
"Ardi sekarang sudah satu tahun lebih Qay, lihatlah dia yang terus menatap Andjani,, sepertinya Ardi ingin bermain dengan Andjani" Sasha lalu mendekati Andjani yang berada di pangkuan Qaynaya.
Dan benar saja, Ardi langsung mendekat ke arah Andjani dan memegangi pipinya, tapi karena anak sekecil itu, jadi belum mengerti apa yang dilakukannya. Ardi sepertinya sedikit keras memegangi pipi Andjani, hingga bayi mungil itu menangis kesakitan.
"Kenapa kamu membuat anakku menangis?" Djani pura-pura memarahi Ardi, tapi batita laki-laki itu menjadi menangis karena takut. Sempat terjadi keributan, hingga menjadi perhatian umum, tapi para pengunjung lain tidak merasa terganggu dan malah tertawa melihat tingkah menggemaskan kedua balita tersebut.
"Sepertinya aku mundur menjadi besanmu, kamu begitu galak pada calon menantumu sendiri" ujar Sasha bercanda, setelah kedua anak yang tadi menangis sudah kembali terdiam.
"Tidak akan aku biarkan semut atau nyamuk pun menyakiti anakku, jadi bersiaplah boy kalau berani mendekatinya" Djani malah menjawab dengan candaan sambil melihat kearah Ardi.
Sasha mengajak Qaynaya untuk mengikuti kelas PAUD yang tidak jauh dari cafe saat ini mereka bertemu, tapi Qaynaya belum mau, karena baginya itu belum terlalu diperlukan.
"Tentu saja perlu Qay, disana mereka akan mempunyai banyak teman" Sasha masih berusaha untuk membujuk Qaynaya.
"Menurut aku pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD, merupakan program pendidikan sambil bermain sebelum anak memasuki Taman Kanak-Kanak. Kamu juga mungkin mengetahui bahwa sebelum masuk SD, anak masuk TK pada usia 4-5 tahun, jadi untuk umur Andjani, sepertinya masih terlalu dini" Qaynaya menjawab sambil merapikan baju Andjani yang sedikit miring dan terangkat, hingga perutnya kelihatan karena tertarik oleh tangan Qaynaya yang memeganginya.
"Bukan Taman Kanak-kanak Qay, aku membicarakan tentang PAUD" sepertinya Sasha tidak mengerti dengan arah pembicaraan Qaynaya.
"Kini sebelum masuk TK, ada lagi program PAUD sejak anak berusia 3 tahun. Bahkan ada orang tua yang menyekolahkan anaknya pada usia 1,5 tahun. Bahkan di PAUD dimana Ardi sekolah, ada juga yang enam bulan, mereka belajar sambil bermain" ujar Sasha menjelaskan.
"Apa yang dipelajari anak umur enam bulan?" tanya Djani heran.
"Semisal belajar merangkak, belajar berdiri dan berjalan. Itu nantinya ditemani oleh guru profesional, jadi pasti sangat bagus dan aman" Sasha sepertinya sangat mantap untuk terus menyekolahkan anaknya sedini mungkin, karena merasa tempat sekolah anaknya sangat bagus.
"Pertanyaannya, apakah semakin cepat anak masuk sekolah maka ia akan semakin pintar?" tanya Qaynaya. Sasha terdiam tidak bisa menjawab.
"Terlalu cepat masuk sekolah dapat memicu kejenuhan anak. Jadi, sebaiknya tunggu anak hingga siap terlebih dahulu. Belum lagi naluri anak masih ingin bermain dan diperhatikan oleh orang tua atau pengasuh pada usia yang sangat muda. Rata-rata, PAUD mulai menerima anak sejak usia 2 tahun. Namun demikian, ada pula yang sudah menyanggupi menerima murid yang masih berusia 18 bulan. Aku juga tau ini karena sempat baca-baca di internet. Tapi kalau menurutmu yang terbaik untuk Ardi adalah sekolah sedini mungkin, aku tidak melarang, ini hanya murni pandanganku saja" Qaynaya tersenyum untuk mencairkan suasana yang menjadi sedikit tegang.
