Kesepian

Kesepian
Tenggelam


__ADS_3

"Apa yang terjadi? kenapa Djani terlihat marah?" tanya Serli masuk ke dalam kamar, lalu memberikan Andjani, karena sekarang waktunya menyusui secara langsung.


Disiang hari, karena bekerja. Qaynaya memompa ASI nya, tapi dimalam hari, dia menyusui secara langsung, supaya kelekatan hati mereka tetap terjaga.


"Aku mengatakan kalau Andjani bukan anaknya"


"Kenapa kamu segila ini,, bukankah sangat tidak adil untuk Djani, karena bagaimanapun juga, Andjani adalah anak kandungnya. Lagipula apa lagi yang kamu pikirkan? bukankah sudah ketahuan kalau Djani tidak pernah mengkhianati mu, apalagi dia selama ini terus saja mencari mu"


"Biarlah seperti ini saja, Andjani lebih aman menjadi orang biasa, kalau hidup sebagai anak Djani, pasti kehidupannya akan berat. Lihatlah saja hidup Djani, bukankah sangat berat, dia harus dua kali ditinggalkan oleh istrinya karena melakukan pernikahan bohongan"


"Dan istrinya itu kamu,, dasar gila kamu ini, harusnya sebagai istri jangan hanya kabur mulu kerjaan, tapi temani suamimu"


"Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu? bukankah kamu selalu mendukungku,, aakkhhh" Qaynaya menjerit saat mulut anaknya menyedot ASI nya. Serli kaget lalu memeriksa.


"Apa yang terjadi? kenapa lecet seperti ini?!" Serli tanpa malu memeriksanya, karena tidak ada rasa malu lagi bagi keduanya, bahkan saat lahiran juga Serli menemani Qaynaya dan bisa melihat sekujur tubuh sahabatnya itu tanpa sehelai benangpun, bisa dikatakan kalau Serli adalah pengganti ibu bagi Qaynaya.


Tentu saja Qaynaya sangat bahagia dan bersyukur dengan kehadiran Serli yang selalu setia di sampingnya.


"Kenapa bayi besar mu itu tidak bisa berhati-hati, lalu kenapa kamu hanya diam membiarkan!?" Serli kesal lalu mengambil kembali Andjani dari pangkuan Qaynaya untuk memberikan ASI dari dot saja.


"Hehe,, enak" Qaynaya tanpa malu mengucapkannya, yang mendapatkan jitakan dari Serli.


"Dasar tidak tau malu,, hahaha!" Serli akhirnya tidak bisa juga menahan tawanya, bagaimanapun dia bahagia karena sahabatnya telah bertemu kembali dengan suami tercintanya.


Mereka tertawa-tawa bersama, bahkan Andjani ikut tertawa, karena bisa merasakan kebahagiaan yang ada di hati mamanya.


"Bagaimana kalau dia mengetahuinya? dia pasti akan membawa Andjani" Serli lalu berjalan ke luar kamar, tanpa menunggu jawaban dari Qaynaya, karena pasti sahabatnya itu juga masih tidak tau harus bagaimana.


Qaynaya keluar dari dalam kamar dan melihat Andjani yang tengah minum susu dalam gendongan Serli. Qaynaya heran karena sudah ada gendongan bayi.


"Aku membelinya tadi, bisa putus tanganku kalau terus membopongnya tanpa gendongan, menunggu mu untuk mencari gendongan miliknya pasti butuh waktu lama" Serli mengatakan dengan nada kesalnya, tapi bagi Qaynaya itu sudah biasa, karena sahabatnya itu tidak betul-betul sedang marah padanya.


"Terima kasih aunty" ucap Qaynaya menciumi pipi anaknya yang semakin menggembung.


"Kenapa pipinya bisa sebesar ini? kamu tidak memberinya sesuatu yang aneh kan?" tanya Qaynaya dengan cueknya sambil mengambil beberapa roti untuk makan malamnya.


"Makan yang benar Qay, makanlah nasi. Ada di dalam kulkas, tinggal kamu panaskan sebentar" Serli yang sangat perhatian pada Qaynaya, khawatir kalau sahabatnya bisa sakit karena tidak makan dengan benar, apalagi makanan yang harus di konsumsi Qaynaya adalah makanan yang sehat, supaya ASInya lancar dan berkualitas.


