
Karena bertindak agresif, Rini lalu di suntik dengan obat bius, supaya tidak menimbulkan keributan yang lebih besar.
"Bagaimana kalau sampai tuan Rega tau, bisa marah besar pastinya saat dia mengetahui istrinya kita bius seperti ini?"
"Tenang saja, dia sedang berada di dalam tahanan jadi tidak mungkin bisa mengetahui hal ini"
"Apa kamu masih saja bodoh?, kenapa kamu tidak pernah berfikir dengan cerdas. Almarhum nyonya Lina bahkan melindunginya, jadi tentu saja nyonya hal ini sangat beresiko"
Geby dan Alek sedang dimintai keterangan sebagai saksi, karena berada di tempat kejadian perkara. Geby yang merupakan peliharaan Alek, selalu membenarkan apa yang dikatakan oleh pria yang sebelum terjadi insiden penembakan, sempat menembakkan rudal kenikmatan padanya, walau dia tidak merasakan kepuasan.
Takut akan hukuman yang akan dia terima, apabila ketahuan bahwa dialah yang telah menembak Lina, maka Geby hanya bisa menurut pada Alek.
"Apa motif yang membuat Rega menembak nyonya Lina? apakah kalian mendengarkan sesuatu sebelum kejadian penembakan tersebut?"
"Rega marah pada Lina, karena dia membelaku. Sebagai seorang istri, Lina pasti membelaku dan sangat mempercayai suaminya. Sesaat sebelum kejadian, Lina masuk kedalam ruangan dimana sedang dilakukan pemeriksaan dan penyelidikan terhadap Rega yang telah melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap nona Geby. Saat itu Rega tiba-tiba marah, karena dia terpojok dengan sebuah pertanyaan tentang kenyataan bahwa hasil pemeriksaan benar adanya tindak kekerasan terhadap nona Geby" Alek berbicara dengan berapi-api kepada polisi yang menyelidikinya.
Polisi itu adalah bawahan Alek, karena Alek yang merupakan menantu dari kepala polisi, tentu saja mempunyai jabatan yang tinggi, dan selama ini disegani oleh semua polisi yang bertugas di kantor polisi tersebut.
"Apa hasil visum nona Geby sudah keluar?"
"Tentu saja sudah, dan itulah yang membuat Rega meradang, karena tidak bisa mengelak lagi. Ditambah kedatangan istriku yang tiba-tiba karena memang sebelumnya kami sudah memiliki janji untuk bertemu, naluri seorang istri memang sangatlah kuat, dia pasti sangat menyadari kalau akan terjadi bahaya pada suaminya. Kalau dia tidak datang, sepertinya aku yang sekarang ini terbaring di rumah sakit untuk berjuang hidup dan mati, akibat ulah jahat Rega" Alek terus saja bersandiwara untuk bisa meyakinkan alibinya.
"Bagaimana bisa seorang nyonya Lina, bisa memasuki ruangan yang tengah dilakukan pemeriksaan terhadap seorang terduga pelaku kejahatan, bagi seorang nyonya terhormat dan berpendidikan seperti nyonya Lina, beliau pasti tau untuk menunggu"
"Apa kamu tidak mempunyai istri?! sudah aku katakan sebelumnya. Ikatan cinta diantara kami sangatlah kuat, sudah pasti Lina menyadari bahwa bahaya tengah mengintai suaminya, jadi tanpa bisa menunggu waktu lebih lama lagi, dia menerobos masuk untuk bisa menemui ku" Alek dengan sangat pintar, terus saja mengambil hati bawahannya yang tengah memeriksanya. Alek adalah polisi yang sudah mempunyai pengalaman jam terbang yang tinggi, dia juga sangat tahu bagaimana menghadapi bawahannya.
Hanya saja, kecerdasan yang Alek miliki, berbanding terbalik dengan sifat aslinya, selama ini dia hanya selalu bersikap baik untuk menutupi sikap bejadnya.
"Kalau istri bapak meninggal dunia? apa yang akan bapak lakukan?" polisi itu bertanya dan sepertinya dia hendak menyudahi pemeriksaan.
"Tentu saja aku akan segera menyusulnya, aku adalah pria yang sangat mencintainya, tentu saja aku harus mengikuti kemanapun dia pergi, walau itu ke alam yang berbeda" Alek sepertinya sangat pantas untuk dijuluki sebagai artis tersebut terbaik tahun ini, karena apa yang dia katakan, sanggup membuat pendengarnya ikut merasakan rasa sedih dan haru.
"Bukankah bapak masih memiliki seorang anak yang masih sangat kecil, bagaimana bisa bapak berkata ingin menyusul istri bapak ke alam lain?"
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih penting dari istriku, karena bagiku anak hanyalah titipan, tapi istri adalah hidupku. Tidak mungkin aku bisa hidup tanpanya" Alek terlihat sedih saat mengatakannya.
