Kesepian

Kesepian
Tua-tua Keladi


__ADS_3

"Sayang, sayang" Djani memanggil istrinya yang sedang melamun, dan tidak menyadari dirinya yang sedari tadi ada di depannya.


Qaynaya gelagapan menjawab, karena dia terkejut. Djani langsung menyambar bibir Qaynaya yang terlihat kesusahan berbicara tersebut.


"Jangan seperti ini, kenapa kamu tidak khawatir dengan kondisi anak kita?" Qaynaya sedikit mendorong tubuh Djani, setelah ciuman mereka terlepas.


"Jangan melamun, apa yang kamu pikirkan?. Jangan khawatirkan apapun, karena aku yang akan mengurus semuanya" Djani mendorong tubuh istrinya dan langsung meminta jatah rutin malamnya, karena tanpa itu dia tidak bisa tidur. Djani tidak pernah berubah, walau umurnya tidak lagi muda, Qaynaya sendiri hanya bisa pasrah menerima setiap apa yang di inginkan oleh suaminya.


Qaynaya tentu saja hidup dengan penuh kebahagiaan, karena dia adalah wanita yang sangat beruntung, tidak ada yang kurang dalam hidupnya. Qaynaya mempunyai dua orang anak yang tampan dan cantik, apalagi kedua anaknya sangat lah pintar dan perhatian, lalu dia juga mempunyai suami yang penuh perhatian dan cinta kasih, serta kasih sayang yang melimpah ruah.


Untuk masalah yang sangat sensitif, yaitu keuangan dan kebutuhan hidup sehari-hari, Qaynaya juga tidak perlu menghawatirkan hal itu.


Kehidupannya yang susah sedari kecil, kasih sayang kedua orang tuanya yang tidak adil. Lalu mempunyai mama kandung yang sangat jahat padanya, bahkan pernah memisahkan dirinya dengan orang yang sangat dicintainya. Qaynaya juga harus selalu membantu perekonomian keluarga nya sembari sekolah dan kuliah, bahkan saat sudah bekerja, dia juga harus membiayai sekolah adik-adiknya.

__ADS_1


Sekarang semuanya sudah terlewati, hari-hari berat yang dia lalui, sudah tergantikan dengan kebahagiaan hidup bersama dengan Djani dan anak-anaknya.


Satu-satunya cobaan yang dia terima sampai saat ini, hanyalah teror Reina yang masih sering mengintai. Bahkan saat ini Andjani juga terseret dalam hal yang sama.


"Ahhh!"


"Uugghhhh!"


Terdengar rintihan dan lenguhan panjang dari dua insan itu, Djani lalu memeluk tubuh Qaynaya setelah pertempuran panjang mereka. Untuk hal yang satu ini, umur tidak menjadi masalah, karena istilah tua-tua keladi, mungkin sangat cocok disematkan pada Djani.


"Apa yang kamu inginkan untuk aku rubah?" tanya Djani.


"Tidak ada. Kamu sudah begitu sangat sempurna. Hidupku sudah sangat bahagia, kadang aku berfikir kalau aku ini sedang hidup di dalam akhir sebuah dongeng, dimana kehidupan, selalu penuh dengan kebahagiaan. Tapi terkadang aku juga takut, karena aku begitu khawatir, kalau-kalau apa yang aku pikirkan itu benar, bagaimana kalau sampai ini semua hanya dongeng indah saja, yang pada akhirnya aku harus segera mengakhiri nya karena cerita sudah tamat" Qaynaya terlihat sangat mellow, mungkin ini juga pengaruh dari anaknya yang sedang terluka.

__ADS_1


"Kamu ini bicara apa, kehidupan mu memang sudah selayaknya harus dipenuhi dengan kebahagiaan, karena akulah yang ada di sampingmu, jadi intinya adalah, jangan pernah meninggalkan diriku" Djani menyelimuti tubuh mereka menggunakan selimut yang sama.


"Sayang, bolehkah aku pergi ke kamar Anjhani, aku sangat menghawatirkan dirinya" Qaynaya mencoba menggerakkan tubuhnya yang di peluk erat oleh suaminya.


"Tidurlah sayang, kamu pasti sangat kelelahan. Jangan memikirkan hal lain lagi untuk saat ini, kamu tenang saja, karena ada mama yang menemani Andjani" Djani mencegah istrinya untuk pergi darinya.


"Sayang, pelukan seorang ibu, rasanya berbedanya dengan pelukan orang lain, walau itu adalah nenek kandungnya sendiri" Qaynaya masih berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Djani.


"Biarkan dia kuat, dia juga tau kalau kamu sangat menyayangi dan menghawatirkan dirinya" Djani sebenarnya tau kalau Qaynaya sangat kelelahan, sedari tadi juga dia tau kalau Qaynaya selalu bersama dengan Andjani.


"Tidurlah sebentar dahulu" Djani terdengar tegas saat mengucapkannya, hingga membuat Qaynaya menurut.


Setelah dirasa Qaynaya sudah tidur dengan nyenyak, Djani lalu segera turun dari ranjang dengan perlahan. Entah apa yang ingin dia lakukan, karena setelah memeriksa sebentar anak-anaknya di dalam kamar mereka masing-masing, Djani langsung membuka laptopnya.

__ADS_1


Djani telah memeriksa Arion yang sedang menyelesaikan tugas rumahnya dari sekolah, setelah meminta pada Arion untuk tidak bergadang, dan segera tidur setelah tugasnya selesai, Djani lalu menuju ke kamar Andjani, yang ternyata anak gadisnya itu sudah tertidur, sepertinya karena efek dari obat yang tadi dia minum. Obat dari dokter yang mengandung sedikit obat tidur, supaya Andjani bisa tidur dengan nyenyak.


Bunyi ketikan laptop terdengar, walau sangat lirih, Djani lalu tersenyum melihat sesuatu di layar laptopnya.


__ADS_2