"Aku sangat lelah" Qaynaya makan roti sambil merebahkan kepalanya di atas meja.


"Sepertinya Djani telah menghabisi mu"


"Begitulah, dia memang selalu seperti itu sejak dahulu" Qaynaya malu lalu menutupi wajahnya dengan sepotong roti. Serli berdecak melihatnya.


"Ada seorang ibu yang bersikap layaknya anak remaja yang tengah jatuh cinta, sadarlah Qay. Malu lah pada anakmu ini" ujar Serli lalu melihat ke arah Andjani dan mengajaknya berbicara.


"Iya ya sayang, mama mu itu tidak tau malu,, apa tadi kamu terus mendengar rintihan mamamu didalam kamar, ulluuhh cayangnya aunty, pasti kamu sangat tersiksa sekali kan tadi, kamu berteriak minta tolong seandainya sudah bisa. Memang dasar ya kedua orang tuamu tidak tau diri, baiklah sekarang habiskan susumu lalu kita tidur, sepertinya mamamu kelelahan dan tidak bisa menjagamu malam ini, jadi malam ini tidurnya sama aunty dulu ya"


"Aku bisa Ser,, biarkan dia tidur bersama ku" Qaynaya mengangkat kepalanya lalu tersenyum, tapi wajahnya yang letih tidak bisa ditutupi dengan lipstik sekalipun.


"Sudahlah sana tidur" ucap Serli lalu berniat untuk masuk ke dalam kamarnya, tapi mereka dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Qaynaya dengan malas dan berjalan pelan lalu memeriksa siapa yang datang.


"Siapa?" tanya Qaynaya dari balik pintu, karena yang datang tidak terlihat tertutupi banyak barang yang dibawanya.


"Aku!"


Qaynaya kaget mendengar suaranya dan berniat tidak akan membukakan pintu. Tapi Djani terus mengetuk pintu dengan keras, bahkan menggunakan kakinya. Akhirnya mau tidak mau Qaynaya membukakan pintu. Djani masuk dengan susah payah membawa banyak kotak dan tas belanjaan.


"Dimana Anna?" tanya Djani celingukan mencari keberadaan Andjani.


"Sudah tidur bersama dengan Serli"


"Kenapa kamu biarkan dia tidur dengan orang lain?!, cepat panggilkan!" Djani mengambil salah satu kotak dan mengambil isinya, yang ternyata adalah boneka mainan yang bisa berbunyi dan menirukan suara.


"Jangan ganggu dia, lagipula kenapa kamu menamakannya Anna?, namanya Andjani!!,, lalu kenapa dia bisa tidur bersama dengan Serli, padahal biasanya denganku, karena aku kelelahan akibat ulah seseorang, jadi sekarang pulanglah, jangan ganggu kami lagi" Qaynaya menarik tangan Djani dan mendorongnya keluar, tapi karena dia masih lemah dan sakit, Qaynaya terjerembab ke dalam pelukan Djani.


"Bilang dong kalau mau dipeluk, pake marah-marah segala. Ayo makan bersama dulu, tadi aku belikan makanan" ujar Djani jahil lalu memeluk erat tubuh Qaynaya.


"Siapa yang mau dipeluk, aku terjatuh!!" Qaynaya mencoba berontak, tapi tidak sanggup melawan tenaga Djani.


"Ada apa sebenarnya? kenapa sangat ribut sekali, Andjani sampai terbangun kembali!!" Serli marah dan keluar dari dalam kamar, dia membalikkan badannya begitu melihat pemandangan yang ada.


"Masuklah ke kamar kalian, kenapa berpelukan di depan pintu yang terbuka, orang akan salah paham. Mereka tau nya kan suami Qay sudah menghilang entah kemana?" ucap Serli dan berniat kembali masuk kedalam kamarnya, tapi Djani memanggil dan menghentikannya.


"Anna, tunggu ayah" Djani melepaskan pelukannya pada Qaynaya dan mencium keningnya sekilas, lalu berjalan cepat ke arah Serli, dan segera mengambil Andjani dari gendongan Serli.


"Terimakasih aunty, tapi malam ini aku akan tidur bersama dengan ayah" ucap Djani seolah Andjani yang sedang berbicara dengan Serli.


