Qaynaya bekerja, saat ini juga dia melakukan hal yang sama, walau kali ini niatnya adalah supaya lebih mudah untuk nya mendapatkan kembali istrinya.
"Jangan Djani,,!!" teriak Qaynaya saat Djani semakin meminta lebih.