Kesepian

Kesepian
Trauma


__ADS_3

"Kenapa?" Qaynaya melihat suaminya yang sedang melamun.


"Tidak ada apa-apa, sudah sayang, sekarang tidurlah"


Qaynaya terdiam melihat suaminya yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu.


"Apa kamu kecewa karena aku tidak hamil?"


"Bukan tidak, tapi belum,, jangan asal berbicara"


"Kenapa sih kamu sensi banget?" Qaynaya merasa heran karena suaminya kesal tidak jelas.


"Lakukanlah kalau kamu mau, dari pada tidak bisa tidur" Qaynaya membuka bajunya dan memeluk Djani. Qaynaya terpejam saat kulit mereka bergesekan walau hanya sebagian, karena dia masih memakai baju dalam, dan Djani juga memakai baju, hanya sedikit tersingkap ke atas.


"Jangan nakal, cepat tidur" Djani mendekap erat Qaynaya, supaya istrinya tidak bisa bergerak lagi. Qaynaya tersenyum simpul melihat suaminya yang sedang berusaha menahan hasratnya. Jam di dinding sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam, tapi Djani masih tidak bisa tidur.


Qaynaya pura-pura tidur karena sudah lelah bercerita kesana-kemari. Djani memandangi wajah istrinya dan menciumi wajahnya.


"Jangan pernah berani untuk pergi lagi,, atau aku benar-benar akan mengurungmu. Ini benar-benar adalah kesempatan terakhir" Djani berlama-lama mengecup bibir Qaynaya.


"Haahhhh!" Djani kaget karena Qaynaya membuka matanya. Dia pikir istrinya kelelahan jadi sudah terbang ke alam mimpi. Qaynaya tertawa kecil melihat ekspresi terkejut Djani. Qaynaya bangun untuk minum, Djani membantu mengambilkan karena dia lebih dekat dengan meja.


Saat Djani kembali tiduran, Qaynaya ingin ke kamar mandi terlebih dahulu, dia menolak tawaran Djani yang ingin mengantarkan.


"Aku bisa, ini sudah tidak sakit lagi, dari tadi kan aku hanya diam tiduran saja, sekarang kamu tidur saja terlebih dahulu, aku akan cepat" Qaynaya lalu berniat turun dari ranjang dengan perlahan. Tapi ternyata dia tidak benar-benar ke dalam kamar mandi, sesaat sebelum kakinya menyentuh lantai, Qaynaya memutarkan tubuhnya dan masuk kedalam selimut dari bawah dan menyusup masuk melalui kedua kaki Djani.


"Apa yang kamu lakukan?!" Djani kaget dengan apa yang dilakukan oleh Qaynaya. Tidak ada jawaban apapun, Qaynaya menarik celana suaminya dan mencari barang yang selalu menyiksanya beberapa hari ini.


"Uuummmmhhh" Qaynaya langsung melahapnya, mencoba mengikuti apa yang selama ini dilakukan oleh Djani pada bagian bawahnya. Djani menggeliat merasakan sentuhan istrinya.


"Jangan sayang, kamu harus beristirahat, aku sudah berjanji pada mama untuk tidak mengganggumu dulu" Djani memegangi kepala Qaynaya dan berniat menariknya ke atas, supaya mereka bisa kembali berpelukan.


Qaynaya menggeleng dan melepaskan tangan suaminya, dia semakin asyik memainkan pedang panjang milik suaminya. Terus membelai dan mengulumnya, kali ini Djani yang dibuat Qaynaya terus merintih dan melenguh.


"Sayang ayo sudah,, pasti mulut mu sakit" Djani bangun dan duduk saat Qaynaya menghentikan kegiatannya. Djani membelai lembut rambut Qaynaya, terlihat istrinya yang sedang memijat ujung bibirnya.


"Sakit" ucap Qaynaya pelan, dia belum ahli melakukannya, lagipula milik suaminya memang diatas rata-rata, buktinya setiap saat dia dibuat kewalahan.