"Kenapa kamu sangat luwes sekali menggendong bayi, dan juga tau cara berbicara seolah menjadi bayi? itu biasanya hanya bisa dilakukan oleh yang sudah terbiasa, apa kamu punya anak lain?" tanya Serli memprovokasi.


"Jangan sembarangan kalau berbicara, seumur hidup yang aku sentuh cuma istriku, jadi tidak mungkin aku punya anak lain, kalau aku pandai menghadapi bayi, itu karena pada dasarnya aku memang pandai dan pintar dalam segala hal, sudah sana pergi, jangan mengganggu kami lagi" Djani mengusir Serli setelah Andjani berada di gendongannya.


"Dasar tidak tau berterima kasih!" Serli menggerutu lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Apa masih sangat sakit?" tanya Djani lembut, mereka sudah masuk kedalam kamar, Andjani tiduran di atas ranjang sambil memainkan boneka yang dibawakan oleh Djani.


"Tidak" Qaynaya sepertinya sudah sangat mengantuk, matanya terpejam setelah menjawab pertanyaan Djani.


"Makan dulu sedikit, ini kelonin dulu Anna, akan aku ambilkan makanannya"


"Tidak Djani, aku sangat mengantuk. Yang aku butuhkan hanyalah tidur, aku sudah makan banyak roti tadi"


"Makan yang benar dan seimbang, aku suapi ya?"


"Tidak, aku mohon biarkan aku tidur" Qaynaya tidak juga terbuka saat Djani mengajaknya berbicara, hingga saat Djani memanggilnya, sudah tidak ada jawaban lagi, sepertinya Qaynaya sudah berpindah ke alam mimpi.


Djani tersenyum memandangi wajah istri dan anaknya secara bergantian, dengan diam-diam, dia lalu merekam dan mengirimkannya pada Rini.


"Hadiah untuk keluarnya mama dari tempat itu, kita akan langsung bisa berkumpul satu keluarga" Djani tersenyum dan bahkan hampir menangis saat mengetik pesan bersama video yang baru saja dia ambil.

__ADS_1


Andjani begitu anteng dalam asuhan Djani, setelah susunya habis, Andjani langsung tertidur. Dengan perlahan, Djani lalu menidurkan anaknya kedalam boks bayi, lalu bergerak secara perlahan kearah Qaynaya.


"Sangat cantik walaupun saat tidur, kamu begitu serakah sayang. Wajahmu yang sudah sangat cantik ini, kenapa membuatmu menjadi istri yang nakal? istri yang selalu meninggalkan suaminya. Baiklah sayang, aku memaafkan dirimu karena kamu pergi karena ulahku. Pesonamu sungguh sangat luar biasa, hingga wanita manapun tidak berarti sedikitpun di mataku" Djani bergumam sambil menciumi kening istrinya, karena sangat lelah dan mengantuk, Qaynaya tidak bergerak sedikitpun.


Djani mengingat saat beberapa wanita berusaha mendekatinya, tapi baginya, tidak ada yang membuatnya bangkit selera saat melihatnya, karena sepertinya hatinya sudah sangat terjatuh pada pesona Qaynaya.


Cukup lama Djani menciumi seluruh wajah Qaynaya dengan penuh kelembutan dan hati-hati, dia terus memandangi wajah yang sangat dia rindukan itu sembari sesekali menciuminya. Hingga akhirnya hasratnya tidak lagi bisa ditahannya.


"Aahhh" Qaynaya terbangun saat merasakan sentuhan lidah di lehernya.


"Diam" Djani berbisik di telinga Qaynaya lalu menjilatinya.


"Jam berapa ini?" tanya Qaynaya memundurkan tubuhnya. Djani kesal lalu menindih tubuh Qaynaya supaya tidak bisa bergerak lagi.


"Apa yang coba kamu lakukan?, kenapa kamu tidak pulang? Andjani dimana?"


"Dimana ada kamu, disitulah seharusnya aku berada, Anna sudah tidur dari tadi, aku sudah menidurkannya. Sekarang waktunya kamu menidurkan ku"


"Djani, lepaskan aku. Kamu apa-apaan, Andjani masih kecil dan aku belum sempat keluar rumah untuk beli alat kontrasepsi"


"Jangan pernah berani melakukan hal itu, bagaimanapun juga, kamu adalah istriku. Jadi tidak akan aku biarkan kamu memakai hal seperti itu, kenapa kamu tidak mau mengandung anakku lagi?" Djani kembali kesetanan kalau menyangkut hasratnya dengan tubuh istrinya.


