Kesepian

Kesepian
Wanita Berkelas


__ADS_3

Qaynaya tersenyum melihat wajah polos suaminya yang menempel pada dadanya. Terlihat seperti seorang anak kecil yang membutuhkan perlindungan. Qaynaya tidak menyangka kalau ada sisi imut juga dalam diri suaminya.


Setelah melihat jam, Qaynaya lalu berusaha melepaskan diri dari pelukan Djani, karena hari sudah pagi. Qaynaya sedikit kesusahan, karena Djani tidak juga melepaskan pelukannya. Qaynaya lalu menyadari kalau Djani juga sebenarnya sudah bangun.


"Sudah siang sayang, bukankah kamu harus bekerja, ayo kita bangun" Qaynaya membelai lembut wajah suaminya. Djani lalu membuka matanya dan tersenyum.


"Pagi sayang,, morning kiss" Djani langsung menindih lagi tubuh istrinya, dan dengan rakusnya langsung melahap bibir Qaynaya. Sedikit ada perlawanan dari sang istri, membuat Djani malah semakin memperdalam ciumannya.


"Semakin kamu menolak ku, maka kamu akan semakin dalam bahaya sayang, tapi saat kamu menerima setiap sentuhan ku, aku juga akan semakin menyiksa dirimu" bisik Djani ditelinga istrinya. Qaynaya hanya bisa menutup matanya, menahan geli karena suaminya memainkan daun telinga nya.


"Sayang, ayo mandi dulu, nanti kamu bisa terlambat untuk pergi bekerja" Qaynaya menahan tangan suaminya yang berniat membuka kembali bajunya.


"Sayang ampuni aku, bukankah tadi malam sudah sangat lama, ayolah sayang,, kita harus mandi, aku harus membuat sarapan" Qaynaya merengek, karena dia tau kalau suaminya ingin meminta jatah lagi.


"Tidak perlu kamu membuat sarapan, disini ada yang bertugas memasak, tugasmu hanyalah menerima setiap sentuhan ku, entah itu penolakan atau tidak, aku akan terus melakukannya" dan benar saja, setelah mengucapkan nya, Djani lalu menarik paksa baju Qaynaya.


"Aaagggghhhh"


"Uuuuggghhh"


Lenguhan panjang terdengar berbarengan, Djani tidak memberikan waktu pada istrinya untuk menolak sentuhannya. Setelah waktu yang sengaja dipersingkat oleh Djani, tidak lama mereka telah sampai pada puncaknya.


Tidak ada pilihan yang lebih baik bagi Qaynaya, mau Djani melakukannya secara perlahan, atau secara cepat seperti baru saja, semuanya nikmat bagi Qaynaya, hal itu tentu tidak dia pungkiri, walaupun dia sering kelelahan karena nya, tetapi ada sensasi rasa lain saat Djani melakukan dengan cepat.


Gerakan nya yang langsung pada intinya, membuat Qaynaya sedikit kesakitan, apalagi rasa linu sisa semalem, juga belum sepenuhnya pulih. Tanpa terasa air mata Qaynaya mengalir, Djani panik melihatnya dan langsung menghapus air mata istrinya.


"Sayang,,," Djani menyadari bahwa sepertinya dia terlalu berlebihan lagi pada istrinya. Djani tidak bisa mengatakan apapun, dia menyesal karena tidak bisa menahan diri.


"Maaf" Qaynaya memeluk suaminya, Djani kaget karena mendengar apa yang dikatakan oleh Qaynaya, bukankah seharusnya dirinya yang harus meminta maaf.


"Aku terlalu lemah, maafkan aku" Qaynaya terus menangis, dia merasa takut kalau suaminya akan kecewa padanya. Qaynaya sudah menahan sebisa mungkin untuk tidak menangis, tetapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Tubuhnya yang kelelahan dan bagian bawahnya yang terasa linu dan sakit, akhirnya membuat air matanya tumpah tanpa bisa dia tahan.


"Akulah yang bersalah sayang, aku yang berlebihan, maafkan aku sayang" Djani membelai punggung istrinya. Djani mengutuk dirinya sendiri, dia memang sangat merindukan istrinya setelah ditinggal cukup lama, tetapi seharusnya dia bisa memahami kondisi Qaynaya. Hal ini bahkan sudah terjadi dua kali.


"Jangan berubah" Qaynaya tanpa sadar mencengkeram erat punggung suaminya. Qaynaya takut kalau karena hal ini, suaminya menjadi menjadi jarak dan menjadi berhati-hati. Djani tidak mengerti apa maksud dari ucapan istrinya.


"Kenapa aku berubah? apa maksudmu?" Djani memaksa untuk melihat wajah istrinya. Qaynaya hanya menggelengkan kepalanya dan mencoba kembali masuk dalam pelukan suaminya. Qaynaya sepertinya sangat malu dan juga merasa cemas.


