Kesepian

Kesepian
Suamiku


__ADS_3

"Apa kamu masih ingin berjalan-jalan, atau kita kembali saja ke kamar. Mari kita bereskan barang-barang dan segera pergi dari tempat ini, sepertinya tempat ini sudah tidak aman lagi" Djani melepaskan pelukannya lalu menggandeng tangan istrinya.


Qaynaya menghentikan langkah suaminya dan memintanya untuk tenang, Qaynaya tau kalau Djani sangat ingin sekali berlibur di pantai, jadi jangan hanya karena masalah sepele seperti ini, lalu mereka sudah ketakutan.


Djani bercerita kalau dia memang sangat takut, dan ketakutan terbesarnya adalah kembali kehilangan Qaynaya. Baginya Qaynaya adalah hidupnya, jadi tidak mungkin Djani bisa hidup tanpa Qaynaya.


"Jangan berlebihan, bukankah sebelum mengenal diriku, kamu juga bisa hidup dengan sangat baik. Bukankah kamu adalah idola di kampus dulu?, memangnya kamu pikir aku tidak tau,, itulah alasan ku menolakmu beberapa kali, karena aku pikir, pria seperti dirimu pasti playboy kelas kakap" Qaynaya dengan manjanya mengalungkan tangannya ke leher suaminya dan sedikit berjinjit, karena Djani yang lebih tinggi darinya.


"Itu sebelum aku mengenalmu, setelah aku mengenal dirimu, hatiku tidak ada lagi padaku, karena sudah kamu curi" Djani tersenyum lalu mencium kening istrinya.


"Dasar gombal" Qaynaya memanyunkan bibirnya lalu melepaskan tangannya, tapi Djani menahannya.


"Aku tidak tau apa itu menggombal, yang aku tau adalah kamu cinta pertama dan terakhir ku. Seperti layaknya buaya yang hanya setia dengan satu pasangan" Djani berbicara seolah sedang menggombal, padahal dia hanya mengatakan kenyataan.


"Iya kalau buayanya masih di air, kalau di darat, maka jadi buaya darat yang sukanya menggoda wanita"

__ADS_1


"Tidak pernah, aku tidak pernah memandang wanita lain. Hanya kamu yang ada dimata dan hatiku"


"Ah sudah, kamu terus merayu dan menggombal, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Sekarang ayo kita jalan-jalan, bukankah kamu mengatakan ingin mengajakku berjalan ditepi pantai?"


"Kamu yakin sudah merasa lebih baik? kalau kamu masih merasa takut, kita bisa kembali ke kamar sekarang" Djani merapikan rambut Qaynaya yang terus beterbangan terbawa angin.


"Apa yang harus aku takutkan? bukankah suamiku ada disampingku. Suami yang selalu bisa menjagaku dari apapun dan siapapun. Hanya tidak bisa menjagaku dari dirinya sendiri, kalau sekarang kita kembali kedalam kamar, maka sampai besok pagi aku tidak akan mungkin bisa tidur. Jadi percuma saja, lebih baik kita berjalan-jalan saja dulu, siapa tau kan nanti kamu kecapean jadi setelah kita kembali ke kamar, kamu akan langsung tertidur" Qaynaya mengedipkan matanya untuk menjahili suaminya.


"Awas saja, seumur hidupmu, aku akan terus menyiksamu"


"Panggil aku lagi seperti itu, lalu aku tidak akan membiarkan dirimu lolos"


"Suamiku, suamiku, suamiku, suamiku, suamiku" Qaynaya berhenti berlari lalu berbalik badan.


"Suamikkuuuu!!" Qaynaya tertawa riang lalu menerjang suaminya, dan langsung menciumnya. Suasana entah kenapa menjadi sepi, karena mereka telah berjalan jauh dari banyaknya pengunjung lainnya.

__ADS_1


Djani tentu saja juga langsung berlari untuk menangkap tubuh Qaynaya yang berlari kearah nya. Dan setelah mereka saling berpelukan, tanpa malu sedang berada di mana, Djani dan Qaynaya tertawa bersama dengan riangnya dan terus saja saling berciuman.


Djani dan Qaynaya kemudian duduk di sebuah kursi panjang yang berada di pinggir pantai, menikmati indahnya malam disebuah pulau terpencil yang indah. Mereka saling memberikan kehangatan dengan saling duduk rapat, dan saling menggenggam tangan untuk mengusir rasa dingin.


"Qay, kamu Qaynaya kan?" seorang pria datang mendekat dan menyapa Qaynaya. Djani yang merupakan pawang yang sangat aktif, tentu saja langsung waspada.


"Pak Arka? kenapa bapak ada disini? apa bapak juga berbulan madu di tempat ini? lalu mana istri bapak?" Qaynaya bangkit dari duduknya untuk menghormati Arka yang merupakan mantan bosnya.


"Bagaimana kamu bisa berada disini? bukankah seharusnya kamu sedang bekerja?" Djani melihat Arka dengan tatapan tidak suka.


Arka menoleh ke arah Djani, dan dengan pandangan matanya yang tajam, dia mengatakan sesuatu yang membuat Djani tercengang.


"Aku adalah pemilik dari perusahaan itu, jadi aku bebas melakukan apapun" Arka seolah sedang menantang Djani.


Djani tidak habis pikir, bagaimana perusahaan yang belum lama ini dibeli olehnya, sekarang sudah menjadi milik Arka. Sepertinya ini sangatlah mustahil.

__ADS_1


__ADS_2