"Meski rata-rata sekolah mematok standar demikian, seperti yang kamu jelaskan tadi, bahwa sekolah itu sangat bagus, tapi belum tentu anak sudah pasti kerasan dan dapat mengikuti kegiatan di PAUD dengan baik. Orang tua mungkin terfokus pada umur berapa anak masuk PAUD. Padahal terlepas dari itu, setiap anak memiliki kemampuan dan kesiapan yang berbeda-beda dalam mengikuti program PAUD" Qaynaya melihat kearah Sasha karena ingin tau reaksinya, Qaynaya tentu tidak mau kalau sampai apa yang dia katakan menyinggung Sasha.
"Terlalu cepat masuk PAUD tidak baik karena anak usia muda membutuhkan stimulasi berupa unstructured play untuk melatih kemampuan pemahaman abstrak, imajinasi, dan kreativitasnya. Selain itu, terlalu cepat memperkenalkan anak pada program yang terstruktur juga tidak baik. Kendati demikian, lagi-lagi ini juga tergantung pada program yang ditawarkan oleh masing-masing PAUD. Dan tentu bagaimana dengan pemikiran orang tua sang anak yang menentukan. Kalau memang kamu sudah sangat yakin untuk menyekolahkan Ardi sedini mungkin, itu tidak masalah, karena kamu pasti tau yang terbaik untuk anakmu" Qaynaya berhenti berbicara, karena terlihat Sasha yang ingin mengatakan sesuatu.
"Aku hanya diajak saudaraku, dan banyak dari tetangga ku yang sudah menyekolahkan anaknya dari umur satu tahun" Sasha ternyata hanya ikut-ikutan saja.
"Rata-rata usia anak yang siap masuk PAUD adalah 3 tahun. Namun, ada sebagian anak yang mampu lebih cepat dan ada anak yang mampu lebih lambat. Setiap orang tua pasti bisa menyadari hal itu, jadi bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk anaknya, apakah mau lebih cepat menyekolahkan anaknya, atau tunggu dulu" Qaynaya merasa Sasha sangat antusias mendengar nya berbicara, jadi Qaynaya tidak khawatir lagi kalau Sasha akan tersinggung atau marah padanya.
Qaynaya lalu mengingat tanda-tanda kesiapan anak masuk PAUD, salah satunya ketika orang tua melihat anak sudah menunjukkan keinginan bersekolah. Misalnya ia senang ikut mengantarkan kakaknya sekolah atau senang melihat orang lain bersekolah. Anak juga mulai menanyakan kapan ia sekolah. Mungkin kalau melihat anaknya seperti itu, orang tua bisa menyekolahkan lebih cepat.
Setelah meminum sedikit jus semangka yang ada di hadapannya, Qaynaya lalu kembali meneruskan penjelasannya, Tanda lain saat anak bisa dimasukkan ke sekolah sedini mungkin adalah, ketika anak sudah mulai masuk PAUD, anak sudah sangat mandiri dalam toilet training, karena orang tua tidak bisa mengharapkan guru PAUD sebagai babysitter yang dapat menceboki atau mengganti popok anak setiap saat. Setidaknya anak harus sudah bisa mengatakan pada guru saat akan buang air kecil atau besar, jadi nantinya tidak terlalu merepotkan guru.
Ketika anak masuk PAUD, sebaiknya juga ia sudah mulai dapat mandiri. Misalnya sudah tidak perlu ditemani oleh orang tua atau pengasuh. Pasalnya, tidak semua PAUD dapat mengakomodasi orang tua atau pengasuh yang menunggu di sana.
"Sudah aku katakan Qay, sekolah PAUD ini sangat bagus, dan selalu bisa menjaga anak kita, bahkan kita diperbolehkan untuk ikut masuk kedalam kelas" Sasha kembali mengatakan betapa bagus sekolah anaknya.
"Kamu sebenarnya ingin menyekolahkan anakmu atau menitipkan anakmu pada mereka? Dan kalau bisa seperti itu, bukankah lebih baik belajar dan bermain bersama mamanya dirumah?, bukankah sama-sama bersama mamahnya, kenapa harus disekolah?" Qaynaya menjawab dengan beberapa pertanyaan lagi, yang membuat Sasha kembali tidak bisa menjawabnya.
"Selain dari semua,aku katakan tadi, sebaiknya anak yang akan masuk PAUD juga sudah dapat mencuci tangan, makan, dan minum sendiri. Anak yang ingin masuk PAUD juga harus dapat melakukan tugas terstruktur. Misalnya, mengikuti instruksi untuk berbagai kegiatan belajar sambil bermain di PAUD" Qaynaya berhenti berbicara karena Sasha menyelanya.