"Sudah ayo tidur" Djani mengecup bibir Qaynaya yang seolah seperti sedang mengobati bibir istrinya yang sakit.


Qaynaya mendorong tubuh Djani hingga terlentang, dan berniat melakukan penyatuan. Djani menolak dan hendak mengangkat tubuh istrinya supaya turun dari tubuhnya. Tapi Qaynaya menggelengkan kepalanya dan membuka semua bajunya.


Djani kesal melihat istrinya yang dia pikir sedang menjahilinya. Djani langsung menyelimuti tubuh istrinya dan dengan kuat menidurkannya di ranjang.


"Jangan lakukan, aku mohon sayang. Aku tidak akan sanggup untuk menahannya, istirahat lah dan cepatlah sembuh" Djani mencium kening istrinya lalu memeluknya erat.


"Aku sudah pernah mengatakan kalau aku bukan lelaki jahat, apalagi pada istriku sendiri. Aku sudah terlalu sering tidak bisa menahan diri, jadi mulai sekarang aku harus bisa untuk menahan diri. Kita harus sama-sama saling belajar, aku belajar untuk menahan diri, kamu belajar lah untuk mempercayaiku"


"Aku percaya padamu" jawab Qaynaya lalu menciumi leher suaminya.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak percaya pada mu. kalau kamu begitu mempercayai ku, lalu kenapa selalu meninggalkan diriku?,, sudahlah,, yang jelas dan pasti adalah, aku tidak akan pernah membiarkan dirimu pergi lagi, kamu juga pasti tadi mendengar nya. Sekarang aku katakan lagi dengan jelas. Ini adalah kesempatan terakhir kalinya aku memaafkan dirimu yang pergi dariku, setelah ini tidak ada maaf lagi. Jadi kalau kamu pergi lagi, aku akan mengurungmu"


"Kenapa kamu begitu menyeramkan?" tanya Qaynaya pura-pura takut.


"Yang menyeramkan itu kamu" ujar Djani sewot.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Qaynaya dan terus mengendus leher Djani.


"Jangan memancingku sayang" Djani menahan istrinya yang kembali ingin menindihnya.


"Aku menginginkan dirimu" ucap Qaynaya pelan. Djani terdiam memandangi wajah istrinya, mencari kejujuran dalam sorot mata Qaynaya.


"Aku menginginkan dirimu!" Qaynaya kembali berbicara, membuat Djani tidak bisa lagi menahan hasratnya. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahannya, tapi Qaynaya yang terus menggodanya. Malam panas akhirnya terjadi lagi, keduanya berkeringat setelah pertempuran panjang.


"Aku pernah mendengar dari seseorang, dia mengatakan untuk menggoda suami, supaya dia tidak mudah tergoda oleh wanita lain diluar sana. Zaman sekarang banyak wanita tidak tau malu yang mengharapkan milik orang lain" Qaynaya memeluk erat kepala Djani yang sudah bersarang di dadanya, bersiap untuk tidur.


Rasanya pasti sudah enteng karena telah mengeluarkan semburan hangat pada lahan istrinya. Djani tersenyum mendengar perkataan Qaynaya.


"Teruslah goda diriku,, tapi jangan berfikir itu karena aku takut digoda oleh wanita lain. Karena bagiku, jangankan mereka menggodaku, melihat wanita lain juga aku tidak sudi, jadi tidak ada kesempatan untuk mereka. Jadi aku juga mohon padamu, untuk tidak memberikan kesempatan kepada pria lain untuk mendekati mu, jangan berikan pria lain harapan" Djani memberi tahu istrinya dengan lembut, bahwa apa yang dilakukan oleh Qaynaya saat menghubungi Doni, adalah kesalahan yang sangat besar.


"Dia akan kembali berharap padamu, aku tau dia sebenarnya adalah pria baik. Hanya saja cinta tidak berpihak padanya"


"Bagaimana kalau sekarang berpihak? aku akan,,, aaakkkkkhhhh!!" Qaynaya berteriak kaget dan juga ketakutan, tiba-tiba saja Djani menindihnya dan tanpa melakukan pemanasan, langsung saja Djani menancapkan kembali pedangnya.


