Kesepian

Kesepian
Remaja


__ADS_3

"Ayah, kenapa ayah begitu mencintai mama?" Arion bertanya saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah.


"Ayah juga tidak tau"


"Apa karena mama sangat cantik? atau karena pintar?" tebak Arion.


"Mungkin semua benar" Djani sendiri tidak mengetahui apa yang menyebabkan dia begitu bucin pada Qaynaya.


"Cinta itu tidak butuh alasan" Andjani tiba-tiba berucap lirih, membuat Djani sedikit tersenyum, itu adalah kata-kata yang pernah diucapkannya dulu.


"Kakakmu sangat pintar, sepertinya kakakmu adalah jelmaan dari mama kalian" Djani sambil tersenyum saat mengucapkannya.


"Lalu aku seperti siapa?" tanya Arion kemudian.


"Kamu itu anak pungut" jawab Andjani dengan cueknya, dia lalu membuka ponselnya, dan melihat begitu banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari Ardi.


Andjani malas membukanya, entah kenapa dia belum terlalu tertarik pada lawan jenis, padahal teman seusianya sudah mulai mengenal cinta monyet.


Sesampainya di sekolah, Ardi sudah menunggu kedatangan mereka di pagar sekolah dengan senyuman manisnya, tidak lupa Ardi juga menyapa Djani.


"Selamat pagi om" Ardi menundukkan kepalanya, Djani membalas dengan senyuman, lalu segera pergi menunju cafenya, setelah kedua anaknya keluar dari mobil.


"Aan, kenapa tidak membalas pesanku?" Ardi bertanya dengan riangnya pada Andjani yang dipanggilnya dengan nama Aan, menurutnya nama itu lebih simple.


Andjani tidak menjawab dan terus focus berjalan menuju ke arah kelasnya. Tiba-tiba ada yang menghadangnya ketika dia akan masuk ke dalam kelas.


"Jangan sok kecantikan ya kamu jadi cewek, dasar anak ingusan. Aku ini adalah seniormu, jadi kamu harus menghormati ku"


"Maaf kak Cheril, aku harus segera masuk, kelas akan segera dimulai" Andjani berkata sopan menjawab ucapan dari Cheril, sepertinya Andjani sudah biasa dengan sikap kakak kelasnya tersebut.

__ADS_1


"Ada apa ini? oh ada kak Cheril disini? ada perlu apa kak?" Ardi baru menyusul, tadi dia sempat berhenti saat ada temannya yang mengajaknya berbicara, jadi tidak bersama dengan Andjani sampai di kelasnya.


"Tidak ada apa-apa Ardi, aku hanya bertanya pada Andjani, apakah dia ada waktu siang ini untuk melakukan pertandingan basket mewakili sekolah ini" Cheril sudah berubah sikap menjadi sangat lembut dihadapan Ardi.


"Apa benar Aan? lalu apakah kamu mau?" tanya Ardi pada Andjani.


"Akan aku pikirkan" jawab Andjani dengan cueknya, dia sudah sangat biasa menghadapi Cheril yang berubah-ubah seperti bunglon.




Dirumah, Qaynaya begitu sibuk merapikan meja di ruang keluarga yang akan digunakan untuk dirinya mengobrol bersama Sasha, dan juga menunggu kedatangan Rini dan Rega, setelah hampir siang, Sasha datang dengan membawa berbagai macam kue dan bolu.




"Qay, aku heran, bagaimana bisa Ardi sangat menyukai Andjani, tapi anakmu itu sangat cuek dan tidak mau membuka hatinya sedikitpun, kasihani anakku Qay" Sasha menjatuhkan tubuhnya di pinggiran sofa.



"Kamu ini bicara apa? mereka bukan di usia yang harus memikirkan hal itu, walau itu memang tidak dilarang, biarkan mereka belajar di usia mereka saat ini" jawab Qaynaya sambil merapikan meja.



"Dia mulai banyak rahasia padaku Qay, aku tidak menyukai hal ini" Sasha bangkit dari sofa, lalu memilih duduk disamping Qaynaya yang sedang lesehan sambil merapikan toples kue di meja.


__ADS_1


"Permasalahan dalam menghadapi anak usia remaja yang sering kali dialami adalah ketika orang tua mulai merasa anak mereka menjadi jauh dan tidak lagi terbuka pada Mama atau Papanya. Di usia ini, wajar jika anak mulai menjauh dari orangtuanya. Penyebabnya terjadi karena terdapat perbedaan dalam sudut pandang antara orang tua dengan anak yang memiliki rentang usia cukup jauh" ujar Qaynaya tanpa berpaling dari kesibukannya.



"Kamu sudah mulai menjadi guru lagi, tapi aku suka mendengarnya, coba kasih tips dan masukan nya dong, aku harus bagaimana?" Sasha membuka salah satu toples dan segera memakan isinya.



"Tips pertama yang bisa kamu lakukan adalah dengan memasuki dunia Ardi. Cobalah untuk memahami apa saja yang menjadi tren dikalangan anak seusia Ardi, serta mempelajari psikologis mereka. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah dekat dengan Ardi karena telah menjadikan diri sebagai teman, bukan orang tua. Sebab teman adalah sosok yang sangat mereka cari di masa ini untuk berkeluh kesah" Qaynaya mengambil sebuah remote televisi dan ingin menonton acara favoritnya.



"Jelaskan lebih banyak Qay, kamu bisa menonton televisi nanti lagi" pinta Sasha, lalu mengambil remote televisi yang berada di tangan Qaynaya.



"Tidak hanya sebagai orang tua, kamu bisa menjadi teman bagi Ardi sehingga lebih mudah dekat dengan Ardi, tanpa terkesan menggurui" Qaynaya juga ikut mencomot biskuit di dalam toples kaca, yang sekarang dikuasai oleh Sasha.



"Kamu sih enak, karena kedua anakmu sangat menurut padamu" Sasha berbicara sambil terus menyuapi mulutnya dengan biskuit.



Qaynaya tidak menjawab, karena dia juga tidak tau apa yang harus dia katakan, tapi memang benar yang dikatakan oleh Sasha, kedua anaknya memang selalu menurut padanya. Qaynaya sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti ini.



Yang di inginkan Qaynaya tidak terlalu muluk-muluk, dia hanya ingin selalu berada disamping anak-anaknya, apalagi saat ini kedua anaknya sudah remaja, masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, jadi banyak hal yang terkadang membuat mereka bingung mencari jati diri.

__ADS_1


__ADS_2