
"Apa kalian baru kembali dari berbulan madu di luar negeri yang sangat jauh? sehingga tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada kedua mertuamu?" pertanyaan Lilis berhasil membuatnya mendapatkan perhatian dari Qaynaya, karena setelah mendengarnya, Qaynaya langsung melihat kearah Lilis dengan focus.
Qaynaya menanyakan segalanya pada Lilis, dan sebagai orang yang selalu bermain ponsel, tentu saja Lilis tau segalanya tentang keluarga terkenal atau kehidupan para artis, karena Lilis selalu melihatnya di berbagai akun media sosialnya.
Lilis menceritakan semuanya, dari mulai Rega yang ternyata tidak sebaik yang terlihat, karena ternyata sanggup untuk melakukan tindakan pelecehan, tapi Lilis seperti ragu untuk mengatakan bahwa korban dari tindakan pelecehan yang di lakukan oleh Rega, adalah calon istri dari Djani.
Tidak mau kalau sampai anak sulungnya itu menggugat cerai Djani karena suaminya telah berselingkuh dengan seorang wanita, bahkan berniat untuk menikah lagi. Bukan atas dasar khawatir pada anaknya takut terluka dan tersakiti, tapi Lilis tidak mengatakan hal itu, karena tidak mau kalau sampai anaknya melepaskan seorang Djani yang merupakan konglomerat, yang pastinya harta yang dimilikinya tidak akan pernah habis.
Lilis tidak sedikitpun menghawatirkan Qaynaya, karena yang dia pikirkan hanyalah kekayaan menantunya, setidaknya harus dia nikmati sampai Qaynaya tau sendiri tentang suaminya yang dipikirkan oleh Lilis seperti yang diberitakan oleh media.
Terlalu banyak tagar berita yang mengatakan bahwa, Djani selaku putra dari Rega yang dulunya sempat viral karena membuat video pencarian nya terhadap Qaynaya, telah berselingkuh dan berniat menikah lagi.
Adapula berita yang mengatakan bahwa selingkuhannya begitu sangat cantik dan seksi, sehingga bahkan Rega sekalipun terpesona dan meminta jatah disaat Djani tidak ada dirumahnya.
Begitu banyak berita yang dibuat-buat untuk semakin meramaikan masalah ini, bahkan saham keluarga Rega anjlok dengan sangat drastis. Itu juga yang membuat Arka dengan mudahnya bisa membeli salah satu perusahaan Djani.
"Sebenarnya apa yang terjadi ma? tidak mungkin ayah Rega melakukan tindakan bejad seperti itu, ayah Rega sangat berkarisma, jadi ini semua pasti karena kesalahpahaman semata" Qaynaya mencoba bertanya pada mamanya, tadi dia juga sempat melihat berita tentang Rega yang telah melakukan tindakan pelecehan terhadap seseorang, tapi Qaynaya belum mengetahui keseluruhan cerita.
"Kehidupan konglomerat pasti mempunyai banyak rahasia, lagipula mereka itu bisa melakukan apapun yang mereka inginkan, bukankah harta mereka sangat banyak?" Lilis kembali gagal focus, karena yang ada dipikirannya hanya uang dan materi.
"Ma, ini bukan waktunya membicarakan tentang uang, coba jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Qay, kamu sudah menikah dengan Djani yang merupakan penerus perusahaan milik keluarganya yang sangat banyak dan tersebar di berbagai negara, itu sudah cukup, jadi jangan memikirkan tentang masalah lainnya, yang harus kamu lakukan hanyalah bertahan saja sampai akhir, kalau bisa dan memungkinkan, lahirkan banyak anak dan terutama anak laki-laki" Lilis sepertinya sudah sangat gila harta, diam mengajari anaknya untuk menggerogoti harta suaminya, menggunakan tubuh dan anak-anaknya kelak.