"Djani,, saaakkiittt!" Qaynaya memukuli dada suaminya. Djani bergetar hebat menahan amarah.


"Aku belum menyelesaikan ucapanku sayang, tenang dulu,, aahhh sakiiittt!!" Qaynaya kembali menjerit saat Djani mencoba untuk bergerak.


"Sayang dengarkan penjelasanku dulu, aakkhhh!!" Qaynaya terus menjerit, dia tadi menggoda Djani karena kasihan pada suaminya yang tidak bisa tidur, walaupun Qaynaya sebenarnya menahan rasa sakit. Jadi kali ini tentu saja sakitnya berlipat-lipat.


"Coba jelaskan" Djani menghapus air mata Qaynaya dan memintanya untuk menjelaskan, walau dia tidak melepaskan apa yang sedang dia lakukan.


"Aku ingin mengenalkan dan menjodohkannya Doni dengan Zahra, supaya Doni bisa melupakan ku"


"Itu bukan urusanmu, kenapa juga kamu memikirkan tentang perasaan Doni?!"


"Djani sayang, dengarkan aku,, hanya kamu yang boleh menyentuhku, hanya kamu cinta di dalam hidupku, dan aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan dirimu. Sekarang stop dulu sayang, aku benar-benar kesakitan" Qaynaya memegangi kedua pipi Djani, supaya suaminya itu memandanginya, karena dari tadi Djani menutup mata.


Djani membuka matanya dan melihat Qaynaya, dia langsung mencabut pedangnya.


"Maafkan aku" Djani mendekap erat Qaynaya. Dia kembali tidak bisa menahan diri.


"Apa aku harus memeriksakan kondisiku ke psikiater? aku sepertinya semakin tidak bisa menahan diri, aku takut kalau kedepannya, aku akan terus menyakitimu"


Qaynaya membelai lembut punggung suaminya, ada kesedihan dihatinya melihat kondisi Djani. Semua ini disebabkan oleh trauma yang dialami Djani dulu.Dan trauma itu kembali dirasakan oleh Djani saat Qaynaya pergi bersama dengan Doni.


"Tidak perlu sayang, kamu sehat sepenuhnya. Jangan menambah beban hatimu. Aku akan menunjukkan padamu kalau aku bisa dipercaya, itu akan membuat mu tenang, sehingga kamu bisa menahan diri. Bukankah aku harusnya bahagia, karena mendapatkan cinta yang begitu besar darimu" Qaynaya melepaskan pelukannya, karena tau kalau Djani lebih suka tidur dalam dekapannya.


Qaynaya membawa kepala suaminya kedalam dekapannya, dengan lembut Qaynaya membelai rambut Djani, supaya suaminya cepat tidur.


"Ini semua salahku, maafkan aku sayang. Aku berjanji tidak akan mengecewakan dirimu lagi" Qaynaya berkata lirih saat menyadari bahwa suaminya telah tidur. Qaynaya juga sebenarnya sangat mengantuk, jadi dia juga langsung memejamkan matanya.




"Kelemahan Djani adalah wanita yang dulu membuat nya kesakitan"



"Wanita itu sekarang sudah menjadi istrinya" Rega menjawab sebelum ponsel diambil alih oleh Rini dan menyalakan pengeras suara, supaya mereka bisa mendengarkan penjelasan dokter bersama-sama.

__ADS_1



"Kalau begitu, jangan biarkan istrinya kembali pergi dari sisi Djani, karena traumanya akan kembali muncul. Sebenarnya istrinya juga pasti mengalami waktu yang sulit, disaat seperti ini. Karena Djani pasti akan menggunakan cara sesuai dengan hormonnya yang sedang sangat aktif"



"Apa maksud dokter?" tanya Rini tidak mengerti.



