
"Ini benar-benar seperti yang kamu bayangkan, jadi seharusnya kamu sudah siap" batin Qaynaya melihat kearah punggung mama mertuanya yang pergi menjauh.
Qaynaya menyelesaikan sarapan nya, lalu membantu para bibi membereskan meja. Seorang pelayan meminta pada Qaynaya untuk tidak perlu repot-repot membantu.
"Lakukanlah saja tugasmu sendiri, tidak perlu mencampuri pekerjaan orang lain. Kita ini hanya sama-sama adalah pekerja di rumah ini, hanya saja saya masih tau malu dan paham, mana yang boleh dikerjakan dan mana yang tidak" pelayan itu lalu merebut piring yang dipegang oleh Qaynaya.
Qaynaya sedikit terkejut, karena dia tidak menyangka, kalau bahkan pekerja dirumah itu juga tidak menyukai kehadirannya. Qaynaya tidak terlalu mengambil hati dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh salah satu pelayan itu.
"Baiklah, terimakasih" dengan senyuman manisnya, Qaynaya lalu segera bergegas pergi dari ruang makan. Karena penasaran dengan rumah Djani, Qaynaya lalu berkeliling.
__ADS_1
"Anggap saja kamu adalah nyonya ditempat ini, tapi sekali lagi aku ulangi, kamu hanya menjadi nyonya didalam rumah ini saja. Jangan pernah kamu berani untuk mencoba melakukan sesuatu yang membuatku marah, bagaimanapun juga, Djani pasti akan lebih memilih diriku dibandingkan dengan dirimu!" Rini ternyata ada di ruang keluarga, begitu melihat Qaynaya, hanya perkataan kasar yang keluar dari mulutnya.
Qaynaya tersenyum mendengar perkataan dari Rini, setelah mama mertuanya itu selesai berbicara, Qaynaya lalu memberikan hormatnya pada sang mama mertua, dengan cara membungkukkan badannya.
"Terimakasih telah melahirkan lelaki yang begitu bijaksana, memang seharusnya Djani harus selalu memilih tante dibandingkan dengan diriku. Aku tidak akan pernah meminta pada Djani untuk memilih siapa diantara kita, karena semua sudah tau dengan pasti, bahwa Djani memang harus memilih tante" Qaynaya berhenti sejenak, lalu meminta izin untuk duduk di sebuah sofa yang berhadapan dengan sofa yang sedang diduduki oleh Rini.
"Kalau tante tidak menerima diriku karena aku adalah orang miskin, maka aku tidak bisa merubah hal itu. Tetapi kalau tante berharap aku memantaskan diri, supaya tidak mempermalukan Djani didepan umum, maka aku pasti akan dengan giat dan berusaha keras supaya bisa seperti yang tante harapkan" Qaynaya menyinggung kan senyuman manisnya.
"Jangan memberikan senyuman palsu padaku, kamu tidak akan sanggup untuk merayu diriku, aku bukan Djani yang dengan mudahnya masuk kedalam rayuanmu, tapi aku sangat yakin, kalau Djani pasti hanya sedang bermain dengan dirimu, saat dia bosan suatu saat nanti, dia pasti akan memilih untuk meninggalkan dirimu" Rini berniat untuk segera pergi, tanpa mendengarkan apa lagi yang akan dikatakan oleh Qaynaya. Tetapi ada suara yang membuat Rini menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Prrookkkkk
Prrookkkkk
Prrookkkkk
Suara tepuk tangan terdengar jelas, Qaynaya dan Rini lalu menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita yang rambutnya mulai memutih. Berjalan secara perlahan mendekat ke arah Qaynaya.
"Sangat cantik sekali, perkenalkan sayang, aku adalah nenek lincah yang sering disapa dengan panggilan Neli,,, jadi kamu juga harus memanggilku seperti itu, coba katakan dan panggil aku" pinta Neli pada Qaynaya.
__ADS_1
Karena masih canggung, dan tidak mengenal siapa yang ada dihadapannya, Qaynaya lalu berniat untuk segera berlalu dari tempatnya sekarang duduk, Qaynaya berfikir kalau orang yang ada di hadapannya adalah klien penting Djani atau mungkin Rini.
"Aku adalah neneknya Djani"