"Kenapa mama berbicara ngelantur, aku hanya ingin tau, apa yang sebenarnya terjadi pada kedua mertuaku"
"Kamu pasti akan mengetahuinya suatu saat nanti, karena semua bisa saja ditutupi oleh mereka, sepertinya kamu ini tipe wanita yang polos dan bodoh, karena tidak mengetahui kehidupan ini dengan baik, apalagi kehidupan para konglomerat. Mereka mempunyai kekuasaan melebihi presiden dengan harta mereka, jadi mama yakin pemberitaan media sosial saat ini, bisa dengan mudah mereka hilangkan"
"Ma, mama ini sebenarnya berbicara apa? aku tidak mengerti" Qaynaya semakin kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh mamanya. Tapi sepertinya Lilis tidak berniat untuk memberi tahu dan menjelaskan apapun berita heboh mengenai keluarga mertua anak sulungnya itu, bagi Lilis adalah, Qaynaya harus terus bertahan disamping Djani, supaya Lilis bisa terus kecipratan uangnya.
"Uhuk-uhuk" terdengar bunyi batuk, Qaynaya langsung menoleh dan mendapati ayahnya tengah kesakitan memegangi dadanya, Qinanti terlihat panik dan menjatuhkan piring yang sedang dia pegang dan segera berlari untuk memanggil dokter.
"Ayah, apa yang terjadi, bertahanlah sebentar lagi ayah, dokter sedang kemari" Qaynaya menggenggam tangan ayahnya dan mengusap bahunya. Ayah Qaynaya melihat intens kearah Qaynaya dan tidak kuasa menitikkan air matanya. Untuk sekedar berkata-kata sepertinya dia sudah tidak mampu.
"Sayangku, anakku, maafkan ayah sayang, selama ini kamu telah banyak menderita karena ayah dan mamamu, saat ini bahkan ayah tidak bisa berbuat apapun untuk membelamu dan menjauhkan dirimu dari seorang yang disebut ibu, tapi berkelakuan jahat padamu. Tolong selalu kuat sayang, jagalah adik-adik mu" mata ayah Qaynaya tiba-tiba terpejam berbarengan dengan masuknya dokter.
Qinanti memeluk Qaynaya dan menangis panik melihat kondisi ayahnya, apalagi saat vonis dokter terdengar, mereka semua tidak bisa menahan tangisannya.
"Beliau sudah tidak ada di dunia ini lagi" perkataan yang membuat Qaynaya dan Qinanti menjerit dan menghambur ke ayahnya yang tidak juga mau membuka matanya.
"Ayah, aku mohon jangan seperti ini, jangan pergi ayah, cepatlah bangun dan buka mata ayah, aku baru kembali, hiikkksss. Apa ayah begitu kecewa padaku dan membenciku sehingga ayah seperti ini?,, baiklah ayah, aku tidak akan nakal lagi, aku akan selalu disamping ayah mulai sekarang, jadi cepatlah buka mata ayah, aku mohon!!" Qaynaya mengguncangkan lengan ayah nya, tapi tentu saja tidak ada reaksi apapun.
Qinanti tidak kalah histeris dan terus membangunkan ayahnya, berharap bahwa apa yang dikatakan oleh dokter adalah suatu kesalahan. Hanya Lilis yang terlihat tabah dan biasa saja, matanya memang mengalirkan air mata, tapi terlihat bahwa itu adalah air mata penuh kelegaan.
"Setidaknya dia tidak akan merepotkan diriku lagi" begitulah batin Lilis menyadari bahwa suaminya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Mama, aku mohon cepatlah bangunkan ayah, karena ayah selalu menurut pada mama, kali ini pun pastinya ayah akan bangun dan menuruti apa yang mama katakan, jadi tolong cepatlah bangunkan ayah" Qaynaya menarik tangan Lilis untuk mendekat.
"Qay, sayangku, tabahlah nak, ayah sudah tenang dan tidak lagi merasakan sakit, bukankah sudah sangat lama ayah kesakitan? sekarang sudah saatnya ayah merasakan ketenangan, sepertinya ayah sengaja pergi setelah melihatmu, karena itu adalah keinginan dari ayahmu yang ingin melihatmu karena selama ini sangat merindukan dirimu. Ayah pasti sudah sangat lega begitu melihat dirimu, jadi dia bisa pergi dengan tenang"
"Omong kosong apa ini ma, kenapa dari tadi mama terus berbicara yang membuat aku tidak mengerti?" Qaynaya kembali beralih pada ayahnya, dengan Qinanti yang tengah menggenggam tangan ayahnya dan terus menangis.
Qaynaya ambruk dan pingsan, dia tidak kuat menghadapi hal yang tiba-tiba ini.
Saat membuka matanya, Qinanti ada disampingnya dan masih terus menangis, matanya bahkan sudah sangat bengkak karena terus saja mengeluarkan air mata.