"Jangan cari yang lain karena aku lemah, aku akan berusaha untuk menjadi semakin kuat" Qaynaya berbicara pelan, Djani senang karena istrinya takut kehilangan dirinya.


"Apa kamu sangat mencintaiku?" tanya Djani dan kembali berusaha untuk memandangi wajah istrinya. Qaynaya menolak dan mempererat dekapannya pada dada bidang Djani. Qaynaya malu dengan perkataan nya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu manis? lebih sering tunjukkan imutnya dirimu seperti ini, tapi jangan saat aku bekerja, karena aku tidak akan konsentrasi nantinya. Sayang, kamu butuh bukti apa lagi dariku?, selama kita berpacaran, apa aku pernah mencari pelampiasan lain, karena kamu tidak mau aku sentuh?, lalu saat kamu meninggalkan diriku, tidak ada terbersit sedikitpun dari dalam hatiku untuk mencari wanita lain" Djani berhenti menjelaskan dan mensejajarkan wajah mereka, karena Qaynaya sedikit mengendurkan dekapannya.


"Maaf karena aku tadi kembali berlebihan, aku sangat merindukanmu sayang. Aku ingin selalu menyentuhmu, maafkan aku" Djani lalu kembali melakukan kebiasaannya, yaitu menggigit pipi Qaynaya.


"Aaahhh, kenapa kamu selalu melakukan hal ini?" tanya Qaynaya yang membalas perlakuan suaminya, dengan menggigit dagu Djani. Mereka berpandangan dan saling tersenyum.


"Aku selalu ingin melakukan nya dari dulu, saat awal aku melihatmu, aku merasa gemas pada pipimu, eh bukan, maaf aku salah, ini bukan pipimu, tapi milikku" Djani kembali menggigit pipi istrinya.


"Ayo bangun, sepertinya kita sudah pasti kesiangan. Mau diletakkan di mana muka ku ini, hari pertama dirumah suami, tapi sudah bangun terlambat" Qaynaya menggerutu saat mencoba untuk bangkit dan memakai selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. Sementara yang punya kerjaan mengganggu istrinya terus-menerus malah tertawa tanpa rasa bersalah.


"Aaahhh!" Qaynaya menjerit kaget, karena sesaat sebelum kakinya menyentuh lantai, Djani dengan cepat telah membopongnya untuk menuju ke kamar mandi.


Qaynaya yang sepertinya kesulitan untuk berjalan, harus berusaha keras untuk menahan rasa sakit. Djani meminta pada istrinya untuk istirahat saja didalam kamar, tetapi tentu saja Qaynaya menolak nya.


"Baru bangun? apakah hari ini kamu akan mulai bekerja?" tanya Rini begitu melihat Djani dan Qaynaya keluar dari dalam kamar. Qaynaya yang tidak disapa oleh Rini, tidak terlalu mengambil hati. Qaynaya sadar bahwa seorang ibu pasti tidak akan semudah itu melepaskan anak lelakinya untuk wanita lain, walau itu istri anak nya sendiri.


Qaynaya tersenyum manis melihat kearah Rini lalu mengangguk dan mengucapkan selamat pagi. Djani bangga dengan Qaynaya, karena istrinya itu paham apa yang harus dilakukan, dan tidak terlalu memikirkan sikap Rini.


"Selamat pagi tante, maafkan aku karena bangun terlambat, apa ada yang bisa aku bantu?" Qaynaya bersikap sopan, tetapi terlihat sangat jelas, kalau Rini seperti tidak menyukai Qaynaya.


"Tidak perlu" Rini menjawab singkat, lalu duduk di kursi ruang makan. Djani menarik tangan Qaynaya, karena istrinya itu terlihat focus melihat kearah dapur, dimana para bibi sedang sibuk merapikan dapur seusai memasak.


"Mama kapan kembali ke luar negeri?" tanya Djani setelah menerima piring berisi nasi dan lauk pauk nya yang diambilkan oleh Qaynaya. Qaynaya dan Djani sudah berpacaran cukup lama, jadi tentu saja Qaynaya tahu, apa yang disukai dan yang tidak disukai oleh Djani.


"Aku sudah dewasa mama, aku tidak menyukai wortel saat aku masih kecil, setelah aku SMA dan mataku sedikit bermasalah, aku diantarkan oleh pak Rahmat, sopir pribadi ku dulu, untuk datang ke sebuah rumah sakit khusus mata, untung saja kondisi mataku tidak atau belum parah, jadi aku hanya dikasih resep obat, dan disarankan untuk makan, dengan makanan yang baik untuk mata" Djani menjelaskan dengan menyendok kan nasi dari piringnya, dan menyuapi Qaynaya.


