Kesepian

Kesepian
Andjani Terluka


__ADS_3

"Anna terluka Qay, cepatlah bersiap, aku akan segera lewat depan rumah" Djani menelepon Qaynaya dan memberikan kabar pada istrinya itu. Tentu saja Qaynaya begitu panik pendengarnya, apalagi Rini yang ditunggunya belum juga datang.


Qaynaya langsung bersiap dan meminta pada Sasha untuk menjaga rumahnya, karena ditakutkan Rini akan segera tiba.


"Ada apa Qay? apa yang terjadi?" Sasha ikut panik, tapi bahkan Qaynaya juga tidak tau harus menjawab apa. Saat di depan rumahnya Serli keluar dari rumah dengan pakaian rapih, karena dia juga diundang oleh Qaynaya untuk berkumpul bersama.


"Bukankah kita mau kumpul-kumpul, kemana kamu akan pergi?" Serli heran melihat sahabatnya itu, dia baru bisa datang kerumah Qaynaya, karena dia baru pulang dari cafenya. Doni sudah beberapa hari ini kembali ke negara asal mereka, karena ada sesuatu yang harus di urus.


"Terjadi sesuatu pada Andjani, aku tidak tau tepatnya apa" jawab Qaynaya.


Tidak lama datanglah Djani dengan mobilnya, Qaynaya meminta pada Serli untuk menunggu di rumah, bersama dengan Sasha. Setelah masuk kedalam mobil, Qaynaya terus mencecar pertanyaan pada Djani.


"Aku juga tidak tau sayang, kamu tenang dulu" jawab Djani, sambil sedikit mengebut, karena dia begitu panik.

__ADS_1


Setelah sampai di sekolah, Qaynaya dan Djani langsung mencari keberadaan Andjani. Arion terlihat menangis disamping kakaknya yang terlihat kesakitan memegangi lengannya .


"Bagaimana bisa seperti ini!?" tanya Djani pada anak-anaknya, dan karena panik, Djani berbicara sambil berteriak.


"Kakak terluka karena terdorong jatuh oleh salah satu pemain basket, bahkan tangannya terinjak" Arion menjelaskan, sementara Andjani menahan sakit karena diobati, Qaynaya dengan penuh kelembutan, memeluk kepala anaknya untuk memberikan kekuatan.


"Pertandingan macam apa hingga terjadi kecelakaan yang begitu besar?!" Djani marah, lalu segera bergegas keluar untuk mencari guru yang bertanggung jawab pada acara perlombaan basket yang diikuti oleh Andjani.


"Maaf bapak, tapi ini murni kecelakaan. Bapak tenang saja, karena seluruh biaya pengobatan dan perawatan anak bapak, sampai sembuh akan ditanggung oleh anak yang tanpa sengaja menginjak tangan Andjani, karena kebetulan mereka satu tim" guru mulai menjelaskan, sebenarnya terlihat kalau guru itu juga tengah ketakutan.


"Tenang saja penjual minuman cafe kecil, aku tau kamu pasti ketakutan tidak bisa membayar biaya pengobatan anakmu, tapi kamu tenang saja. Aku akan membayarnya sampai sembuh" Reina datang entah dari mana dan ikut berbicara, terlihat anaknya mengikutinya dari belakang.


"Oh jadi anakmu yang melakukan ini pada anakku?!" Djani geram dan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Cheril, kembalilah kedalam kelasmu. Mama yang akan menyelesaikan semua ini" Reina dengan santainya lalu duduk di sebuah kursi. Sementara Djani masih saja berdiri dan menahan amarahnya, sebagai seorang laki-laki, dia tidak mungkin memberi perhitungan kepada seorang wanita.


Selama ini, Reina selalu saja gagal untuk memisahkan Qaynaya dari Djani. Hal itu membuat Reina terlihat sekali sangat membenci Qaynaya.


Setelah Andjani mendapatkan pertolongan pertama, Qaynaya berniat membawa anaknya ke rumah sakit terdekat, supaya bisa mendapatkan obat, agar Andjani segera sembuh. Arion dan Ardi mengantarkan Andjani kedalam mobil, sementara Qaynaya menyusul suaminya terlebih dahulu.


"Apa anakmu yang melakukan ini pada anakku?" tanya Qaynaya pelan, tanpa sengaja tadi dia mendengarkan perkataan dari Reina yang mengatakan akan membayar semua biaya pengobatan Andjani.


"Maaf nyonya Qaynaya, ini semua terjadi karena tidak disengaja, ini hanya kecelakaan" guru yang ada di dalam ruangan itu menjelaskan pada Qaynaya. Sepertinya Qaynaya tidak mempercayai hal itu, dan memilih untuk tidak menjawab, dan hanya mengangguk pelan pada sang guru.


"Kamu selalu saja mengganggu diriku, aku tidak pernah membalas mu, dan hanya berjuang untuk membela diri. Tapi akan lain ceritanya kalau anakku yang jadi korbannya. Aku tidak tau ini disengaja atau tidak, tetapi kalau itu adalah anakmu. Aku sangat yakin kalau ini disengaja. Aku akan mencari bukti tentang masalah ini, dan kalau sampai ini ada unsur kesengajaan, maka bersiaplah untuk menanggung nya!" Qaynaya menatap tajam kearah Reina.


Sementara itu, yang ditatap malah tersenyum meremehkan. Reina merasa bahwa dirinya adalah penyumbang terbesar di sekolah ini, jadi apapun yang terjadi, tentu saja dirinya yang akan dibela. Qaynaya tertawa mendengarnya, dia tidak menyangka kalau Reina, selain gila, tapi juga sangat sombong.

__ADS_1


"Saat ini, kita berada pada zaman, dimana sosial media tidak kalah menyeramkannya dibanding dengan penjara. Jadi tentu saja kamu tidak perlu khawatir kalau aku menyelidiki masalah ini. Cobalah nantinya selesaikan semua masalah menggunakan uangmu" Qaynaya mengancam Reina, dan segera menggandeng tangan suaminya untuk segera keluar dari dalam ruangan.


"Ayo cepat pergi, Andjani sudah menunggu dari tadi didalam mobil" Qaynaya berjalan dengan cepat, Djani yang entah sedang menelepon siapa, terlihat sangat serius. Tetapi Djani berbicara sambil berjalan mengikuti langkah kaki istrinya.


__ADS_2