
"Baiklah, segera hubungi orang tuamu. Kita akan bicarakan semua perbuatan mu yang telah berani menghina Arion selama ini. Tidak ada alasan bagiku untuk membicarakan hal ini padamu, karena tidak pantas bagiku melawan dirimu" Djani tidak akan membiarkan hal ini, sepertinya masalah ini harus dia selesaikan terlebih dahulu sebelum dia benar-benar memindahkan sekolah Arion.
"Sudahlah, tidak perlu berlebihan. Ayahku adalah orang yang sangat sibuk, apalagi di jam bekerja seperti ini, tidak seperti seseorang yang berkeliaran untuk mencari sumbangan" kakak kelas Arion sangat berlebihan dalam menghina Djani, bersamaan dengan itu, keluar beberapa guru dari ruangan yang tadi hendak di tuju oleh Djani.
"Ada apa ini? kenapa terjadi keributan?" salah satu guru berjalan dengan cepat mendekati Djani.
"Maaf, dengan siapa dan ada perlu apa? jangan membuat keributan disini. Apa yang bapak inginkan?" sang guru bertanya pada Djani.
"Maaf kalau terjadi keributan karena saya. Tapi apakah jam pelajaran belum dimulai? bagaimana bisa beberapa murid masih berkeliaran untuk mengganggu murid lainnya?. Saya adalah Djani, yang tadi pagi menelepon untuk meminta surat pindah sekolah Arion" jawab Djani.
"Baiklah, silahkan masuk kedalam ruangan yang ada di ujung dari lorong ini, disana akan diproses surat pindah sekolah, dan akan langsung diberikan untuk Arion. Maaf kalau boleh tau? apa alasan Arion dipindah sekolahkan? karena disekolah Arion tidak pernah bermasalah, dan bahkan sangat berprestasi" guru itu mengajak Djani untuk menuju ke sebuah ruangan sambil mengajaknya berbicara, dan meninggalkan kakak kelas Arion.
"Sudah pasti karena dia malu, mempunyai seorang ayah yang hanya seorang pelayan cafe, hahaha" kakak kelas Arion sepertinya masih belum puas dalam menghina Arion dan Djani, entah apa yang mendasari dirinya begitu membenci Arion.
"Kalau kamu begitu iri padaku, maka saingi lah diriku dengan benar. Jangan bisanya hanya berkata omong kosong" Arion tidak lagi bisa menahan diri untuk meluapkan emosi nya, karena kakak kelasnya dari tadi terus saja menghina Djani. Setiap saat kakak kelasnya itu memang sering menghinanya, tetapi dia tidak pernah ambil pusing, karena menurutnya hanya akan membuang waktu saja kalau dia meladeninya, tapi kali ini Djani juga tidak luput dari hinaan, jadi Arion tidak mungkin tinggal diam.
"Woohooo, sekarang berani melawan ya rupanya, mungkin karena kamu merasa sudah akan pergi dari sini ya? tapi aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dengan tenang" kakak kelas Arion berjalan mendekati Arion dan hendak memukulnya, untung saja Arion bisa berkelit.
"Axel, jangan berlebihan, hentikan sekarang juga ke kurang ajaran mu" guru yang berjalan bersama Djani akhirnya menegur kakak kelasnya Arion yang bernama Axel itu. Sebagai seorang guru, tentu saja dia harus terlihat berwibawa, walau dia tau kalau Axel adalah anak orang kaya yang sangat berpengaruh di negara ini.
"Apa bapak tidak takut kalau sampai aku memanggil ayahku?" tantang Axel yang semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Mari kita langsung masuk saja kedalam ruangan, supaya cepat selesai" guru itu memilih untuk tidak lagi menjawab Axel, dan mengajak Djani untuk masuk kedalam ruangan yang mereka tuju, karena mereka sudah sampai.
Buuuggggghhhhh
Arion dipukul dari belakang oleh Axel, Djani yang terkaget dengan situasi yang begitu tiba-tiba, langsung melindungi anaknya dan tidak membiarkan Arion untuk membalas.
