Kesepian

Kesepian
Bulan Madu Part 2


__ADS_3

"Ke Pulau mana kita akan pergi?" Qaynaya yang sangat antusias bertanya pada Djani saat dia sedang merapikan bajunya.


"Pulau terpencil yang cuma ada kita berdua didalamnya, jadi kamu tidak bisa kabur dan tidak bisa meminta tolong pada siapapun saat aku menyiksa dirimu"


"Jangan menakuti ku"


"Kamu takut padaku?"


"Tentu saja, aku takut kehilangan dirimu" Qaynaya dalam mode bucin nya membuat Djani terheran-heran.


"Apa kamu kesambet?" Djani mendekati Qaynaya lalu memegangi keningnya. Karena dirasa tidak panas, Djani menjadi sangat lega.


"Kamu pikir aku sakit?" Qaynaya merajuk. Djani tertawa melihat istrinya yang berubah seperti seorang anak kecil.


"Sangat menjengkelkan!" Djani berteriak dan mendorong tubuh Qaynaya.


"Aaahh, apa yang kamu lakukan?, bukankah kita akan segera berangkat?" Qaynaya menahan tangan suaminya yang berniat untuk menyusup ke dalam bajunya.


"Kenapa kamu begitu menggemaskan?, aku ingin memakan mu saat ini juga" Djani melahap bibir Qaynaya. Tidak ada penolakan, karena bagi Qaynaya, hal itu sangat percuma.


"Aku akan menahannya sampai kita sampai ke tempat bulan madu, setelah nya tidak akan ada lagi ampun untukmu" Djani melepaskan ciumannya karena merasakan cengkraman tangan yang begitu kuat pada lengannya.


Djani menyadari bahwa Qaynaya sebenarnya ingin menolak, tapi sepertinya istrinya itu menahan diri karena tidak ingin membuat hatinya kesal. Djani menyadari begitu besar rasa cinta Qaynaya padanya.


"Kamu menemaniku dan tidak meninggalkan diriku yang terus menyiksamu akhir-akhir ini, tolong terus temani aku selama hidupku" Djani memegangi pipi Qaynaya sebelum menggigitnya seperti biasanya.


"Tentu saja, aku akan menemani dirimu selamanya, bahkan walaupun kamu bosan padaku, aku akan terus berada disamping mu. Tidak ada waktu lagi bagimu untuk kembali lagi saat ini. Kamu sepenuh nya sudah terjerat" Qaynaya tersenyum manis lalu segera bergegas keluar dari kamar untuk berpamitan pada Rini.


"Ma, aku mau pergi, apa mama mau ikut? sepertinya akan menyenangkan kalau mama juga ikut" Qaynaya yang terlihat sangat sumringah, membuat yang melihatnya ikut senang dan tersenyum lebar.


"Jangan terlalu bersikap menggemaskan seperti ini, nanti suamimu akan terus memakan dan menyiksa dirimu" Rini tersenyum lalu mencubit pipi menantunya. Djani datang lalu mendekat, dan melarang mamanya melakukan hal itu.


"Jangan ma,, pipi itu hanya milikku. Jadi hanya aku yang berhak untuk menyentuhnya"


"Dasar pelit. Qay sangat lucu kalau sedang merasa senang. Mama pikir kamu adalah wanita yang selalu serius, ternyata kamu bisa bersikap seperti ini juga?" Rini kembali melihat kearah Qaynaya.


"Apa sangat tidak pantas untukku? baiklah mama,, maafkan atas kesalahanku" Qaynaya kembali bersikap seperti biasanya dan menghilangkan senyuman manisnya.


"Ini lebih bagus, ayo cepat berangkat" Djani menarik kopernya dan menggandeng tangan istrinya. Rini tersenyum melihat anak dan menantunya.


"Kami berangkat dulu ma, sampai jumpa" Qaynaya lalu mengikuti langkah kaki suaminya. Mereka menaiki sebuah mobil khusus untuk jalan-jalan.


Qaynaya begitu senang melihatnya, ternyata Djani sudah menyiapkannya dengan baik untuk perjalanan kali ini. Setelah masuk kedalam mobil, Qaynaya lebih terkejut lagi, karena didalamnya sangat lengkap seperti mereka hendak pergi camping.


Qaynaya yang begitu senang lalu meminta izin untuk menyetir terlebih dahulu. Tapi Djani melarangnya, karena sudah menyewa seorang supir.


"Jadi kita tidak hanya berdua?" Qaynaya menutup mulutnya, dia malu dengan sikapnya dari tadi yang seperti anak kecil. Sangat malu rasanya kalau hal itu dilihat oleh orang lain.