Tentu saja Qaynaya menggeleng untuk menolak nya, karena dia malu dilihat oleh Rini. Tetapi Djani memaksa dan mengatakan tidak akan makan kalau Qaynaya tidak menerima suapan darinya. Karena melihat Djani yang terlihat serius, Qaynaya lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan dari suaminya. Dan tanpa memperdulikan pandangan dari mamanya, Djani lalu makan dengan lahap.


Qaynaya merasa sangat canggung dengan situasi yang ada, dia mengutuk suaminya karena harus menyinggung perasaan Rini di sepagi ini, bahkan mereka sedang sarapan. Rini terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya. Qaynaya lalu mencubit paha Djani, hingga suaminya itu menoleh padanya.


Dengan isyarat matanya, Qaynaya memberi tahu kalau Rini terus memperhatikan Djani.


"Sepertinya mama tidak mengetahui hal tersebut, tidak apa-apa ma, lagi pula itu sudah terlewati. Saat ini mataku sudah normal kembali. Sepertinya aku jadi terbiasa makan wortel semenjak kejadian itu"


"Djani, apa kamu membenci mama?" tanya Rini mulai berkaca-kaca, dia merasa kalau anaknya seperti sedang menyerang dirinya. Rini berfikir kalau itu pasti karena hasutan dari Qaynaya. Dengan tatapan tidak suka yang terlihat sangat jelas, Rini memandangi wajah Qaynaya. Djani lega karena memang ini yang dia harapkan.


Lebih baik langsung pada intinya, itulah yang dipikirkan oleh Djani, lebih baik mamanya menunjukkan ketidaksukaan nya pada Qaynaya didepannya langsung, daripada harus pura-pura baik saat ada dirinya. Djani takut saat dirinya tidak ada dirumah, istrinya akan mengalami kesulitan.


Qaynaya merasa kalau seperti nya dia sedang berada ditengah-tengah pertempuran. Qaynaya tidak bisa menghindari nya, tetapi dia juga hanya diam saja, dia tidak tau apa yang harus dia katakan.


"Tidak mungkin aku membenci mama, aku sangat menyayangi dan menghormati mama, bukankah masalahnya hanya karena mama menanyakan tentang aku yang menyukai wortel, lalu kenapa mama bisa bertanya hal seperti itu? kalau aku menanyakan hal yang sama pada mama, tidakkah mama akan merasa sedih, karena merasa tidak dihargai" Djani menggenggam tangan Qaynaya yang sedari tadi terlihat bergetar, sepertinya Qaynaya tidak nyaman menjurus ke takut, karena melihat situasi yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Ma,, aku mencintai Qay tulus dari dalam hatiku, tolong restui kami" Djani melihat ke arah mamanya dengan tatapan memohon.


Rini sadar kalau anaknya tau kalau dia tidak menyukai Qaynaya, jadi tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Rini lalu dengan tegas tidak mau menerima Qaynaya sebagai menantu nya, karena bagi Rini, Djani berhak dan pasti bisa mendapatkan wanita lain yang lebih segalanya dari Qaynaya.


"Mungkin ada yang lebih cantik dari Qay, bahkan yang lebih kaya juga pasti banyak, tapi itu adalah pandangan mama, karena bagiku, didunia ini yang paling cantik adalah mama tentu saja, Qaynaya yang kedua" Djani mencoba untuk sedikit melucu, karena suasana sudah semakin tegang.


"Dia malah melawak, bukankah dia yang menciptakan suasana seperti ini, aku bahkan tidak bisa untuk makan, walau perutku terasa sangat lapar" batin Qaynaya, lalu dia mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Djani.


"Untuk apa yang lebih cantik, dan untuk apa yang lebih kaya? semuanya tidak sebanding dengan cintaku" Djani tidak membiarkan istrinya melepaskan genggaman tangannya.


"Tolong jangan lakukan hal yang bisa membuat separuh nyawaku pergi lagi ma, bukankah mama juga tau, bagaimana menderita nya diriku saat Qay pergi dariku? bukankah saat itu aku hampir gila?" Djani mengambil ponselnya dan membuka sebuah pesan.


"Mama berniat untuk menyembunyikan istriku dari media? dan menginginkan aku untuk menikahi seorang putri konglomerat dari negara WW, apa mama tidak mengingat kejadian Kaela? kenapa mama berniat untuk melakukan hal yang sama?" Djani tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


Sebenarnya Djani awalnya berniat untuk membiarkan istri dan mamanya untuk saling mengenal dengan perlahan, dan Djani tidak ingin terlalu mencampuri urusan itu. Tapi saat tadi dia sedang berganti baju setelah mandi bersama dengan istrinya. Djani mendapatkan informasi mengenai rencana mamanya.


Djani tidak mau, kejadian yang sama akan kembali terulang, jadi dia harus tegas kali ini, karena dia tidak mau kalau sampai Qaynaya kembali meninggalkan dirinya.