"Qinanti, jangan menangis, berapa lama aku pingsan? kenapa aku bisa selemah ini disaat ayah membutuhkan diriku, aahhhh" Qaynaya melepaskan selang infus di pergelangan tangannya dan segera bangun walaupun menahan sakit kepala yang luar biasa. Dia tadi mengingat sesaat sebelum dunia menjadi gelap, ayahnya terlihat tenang dalam tidur abadinya.
"Bukankah ayah pastinya sudah bangun, ayo kita cepat kembali pada ayah, kasihan kalau sampai ayah menunggu terlalu lama" Qaynaya menarik tangan Qinanti dan berniat menjadikan adiknya itu sebagai penopang jalannya, karena Qaynaya merasakan tubuh dan kakinya yang gemetar saat menginjak lantai.
"Kakak, kakak, kakak,," Qinanti memeluk Qaynaya.
"Sekarang saatnya aku harus menjaga kakak, sudah cukup kakak menderita selama ini" Qinanti tidak mau melepaskan pelukannya pada tubuh sang kakak, Qaynaya merasa kebingungan dengan tingkah adiknya.
"Aku tidak pernah menderita, apa yang kamu katakan ini? kenapa kamu atau mama mengatakan hal yang aku tidak mengerti sedari tadi" Qaynaya memandangi wajah adiknya begitu pelukan mereka terlepas.
Dengan berjalan gontai, Qinanti lalu memapah kakaknya keluar dari ruangan. Qaynaya heran karena adiknya itu membawanya ke luar dari rumah sakit.
"Bukankah kakak ingin bertemu dengan ayah? sepertinya saat ini masih ada waktu" Qinanti terlihat sudah tegar dan tidak menangis lagi. Qaynaya menyadarinya dan kembali histeris di dalam mobil. Qinanti menenangkan kakaknya walaupun dia juga sangat lemah dan bersedih, tapi Qinanti sadar kalau ada salah satu yang harus kuat diantara mereka.
"Kakak, selama ini kakak sudah sangat menderita dan selalu berkorban untukku, bahkan ayah pergi saat kakak baru kembali, itu pasti membuat kakak sangat terpukul, masalah juga datang disaat yang bersamaan, kalau aku jadi kakak, mungkin saat ini aku tidak akan bisa bertahan" Qinanti bermonolog dengan hatinya sambil terus memeluk erat tubuh kakaknya.
🌹💙 Flashback 🌹💙
Qinanti yang dari tadi terus menunggui kakaknya saat pingsan, dia mendengar berita di televisi yang disetel diruangan dimana kakaknya dirawat, ruangan itu adalah ruangan rumah sakit kelas tiga, sehingga harus berbagi ruangan dengan pasien lainnya.
Berita yang mengatakan bahwa kedua mertua kakaknya telah bebas dari penjara, tapi berita heboh yang lainnya membuatnya menangis dan terus menatap wajah Qaynaya yang masih terpejam.
Kkrriiieeetttt
Pintu terdengar berbunyi dan masuklah Arka, Qinanti yang tidak mengenal Arka keheranan dan menanyakan tujuannya, karena ditakutkan Arka salah masuk kedalam ruangan.
"Aku adalah mantan bosnya, aku datang untuk memberinya kekuatan dan dukungan. Apa dia belum juga sadar?" Arka yang hendak mendekati Qaynaya, tertahan oleh sebuah tangan yang menariknya.
"Siapa kamu?!" Arka berteriak hingga membuat Qinanti terkejut, karena takut hal itu mengganggu Qaynaya. Walau kedatangan lelaki lain setelah Arka masuk kedalam ruangan, juga berhasil membuat Qinanti terlonjak kaget. Kenapa kakaknya dikelilingi banyak lelaki, Qinanti tidak habis pikir, walau dia memang menyadari bahwa kakaknya memang sangat cantik.
Arka ditarik keluar ruangan dan segera terpental setelah tubuhnya didorong. Arka tertawa karena sepertinya dia sudah mengingat lelaki yang menarik dan mendorongnya tersebut.
"Sudahlah, jangan berharap lagi kali ini. Karena Qay pasti akan memilihku setelah berpisah dengan Djani, dia tidak mungkin memilih mantan suaminya yang tidak mempunyai apa-apa.