"Ini adalah kekerasan, cepat panggil orang tuanya, atau aku akan memanggil komite sekolah" pinta Djani pada guru yang sedari tadi bersamanya.
"Lebih baik kita tidak memperpanjang urusan ini. Lagipula Arion terlihat baik-baik saja" guru itu sepertinya takut kalau sampai harus memanggil orang tuanya Axel.
"Baik-baik saja? aku melihat ada CCTV di setiap sudut ruangan dan koridor di sekolah ini. Jadi itu cukup untuk menjadi bukti bahwa kelakuan murid bapak sudah sangat keterlaluan. Dan bagaimana bisa anda sebagai guru malah membela pembullyan? apakah ini bukan kali pertama?!" Djani sangat marah. Sementara Axel terlihat tersenyum meremehkan, sungguh Djani ingin memukul wajah itu, apalagi sang pemilik wajah yang sangat tidak tau diri itu telah melukai anaknya.
"Ini yang pertama dia berani melebihi batas, tapi ayah bahkan tidak membiarkan diriku membalasnya, jadi sudahlah. Lebih baik disaat masih ada kesempatan, kita pergi saja dengan tenang, setelah meminta surat pindah, saat ini aku merasa sangat ingin segera pergi dari sini" Arion sepertinya merasa kecewa pada Djani yang menghalanginya untuk membalas Axel.
Djani tidak menjawab lagi, dan meminta pada Arion untuk segera pergi ke ruangan kesehatan, tapi sebelum dia sempat melakukan hal itu, ada seorang pria paruh baya datang dan mendekati Axel.
"Siapa yang berani mengusik dirimu?" ujar nya pada Axel
"Ayah tau dari mana?" Axel merasa heran karena dia belum memanggil ayahnya.
"Tentu saja dari para kaki tangan mu ini" jawab ayahnya Axel sambil melihat kearah teman-temannya Axel.
__ADS_1
"Bapak guru, hari ini aku akan memberikan sumbangan rutin pada sekolahan ini, dan jumlahnya akan saya naikkan dua kali lipat untuk bulan ini. Tapi syaratnya adalah, usir murid yang berani berurusan dengan anak saya!" ayahnya Axel berbicara dengan lantang.
Buuuggggghhhhh
Djani memukul wajah ayahnya Axel, hingga pria paruh baya itu terjengkang, dan langsung berteriak marah.
"Kurang ajar, apa yang kamu lakukan?!!" teriak ayah Axel marah.
"Anakmu memukul anakku tanpa peringatan, dan aku cukup tau diri untuk tidak membalas nya, karena dia bukan lawanku. Aku juga melarang anakku untuk membalasnya, karena kekerasan bukan jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah, lagipula aku tidak mau kalau sampai masa depannya hancur hanya karena manusia sombong seperti kalian ini!" Djani tidak gentar, dan menahan tangan ayahnya Axel yang ingin memukulnya.
"Aku akan menghancurkan mu!" ayahnya Axel berteriak semakin marah, karena pukulan yang dia tujukan pada Djani melesat.
"Cobalah" jawab Djani dengan santainya.
Karena terjadi keributan, banyak guru yang berdatangan, lalu membawa mereka semua kesebuah ruangan, untuk menyelesaikan masalah.
Para guru meminta pada Djani untuk mencabut tuntutannya pada Axel yang tadi memukulnya, lagipula sekarang bukankah sudah impas, karena Djani sudah membalas dengan memukul ayahnya Axel.
Djani tertawa mendengarnya, dia baru merasakan kekecewaan yang mendalam, karena menyekolahkan anaknya, di sekolahan yang hanya mementingkan dan merajakan donatur besar yang menguntungkan bagi sekolah.
"Tentu saja, bukankah uang adalah segalanya?, lagipula aku juga tidak mau untuk berdamai, karena manusia rendahan ini sudah berani memukul ku!" teriak ayah Axel, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.
__ADS_1