"Ma, kebahagiaan ku adalah hidup bersama Qay, tetapi kebahagiaan itu juga tidak akan lengkap tanpa restu dari mama, putri konglomerat itu mungkin bagi mama adalah wanita yang lebih segalanya dari pada Qay, tapi mama harus tau, wanita itu bukan Qay, dan aku hanya mau Qay yang menjadi istriku selamanya" Djani memberikan pernyataan yang tidak akan bisa dibantah lagi.


Sebagai seorang anak, sudah seharusnya kalau Djani harus mengikuti segala kemauan kedua orang tuanya, tetapi bukankah untuk urusan pernikahan, Djani bisa memutuskan nya sendiri.


"Mama hanya ingin yang terbaik untuk dirimu, baiklah mama akan menerima Qay menjadi istrimu, tetapi biarkan dia tinggal di rumah ini, dan dia harus menjaga sikap, karena dia hanya istri mu, tetapi bukan ratumu, karena ratumu adalah wanita yang sudah mama pilihkan untuk mu" Rini yang merasa tidak bisa mengelak lagi, akhirnya mengatakan apa yang dia rencanakan.


"Mama ingin membuat Qay seperti wanita simpanan?, apa mama tidak keterlaluan?" Djani terlihat sangat kecewa terhadap mamanya, tetapi dia mencoba untuk mengingat, bahwa bagaimanapun, Rini adalah mamanya.


Mungkin benar dulunya mereka tidak dekat, tetapi setelah kejadian Qaynaya meninggalkan Djani untuk menikah dengan Doni, saat itu menjadi waktu yang sangat baik dalam memperbaiki hubungan mama dan anak yang sebelumnya tidak dekat. Jadi sudah pasti Rini merasa terancam saat Qaynaya kembali lagi pada anaknya.


"Yang menjauhkan hubungan kita bukanlah Qay, karena kita sudah jarang berhubungan jauh sebelum aku mengenal Qay, tetapi kita menjadi dekat, bukankah itu karena Qay?" Djani sangat sadar, dia hampir mati dan juga depresi karena ditinggalkan oleh Qaynaya, tetapi saat itu Rini selalu mendampingi nya hingga dia kembali pulih.


"Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membayar kembali semua kebaikan dan pengorbanan mama, tapi aku mohon ma,, untuk pendamping hidupku, biarkan aku yang memilih, dan aku sudah memilih, jadi tidak ada pilihan lain lagi" Djani menoleh ke arah Qaynaya yang sedari tadi hanya terdiam.


"Jangan lakukan hal yang tidak seharusnya kamu lakukan, kamu adalah istri dari Djani, jadi angkat dagumu dan jangan membiarkan hatimu terluka, tolong jaga mama selagi aku bekerja, ini sudah sangat terlambat, aku pergi dulu" Djani mencium kening istrinya lalu bangkit dari duduknya.


"Ma, tolong jaga Qay untukku, kalau tidak ada rapat penting di perusahaan, sebenarnya aku belum mau bekerja, karena pembicaraan kita belum selesai, mari kita bicarakan lagi setelah aku pulang bekerja" Djani lalu mendekati Rini dan mengangguk kan kepalanya untuk berpamitan kepada mamanya.


Qaynaya berjalan perlahan karena sambil menahan rasa sakit yang masih terasa dibagian bawahnya, saat dipakai untuk melangkah. Qaynaya berniat untuk mengantarkan suaminya sampai ke depan pintu.


"Duduk saja sayang, selesaikan sarapan mu" Djani menghentikan langkah kaki istrinya yang berniat mendekat, Djani lalu kembali lagi untuk menggigit pipi Qaynaya. Untuk sesaat Qaynaya membeku, walau itu sudah biasa dilakukan oleh Djani, tetapi kali ini berbeda, karena dilakukan di depan Rini.


Setelah kepergian Djani, suasana canggung sungguh sangat terasa. Rini menyelesaikan makannya tanpa berbicara sepatah katapun, setelah membersihkan mulutnya, barulah Rini mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Tetaplah diam dirumah ini, kamu sudah mendapatkan cinta yang begitu besar dari anakku, jadi kamu jangan serakah untuk mendapatkan yang lain atau yang lebih dari itu. Kamu harus sadar siapa dirimu, Djani adalah pengusaha muda yang sukses, dia membutuhkan wanita yang berkualitas dan berkelas untuk mendampinginya, aku tidak bisa membayangkan kalau wanita seperti dirimu menemani Djani saat ada acara dengan perusahaan besar lainnya, kamu pasti hanya akan membuat malu" Rini dengan tanpa merasa bersalah, dengan perkataan nya yang telah sangat menghancurkan hati Qaynaya, dengan langkah santai nya Rini pergi begitu saja dari ruang makan.


__ADS_2