"PAUD yang aku maksud bukan seperti itu Qay, tapi PAUD hanya untuk bermain saja, dan itu juga masih didampingi oleh mamanya" Sasha menyela penjelasan Qaynaya.
"Iya, aku paham kok, karena memang semua ada tahapannya. Tapi tetap saja nantinya anak juga sudah harus mau mengikuti instruksi pembelajaran di PAUD, seperti menggambar, menyusun balok, bernyanyi dan menari, serta kegiatan lainnya" Qaynaya kembali berhenti menjelaskan, karena Andjani meraih sesuatu di atas meja, jadi Qaynaya harus lebih focus pada anaknya.
Karena sepertinya Sasha masih ingin penjelasan lebih jauh tentang pemikiran Qaynaya mengenai PAUD, jadi Qaynaya kembali menjelaskan pandangannya. Dan menurut Qaynaya sepertinya untuk anak seusia Andjani dan Ardi, hal itu belum terlalu perlu untuk masuk PAUD, karena belum waktunya. Untuk saat ini yang dibutuhkan oleh Andjani dan Ardi adalah waktu bersama dengan kedua orang tuanya. Karena permainan yang paling bagus untuk anak adalah permainan dengan keluarga, terutama kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tanda kesiapan selanjutnya adalah anak sudah harus mampu bangun pagi sesuai dengan jadwal PAUD di daerah masing-masing. Apalagi jika orang tua harus mengantar anak ke PAUD sambil bekerja, maka sudah pasti anak harus bangun pagi untuk bersiap dan ikut bersama orang tua ke PAUD.
"Anak harus sudah dapat bermain dan berbagi dengan orang lain, terutama dengan teman seusianya. Anak yang masih terlalu kecil biasanya masih memiliki sifat egosentris. Namun, jika sering dilatih berinteraksi, maka anak dapat memiliki rasa empati dan kemampuan bersosialisasi. Dan perlu diingat bahwa lebih cepat masuk sekolah tidak menjamin anak akan lebih pintar nantinya" Qaynaya menyudahi penjelasannya.
"Aku menikahi psikolog anak, atau guru sebenarnya?" Djani mencubit hidung Qaynaya, dia tidak menyangka Qaynaya begitu berwawasan. Qaynaya menjadi malu, karena merasa terlalu banyak berbicara.
"Maafkan aku yang terlalu banyak berbicara. Entah kenapa kalau itu menyangkut dengan anak, aku menjadi terlalu cerewet, sekali lagi maafkan aku" Qaynaya menjadi canggung dan merasa dia terlalu berlebihan.
"Tidak Qay, aku sangat senang mendengarnya. Beberapa hari ini Ardi sangat rewel saat akan berangkat ke sekolah, mungkinkah itu karena dia belum siap ya?" Sasha bertanya sambil memakan makanan pesanannya yang sudah datang.
"Aku tidak tau Sha, yang lebih tau tentang anakmu ya hanya kamu dan ayahnya" jawab Qaynaya, yang juga ikut makan.
"Ini sebenarnya pertemuan ibu-ibu atau bagaimana, kenapa yang dibicarakan adalah mengenai anak?" Darius akhirnya ikut bersuara.
"Lalu apa yang ingin kamu bicarakan memangnya?, kita sudah mempunyai anak, jadi pasti itu topik pembicaraan paling utama" jawab Sasha sewot.
"Apa kamu sedang datang bulan? kenapa marah-marah terus padaku?" tanya Darius merasa sedih, karena istrinya terus memarahinya.
"Iya!!" jawab Sasha ketus, sepertinya Sasha memang tengah datang bulan, atau mungkin sedang menyimpan suatu masalah, jadi dia gampang terpancing emosi.
"Kalian sangat romantis sekali" ujar Qaynaya, dan ditimpali lirikan tajam dari suaminya. Qaynaya lalu mengatakan kalau itu juga tanda mereka romantis, jadi romantis tidak melulu dengan sayang-sayangan, setiap orang berbeda dalam menunjukkan keromantisannya.