Djani tertawa melihatnya, dan mengacak rambut istrinya gemas. Ternyata Qaynaya hanya menunjukkan sisi manjanya pada dirinya dan mama Rini.


Djani senang karena Qaynaya telah menganggap bahwa mamanya bukan orang lain lagi. Djani awalnya berfikir kalau mamanya dan istrinya sebetulnya belum terlalu saling menerima dengan ikhlas, tapi hanya sebagai formalitas di depannya. Sekarang Djani sadar kalau Qaynaya benar-benar telah sangat nyaman dengan Rini.


"Kita akan pergi ke pantai sayang, disana kita akan menginap di sebuah resort" Djani menyimpan kopernya dan menuju kursi kemudi untuk memberikan perintah kepada sang supir.


"Pak Adam, tolong segera berangkat ke taman bermain yang ada dipusat kota, kami akan tidur untuk beristirahat, setelah sampai tolong bangunkan kami"


"Baik tuan"

__ADS_1


Djani lalu kembali ke arah Qaynaya yang terlihat sangat penasaran dengan semua isi dari mobil yang mereka naiki.


"Apa yang kamu cari?" Djani mendekati Qaynaya dan memeluknya dari samping, karena Qaynaya masih sibuk melihat-lihat isi kulkas mini.


"Apa ini semua boleh dimakan dan diminum?"


"Tentu saja, sekarang ayo kita tidur. Butuh waktu cukup lama hingga sampai ke taman bermain yang kamu inginkan. Kita bisa beristirahat dulu sejenak"


"Djani,, aku kan baru bangun" Qaynaya tidak mungkin bisa untuk kembali tidur, karena sebelum berangkat, dia baru saja bangun dari tidur siang.


"Aku sangat mengantuk" Djani tiduran dan menjadikan paha Qaynaya sebagai bantal nya. Qaynaya mengusap lembut rambut Djani.


"Tidurlah sayang, aku akan menjagamu" Qaynaya lalu memijat kening suaminya, supaya Djani lebih rileks. Setelah beberapa saat, Djani tertidur pulas dalam pangkuan istrinya.


Qaynaya tersenyum lalu mencium kening Djani, dia tidak berani untuk meletakkan kepala suaminya atau mengganti pahanya menggunakan bantal.


"Bagaimana ini?" batin Qaynaya, pahanya terasa sangat semutan. Setelah mereka sampai di taman bermain, Qaynaya bahkan masih tidak berani untuk mengganggu tidur suaminya.


"Ssssssttttttt" Qaynaya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, sebagai kode supaya supir yang mengantarkan mereka diam dan tidak membangunkan Djani.


Qaynaya tidak mau kalau tidur suaminya terganggu, karena dia sangat tau kalau suaminya itu sudah bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan nya supaya bisa membawanya berlibur.


"Kita nikmati waktu berdua sayang, setelah ini tidak tau apa yang akan kita hadapi, tapi aku janji akan terus berada di sampingmu" Qaynaya bergumam dan kembali membelai lembut rambut suaminya.


Tanpa sadar Qaynaya juga tertidur karena begitu lama menunggu Djani bangun.


Dduuuuggghhhhh


"Aaahhhh!" Qaynaya memegangi dagunya yang terbentur dengan kepala suaminya. Karena ketiduran Qaynaya jadi tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Djani terbangun karena kaget, tanpa memperdulikan rasa sakit di kepalanya karena baru saja terbentur dengan dagu istrinya, Djani bangkit lalu memeriksa Qaynaya.


"Apa sangat sakit? kenapa bisa? apa caramu membangunkan orang dengan seperti ini?" Djani mengusap lembut kening istrinya.


"Kamu begitu imut saat bangun tidur" Qaynaya mencium mata suaminya yang masih terlihat sipit. Djani tersipu malu, lalu melihat ke arah jam yang berada di tangannya.


"Ini sudah hampir malam, berapa lama aku ketiduran? kenapa tidak membangunkan diriku?" Djani langsung bangkit dari duduknya dan memeriksa ke arah kursi kemudi.


"Bapaknya sudah keluar dari tadi, aku yang meminta pada nya untuk diam dan tidak membangunkan dirimu. Lagipula kita mau bersenang-senang di tempat ini. Kalau salah satu dari kita mengantuk, nantinya tidak akan seru" Qaynaya menjelaskan, lalu dia juga bangkit dari duduknya untuk merapikan baju dan rambutnya.


"Ayo segera bersiap keluar, ditempat ini buka sampai jam delapan malam, jadi masih ada waktu beberapa jam lagi, ayo cepat sayang" Qaynaya menarik tangan suaminya untuk segera keluar dari dalam mobil.