"Yang masih terasa sangat janggal, bagaimana bisa tidak ada sedikitpun sidik jari Rega di dalam senjata yang digunakan sebagai alat kejahatan"
"Rega sangat pintar sekali, saat aku focus pada istriku yang tengah berjuang kesakitan karena mendapatkan sebuah tembakan, sepertinya saat itu Rega membersihkan sidik jarinya. Bukankah senjata itu berada di dalam bajunya? apalagi yang perlu dipertanyakan lagi?" merasakan was-was karena polisi yang mengintrogasi nya ternyata sangat pandai, Alek terus mencari cara untuk bisa meyakinkan bahwa dirinya tidak bersalah.
Sebenarnya memang bukan dia yang bersalah, karena yang telah menembak Lina adalah Geby, tapi Alek yang sudah ketahuan belangnya oleh Lina, tidak mungkin bisa kembali ke keluarga Lina dengan tenang, sementara dirinya yang sebatang kara, tidak mempunyai tempat tujuan lain. Jadi kalau Lina meninggal dunia, maka setidaknya dia bisa hidup enak dengan harta peninggalannya.
"Untung saja Geby menembak wanita tua itu, aku tidak perlu mengotori tanganku, tapi aku harus terus mencari cara, supaya polisi bodoh dihadapan ku ini, percaya dengan apa yang aku katakan" Alek kembali berbicara dalam hatinya.
"Saat ini nyonya Lina telah tiada, maafkan saya karena harus mengatakan berita buruk ini, tapi sepertinya saat ini anda harus tau kebenarannya" polisi itu tertunduk sedih, sepertinya dia sudah termakan oleh omongan Alek.
"Aapppaaa??!!" Alek berteriak karena begitu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Tapi hatinya sungguh sangat bahagia, bahkan tengah bersorak gembira. Karena kalau sampai Lina meninggal dunia, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Karena semua akan terkubur bersama wanita malang itu.
"Istriku,, istriku,, kenapa harus seperti ini. Cepat bawa aku padanya, bagaimanapun juga, aku adalah suaminya, aku harus berada di sampingnya" Alek bangkit dari duduk duduknya untuk segera bergegas menuju Lina. Sebuah senyuman jahat terukir di wajah Alek saat dia bertemu pandang dengan Geby.
Rencana mereka benar-benar berjalan dengan sangat mulus, bahkan lebih mulus dari apa yang mereka bayangkan. Mereka hanya berfikir bahwa Lina pasti hanya koma atau hanya tidak sadarkan diri untuk sementara waktu. Saat Lina tidak sadarkan diri itulah Alek dan Geby akan mencari cara untuk menghabisinya, supaya kejahatan mereka tidak ketahuan, tetapi ternyata langit berpihak pada mereka.
"Bahkan alam ini berpihak padaku. Sudah cukup bagiku menjadi kacung keluarga Lina, aku harus bisa menguasai apapun milik mereka, mulai dari harta dan juga jabatan mertuaku yang pelit dan kikir itu" Alek bermonolog dengan hatinya saat dia berjalan keluar dari dalam ruangan pemeriksaan.
Geby sangat lega sekali, saat ini tidak mungkin bagi Rega untuk bisa lolos dari jerat hukum, begitu juga dengan Rini. Sepasang suami istri itu pasti akan berada dalam penjara kantor polisi ini selamanya.
"Maaf Lek,, saat ini jenazah Lina sedang dilakukan autopsi, jadi tidak ada yang bisa menemuinya, lalu apakah sudah ada yang memberikan kabar ini pada mertuamu?" seorang polisi yang sepertinya adalah rekan Alek datang mendekat dan memegangi bahu Alek, mencoba untuk memberikan dukungannya.
"Eril, apa ini semua benar terjadi?, bagaimana bisa Lina meninggalkan diriku seperti ini. Apa aku diperbolehkan untuk membalas pada orang yang telah membuat nya seperti ini?, Lina pasti sangat menderita. Diakhir hidupnya, aku bahkan tidak bisa berasa di sampingnya. Ini semua karena Rega yang ternyata sangat jahat dibalik sifat malaikat nya itu" Alek menunjukkan wajah sedihnya, bahkan menitikkan air matanya.
"Sabar Lek, kita pasti akan menghukum penjahat, bagaimanapun caranya. Bukankah itu sudah menjadi tugas kita, apalagi sekarang yang menjadi korbannya adalah sahabatku sendiri" Eril adalah sahabat Lina, dia juga sekarang telah menjadi salah satu polisi berpangkat tinggi di kantor polisi tersebut, hampir sama dengan posisi Alek, hanya saja Alek mendapatkannya karena bantuan dari Lina.
Setelah kepergian Eril, Alek kembali menunjukkan wajah jahatnya, apalagi dia tau dengan pasti, bahwa Eril sangat kompeten, Akek takut kalau sampai dia dan Geby akan segera ketahuan.