"Djani tenanglah, kalau aku istrimu, seharusnya kamu tau, kalau melahirkan tidak diberi jarak, itu sangat beresiko tinggi. Lagipula kita harus focus dulu dengan pertumbuhan Andjani"


"Kita? berarti benar kalau Anna adalah anakku?"


"Bukan, tentu saja bukan. Maksudnya aku harus focus pada tumbuh kembang Andjani, lagipula kamu ini kenapa? datang-datang seperti ini tanpa rasa malu, kita sudah berpisah cukup lama, apa tidak ada rasa canggung sedikitpun yang kamu rasakan?" Qaynaya mendorong tubuh Djani, membuat Djani semakin kesal, dan tanpa banyak bicara lagi, Djani lebih memilih untuk melakukan aksi nyata.


"Aakkhhh Djani" Qaynaya melenguh saat lahannya kembali basah disirami oleh Djani.


"Kalau dia bukan anakku, maka kamu harus mengandung dan melahirkan anakku. Kalau kamu menutupinya dariku dan ternyata Anna adalah anakku, maka sudah cukup bagimu untuk terus membohongiku, karena aku akan langsung mengurungmu. Sudah pernah aku katakan, kalau tidak ada ampun lagi bagimu kalau berani meninggalkan diriku lagi. Dan kenapa aku harus canggung padamu? setiap detik yang aku pikirkan hanya dirimu" Djani tidak memberikan waktu pada istrinya untuk sekedar mengatur nafasnya. Setelah beberapa kali Djani mendapatkan pelepasannya, akhirnya dia menyudahinya, karena Qaynaya terlihat sangat lemas.


"Kamu membela Geby saat mama akan menyerang nya, kamu pasti takut kalau wanita itu terluka, apalagi dia sedang mengandung anakmu. Kalau memang kamu ingin hidup bersamanya, kenapa waktu itu kamu harus membawaku kembali saat aku tinggal di pinggiran kota" Qaynaya yang sudah bisa mengatur nafasnya, bertanya dengan pelan dengan mata terpejam, selain karena dia merasa sangat lemas, dia juga takut dengan jawaban Djani.


"Dasar bodoh,, aku bukan melindunginya. Tapi melindungi mama Lilis, bagaimanapun juga, beliau adalah mama mertuaku, aku tidak mau kalau sampai mama Lilis harus berurusan dengan wanita gila itu. Sudah aku katakan untuk menunggu ku, karena aku tidak mau kalau sampai kamu salah faham, tapi kamu tidak menurut dan tetap datang" Djani menciumi mata Qaynaya yang terus terpejam.


"Kenapa tidak menceritakan tentang rencanamu, dan membuatku salah faham, seandainya kamu bercerita, aku tidak akan seperti itu, dan malah bisa membantumu" Qaynaya membuka matanya dan memasukkan kepalanya dalam dekapan Djani. Hatinya mulai mencair, karena tau kalau Djani tidak pernah berubah.


"Aku tidak mau kamu terluka, karena terlibat masalah dengan wanita gila itu. Aku ingin kamu selalu aman sayang, maafkan kalau caraku kembali salah seperti dulu, tapi aku benar-benar tidak mau kamu sampai terluka sedikitpun" Djani mendekap erat kepala istrinya dan menciumi pucuk kepalanya.


"Kenapa harus dengan pernikahan, tidak adakah cara lain untuk menghukum Geby?" Qaynaya mendongakkan kepalanya melihat kearah suaminya.


"Dia mau mencabut tuntutan hukum pada mama dan ayah kalau aku mau menikahinya, dia sudah hamil bahkan sebelum melancarkan aksinya, jadi jangan pernah berfikir aneh-aneh, aku berani jamin, kalau selama hidupku, hanya kamu yang aku sentuh. Itulah kenapa aku bisa gila kalau jauh darimu, karena hanya kamu yang bisa aku sentuh" Djani mencium kening Qaynaya, lalu hendak menindihnya kembali.