"Trauma yang dialami seseorang, sebenarnya akan sangat sulit untuk disembuhkan, itu tersimpan di dalam alam bawah sadarnya, bahkan itu juga bisa merubah kepribadian. Di umur Djani saat ini hormon yang memicu hasrat seksual nya pasti sedang tinggi-tingginya. Aku khawatir dia tidak bisa menahan dirinya, apalagi Djani sudah tidak lagi mengkonsumsi obat" dokter yang dulu merawat Djani memberikan penjelasan pada Rini.



Setelah Qaynaya dan Djani masuk kedalam kamar, Rini merasakan sesuatu yang berbeda pada anaknya. Djani dulunya tidak pernah kasar, walau menyimpan kekecewaan padanya. Tapi sekarang Djani akan marah kalau itu menyangkut dengan Qaynaya. Akhirnya Rini memutuskan untuk menanyakan kondisi apa yang bisa terjadi pada Djani dengan riwayat yang pernah dia alami, pada dokter yang dulu merawat Djani.



Rini juga mengingat Qaynaya yang selalu kesusahan berjalan, sepertinya itu karena ulah Djani yang tidak bisa menahan diri. Untuk pasangan baru, sebenarnya hal itu sangat wajar, apalagi mereka saling mencintai. Tetapi Rini merasakan keanehan pada Djani.



"Traumanya kembali terbuka, apalagi sesuai cerita kalian, istrinya baru saja berniat meninggalkannya dengan pria yang sama, yang dulu membuatnya begitu terpukul dan terluka"



"Apa yang harus kita lakukan dokter?" tanya Rini sambil mencengkeram erat lengan suaminya, kekhawatiran jelas terlihat dari raut wajahnya.



"Untuk saat ini, pastikan istrinya selalu disamping nya saja dulu, kita lihat perkembangan kondisi Djani kedepannya, perlu atau tidaknya dia berkonsultasi pada dokter. Baiklah sekarang hanya itu yang bisa saya sampaikan. Kabari saja lebih lanjut tentang kondisi Djani. Saat ini aku tidak bisa untuk langsung ke sana, tapi akan aku usahakan untuk mengutus seseorang, apa bila nantinya diperlukan" dokter lalu menutup panggilan telepon.



Rega dan Rini saling berpandangan, ternyata Djani sebenarnya belum sepenuhnya pulih dari traumanya. Djani terlihat baik-baik saja, karena ada Qaynaya disisinya.



"Kasihan Qay kalau selama nya Djani tidak sembuh, Qay pasti akan sangat tertekan karena Djani begitu mengekangnya" Rini cemas dengan kondisi Djani. Sepertinya dia harus menunda untuk tinggal di apartemen.



"Apa lebih baik kita panggilkan seorang dokter untuk Djani?, kasihan Qay karena Djani pasti terus menyiksanya atas dasar mengurangi kecemasannya. Kalau kita menunggu utusan dari dokter yang menanganinya dulu, pasti butuh waktu lama" Rega juga ikut merasa khawatir.



Rini termenung memikirkan rencana apa yang harus dia lakukan. Saat melihat Djani yang memarahinya, hati Rini merasakan keanehan, dia tidak marah, tapi dari sorot mata Djani, Rini mengingat sorot mata yang sama saat Djani mengatakan dia sembuh, saat itu Djani mengatakan sudah menerima apa yang terjadi, dan menganggap pernikahan Qaynaya dan Doni adalah suatu takdir yang tidak bisa dia rubah.



Tapi pada kenyataannya, Djani kembali pada Qaynaya untuk membalas dendam, dan saat kenyataan terbuka, itu membuat Djani semakin mencintai Qaynaya. Cinta yang sebelumnya begitu besar, menjadi semakin menjadi-jadi, dan sesuatu yang terlalu berlebihan serta tidak pada komposisi yang tepat, itu bisa melukai.



Qaynaya bisa terluka, begitu juga dengan Djani sendiri.

__ADS_1


__ADS_2