__ADS_1
Doni geram melihatnya lalu mencengkeram kuat kerah baju Arka. Dua pria yang sedang memperebutkan seorang wanita yang telah mempunyai seorang suami itu membuat situasi menjadi tidak terkendali dan terjadi keributan, untung saja security segera datang dan mengamankan situasinya.
"Jangan pernah berharap sedikitpun pada Qay, dia memilih menghubungiku saat akan melarikan diri dari suaminya, jadi dirimu jangan banyak tingkah, dan asal kamu tau saja, Qay tidak memilih pria berdasarkan harta nya" Doni berbisik pada Arka sesaat sebelum mereka dipisahkan oleh security.
🌹🌹 Flashback End 🌹🌹
"Apa kamu gila? sebenarnya apa maumu?!!" Djani berteriak melihat Geby dengan santainya tiduran di kasurnya dan Qaynaya.
"Sayangku sudah kembali lagi rupanya, dan sepertinya kamu sudah tau siapa diriku, tentu saja kamu pasti tau. Aku ini adalah calon istri cantikmu, aku juga begitu populer jadi pasti kamu sangat mengetahuinya. Ada apa sayangku, janganlah marah-marah, apa istri tuamu tidak melayani mu dengan baik sehingga kamu menjadi uring-uringan seperti ini? tenang dulu sayang. Sekarang mandilah dahulu, aku tidak mau ada jejak wanita lain ditubuhmu saat aku menyentuhmu. Setelah kamu mandi, kita bisa beradegan panas, sambil membicarakan pernikahan kita" Geby bangun dari tidurannya lalu duduk mengangkang, mencoba untuk menggoda Djani.
"Tidak mungkin ada pria yang sanggup menahan godaan tubuhku, sekarang sebelum pernikahan kita, aku dengan suka rela membiarkan kamu untuk mencicipinya, maka aku jamin kamu akan ketagihan dan tidak kuat lagi untuk segera menikah denganku. Sebenarnya ikatan pernikahan tidak terlalu penting, hanya saja dengan posisi yang kamu miliki, itu pasti akan sangat menguntungkan bagi diriku"
Djani memalingkan wajahnya melihat posisi Geby yang baginya sangat menjijikkan.
"Cepat pergi dari rumahku, atau aku akan menyeret mu!!" Djani berjalan cepat ke luar kamar lalu berjalan cepat dan duduk di ruang tamu, tidak lama Geby mengikutinya dan berniat duduk disamping Djani. Tapi Djani dengan tegas langsung menolaknya.
"Kalau sampai kamu berani mendekat, aku tidak akan berbicara apapun dan memilih pergi, dan hanya kuasa hukum ku yang akan menyelesaikan masalah ini!!"
Geby mengembuskan napasnya dengan malas dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa di depan Djani.
"Duduk dengan benar, posisimu sebagai seorang anak direktur dari perusahaan ternama, tidak membuatmu bersikap semestinya, dan malah berkelakuan rendahan seperti ini!"
Geby tersinggung mendengarnya dan langsung duduk dengan tegak, sepertinya cara menggodanya tidak mempan di tunjukkan pada Djani. Geby menyerahkan sebuah amplop coklat besar yang berada di laci meja ruang tamu, sepertinya dia sudah menyiapkannya.
Foto-foto saat Rini menghajar Geby terlihat sangat jelas, Djani meremas kuat dan melemparkannya.
"Untuk masalah ini, aku sudah tau dengan pasti kalau kamu telah merekayasa nya, jadi tidak perlu banyak bersandiwara denganku!" Djani geram dan menyobeknya.
Ada sedikit rasa terkejut di wajah Geby, tapi dia segera menutupinya dan tertawa terbahak-bahak.
"Mungkin kamu tau, tapi bahkan polisi hanya akan percaya pada bukti nyata, bukan dengan asumsimu saja. Apalagi Rega telah membunuh Lina, pasal berlapis telah menunggu ayahmu. Tapi kamu tenang dulu, karena aku akan memberikan penawaran, sehingga kedua orang tuamu akan segera bebas" Geby memegang ponselnya dan menunjukkan pada Djani.
"Dengan satu panggilan, aku bisa menarik laporan dan tuntutan ku pada Rini, dan dengan satu ketikan berita, aku bisa menghapuskan semua berita buruk Rega. Asalkan kamu mau menuruti keinginanku" Geby tersenyum meremehkan Djani, karena saat ini pastinya tidak akan ada pilihan lain bagi Djani, selain mengikuti keinginan dan apapun yang dia katakan.