"Aahh, sudah Djani. Aku tidak kuat lagi"


"Aku janji kali ini hanya sebentar saja"


"Tidak mau, kita lakukan besok lagi ya" Qaynaya membelai lembut wajah suaminya, yang sudah kembali berada di atasnya. Djani tersenyum mendengarnya lalu turun dari tubuh Qaynaya dan kembali tiduran di samping istrinya. Djani sangat senang karena Qaynaya telah menerimanya, dan tidak ada salah paham lagi, karena sudah mengizinkannya kembali melakukan keinginannya besok lagi.


"Jadi sudah selesai masalah wanita gila itu kan? jangan pernah mengungkitnya kembali" Djani membelai lembut rambut Qaynaya, mencoba untuk membuat istrinya nyaman supaya bisa tertidur.


"Kenapa aku harus mencari mu ke negara ini? kamu pikir apa alasannya? dan sebelumnya bahkan aku telah mencarimu ke negara FF. Saat itu kemungkinannya hanya dua, yaitu kamu ke negara ini atau ke negara FF, tapi hampir setahun, tepatnya sepuluh bulan, aku tidak juga menemukan dirimu, jadi aku yakin kamu berada di negara ini"


"Jangan pernah gunakan pernikahan sebagai ajang untuk apapun itu, karena itu membuatku sangat sakit. Istri mana yang kuat mendengar berita bahwa suaminya akan menikah lagi" Qaynaya terisak, mengingat rasa pedihnya.


"Maaf sayang" Djani tidak kuat mendengar isakan istrinya, lalu mencium lembut bibir Qaynaya.


"Aku tidak mau juga melakukan hal itu, hanya kebetulan itu adalah cara yang bisa aku manfaatkan untuk menyelesaikan masalah. Saat rencana pernikahan ku dengan wanita yang dijodohkan oleh mama, bukankah kamu juga tau, aku menggunakannya untuk mencarimu, dan saat acara pernikahan dengan wanita gila itu, aku tidak punya cara yang lebih cepat dan bagus. Rencana itu hanya tiba-tiba muncul saat wanita gila itu memintaku untuk menikahinya" Djani berhenti menjelaskan karena melihat mata istrinya yang mulai sayu karena sangat mengantuk.


"Sudah sayang, kita punya banyak waktu untuk bercerita, sekarang tidurlah" Djani memeluk tubuh polos istrinya lalu mendekapnya. Setelah terdengar bunyi nafas Qaynaya yang teratur, Djani menyadari kalau istrinya sudah terlelap dalam tidurnya.Tidak lama lalu terdengar suara tangisan, bukan merasa terganggu, Djani tersenyum mendengarnya lalu dengan cepat memakai pakaiannya dan mencuci tangan.


"Sayang, jangan berisik nak, mama sedang beristirahat. Anna sama ayah dulu ya, tunggu sebentar ya sayang" Djani lalu mengambil salah satu kotak belanjaan yang dia bawa, dan segera memakai isi didalamnya, yang merupakan gendongan bayi.


Djani dengan telaten mengasuh Andjani yang dia panggil dengan panggilan Anna, karena menurutnya itu lebih mudah, lagi pula nama anaknya sangat mirip dengannya, sehingga kalau dia memanggil nama lengkapnya, seolah dia memanggil namanya sendiri.


Djani keluar dari dalam kamar, untuk mencari ASI yang berada di dalam kulkas, dengan melihat tutorial nya di ponsel, Djani tau bagaimana cara untuk menghangatkannya.


"Kamu membuatku takut, apa yang kamu lakukan di sini di tengah malam seperti ini?" Doni keluar dari dalam kamar, dari siang dia ketiduran setelah pulang berjalan-jalan dengan Serli dan Andjani, jadi malamnya dia tidak bisa tidur.


"Kamu seperti ini, apa sudah memikirkan konsekwensinya?" tanya Doni kemudian, karena Djani masih sibuk dengan anaknya.


"Apa maksudmu?" tanya Djani, lalu melihat ke arah Doni untuk meminta penjelasan, dari pertanyaan aneh mantan rivalnya itu.


"Bagaimana kalau dia bukan anakmu? misalnya bagaimana kalau dia adalah anakku, kamu sudah sangat menyayanginya, bahkan disaat kalian baru bertemu"


"Karena aku percaya pada istriku"


"Istri apa yang bisa meninggalkan mu?"


"Jangan memancing kesabaran ku, apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?" tanya Djani.


