
"Waaahhh indahnya" Qaynaya takjub melihat resort yang akan mereka tempati selama seminggu kedepan. Djani membawa koper mereka dan menggandeng tangan istrinya memasuki sebuah kamar.
"Kamu menyukainya?"
"Iya, sayang sekali ini sudah sangat larut malam, kita tidak bisa langsung ke pantai" Qaynaya melihat hamparan pantai lewat jendela yang ada di balkon.
"Kita kesana lain waktu, ayo kita mandi terlebih dahulu" Djani hendak menggendong istrinya untuk mandi bersama, tapi Qaynaya menolak dan meminta kepada Djani untuk mandi terlebih dulu.
"Gantian saja, aku nanti lagi"
"Tidak!!, itu hanya akan memakan waktu lebih lama lagi" entah apa maksud dari ucapan Djani, tapi sekarang tubuh Qaynaya sudah berada dalam gendongan suaminya untuk menuju ke kamar mandi. Mereka berendam air hangat supaya lebih rileks karena perjalanan cukup jauh dan memakan waktu beberapa jam.
"Apa tidak sebaiknya kita menghubungi mama Rini?" Qaynaya menahan tangan suaminya yang sudah mulai aktif. Djani dengan tegas menolak, karena keputusannya tidak bisa diganggu gugat, bahkan oleh Qaynaya.
"Jangan kamu pikir karena kamu adalah istri tersayang ku, maka aku akan selalu menurutimu, aku sudah sangat memanjakan dirimu selama ini" Djani menindih tubuh Qaynaya, walau saat ini mereka masih berada di bathtub.
"Sayang, uuhhmmm,, aahh" Qaynaya meremas rambut suaminya dengan lembut. Djani melahap bibirnya dan memainkan dua buah kenyalnya yang terlihat semakin membesar karena selalu dimainkan oleh Djani.
__ADS_1
"Aku sangat menyukai suara rintihanmu" bisik Djani ditelinga istrinya. Qaynaya terus melihat kearah Djani yang setelah melepaskan ciumannya, tidak lagi melakukan apapun dan hanya terus memandanginya.
"Ada apa?" Qaynaya malu karena terus ditatap, dengan kedua tangannya, dia menutupi wajahnya. Djani tersenyum melihat tingkah istrinya. Dengan perlahan Djani turun dari bathtub dan menggendong istrinya menuju shower air, mereka harus membilas tubuh mereka dan mandi sampai bersih. Qaynaya harus terus menahan tangan dan tubuh suaminya yang sangat jahil.
"Sayang,, aku sangat lelah dan mengantuk. Bolehkah kalau kita langsung tidur?" Qaynaya bertanya perlahan pada suaminya. Djani yang sedari tadi membantu Qaynaya untuk mengeringkan rambutnya, terdiam untuk sesaat.
"Ayo cepat, rambutmu sudah kering" Djani membelai rambut panjang Qaynaya yang sangat lembut dan harum. Naluri hasratnya datang saat dia melakukan hal itu. Qaynaya yang melihat pantulan suaminya di cermin, berfikir kalau dirinya tidak mungkin bisa lolos dari suaminya dan bisa tidur dengan nyenyak.
"Mau aku gendong?" tanya Djani lagi, karena Qaynaya masih duduk diam ditempatnya. Tanpa bertanya lagi, Djani menggendong tubuh Qaynaya dan membawanya ke ranjang, yang akan mereka jadikan peraduan mereka berbagi kenikmatan, untuk beberapa hari kedepan.
Setelah merebahkan tubuh Qaynaya, Djani langsung naik ke atas tubuh istrinya, dan berniat untuk menciumnya. Saat Qaynaya menggelengkan kepalanya untuk menolak, Djani menunjukkan wajah kesal dan sedih yang bercampur menjadi satu.
"Uuhhhhmmmm" Qaynaya tidak tega lalu dia yang berinisiatif untuk mencium suaminya terlebih dahulu. Ciuman mereka berlangsung cukup lama seperti biasanya, Djani juga masih terus berada diatas tubuh Qaynaya.
"Tidurlah sayang" Djani turun dari tubuh Qaynaya setelah melepaskan ciumannya. Dengan cepat dia langsung mendekatkan wajahnya pada dada sang istri, dan meminta kepada Qaynaya untuk mendekapnya erat.
"Disini sangat dingin, peluk lebih erat" suara Djani terdengar sangat manja dan menggesekkan hidungnya pada buah kenyal Qaynaya.
__ADS_1
"Aahhh" rintihan terdengar dari mulut Qaynaya, bahkan tangannya reflek mendekap erat kepala Djani, sehingga wajah Djani semakin keras menekan dua benda kenyal yang selalu bisa memuaskan dahaganya.
"Kenapa merintih? bukankah tadi kamu bilang mengantuk?" tanya Djani dengan jahilnya. Qaynaya yang mendengarnya semakin mempererat dekapannya, sehingga Djani kesulitan bernafas.
"Sayang," Djani berbicara tertahan karena tidak lama Qaynaya melepaskan dekapannya. Sepertinya Qaynaya ngambek karena dijahili Djani.
"Dekap aku lagi, jangan pernah lepaskan!" Djani berteriak dan menarik kembali tubuh Qaynaya yang sedikit mundur.
"Jangan pernah berfikir untuk pergi dariku, walau hanya sejengkal pun!!" Djani kembali berteriak. Tanpa menunggu perintah lagi dari suaminya, Qaynaya kembali mendekap erat kepala Djani.
"Maaf, lagipula kenapa kamu begitu jahil?" Qaynaya merajuk karena dimarahi oleh suaminya. Djani merasa geregetan mendengar nada suara istrinya.
"Jangan bertingkah menggemaskan, atau aku tidak akan pernah membiarkan dirimu tidur. Sekarang tidurlah sayang" Djani mempererat pelukannya dan memejamkan matanya.
Qaynaya masih diam membeku, tidak menyangka kalau Djani bisa menahan keinginannya. Dengan belaian lembut tangan Qaynaya, Djani tertidur. Qaynaya tersenyum sangat bahagia, karena suaminya mengikuti keinginannya.
"Sepertinya psikolog itu salah diagnosa, suamiku tidak mungkin punya kelainan ataupun trauma. Buktinya dia bisa normal seperti ini" Qaynaya menciumi kepala suaminya, dan segera menyusul suaminya ke alam mimpi, karena dia memang sudah sangat mengantuk.
__ADS_1