Kegembiraan terlihat sangat jelas di wajah Qaynaya, dia meminta pada Djani untuk terus menemaninya naik semua wahana yang ada di area taman bermain itu.


"Nanti yang terakhir adalah naik bianglala, aku sangat suka naik itu saat kecil" Qaynaya yang sedari tadi ceria, berubah menjadi terlihat sangat sedih.


"Ada apa?, apa kamu lelah?" tanya Djani khawatir.


"Dulu ayah sering mengajakku kesini, tapi saat perubahan terjadi di keluarga ku. Aku tidak lagi datang ketempat ini, karena tidak ada yang membawaku ke sini lagi" Qaynaya tersenyum kecut membayangkan kenangan yang dia alami di taman bermain tersebut.


"Mulai sekarang aku yang akan mengajakmu kemanapun yang kamu inginkan" Djani mengusap lembut kepala Qaynaya.


"Kenapa aku seperti ini, seharusnya aku tidak mengatakan omong kosong disaat kita sedang bergembira. Ayo kita membeli dulu makanan yang ada ditempat ini, aku tau dimana pedagang sosis bakar yang sangat enak sekali" Qaynaya kembali tersenyum ceria lalu menarik tangan suaminya.


"Hidupmu juga penuh dengan kepedihan, tapi kamu begitu kuat. Aku sepertinya tidak sebanding dengan dirimu sayang. Tapi aku akan kembali memantaskan diri supaya bisa terus berada di samping mu. Aku akan berusaha untuk bisa terus membuat mu ceria seperti ini" Djani berbicara dalam hatinya, dan terus berjalan mengikuti Qaynaya yang menariknya.


"Ini adalah sosis bakar favorit ku, rasanya sangat enak" Qaynaya lalu memesan sosis bakar dan tidak lupa bakso bakar nya juga.


"Tolong bumbunya yang pedas ya, terimakasih" ucap Qaynaya setelah selesai memesan. Mereka lalu mencari tempat duduk sembari menunggu pesanan mereka selesai dibuat.

__ADS_1


"Apa kamu belum pernah ketempat ini?" tanya Qaynaya saat melihat kearah Djani yang terlihat terus mengamati sekitar.


"Belum pernah, masa kecilku tidak seperti masa kecil anak lain. Bukankah aku pernah mengatakannya?, jadi ini adalah pengalaman pertama untuk ku. Pernah beberapa kali aku ingin masuk ketempat ini, tapi aku mengurungkan niatku, karena tidak ada yang menemaniku" Djani menatap jauh kearah pintu masuk taman bermain yang tadi mereka lewati.


Seolah melihat dirinya saat kecil, Djani melambaikan tangannya. Qaynaya menahan kesedihannya melihat Djani.


"Sekarang kamu akhirnya bisa masuk kedalam tempat ini, ternyata tempatnya sangat menyenangkan" Djani berbicara sendiri dan masih menatap kearah pintu masuk.


"Sayang, bagaimana kalau kita seterusnya sering datang kesini, aku sangat suka tempat ini. Saat kecil belum semua boleh aku naiki, karena aku masih pendek. Sekarang aku sudah bebas mau naik wahana apapun" Qaynaya menggenggam tangan Djani untuk menghibur hati suaminya itu.


"Terimakasih"


Mereka saling berpandangan dan tersenyum, kenangan mereka dimasa lalu, yang tidak terlalu menyenangkan ditempat ini. Akan segera mereka ganti dengan kenangan penuh kebahagiaan cinta mereka.




"Aapppaaaa??!!!" teriakkan seseorang terdengar di dalam salah satu ruangan di perusahaan yang terbilang besar di negara ini, walau tidak sebesar perusahaan milik Djani.



"Bagaimana bisa Djani tidak diketahui keberadaannya?"



"Dirumahnya tidak ada, diperusahaan nya juga tidak terlihat"



"Apa pembatalan kontrak kerja sama kita berjalan dengan baik?"



"Iya tuan, tapi sekutu kita tidak mau mengikuti langkah yang kita ambil, jadi sepertinya kita yang mengalami kerugian karena masalah ini"



"Kurang ajar,, ini semua karena wanita jalan\* itu. Seandainya saja aku tidak menuruti keinginannya"



Pprraanggggg



Terdengar bunyi barang pecah dan juga teriakan penuh frustasi, karena rencananya tidak berjalan dengan lancar.



"Panggil wanita itu kemari"



"Tidak bisa tuan, setelah di selidiki. Wanita itu saat ini berada di rumah Djani"


__ADS_1


"Aappaaa??!!"


__ADS_2