"Aku hanya tidak mau kamu kecewa saat mengetahui bahwa dia bukan anakmu"


"Kalau dia bukan anakku, lalu apa urusannya denganmu, karena aku juga sangat yakin kalau Anna juga bukan anakmu. Jangan mencoba untuk memprovokasi ku, karena aku paham dengan perasaan istriku. Dia bahkan tidak mau disentuh olehmu saat kalian berada dalam ikatan pernikahan"


"Kurang ajar,,, kamu bisa saja membuat mental ku langsung hancur seperti ini. Tapi tenang saja, karena aku sudah tidak mempunyai perasaan terhadap Qaynaya, perasaan layaknya pada lawan jenis. Aku hanya menganggapnya sebagai adik"


"Jangan pernah anggap dia sebagai adikmu, anggap saja orang lain, supaya aku tidak mempunyai kakak sepertimu" ujar Djani dengan santainya lalu kembali masuk ke dalam kamar, karena Andjani sudah kembali tertidur.


"Dia masih saja sok keren seperti dulu, tapi memang dia keren" gumam Doni lalu masuk ke dalam kamarnya dan segera memeluk Serli yang tertidur lelap.


Djani menidurkan Andjani ke dalam boks bayi dan segera kembali ke sisi Qaynaya.




"Kita kalah cepat, Djani telah menemukan Qay terlebih dahulu" Sezkia dan Arka yang berada tidak jauh rumah Qaynaya merasa sangat kesal.

__ADS_1



"Sia-sia sudah perjuangan kita selama ini, sudah tidak ada lagi cara lembut, lakukan dengan caraku saja. Kamu sebagai pria terlalu lembek, aku sudah sangat tidak sabar menjadi nyonya Djani Sudrajat, hidupku pasti akan nyaman dan tenang karena bergelimang harta" Sezkia menggigit sandwich yang sedang dia pegang dengan kesal.



"Kamu juga tidak bisa mendekati Djani dengan baik, bahkan selama Qaynaya tidak berada disampingnya" Arka terpancing emosi mendengar perkataan Sezkia.



"Itu karena dia merasa bersalah pada Qaynaya yang keguguran dan pergi meninggalkannya. Kalau sekarang Djani melihat nya pergi dengan lelaki lain, pasti akan mudah bagi Djani untuk mencampakkan Qaynaya. Jadi buatlah rencana yang benar, kali ini kita harus berhasil" Sezkia menghabiskan sandwich nya lalu berniat masuk kembali ke rumah yang disewanya sementara untuk melancarkan rencananya memisahkan Djani dari Qaynaya, dan bisa segera mendapatkan Djani.



Arka memilih diam di teras, untuk terus memantau pergerakan di rumah yang di tempati Qaynaya. Hingga hari semakin siang, barulah terlihat aktifitas di rumah Qaynaya, Serli mengantarkan kepergian Doni ketempat kerjanya sampai depan pintu, dan segera masuk kembali ke dalam rumah, begitu Doni tidak terlihat lagi.



Lalu keluarlah Djani, tapi tidak terlihat Qaynaya. Djani langsung masuk kedalam mobilnya dan segera pergi juga dari rumah itu. Cukup lama tidak ada pergerakan aktifitas apapun, hingga menjelang siang, barulah Qaynaya keluar dari rumah sudah dengan pakaian rapi hendak bekerja.



Sepertinya Qaynaya mendapatkan shif siang untuk bekerja, bergantian dengan Doni. Qaynaya, Serli dan Doni bekerja di tempat yang sama, dan mengambil tiga shif berbeda, supaya bisa bergantian menjaga Andjani. Doni sepertinya tidak tau kalau Qaynaya bekerja di cafe miliknya sendiri.



Arka sepertinya tidak tau kalau Qaynaya sudah pernah hamil dan melahirkan, karena memang hal itu ditutup rapat oleh Qaynaya, dan saat ini, Arka melihat seorang bayi ada dalam gendongan Qaynaya, tapi tidak lama langsung diberikan pada Serli, jadi Arka mengira kalau bayi itu pasti anak Serli.



Arka datang ke negara ini berbarengan dengan Djani, karena dia hanya bisa selalu mengikuti kemana Djani mencari Qaynaya selama ini, Arka memilih untuk tidak terlalu ambil resiko besar dengan mencari acak keberadaan Qaynaya, jadi memilih mengikuti Djani, supaya bisa bertemu dengan Qaynaya. Karena dengan posisi dan kedudukan, serta kekayaan Djani, pasti dengan mudah bisa menemukan keberadaan Qaynaya.