"Apa maumu?" tanya Djani pelan, dia sudah sangat paham dengan rencana Geby yang pastinya akan meminta hal sulit padanya, hanya saja Djani tidak tau pasti apa yang diinginkan oleh Geby padanya.
"Menikahlah denganku secepatnya" Geby berkata dengan tegas dan menatap tajam kearah Djani, dia mengingat dengan vonis dokter yang mengatakan kalau dirinya tidak akan selamat kalau sampai melakukan aborsi lagi.
Geby telah banyak melakukan aborsi selama hidupnya, dan hoby nya yang sangat senang bergonta-ganti pasangan, membuatnya tidak yakin siapa ayah dari bayi dalam kandungannya saat ini.
Geby merasa mendapatkan undian berhadiah yang sangat menarik saat Rini menghubunginya dan memintanya untuk menikahi Djani, sebagai seorang yang mempunyai circle pertemanan yang sangat luas, tentu saja Geby tau kalau Djani telah menikah, tapi hal itu tidak menjadi masalah baginya.
"Dulu kamu sempat menolak lamaran dariku, jadi saat ini aku ingin kamu yang melamar ku dan segera lakukan pernikahan secepatnya, aku tidak mau menunggu waktu lama lagi" Geby hendak bangkit dari duduknya untuk kembali ke kamar, sebagai wanita biasa yang tengah hamil muda tentu saja dia sering merasakan lemas dan mual, hanya saja dia selalu menutupinya dan berusaha supaya orang lain tidak mengetahuinya.
"Apa karena kamu takut kalau perutmu akan semakin membuncit?" Djani juga bangkit dari duduknya dan menunggu reaksi dari Geby.
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu sudah tau, tapi itu tidak berarti apapun, bukankah ini juga lebih baik. Kamu bisa mendapatkan satu bonus satu kalau menikahiku, lagipula istri tuamu juga sepertinya mandul, buktinya dia belum mengandung sampai saat ini" Geby benar-benar adalah seorang wanita yang sangat menakutkan dan begitu pandai berakting, karena dia dengan mudah bisa menutupi rasa terkejutnya karena ternyata Djani mengetahui rahasianya.
"Jangan pernah panggil istriku dengan sebutan tua, sepertinya kamu belum pernah bertemu langsung dengannya. Tapi aku harap kamu tidak pernah bertemu dengannya, karena kamu bisa buta dengan kecantikannya, kamu bisa saja ingin segera ditelan bumi karena terbanting dengan pesona istriku"
"Ahahaha,, kamu terlalu berlebihan, kalau kamu begitu membanggakan istri cantikmu itu, lalu kenapa tidak membuat pengumuman resmi kalau kalian masih bersama dan kamu sudah berhasil menemukannya setelah dia kabur. Sepertinya hal itu tidak kamu lakukan karena kamu malu padanya" Geby berbicara dengan penuh percaya diri.
Djani merutuki dirinya sendiri, ternyata keputusan yang dia ambil untuk tidak memperkenankan Qaynaya pada publik begitu sangat salah, karena hal itu dipakai oleh orang seperti Geby untuk mengambil mencari keuntungan. Djani tidak memperkenalkan Qaynaya hanya karena dia tidak mau kalau istrinya dikenal secara luas dan bisa membahayakan keselamatannya, ternyata dengan tidak dikenal luas pun, membuatnya dalam bahaya.
Orang seperti Geby pasti akan terus melakukan niatnya sampai berhasil, dan Djani tidak mau kalau sampai Qaynaya terlibat.
"Baiklah, cabut semua tuntutan mu pada mamaku, dan bersihkan nama baik ayahku, maka secepatnya aku akan menikahimu, bahkan besok pun aku siap. Jadi lakukan tugasmu saat ini juga" Djani langsung bergegas pergi untuk menjemput kedua orang tuanya, karena sangat yakin kalau Geby akan dengan cepat sanggup membebaskan Rini dan Rega.
Geby tersenyum penuh kemenangan dan segera menghubungi Alek dan reporter yang selama ini membantunya.
