
"Kenapa kamu begitu lemah Qay?" Rini yang baru masuk kedalam dapur, langsung saja ikut berbicara.
"Iya ma, kelemahanku memang anak-anak ku. Aku tidak mau mereka terluka, atau terlibat dalam masalah"
"Kamu harus menyadari satu hal Qay. Mereka tidak selamanya ada dalam pengawasan mu. Berikan kepercayaan pada mereka, khususnya sekarang bagi Anna"
"Aku percaya padanya ma, selama ini aku membebaskan dia melakukan apapun kegiatan yang ingin dia lakukan. Tapi ini berbeda, aku takut Andjani kembali terluka oleh Cheril. Kalau hal ini disebabkan oleh perasaan cinta, maka aku yakin Cheril tidak akan berhenti, aku mengatakan ini karena sudah mengalaminya. Reina yang merupakan mamanya Cheril, bahkan sampai saat ini belum menyerah untuk memisahkan diriku dan Djani"
"Apa itu benar?!" Rini sepertinya terkejut mendengar hal ini, karena dia baru mengetahuinya.
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya kepada mama?" Rini menggenggam tangan Qaynaya, untuk memberikan kekuatan pada menantunya itu, yang pastinya saat ini merasa sangat takut dan khawatir dengan Andjani.
__ADS_1
"Kami sanggup melaluinya selama ini, jadi tidak perlu bercerita pada mama, lagipula kami tidak mau menambah beban mama dan ayah. Dinegara asal kita, dikampung halaman itu, aku tau kalau mama dan ayah sudah direpotkan oleh mama Lilis, yang walaupun setiap bulan aku kirimkan uang, tapi ternyata itu tidak cukup, dan mama Lilis terus saja menganggu mama" Qaynaya merasa tidak enak hati dengan kondisi ini, dia sudah mengetahuinya sedari dahulu, dan sering meminta pada Rini, untuk tidak selalu menuruti keinginan Lilis, Tapi Rini tidak perduli, karena Lilis memaksa untuk memberitahukan alamat Qaynaya kalau sampai dia tidak menuruti semua keinginan Lilis.
Tapi bagi Rini, lebih baik dia mengikuti semua keinginan Lilis, daripada keberadaan Qaynaya terungkap. Rini tidak mau kalau sampai nantinya kebahagiaan Djani dan Qaynaya terusik oleh kelakuan Lilis.
"Kenapa kamu terus saja mengungkit hal itu? jangan membebani hatimu lagi, dengan memikirkan hal yang tidak penting. Mama melakukannya karena mama sadar kalau mama sangat sanggup, lagipula untuk siapa lagi semua harta yang mama miliki, kalau bukan untuk kalian" Rini menjelaskan hal yang sebenarnya sudah sering dia katakan.
Djani lalu mengajak Qaynaya untuk masuk kedalam kamar, karena dia sudah merasa sangat mengantuk. Mereka lalu berpamitan kepada Rini, untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
"Sayang, apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Qaynaya pada Andjani yang sedang tiduran di atas ranjangnya, sambil mendengarkan musik.
"Tidak ma, jangan terlalu khawatir lagi, aku sudah semakin membaik. Sekarang sebaiknya mama dan ayah tidur saja"
__ADS_1
"Kamu yakin tidak mau ditemani mama?" tanya Qaynaya.
"Tadi siang mama sudah terus bersamaku, bukankah ayah juga membutuhkan mama" jawab Andjani, sambil melirik kearah ayahnya, yang tentu saja Djani langsung mengangguk menyetujui perkataan anaknya, tapi naas, karena Qaynaya melihat hal tersebut.
"Kamu ini, anak kita sedang terluka, takutnya dia membutuhkan sesuatu nanti malam" ujar Qaynaya kesal pada Djani.
"Iya baiklah, aku akan tidur sendiri ditemani dengan kesepian untuk malam ini, yang terpenting adalah, anak cantikku ini segera sembuh" Djani tersenyum sambil menarik tali pita baju istrinya, yang membuat Andjani tertawa melihat tingkah laku ayahnya yang sangat bucin pada mamanya.
Untung saja Rini segera masuk kedalam kamar Andjani, dan meminta Qaynaya dan Djani untuk masuk saja kedalam kamar mereka sendiri.
Setelah sampai didalam kamar, Qaynaya yang sudah mencuci muka dan berganti baju, tiba-tiba saja melamun saat menunggu suaminya membersihkan diri. Dia mengingat dengan segala perbuatan Reina selama ini, tapi karena suaminya orang berpengaruh di negara ini, maka dia selalu saja lolos dari hukuman berat.
__ADS_1