Dan benar saja, walau tidak secepat yang dia bayangkan, karena Qaynaya ternyata pergi terlalu jauh, akhirnya saat ini Qaynaya telah ditemukan. Sebenarnya Arka berharap bisa colong start, yang penting dia tau keberadaan Qaynaya, maka dia yang akan lebih dulu menemui Qaynaya, karena Djani yang merupakan pebisnis, pasti dalam masa pencarian nya tetap saja sembari bekerja, ternyata dugaan Arka salah, karena di negara ini, Djani hanya focus mencari Qaynaya.



Arka lalu memanggil Sezkia, karena akan segera mengikuti Qaynaya yang tengah berjalan ke tempat kerjanya yang sepertinya tidak terlalu jauh dari rumah.



Saat disebuah belokan yang sepi, Sezkia turun dari mobil dan segera membekap mulut Qaynaya dan segera memasukkannya kedalam mobil, dengan sebilah pisau, Sezkia mengancam Qaynaya untuk diam.



"Apa kalian tidak waras, apa yang sebenarnya kalian lakukan!?" Qaynaya berontak dan mencoba untuk melawan Sezkia, tapi kondisi tubuhnya yang sebenarnya masih lemah dan bagian bawahnya yang masih sedikit terasa sakit, membuatnya tidak bisa berbuat banyak, lalu memilih diam daripada tenaganya benar-benar habis, apalagi pisau yang dipegang Qaynaya, telah sedikit menggores lehernya.



Setelah Qaynaya terdiam, Sezkia meminta Arka untuk berhenti dan berpindah tempat, karena Sezkia yang akan menyetir.



"Biarkan aku menyetir, dan lakukan apapun yang ingin kamu lakukan padanya" Sezkia tersenyum jahat lalu melihat ke arah dasbor mobil yang telah terpasang kamera.



Qaynaya membelalakkan matanya, menyadari apa yang akan terjadi, dengan tidak menunjukkan rasa paniknya, saat Sezkia berpindah ke jok depan, Qaynaya membuka kunci pintu mobil, dan saat Arka sedikit melambatkan laju mobilnya supaya dia bisa segera pindah ke belakang, dan membiarkan Sezkia menyetir, diwaktu yang sama, dengan kecepatan dan menahan sakitnya, Qaynaya segera membuka pintu mobil lalu melompat ke luar.



Arka dan Sezkia kaget dengan gerakan Qaynaya yang tiba-tiba, karena mobil belum berhenti dengan sempurna.



"Aawwwww!!" Qaynaya menjerit sepertinya kakinya berdarah karena terbentur aspal jalan, tapi dengan tidak memperdulikan rasa sakitnya, Qaynaya berdiri dan berlari kearah jembatan, dimana dibawahnya terdapat sungai.



Arka menghentikan mobilnya, dan segera berlari keluar menyusul Qaynaya.



"Tenang Qay!" Arka mengulurkan tangannya hendak menggapai Qaynaya yang telah berada di tepi jembatan setelah menaiki pembatasnya.



"Kalian adalah orang-orang yang tidak waras, sebenarnya apa yang kalian inginkan dariku?!!" Qaynaya gemetaran, karena selangkah lagi dia pasti akan terjatuh.



"Aku sangat mencintaimu semenjak dahulu, tidak mungkin kalau kamu tidak menyadarinya, dari pada kamu terus menderita menjadi istri Djani, lebih baik kamu hidup bersama denganku, karena aku akan selalu membahagiakanmu!" Arka semakin berjalan mendekati Qaynaya.



"Jangan mendekat, atau aku akan melompat. Dan aku tidak mencintaimu, jangan memaksakan perasaan, karena yang aku cintai hanyalah suamiku!!" Qaynaya ketakutan, karena Arka semakin mendekatinya.



Arka berfikir kalau Qaynaya tidak mungkin berani melompat di sungai yang begitu deras, tapi ternyata dugaannya salah.



Bbyyuuurrrrr



Qaynaya melompat dengan cepat, sedetik sebelum Arka dapat menggapainya.

__ADS_1


__ADS_2