"Siapa dia? kenapa kamu terlihat sangat cemas?" bisik Geby pada salah satu prianya itu. Geby adalah wanita yang dengan mudah memberikan tubuhnya kepada pria, untuk bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan.
Alek tidak langsung menjawab, lalu meminta izin untuk pergi ke kamar mandi, pada polisi yang masih terus mengikutinya. Polisi itu mengizinkan dengan memberikan waktu.
__ADS_1
"Jangan terlalu lama"
Setelah mendapatkan izin, Alek langsung duduk di atas toilet lalu membuka ponselnya. Dengan cepat dia mengirimkan pesan pada Geby.
"Dia adalah sahabat dari wanita tua itu, dia bisa menjadi batu sandungan bagi kita. Sudah sejauh ini, jadi rencana kita harus berjalan dengan mulus. Sekarang kita jangan berdekatan dahulu, sebentar lagi pasti kamu akan di izinkan untuk pulang. Pulanglah ke rumah keluarga konglomerat itu, aku tidak lama lagi pasti akan menyusul mu" Alek menyimpan kembali ponselnya setelah ketikan pesan yang dia tujukan pada Geby telah terkirim.
Geby yang tadi setelah Alek pergi ke kamar mandi langsung menuju ke sebuah ruangan dimana semua barang yang tadi dia bawa di simpan. Saat membuka ponselnya, dia langsung tersenyum setelah membaca pesan dari Alek.
Keberuntungan tengah berpihak padanya, tidak lama seorang polwan datang dan mengatakan bahwa Geby sudah diperbolehkan pulang walaupun masih harus didampingi, supaya lebih mudah saat tiba-tiba Geby kembali dimintai keterangan.
Geby berjalan dengan sombongnya, bahkan akting wajah sedihnya, sudah sepenuhnya menghilang. Bagi orang yang memahami apa yang sedang dia alami, pasti tidak akan semudah itu untuk melupakannya.
"Apa nona akan kembali ke tempat dimana nona mengalami kejadian buruk itu? bukankah seharusnya nona menjauhi tempat itu?" polwan yang mengantarkan Geby, merasa tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Geby.
"Calon suamiku tinggal dirumah itu, tentu saja aku harus kembali kesana, mungkin kenangan buruk itu akan selalu aku ingat, tapi aku yakin kalau aku bisa menghadapinya. Lagipula yang bersalah adalah calon mertuaku, bukan calon suamiku. Dia pasti akan sangat sedih saat pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan pekerjaannya, dan tidak mendapati diriku dirumah" Geby sepertinya sudah ketularan Alek yang sangat pintar dalam berakting.
"Nona sangat berbesar hati sekali, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan dirasakan oleh calon suami nona, saat kembali nanti"
"Tidak perlu terlalu ikut campur, sekarang lebih baik diam dulu, aku akan tiduran karena sangat lelah" Geby malas menanggapi polwan yang mengajaknya berbicara.
Sang polwan hanya berniat untuk sedikit saja membuat Geby nyaman, karena merasa sebagai sesama perempuan. Hal yang dialami oleh Geby, pasti sangatlah berat. Begitulah yang dipikirkan oleh polwan tersebut, karena dia tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Geby yang merasa sangat ringan sekali hatinya, karena berfikir bahwa semua masalah telah selesai, tidur dengan pulas nya selama dalam perjalanan menuju ke rumah Djani.
Perjalanan jauh tidak dirasakan oleh Geby, karena dia yang terus tertidur. Bahkan setelah sampai di depan rumah, butuh waktu lama sampai polwan yang menjaganya, berhasil untuk membangunkannya.
"Sudah sampai nona!"
Geby membuka matanya, lalu tidak lama langsung keluar dari dalam mobil. Geby tersenyum gembira begitu memasuki rumah. Polwan yang berada di belakangnya menjadi semakin keheranan, hingga sedikit merasakan curiga.
"Bagaimana mungkin, seseorang yang baru saja mengalami pelecehan, tapi begitu cepatnya perubahan dari perasaannya? bukankah seharusnya dia bersedih dan menangi" polwan berkata pelan, tetapi seorang polisi yang tadi mengantarkan mereka, mendengarkan apa yang polwan itu katakan.
"Jangan terlalu banyak berfikir dan ikut campur, urusanmu hanyalah harus menjaganya. Apapun yang dia lakukan, selama tidak pergi keluar negeri, maka biarkan saja. Kita ini hanya pesuruh, kasarnya kita adalah kacung bagi atasan kita, jadi jangan terlalu berlebihan dalam menghadapi sesuatu, kecuali itu adalah hal yang harus kamu selesaikan. Tapi untuk masalah ini. Jadi karena kita hanya diminta untuk menjaganya, maka hanya lakukan itu saja, tanpa memikirkan yang lainnya"
__ADS_1
Polwan yang mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya, hanya bisa terdiam dan merasakan ngeri, dengan permainan orang-orang berkuasa dan berduit.