"Alek, rencana berjalan dengan sangat mulus, apapun caranya, cepatlah bebaskan Rini dan Rega, dan besok aku akan menikah, jadi secepatnya kita bisa menguasai harta kekayaan keluarga bodoh ini" Geby menutup panggilan teleponnya dan bernyanyi riang masuk kedalam kamar Djani dan Qaynaya yang telah dia kuasai.
Djani langsung menuju kantor polisi dimana kedua orang tuanya ditahan, sidang bahkan belum dilakukan, tapi entah bagaimana caranya, Rini dan Rega bisa dibebaskan.
"Djani, apa yang kamu lakukan sayang?, dimana Qay,, jangan biarkan dia berada ditempat kotor ini!" Rini memeluk Djani dan berusaha mencari keberadaan menantunya dengan matanya.
"Qay tidak ada disini, dan kalian semua sudah bebas, ayo kita segera pulang" Djani melepaskan pelukan mamanya untuk beralih memeluk ayahnya. Mereka lalu dengan segera meninggalkan kantor polisi tersebut untuk segera menuju sebuah hotel.
"Kenapa kita tidak pulang, Qay pasti menunggu kita!" Rini melihat kearah Djani begitu anaknya itu menyebutkan tujuan mereka pada Adam.
"Qay saat ini aman bersama kedua orang tuanya, sampai aku bisa membereskan wanita gila yang sekarang menguasai rumahku, aku ingin Qay jauh dan tidak mengetahui masalah ini. Setelahnya kita tidak akan tinggal lagi dirumah itu, karena aku tidak sudi lagi memasuki rumah yang telah ditinggali oleh wanita tidak tau malu itu"
"Djani, kamu sangat salah mengambil keputusan, Qay tidak aman bersama dengan mamanya, kamu tau sendiri bagaimana sifat Lilis" Rini meminjam ponsel Adam untuk segera menghubungi Qaynaya, tapi Djani melarangnya.
"Jangan ma,, aku tentu tau bagaimana sifat mama Lilis, tapi dia tidak akan mungkin berani melakukan apapun, karena yang ada dipikirannya hanya uang, dan dia tau kalau aku bisa memberikannya, jadi mama tenang saja"
"Apa rencanamu Djani?" Rega ikut berbicara karena tidak mengetahui rencana anaknya.
"Pengumuman pernikahan ku dengan wanita gila itu pasti sudah tersebar di media, tapi aku sudah memberikan pesan padanya dan juga pada adiknya, untuk tidak membiarkan Qay tau tentang berita itu. Ini tidak akan memakan waktu lama, karena besok juga aku jamin semuanya telah selesai, dan aku akan segera menjemput Qay"
Djani mengingat saat tidak bisa menghubungi Qaynaya, tapi itu karena dia pikir istrinya tengah sibuk bersama dengan keluarga nya, apalagi ayahnya tengah sakit, pasti Qaynaya tidak ada waktu untuk membuka ponselnya. Dan hal yang lebih membuatnya yakin kalau sang istri sedang sibuk adalah nomor Qinanti yang juga tidak bisa dihubungi, jadi Djani berfikir kalau mereka semua tengah sibuk bersama, Djani lalu hanya mengirimkan pesan yang melarang Qaynaya untuk melihat berita. Djani yakin kalau pesan akan segera terbaca, setelah mereka tidak terlalu sibuk.
"Kamu terlalu gegabah Djani, ini tidak baik, dan pasti akan menimbulkan masalah besar nantinya!" Rega tidak busa menyembunyikan kekhawatirannya, begitu juga dengan Rini.
"Aku tidak mempunyai cara lain, aku hanya ingin cara yang paling cepat saja" Djani membuka ponselnya dan menghubungi pengacara ternama untuk membantunya.
"Aku tau ayah tidak bersalah dan dengan mudahnya bisa lolos dari tuntutan, tapi tidak dengan mama, itu juga yang membuat ayah bertahan di kantor polisi, karena tidak mau meninggalkan mama sendirian. Tapi untunglah sekarang semua sudah beres, kita hanya tinggal menyingkirkan wanita gila itu" Djani menyimpan kembali ponselnya.
"Tuan,, ayah nona Qaynaya meninggal dunia" Adam memberikan informasi begitu mereka sampai disebuah hotel, Adam baru bisa membuka ponselnya dan mendapatkan informasi setelah tidak lagi menyetir.
__ADS_1
"Appaa??!!" semua terkejut dan membeku.