"Sayang, apa kamu bisa menjaga Anna sendiri untuk sebentar saja, aku dan Darius ingin membicarakan sesuatu diluar" setelah selesai makan, Djani meminta izin pada Qaynaya, dan istrinya itu mengizinkan, lagipula Andjani tengah diam memainkan mainan yang dibawa dari rumah.
"Kenapa mereka tidak membicarakan disini saja? sebenarnya apa yang ingin mereka lakukan?" ujar Sasha sambil melihat kearah suaminya pergi.
"Aku juga tidak tau, sudah biarkan saja. Mungkin itu urusan pria" Qaynaya menjawab lalu mengambilkan kotak tisu yang di inginkan oleh Sasha, tapi tangannya tidak sampai.
Sasha lalu curhat dan menanyakan pendapat Qaynaya mengenai suatu hal. Sasha bercerita kalau dia selama ini tinggal bersama dengan suaminya di negara ini, dan awalnya semua keluarga tidak merasa ada masalah dengan hal, tapi beberapa hari yang lalu, keluarganya meminta dirinya untuk kembali ke negara asal mereka.
Sebenarnya Sasha merasa sangat betah tinggal di negara ini, karena dia memiliki suami yang sangat perhatian dan menyayanginya. Tapi kedua orang tuanya ingin dia segera kembali, untuk meneruskan bisnis keluarga.
Tanpa terasa air mata Sasha berjatuhan saat bercerita, dia mengatakan kalau suaminya bukan dari golongan konglomerat seperti dirinya ataupun Djani, jadi keluarganya sering memandang sebelah mata. Walau sekarang Darius adalah wakil dari semua media berita televisi yang sangat sukses, tapi bagi keluarga Sasha, itu sebenarnya belum cukup pantas.
Dahulu Sasha di izinkan menikah dan menetap di negara ini, karena Sasha mengancam akan kabur kalau tidak di izinkan. Tapi sekarang keluarganya mengancamnya dengan menggunakan Ardi. Orang tuanya Sasha akan mengambil Ardi dan dijadikan pewaris perusahaan, kalau Sasha tidak segera pulang.
"Kehidupan konglomerat memang sangat berat. Tapi untuk anak, seorang ibu pasti tidak akan menyerah, dan akan melakukan yang terbaik. Sekarang aku tanya padamu? apa ku bahagia tinggal bersama suamimu dan menetap di negara ini?" tanya Qaynaya, lalu mengelus punggung tangan Sasha, mencoba untuk memberinya dukungan.
"Tentu saja aku sangat bahagia, tapi kedua orang tuaku tidak mau mengerti" Sasha menundukkan pandangannya setelah menghela nafas panjang.
"Aku tidak tau harus mengatakan apa, karena ini masalah keluarga. Aku hanya bisa menjadi pendengar ceritamu saja, maafkan aku" Qaynaya mengambilkan beberapa lembar tisu untuk Sasha, karena kelihatannya Sasha itu hendak menangis.
Diluar cafe, Djani dan Darius sedang membicarakan hal yang sepertinya sangat serius dan penting. Djani sedang membicarakan dan menanyakan sesuatu, dan Darius menjelaskan pada Djani, mengenai apa yang dia ketahui dari apa yang ditanyakan oleh Djani.
"Bagaimana menurutmu dengan perusahaan QQ, bukankah itu perusahaan yang berbasis Crypto?" tanya Djani pada Darius.
Perusahaan QQ, menurut Darius, sangat bagus dan bisa membantu pengusaha domestik yang ingin melebarkan sayap ke luar negeri. Apalagi untuk ekspansi, pengusaha perlu memilih negara tujuan dengan regulasi yang sesuai dengan tipe bisnis.
“Labuan, Malaysia, dan masih banyak negara lainnya misalnya, adalah pilihan terdekat untuk pembentukan Crypto Fund, dan Singapura adalah salah satu negara yang telah meregulasi usaha berbasis Crypto dengan baik” ujar Darius.
"Perusahaan QQ yang dikenal sejak lama sebagai salah satu finansial terbaik. Dengan status sebagai financial terbaik bahkan sampai di Eropa, perusahaan itu memungkinkan fund manager di beberapa negara lebih kreatif dengan tawaran investasi yang tersedia. Kalau kamu adalah fund manager dan ingin memperluas izin usaha sampai negara ini, kamu bisa mendapat tawaran investasi dengan asset-class yang unik dan berbeda, misalnya seperti lukisan dan wine. Apa kamu berminat bekerja sama dengan perusahaan itu” imbuh Darius menjelaskan dan diakhiri dengan pertanyaan.
"Aku tidak memiliki orang yang bisa aku percaya di negara ini, bagaimana kalau kita bekerja sama membuka sebuah perusahaan?" Djani menawarkan pada Darius untuk bekerja sama.
__ADS_1
"Tidak Djani, aku menyukai pekerjaan ku, dan aku tidak berniat untuk mencari pekerjaan lain. Terimakasih atas tawarannya, tapi aku tidak berbakat menjadi pengusaha, aku sebaiknya tetap bekerja di belakang layar suatu berita saja" Darius menolak, karena dia merasa tidak cocok dengan pekerjaan sebagai pengusaha.
"Aku akan memperkenalkan padamu, seseorang dari perusahaan QQ yang sangat aku kenal, supaya memudahkan dirimu membangun perusahaan mu di negara ini" Darius menawarkan bantuannya.
Setelah dirasa pembicaraan sudah selesai, dan Djani menerima bantuan dari Darius, mereka lalu kembali lagi pada istri mereka yang masih berada di dalam cafe.
"Apakah sudah selesai? ayo kita pulang, Andjani sepertinya sudah sangat bosan" Qaynaya melihat Andjani yang mulai rewel.
"Baiklah, sekarang kita pulang dahulu, cepatlah bersiap. Sini Andjani sama ayah dulu, biar mama beres-beres" Djani mengambil Andjani dari pangkuan Qaynaya, supaya istrinya mudah merapikan mainan dan semua barang Andjani.
"Sasha, apakah kamu masih akan disini? kenapa tidak bersiap untuk pulang?" tanya Qaynaya heran melihat kearah sahabat suaminya yang sekarang juga sudah dekat dengannya itu.
"Aku masih ingin disini, kalian pulanglah dahulu" Sasha membantu Qaynaya mengambil mainan Andjani yang menggelinding terjatuh.
"Aku pergi terlebih dahulu ya" Qaynaya lalu melambaikan tangannya pada Sasha, dan segera menyusul Djani yang menunggu di depan pintu cafe.
Beberapa hari kemudian, Djani meminta izin pada Qaynaya untuk pergi bertemu dengan Darius. Rencananya untuk membuka perusahaan dinegara ini sepertinya sudah pada finalnya. Apalagi Qaynaya yang sepertinya masih ingin menetap di negara ini, jadi Djani harus bekerja, walau itu tidak terlalu mendesak untuk saat ini.
Djani masuk kedalam sebuah cafe untuk bertemu dengan orang yang bekerja di perusahaan QQ bersama dengan Darius. Tapi begitu sampai dan melihat siapa yang dia temui, Djani berniat pergi lagi, karena merasa ini akan menjadi suatu masalah.
"Tuan Djani Sudrajat? kenapa anda akan pergi, bukankah anda membutuhkan bantuanku" ujar orang itu, dan membuat Djani membalikkan badannya kembali.
"Aku sudah tidak memerlukannya. Darius ayo cepat kita pergi dari sini" Djani mengajak Darius untuk segera pergi, tapi Darius sepertinya tidak mengetahui bahwa Djani telah mengenal orang yang dia pikir bisa membantu Djani.
"Nyonya Reina, maafkan saya. Sepertinya Djani sedang ada urusan mendadak, sehingga tidak bisa membicarakan masalah pekerjaan saat ini, mungkin lain kali. Maafkan saya, padahal nyonya sudah meluangkan waktu" Darius berpamitan dan segera melangkahkan kakinya untuk menyusul Djani.
"Tidak ada lain kali!" Djani mempertegas.
"Kamu ini kenapa?" tanya Darius bingung.
"Kami adalah mantan, entahlah mantan apa yang pantas disebutkan pada hubungan kami, tapi yang jelas dulu aku pernah tinggal di apartemen tuan Djani, sepertinya itu yang membuat tuan Djani canggung. Bukankah seperti itu tuan Djani?" ujar Reina lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Djani.
Djani tidak mengerti, bagaimana bisa dinegara yang jauh dari negara asalnya ini, dia bisa bertemu dengan Reina. Wanita yang dulu membuat hubungannya dengan Qaynaya mengalami masalah.
__ADS_1